January 15, 2014

Tentang Sahabat


Perjalanan demi perjalanan, mengajarkan saya akan sebuah kemandirian hidup, mengajarkan saya akan rasa syukur yang luar biasa. Saat berada di Bali, saya semakin bersyukur kepada Tuhan, karena selama ini saya ditempatkan di daerah yang muslimnya mayoritas, dimana saya bisa mendengar adzan setiap kali waktu shalat tiba, dimana saya bisa ke masjid hanya dengan berjalan kaki bila ingin shalat berjamaah di Masjid, dan banyak lagi kemudahan-kemudahan lain yang selama ini kadang lupa untuk saya syukuri.

Perjalanan demi perjalanan juga membawa saya pada pertemuan-pertemuan tak terduga, kemudian mengajarkan saya bagaimana seharusnya bersikap terhadap orang-orang yang baru saya temui, bagaimana menghormati budaya sebuah daerah yang baru saya datangi, dan masih banyak lagi. Saya bertemu dengan berbagai macam orang, yang kemudian menjadi sahabat-sahabat saya selama perjalanan, atau bahkan setelah selesai menjelajah pun kami tetap menjaga hubungan baik.

Bertemu dengan berbagai macam orang, mengajarkan saya akan keanekaragaman manusia yang diciptakan oleh Allah Swt. Seperti saat berada di Bali, saya berteman dengan teman-teman dari berbagai macam negara; Finland, Saudi Arabia, Jedah, Asutralia, Rusia, dan lain sebagainya. Pertemanan kami tidak hanya sebatas jalan-jalan saja, kami berbagi cerita tentang negara kami masing-masing, bercerita tentang budaya bahkan tentang keyakinan.
Ardian Camaj

Ada banyak pertemuan yang tidak disengaja, kemudian menjadi hubungan baik dan akhirnya menjadi sahabat. Kami tetap menjalin hubungan baik melalui jejaring sosial. Salah satunya adalah Ardian Camaj, laki-laki asal Switzerland ini adalah seorang muslim yang sangat taat. Dia berasal dari keluarga yang sangat religius. Meski dia tinggal di negara yang aggaints moslem, tapi dia tetap percaya dengan keyakinannya, dia tetap bangga dengan agama yang selama ini ia yakini, ia tetap percaya diri untuk tampil dan menyatakan bahwa “Saya adalah seorang Muslim” dan ia membuktikan bahwa muslim adalah agama yang mengajarkan penganutnya untuk bersikap baik terhadap mereka yang bukan muslim.

Suatu ketika, saya duduk di pojokan kamar, Ardian dengan santainya memainkan irama melalui piano yang ada di kamarnya, kemudian memainkan nada demi nada begitu indah. Kami memang sering video call melalui skype, saling berbagi cerita satu sama lain. Ardian hanya bisa berkomunikasi dengan saya dengan Bahasa Inggris, karena saya tidak bisa berbahasa persia. Saya biasa memanggilnya Abu Adri, karena “Abu” dalam bahasa Persia artinya adalah “Brother”, sedangkan dalam Bahasa Arab artinya adalah “Bapak”. Sedangkan dia biasa memanggil saya “Akhi” dalam setiap kesempatan. Dia adalah satu-satunya kawan yang memanggil saya dengan panggilan “Akhi”, sedangkan kawan saya dari negara-negara lain biasa memanggil saya dengan panggilan “Bro”.

Kemarin, Ardian bercerita tentang seorang temannya yang masuk Islam.

Ardian : Saya pernah mempunyai seorang teman, dia sering minum Alkohol sampai mabuk, kemudian suatu ketika saya mengajak dia ke Masjid, seorang Imam memberi dia Al Quran yang sudah ada terjemahan dalam bahasa Jerman dan mengizinkannya membacanya. Di kesempatan lain, dia datang ke Masjid lagi, kemudian menyatakan diri untuk masuk ke dalam Islam. Saya sangat bahagia saat tahu dia masuk Islam.

Saya tersenyum, mendengarkan penuturan Ardian tentang kawannya yang masuk ke dalam Islam.
Oh ya, Ardian kuliah di jurusan Ekonomi.

Di lain kesempatan, saya pernah berucap bahwa saya benci salju, kemudian dia tersenyum dan menegur saya, dengan mimik yang tenang.

“Jangan pernah mengatakan Benci terhadap semua yang diberikan Allah, cukup katakan “Saya tidak suka salju” karena semua itu adalah pemberian Allah Swt., yang seharusnya disyukuri. Hujan, angin, semuanya adalah pemberian Allah, bukan? Kita harus bersyukur atas semua karunia itu.”

Saya pun tertegun mendengar ucapannya, dan berterima kasih karena sudah diingatkan.

Saya semakin bersyukur karena saya tinggal di Indonesia, di Negara yang muslimnya mayoritas. Ardian pernah bercerita bahwa jarak antara masjid dan rumahnya memakan waktu cukup lama. Untuk bisa shalat berjamaah di Masjid, dia harus menempuh perjalanan sekian lama. Sebuah perjuangan yang tidak mudah, bukan? Seharusnya masyarakat Muslim di Indonesia harus meramaikan Masjid, bukan malah enggan untuk berjamaah di Masjid.

Coba lihat di sekeliling kita saat ini, ada berapa banyak masjid yang ada? Ada berapa banyak masjid yang kosong saat tiba waktu shalat? Ada berapa banyak jamaah di masjid saat waktu shalat tiba? Kadang saya menangis, saat melihat jamaah masjid hanya diisi oleh mereka yang sudah tua renta, sedangkan generasi mudanya entah kemana.

Wahai generasi Muslim, mari muliakan rumah Allah dengan memakmurkannya. Mari ajak saudara-saudara kita untuk cinta akan masjid. Jangan biarkan Masjid hanya sebatas bangunan megah tak berpenghuni, mari ramaikan dengan ibadah kepada Allah Swt. Semoga kita semua menjadi generasi Muslim yang dicintai Allah Swt.

Islam adalah agama yang diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam, yang seharusnya kita taati ketentuan-ketentuan yang telah Allah buat. Coba lihat Ardian, dia tetap berpegang teguh atas apa yang selama ini ia yakini, meski dia tinggal di Negara yang muslimnya minoritas. Lantas, bagaimana dengan kita? Yang tinggal di negara yang mayoritas Muslim? Sudahkah kita bersyukur dan menjalankan perintah Allah Swt. dengan baik? Mari bersama kita berusaha untuk taat kepada Allah Swt.

January 02, 2014

Bali, The Island of Beauty 4


26 Desember 2013

Hutan Mangrove

Setelah tiga hari sebelumnya menjelajah Bali secara full day tour, hari ini saya menjelajah lebih santai, ditemani oleh Hadi, yang merupakan teman kuliah dulu (berasa tua banget saya). Dia yang menghantarkan saya ke Hutan Mangrove yang dibudidayakan oleh dinas setempat. Hutan Mangrove ini cukup menawan, sajian mangrove yang hijau bisa kita nikmati dengan berjalan di atas jalan panggung yang sengaja didesain bagi pengunjung hutan mangrove. Sajian alam yang indah, hembusan angin yang menyejukkan bisa saya nikmati dengan baik. Namun sangat disayangkan, sampah masih saja menjadi pengganggu indahnya hutan mangrove ini.

Untuk bisa masuk kesini, kita hanya membayar 5 ribu rupiah saja. Murah banget, kan? pemandangan elok bisa kita nikmati di sepanjang jalan yang ada di dalam hutan mangrove. setelah puas mengeksplorasi hutan mangrove, saya melanjutkan perjalanan ke Pantai Sanur yang tenang.

Pantai Sanur

Saya duduk di pinggir pantai, menikmati deru ombak yang bernyanyi riang di bawah terik matahari yang tidak terlalu panas. Saya mengambil posisi di bawah pohon-pohon yang ada di bibir pantai, santai. Saya memang tidak ingin terburu-buru dengan perjalanan hari ini, saya ingin bermalas-malasan di pantai ini hingga puas. Sambil membaca buku, sesekali saya melihat lalu lalang turis lokal maupun mancanegara yang sedang menikmati keindahan pantai yang cukup terkenal dengan keindahan sunrise-nya. Pantai inilah yang membuat sekian banyak orang rela bangun pagi, menuju sanur demi melihat keindahan matahari terbit. Tapi saya belum bisa menikmati keindahan itu.

Setelah cukup puas dengan keindahan pantai sanur, saya pulang ke rumah teman untuk mengambil pakaian dan kembali lagi ke penginapan. Setelah istirahat, tidur sejenak, saya langsung mengganti pakaian dengan pakaian santai, menuju Pantai Kuta yang terkenal dengan keindahan sunset-nya yang menakjubkan. Bahkan, konon Pantai Kuta memiliki sunset terindah.



Saya bermalas-malasan di bibir pantai, menjentikkan jari-jari di atas pasir, sambil menikmati hembusan angin yang sejuk. Matahari mulai perlahan kembali ke peraduannya, pengunjung semakin banyak yang berdatangan. Pantai ini adalah pantai sejuta umat yang menjadi salah satu pantai yang wajib dikunjungi jika berkesempatan ke Bali. Padahal, pantai kuta dipenuhi oleh tumpukan sampah yang tak pernah habis. Meski demikian, pengunjung tetap saja penuh. dan saya adalah salah satu pengunjung pantai ini di kala senja. Hampir setiap senja saya disini, dan tidak pernah bosan.

27-28 Desember 2013

Setelah empat hari sebelumnya sangat sibuk, saya ingin menghabiskan dua hari terakhir di Bali dengan bersantai ria di penginapan, mandi pantai, jalan-jalan di pusat perbelanjaan, nonton di Mall, berburu oleh-oleh, atau hanya sekadar berbagi cerita dengan teman-teman dari berbagai macam negara yang kebetulan menemani di hari-hari terakhir di Bali; ada Sa’id dari Dubai, Queen dari Francis, Joey dari Australia, dan beberapa orang lainnya.

Meski kami berasal dari negara yang berbeda, tapi kami semua tetap kompak. Mereka dengan setia mengajari saya bagaimana cara surfing, meski akhirnya saya harus menahan sakit karena dihantam oleh papan surfing yang berukuran lebih besar dari badan saya. Tapi tidak mengapa, saya menikmati detik demi deti masa liburan ini dengan bahagia.

Jika malam tiba, biasanya teman-teman pada sibuk dengan gemerlap dunia malam di Legian, sedangkan saya hanya di penginapan, kadang mandi di kolam renang, kadang mandi di pantai kuta meski dengan cahaya yang temaram. Saya bahagia melakukan itu semua.

Pada akhirnya, perjalanan demi perjalanan yang akhir-akhir ini semakin saya cintai, mengajarkan saya akan banyak hal. Travelling menjadikan saya seseorang yang lebih baik lagi; lebih aktif dalam berbicara, lebih percaya diri, lebih bisa hidup sederhana, lebih bisa mengatur diri sendiri dengan baik, lebih banyak teman, dan masih banyak lagi hal-hal baik yang saya dapatkan dari sebuah perjalanan. Kata Sa’id, jalan-jalan itu membuat kamu semakin tampan, dan kami pun terkekeh bersama-sama di senja yang semakin gelap.

Jika saya membandingkan saya yang sekarang dengan saya yang dulu, ada banyak sekali perbedaan. Sekarang saya dengan mudahnya pergi kemana saja meski saya belum mengenal siapa pun di tempat yang akan saya tuju. Saya lebih berani, saya lebih mengenal budaya suatu daerah, saya lebih banyak tahu tentang aneka ragam manusia yang menjadi penghuni alam raya ini. Perjalanan demi perjalanan mengajarkan saya akan kedewasaan diri. Saya lebih terbuka, saya lebih pandai dalam menilai sesuatu, dan saya semakin cinta pada-Nya, yang telah menciptakan alam raya nan indah ini.

Dua orang sahabat saya, Anssi dan Jonash akan segera kembali ke Finland. Saat sudah berada di Malaysia, Jonash Said “if I had more time here, I would come back to Indonesia again.” Selamat kembali sahabatku, semoga pertemuan demi pertemuan akan tetap ada, meski jarak yang cukup jauh di antara kita. Saya bahagia bisa mengenal kalian sejak beberapa bulan yang lalu.

Jika ada yang bertanya, mengapa kamu mau membuang-buang waktu hanya untuk sebuah perjalanan? Maka saya tidak akan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang panjang lebar.

“Mulailah perjalananmu, dan rasakan betapa banyak pelajaran hidup yang bisa engkau dapatkan dalam sebuah perjalanan.”

Jadi, mengapa tidak mencoba sendiri?
Mari berpetualang.

Bali, The Island of Beauty 3


25 Desember 2013
Awalnya saya dan seorang teman saya akan menyewa motor, karena tiga orang teman lainnya ingin bermain water spot di Tanjung Benoa. Intinya kami memiliki tujuan yang berbeda hari ini. Akan tetapi, saya takut hujan kembali menemani perjalanan, sedangkan tujuan perjalanan hari ini cukup jauh; Ubud dan Kintamani. Perjalanan dari Kuta ke Ubud dan Kintamani kurang lebih memakan waktu dua jam perjalanan, bolak-balik sudah empat jaman, dan jika macet tentu akan lebih lama lagi.

Ubud terkenal dengan keseniannya, ada banyak ragam kesenian disana, di sekitarnya juga ada Monkey Forest, Pasar Sukowati yang terkenal dengan pusat oleh-oleh khas Bali, dan lain sebagainya. Sedangkan Kintamani terkenal dengan Danau dan Bukit Baturnya.

Setelah menggunakan rayuan maut (lebay), akhirnya saya berhasil membujuk tiga orang teman yang lain untuk kembali menyewa mobil, mereka menunda perjalanan demi ke Ubud dan Kintamani. Yeayyyy, ini namanya penghematan. Kalo nyewa mobil hanya untuk berdua saja, jatuhnya mahal jendral.

Ubud

Pukul 8.30 pagi, kami baru berangkat menuju Ubud, di perjalanan, saya sudah molor lagi, hadeuhhh kebiasaan molor saya itu emang udah parah banget, jarang banget nggak tidur dalam perjalanan. Setelah menempuh perjalanan cukup lama, sampailah kami di Ubud, menikmati aneka ragam kesenian di sepanjang jalan yang membuat saya terkagum-kagum dengan kreatifitas masyarakat Bali yang mendunia. Saya hanya bisa menjadi penikmat seni, tanpa punya nyali untuk memiliki kesenian yang ada di hadapan saya haha, lebih tepatnya harganya itu super deh, langsung ciut dompet saya. Kan ceritanya backpacker #alesan

Kami masuk ke Museum Antonio Blanco, sebuah museum yang menyimpan berbagai macam lukisan karya Antonio Blanco yang mendunia. Antonio Blanco adalah pelukis dunia, kemudian menikah dengan perempuan Bali, dan lukisan-lukisan si Antonio Blanco ini di pajang di rumah yang menjadi tempat tinggalnya di Ubud. Museum ini rada nggak pantas kalo mengajak anak-anak di bawah umur, karena lukisan-lukisan yang ada rada ehm gimana gitu, ya kalian pasti pahamlah dengan apa yang saya maksud hehe.

Di dalam museum ini juga terdapat ruangan yang biasa dipakai Antonio Blanco untuk melukis dan sekarang dipakai anaknya sebagai tempat untuk melukis juga. Sebuah karya seni yang luar biasa hebat, meski awalnya saya nggak ngeh dengan arti dari sekian banyak lukisan yang ada. Untung ada guide yang menjelaskan semua lukisan yang ada di dalam museum, barulah saya paham sedikit (doang) tentang arti lukisan-lukisan yang ternyata sebagian besar adalah istri, anak, cucu dan lain sebagainya.

Kintamani
Setelah puas melihat semua lukisan yang ada, kami melanjutkan perjalanan ke daerah Tampak Siring. kemudian perjalanan kembali dilanjutkan ke Kintamani. Untung saya dan teman-teman menggunakan jasa sopir dan mobil, karena jalan menuju kesana rada mengerikan menurut saya; jalanan berbukit yang rada kurang aman buat saya yang amatiran dalam mengendarai sepeda motor hehe.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami sampai juga di Kintamani. Dari atas kami bisa melihat danau yang jernih, bukit batur yang menjulang, dan perbukitan yang dipenuhi dengan pepohonan hijau. Cuaca di Kintamani rada dingin, jadi mendingan kalian bawa sweater kalo kesini.

Tidak ingin hanya menikmati keindahan dari atas, kami memutuskan untuk turun ke bawah dan menuju Desa Trunjan yang terkenal itu. Jalan menuju ke Desa Trunjan ini rada horor, sempit, berkelok-kelok, tebing dan pada rusak. Fiuhh, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit dari bagian puncak, akhirnya sampai juga di Trunjan, sebuah desa di tepi danau Batur yang cantik.

Rasanya saya pengen teriak sekencang-kencangnya disini, kemudian langsung mandi di danau yang jernih. Keren banget pokoknya. Saya duduk di pinggir danau, kemudian bermain dengan anak-anak yang sedang mandi. Saya menjejakkan kedua kaki ke danau dan nyessss, dingin banget. Saya semakin bahagia menikmati hembusan angin yang menyejukkan.  Di Desa Trunjan ini terdapat pura tertua di Bali, dan tertutup untuk umum, karena merupakan tempat ibadah warga sekitar.

Sejak awal, saya memang sudah membaca tentang Desa Trunjan yang rada horor, konon setiap warga yang meninggal dunia hanya diletakkan begitu saja di bawah sebuah pohon besar yang berada di seberang danau, dan anehnya lagi, jenazah itu sama sekali tidak menimbulkan bau busuk. Meskipun jenazah hanya diletakkan begitu saja, tanpa dikubur, akan tetapi sama sekali tidak menimbulkan bau tidak sedap. Saya penasaran dengan tempat itu.

Untuk menuju tempat warga meletakkan jenazah warga yang meninggal dunia, kami harus menyewa sebuah perahu kecil, dengan waktu tempuh hanya tujuh menit lamanya. Setelah sampai, kami disambut oleh beberapa orang yang menjaga tempat peletakan jenazah. Suasana pun semakin horor haha, saat melihat jenazah berbaris rapi, dilengkapi dengan sekian banyak tengkorak yang disusun rapi di bagian bawah pohon.
Saya penasaran dengan mayat-mayat yang ada disana, kemudian memberanikan diri untuk mendekat and you know what? Ada jenazah yang kayaknya belum terlalu lama diletakkan, soalnya masih ada kulitnya dan memang tidak menimbulkan bau sama sekali. Bagi kamu yang rada takut dengan mayat, mending nggak usah kesini, soalnya rada horor sih menurut saya. Kalo saya ini kan memang pemberani, jadi nggak apa-apa kalo ketemu mayat #dijitak

Di setiap jenazah, ada barang-barang yang memang sengaja diletakkan, yang tidak lain adalah barang-barang kesukaan si mayit saat masih hidup. Jadi kalian bisa membayangkan, ada botol minuman, tape gede, baju, dan lain sebagainya. Sayang banget, kan? Gimana kalo ternyata bareng kesukaannya saat hidup adalah Mobil? Harus bawa mobil juga, gitu? #plak

Sayang banget, tempat ini sama sekali tidak terawat. Barang-barang yang diletakkan di jenazah tidak tersusun rapi, jadi kalo sudah ada yang menjadi tengkorak, tengkoraknya disusun rapi, sedangkan barang-barang yang ada hanya dibiarkan menggunung di samping tempat peletakan jenazah. Jadi kesannya kotor banget.

Setelah cukup menikmati pertemuan dengan mayat dan tengkorak, haha, liburan macam apa ini tujuannya ketemu mayat dan tengkorak. Eh tapi aneh juga, sih, Cuma karena satu pohon gede itu, mayat disana nggak bau busuk. Keren. Kami pun kembali ke seberang, dan langsung menuju mobil. Rencana selanjutnya adalah mencari tempat untuk mengisi perut yang sudah teriak meminta asupan gizi.

Setelah makan siang, kami memilih untuk langsung kembali ke Kuta, dan menyempatkan diri untuk berbelanja di Krisna, yang merupakan salah satu tempat berbelanja oleh-oleh khas Bali. Malam sudah larut banget, kami pun pulang dan istirahat. Satu orang teman saya malam ini sudah harus pulang, sedangkan tiga orang lainnya besok akan bermain Water Spot di Tanjung Benoa dan saya memilih untuk check out dari penginapan dan menginap di rumah teman yang sejak awal mengajak untuk stay di rumahnya. Saya hanya berencana stay sehari saja di rumahnya, kemudian akan kembali ke penginapan.

Perjalanan hari ini hanya sampai disini saja, esok hari akan saya lanjutkan lagi perjalanan menjelajah seorang diri di Bali.

January 01, 2014

Bali, The Island of Beauty 2



24 Desember 2013

Berdasarkan pengalaman di hari pertama yang diguyur hujan terus menerus, saya pun tidak ingin mengambil resiko kehujanan lagi, kemudian sakit dan tidak bisa menikmati masa liburan saya selama di Bali, akhirnya saya memutuskan untuk mengajak teman-teman yang kebetulan baru tiba di Bali untuk menyewa sebuah mobil lengkap dengan supirnya. Setelah musyawarah, akhirnya semua setuju untuk menyewa mobil.

Saya dan empat orang teman memulai perjalanan pukul tujuh pagi, rencananya hari ini kami akan mengeksplor Bali Selatan, tidak terlalu jauh memang, akan tetapi ada banyak tempat yang cantik yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Rencananya hari ini full day tour, jadi perjalanan kami bakalan seharian penuh. Memang dasar saya itu tukang tidur, baru beberapa menit jalan saya sudah molor di mobil.

Tanjuang Benoa

Tujuan pertama kami adalah Pantai Tanjung Benoa yang terkenal dengan water spot-nya yang keren. Sebelum ke Tanjung Benoa, kami terlebih dahulu mampir sejenak di Pusat Peribadatan Puja Mandala, yaitu tempat yang menjadi lokasi rumah ibadah lima agama di Indonesia (Masjid, Gereja Katolik, Vihara, Gereja Protestan, dan Pura). Setelah itu kami baru melanjutkan ke Tanjung Benoa. Akan tetapi, cuaca sama sekali tidak bersahabat, hampir satu jam lamanya kami hanya duduk di salah satu restoran yang ada di pinggir pantai, menunggu hujan reda dan hujan sama sekali tidak reda, akhirnya kami memutuskan untuk berbelanja oleh-oleh di Toko Kahuripan. dan kalian tahu siapa yang paling suka kalo diajak berbelanja? Ahhh jangan pura-pura nggak tahu, saya adalah orang yang paling bersemangat berbelanja dari semua rombongan yang ada.

GWK Cultural Park

Di perjalanan menuju GWK, hujan masih tetap menderas, untungnya kami menyewa mobil, jadi masih bisa molor lagi di mobil hehe. GWK ini keren banget, semacam tebing-tebing yang kemudian dibentuk sedemikian rupa menjadi tempat wisata yang menakjubkan. Bahkan, jika patung yang ada disini sudah selesai dibuat, akan menjadi patung tertinggi di dunia. Silahkan cari di Mbah Google, saya tidak mau berbicara lebih lanjut tentang GWK ini hehe.

Hujan sedikit mereda sejenak, sebelum akhirnya kembali menderas dan kami langsung kembali ke mobil, dan melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Pantai Pandawa

Nah, di Pantai ini nggak kalah keren dengan GWK, tebing-tebing dibentuk sedemikian rupa, kemudian dibuat patung-patung yang menghiasi sepanjang jalan menuju pantai, ditambah air terjun yang mengalir deras menjadi pemandangan yang indah, saya berasa seperti sedang berada di lembah hehe. Tapi hujan kembali menemani perjalanan di pantai ini, jadi tidak terlalu bisa mengeksplor lebih banyak lagi.

Pantai Dreamland

Pantai yang sudah cukup terkenal dan indah ini begitu cantik. Saya betah berlama-lama di pantai ini, menghabiskan waktu sambil duduk di salah satu resort yang ada di pinggir pantai, meski tidak makan haha. Saya hanya numpang duduk, kemudian menikmati sajian alam yang agung, ciptaan Tuhan. Sungguh luar biasa indahnya alam raya ini. Beberapa kali saya berdecak kagum, melihat betapa indah hamparan pasir di hadapan saya, gugusan karang yang menjulang tinggi, dan deru ombak yang menenangkan. Saya suka berlama-lama disini, meski teman-teman sudah kembali ke mobil lebih awal. Saya yang paling terakhir kembali ke mobil.

Pantai Padang-Padang

Pernah menonton film Eat Pray Love yang dibintangi oleh pesohor Dunia Julia Robert? nah di pantai ini menjadi salah satu tempat pembuatan film tersebut. Sejak film itu hadir, pantai ini semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik oleh wisatawan domestik maupun internasional. Tidak ingin hanya sekadar menikmati keindahan dari pinggir pantai, saya langsung mengganti pakaian, kemudian berteriak sekencang-kencangnya tanpa peduli dengan keramaian. Saya membenamkan diri di air laut yang asin, kemudian mencoba untuk bersantai, sementara yang lain hanya sibuk foto-foto di bibir pantai.

Rugi rasanya jika hanya sekedar foto-foto dan tidak merasakan nikmatnya bermain dengan ombak-ombak yang begitu bersahabat. Di dekat saya ada seorang Bapak dari Francis yang sedang bersama anaknya yang lucu, proses mandi saya pun jadi galau haha. Huh, saya jadi galau dan ingin segera punya anak. #hening

Uluwatu


Setelah mandi dan berhasil membuat rombongan menunggu sekian lama, saya baru kembali ke mobil dan kami pun melanjutkan perjalanan ke Uluwatu. Sampai disini, saya banyak mengucap puji-pujian kehadirat Tuhan, atas ciptaan-Nya yang luar biasa menakjubkan. Kami berada di bibir jurang, yang dihadapkan dengan hamparan laut di bawahnya. Begitu cantik. Saya betah berlama-lama melihat ke bawah, mencoba untuk mendengarkan nyanyian ombak di bawah sana.

Setelah asik menikmati keindahan yang ada, saya dan empat orang teman saya langsung menuju tempat Kecak Dance tampil. Dengan merogoh kocek 75.000, kami bisa menikmati sajian tari yang baru kali ini saya saksikan. Ada lebih dari seribu penonton dari berbagai macam belahan dunia yang menyaksikan tari ini.


Tarian ini cukup keren dan menghibur, hanya saja ada lakon yang bagi saya tidak serius dalam menyajikan tarian, sehingga membuat tarian ini tidak sakral, alias seperti lelucon. Saat tarian sedang berlangsung, ada saja lakon yang celingak celinguk, ketawa sendiri, dan saling tegur satu sama lain, sementara ada lebih dari seribu orang yang menyaksikan tarian mereka. Over All, tarian ini keren dan cukup menghibur.

Oh ya, monyet-monyet disini rada nakal, hati-hati dengan barang bawaan anda, lebih-lebih kaca mata, karena menurut pengamatan saya selama disini, banyak monyet yang mengambil kacamata pengunjung. Jadi berhati-hatilah.

Malam semakin larut, kami pun langsung kembali ke penginapan, melepas penat setelah menjalani hari dengan berbagai macam kegiatan. Kami sempat menikmati santap malam, sebelum akhirnya kembali ke penginapan masing-masing.

Bali, The Island of Beauty 1


Mengapa judul tulisan ini sama dengan salah satu buku yang membahas tentang tempat-tempat menarik di Bali? Karena buku itulah yang sudah memberikan saya gambaran Pulau Dewata yang sejak sekian lama ingin saya kunjungi. Meski sebenarnya sudah pernah menginjakkan kaki ke Pulau yang tersohor ke seluruh dunia ini, namun tidak sempat mengeksplor Bali dengan sempurna.
            Sejak beberapa bulan yang lalu, saya memang sudah merencanakan dengan baik perjalanan kali ini. Tiket sudah saya pesan sejak tiga bulan sebelum keberangkatan, penginapan sudah siap sejak sebulan sebelumnya, dan begitu juga rencana perjalanan selama disana sudah jelas dalam rencana perjalanan saya. Dan akhirnya, saya pun berangkat seorang diri ke Bali, dengan menumpang pesawat air asia, terimakasih karena sudah memberi saya tiket promo J

21 Desember 2013
Perjalanan saya dimulai pada malam ini, pukul setengah dua belas malam saya berangkat naek kereta ke Jogjakarta, sampai di Jogja kurang lebih setengah tiga pagi. Saya sempat tidur di mushalla Adi Sucipto International Airport. Bandar Udara ini cukup kecil untuk ukuran sebuah Bandar Udara yang cukup sibuk dengan penerbangan domestik maupun internasional.

22 Desember 2013
Setelah tidur seenaknya di mushalla, saya pun ikut shalat subuh berjamaah dengan yang lainnya, kemudian melanjutkan persemedian (baca; tidur) saya di pojok mushalla yang sepi dan cukup membuat saya lelap dalam tidur. Saat bangun dari tidur, perut saya sudah keroncongan, saya pun langsung makan di KFC yang ada disono, cukup menguras dompet. Backpacker macam apa ini? makannya aja di tempat mahal. hikz.

Setelah menunggu, penerbangan saya pun tiba, dengan penuh semangat perjuangan, saya pun check in, dan langsung menunggu di ruang tunggu beberapa saat sebelum akhirnya pesawat kami siap untuk mengudara. Setelah dirasa semuanya siap, kami pun mengudara, dan seperti biasa, saya langsung tidur. Pas bangun, semua orang sudah siap-siap turun, saya sendiri yang masih molor. Kebiasaan buruk saya memang seperti ini, gampang banget tidur.

Saya langsung buru-buru turun dari pesawat, kemudian langsung menuju tempat pengambilan bagasi. fiuhhh, backpacker macam apa ini? Moso jalan-jalan bawa koper gede? haha. Saya baru sadar ternyata backpack saya yang besar sudah robek saat menjelang keberangkatan ke Jogja, jadilah alternatifnya membawa koper segede gajah ini ke Bali. Meski demikian, saya tetap membawa backpack kok #alesan.

Setelah menunggu sekian lama, sampai semua barang sudah diangkut oleh pemiliknya masing-masing, saya masih bengong sendirian, menatap ke depan dan tidak menemukan koper saya yang segede gajah itu. Fiuh,,, lari kemana itu koper?? Saya beringsut sedikit ke depan, kemudian melihat koper saya terjatuh di lantai bagian dalam, pantesan aja ditunggu bertahun-tahun nggak keluar juga tuh koper, dia malah tidur seenaknya aja di lantai. Saya langsung loncat, kemudian membawa koper itu penuh semangat sebel, hikz.

Seorang teman dari Grouf Backpacker Indonesia sudah menunggu saya di Ngurah Rai International Airport, dan kami pun langsung mencari taxi, kemudian menuju ke penginapan di Jl. Poppies Line 2, yang berdekatan dengan Pantai Kuta (Baca: Pantai sejuta Umat). Setelah check ini, kami langsung tewas di kamar, kemudian berjemur sebentar di Pantai Kuta, biar kulit saya lebih eksotis hehe.

Hujan semakin deras, dan kami pun kembali tidur di penginapan sampai maghrib. Berghhh ini mau jalan-jalan atau mau numpang tidur doang di Bali?

23 Desember 2013

1.      Pantai Lovina

Setelah puas tidur semalaman, pukul tiga pagi kami langsung cabut menuju Pantai Lovina, demi bertemu dengan lumba-lumba yang keren disono. Perjalanan dengan sepeda motor kurang lebih memakan waktu tiga jam perjalanan, lama banget, kan? Yah demi melihat lumba-lumba nggak apa-apa deh. Setelah nyasar hampir satu jam, kami pun sampai dan melihat suasana pantai yang sudah sepi, sepertinya sebagian pengunjung sudah pulang dan sudah puas melihat lumba-lumba di bagian tengah. Karena nyasar, kami jadi kesiangan, dan mungkin saja tidak bisa melihat lumba-lumba yang hanya menampakkan diri di pagi dan sore hari saja. Tapi, kami masih tetap nekad, menyewa satu perahu dengan membayar 120.000, demi melihat lumba-lumba ke tengah. Dan bahagia banget rasanya saat melihat lumba-lumba nan cantik di hadapan kami. Keren pokoknya, meski sejujurnya saya sempat mual-mual dan gemetar waktu perjalanan dari pinggir menuju ke tengah laut (ini rahasia, loh, jangan bilang siapa-siapa kalo saya mabuk laut). Tapi semua itu terbayar dengan keindahan lumba-lumba yang beramai-ramai di hadapan kami.

2.      Git Git Waterfall

Setelah puas melihat lumba-lumba, perjalanan pun dilanjutkan ke air terjun Git Git, dari pantai Lovina menuju ke air terjun ini tidak begitu jauh. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit, kami sampai di lokasi air terjun. Sayang banget waktu kesono, saya tidak membawa baju ganti. Padahal enak banget kalo mandi disini, seger. Next time kalo kesini lagi saya bakalan mandi deh. Pas di lokasi, nggak ada pengunjung selain kami berdua, berghhh, sepi dan menenangkan. Udaranya juga sejuk banget. Airnya juga nyessss dingin. Saya sempat terpeleset disini, dan membuat kaki saya sedikit terluka, tapi nggak apa-apa, kok.

3.      Bedugul

Setelah dari air terjun Gig Git, kami melanjutkan perjalanan menuju Bedugul, dan disinilah pemandangan hebat yang membuat saya terkagum-kagum; danau yang cantik, pura yang menawan, kemudian bukit-bukit yang hijau. Pokoknya seneng banget bisa kesini, pengen deh nyebur ke danau, tapi nggak bawa pakaian ganti dan nggak boleh juga ama yang jaga disana, hikz.

Kalian pernah lihat gambar yang ada di uang 50.000, ? nah itu berada di Bedugul. coba lihat deh. Saya sempat duduk di pinggir danau, kemudian menyentuh dinginnya air dengan kedua kaki, memainkan air dengan lembut. Semua terasa begitu menenangkan.

4.      Tanah Lot

Sebelum ke Tanah Lot, kami mampir sejenak ke Joger, berbelanja kaos joger yang super terkenal itu. Saya beli cuma satu, tapi ngantrinya super lama, wuahahha parah. Setelah ngantri dan bayar, kami melanjutkan perjalanan ke Tanah Lot yang terkenal dengan keindahan sunset-nya itu. Tapi sayang, hujan membasahi perjalanan kami menuju tempat ini. Kami sempat terdampar di warung makan, sebelum akhirnya memaksa diri demi melihat tanah lot, meskipun hujannya cukup deras.

Dengan memakai kain Bali, ikat kepada layaknya orang Bali, saya pun pergi ke Pura yang ada di Tanah Lot. Di Pura ini, ada sumber air yang dianggap suci oleh penduduk setempat, sedangkan saya cuma numpang foto doang.

“Kenapa nggak diminum, Mas?” tanya seorang penjaganya.

Saya cuma diam dan tersenyum. Bukan malah menjawab pertanyaannya, saya malah mengajak Bapak itu foto bersama haha.

Perjalanan hari pertama berakhir disini, setelah selesai melihat pemandangan yang ada di sekitar Tanah Lot, kami pun pulang ke penginapan dengan pakaian yang sudah basah. Meski demikian, perjalanan hari ini cukup keren. Tapi kasihan juga teman saya yang menjadi pengemudi di depan, karena saya tidak berani mengemudikan motor dengan kondisi jalan yang licin.

Setelah sampai di penginapan, langsung mandi, cari makan, kemudian langsung merencanakan perjalanan untuk keesokan harinya. Eh mencari makanan halal disini nggak susah kok. Nggak jauh dari penginapan kami ada Warung Makan Indonesia yang sudah ada sertifikat halal-nya. Selain itu ada banyak juga warung Jawa, meski memang letaknya di gang-gang sempit. Jadi nggak usah khawatir mencari makanan halal disini.