January 02, 2014

Bali, The Island of Beauty 3


25 Desember 2013
Awalnya saya dan seorang teman saya akan menyewa motor, karena tiga orang teman lainnya ingin bermain water spot di Tanjung Benoa. Intinya kami memiliki tujuan yang berbeda hari ini. Akan tetapi, saya takut hujan kembali menemani perjalanan, sedangkan tujuan perjalanan hari ini cukup jauh; Ubud dan Kintamani. Perjalanan dari Kuta ke Ubud dan Kintamani kurang lebih memakan waktu dua jam perjalanan, bolak-balik sudah empat jaman, dan jika macet tentu akan lebih lama lagi.

Ubud terkenal dengan keseniannya, ada banyak ragam kesenian disana, di sekitarnya juga ada Monkey Forest, Pasar Sukowati yang terkenal dengan pusat oleh-oleh khas Bali, dan lain sebagainya. Sedangkan Kintamani terkenal dengan Danau dan Bukit Baturnya.

Setelah menggunakan rayuan maut (lebay), akhirnya saya berhasil membujuk tiga orang teman yang lain untuk kembali menyewa mobil, mereka menunda perjalanan demi ke Ubud dan Kintamani. Yeayyyy, ini namanya penghematan. Kalo nyewa mobil hanya untuk berdua saja, jatuhnya mahal jendral.

Ubud

Pukul 8.30 pagi, kami baru berangkat menuju Ubud, di perjalanan, saya sudah molor lagi, hadeuhhh kebiasaan molor saya itu emang udah parah banget, jarang banget nggak tidur dalam perjalanan. Setelah menempuh perjalanan cukup lama, sampailah kami di Ubud, menikmati aneka ragam kesenian di sepanjang jalan yang membuat saya terkagum-kagum dengan kreatifitas masyarakat Bali yang mendunia. Saya hanya bisa menjadi penikmat seni, tanpa punya nyali untuk memiliki kesenian yang ada di hadapan saya haha, lebih tepatnya harganya itu super deh, langsung ciut dompet saya. Kan ceritanya backpacker #alesan

Kami masuk ke Museum Antonio Blanco, sebuah museum yang menyimpan berbagai macam lukisan karya Antonio Blanco yang mendunia. Antonio Blanco adalah pelukis dunia, kemudian menikah dengan perempuan Bali, dan lukisan-lukisan si Antonio Blanco ini di pajang di rumah yang menjadi tempat tinggalnya di Ubud. Museum ini rada nggak pantas kalo mengajak anak-anak di bawah umur, karena lukisan-lukisan yang ada rada ehm gimana gitu, ya kalian pasti pahamlah dengan apa yang saya maksud hehe.

Di dalam museum ini juga terdapat ruangan yang biasa dipakai Antonio Blanco untuk melukis dan sekarang dipakai anaknya sebagai tempat untuk melukis juga. Sebuah karya seni yang luar biasa hebat, meski awalnya saya nggak ngeh dengan arti dari sekian banyak lukisan yang ada. Untung ada guide yang menjelaskan semua lukisan yang ada di dalam museum, barulah saya paham sedikit (doang) tentang arti lukisan-lukisan yang ternyata sebagian besar adalah istri, anak, cucu dan lain sebagainya.

Kintamani
Setelah puas melihat semua lukisan yang ada, kami melanjutkan perjalanan ke daerah Tampak Siring. kemudian perjalanan kembali dilanjutkan ke Kintamani. Untung saya dan teman-teman menggunakan jasa sopir dan mobil, karena jalan menuju kesana rada mengerikan menurut saya; jalanan berbukit yang rada kurang aman buat saya yang amatiran dalam mengendarai sepeda motor hehe.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami sampai juga di Kintamani. Dari atas kami bisa melihat danau yang jernih, bukit batur yang menjulang, dan perbukitan yang dipenuhi dengan pepohonan hijau. Cuaca di Kintamani rada dingin, jadi mendingan kalian bawa sweater kalo kesini.

Tidak ingin hanya menikmati keindahan dari atas, kami memutuskan untuk turun ke bawah dan menuju Desa Trunjan yang terkenal itu. Jalan menuju ke Desa Trunjan ini rada horor, sempit, berkelok-kelok, tebing dan pada rusak. Fiuhh, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit dari bagian puncak, akhirnya sampai juga di Trunjan, sebuah desa di tepi danau Batur yang cantik.

Rasanya saya pengen teriak sekencang-kencangnya disini, kemudian langsung mandi di danau yang jernih. Keren banget pokoknya. Saya duduk di pinggir danau, kemudian bermain dengan anak-anak yang sedang mandi. Saya menjejakkan kedua kaki ke danau dan nyessss, dingin banget. Saya semakin bahagia menikmati hembusan angin yang menyejukkan.  Di Desa Trunjan ini terdapat pura tertua di Bali, dan tertutup untuk umum, karena merupakan tempat ibadah warga sekitar.

Sejak awal, saya memang sudah membaca tentang Desa Trunjan yang rada horor, konon setiap warga yang meninggal dunia hanya diletakkan begitu saja di bawah sebuah pohon besar yang berada di seberang danau, dan anehnya lagi, jenazah itu sama sekali tidak menimbulkan bau busuk. Meskipun jenazah hanya diletakkan begitu saja, tanpa dikubur, akan tetapi sama sekali tidak menimbulkan bau tidak sedap. Saya penasaran dengan tempat itu.

Untuk menuju tempat warga meletakkan jenazah warga yang meninggal dunia, kami harus menyewa sebuah perahu kecil, dengan waktu tempuh hanya tujuh menit lamanya. Setelah sampai, kami disambut oleh beberapa orang yang menjaga tempat peletakan jenazah. Suasana pun semakin horor haha, saat melihat jenazah berbaris rapi, dilengkapi dengan sekian banyak tengkorak yang disusun rapi di bagian bawah pohon.
Saya penasaran dengan mayat-mayat yang ada disana, kemudian memberanikan diri untuk mendekat and you know what? Ada jenazah yang kayaknya belum terlalu lama diletakkan, soalnya masih ada kulitnya dan memang tidak menimbulkan bau sama sekali. Bagi kamu yang rada takut dengan mayat, mending nggak usah kesini, soalnya rada horor sih menurut saya. Kalo saya ini kan memang pemberani, jadi nggak apa-apa kalo ketemu mayat #dijitak

Di setiap jenazah, ada barang-barang yang memang sengaja diletakkan, yang tidak lain adalah barang-barang kesukaan si mayit saat masih hidup. Jadi kalian bisa membayangkan, ada botol minuman, tape gede, baju, dan lain sebagainya. Sayang banget, kan? Gimana kalo ternyata bareng kesukaannya saat hidup adalah Mobil? Harus bawa mobil juga, gitu? #plak

Sayang banget, tempat ini sama sekali tidak terawat. Barang-barang yang diletakkan di jenazah tidak tersusun rapi, jadi kalo sudah ada yang menjadi tengkorak, tengkoraknya disusun rapi, sedangkan barang-barang yang ada hanya dibiarkan menggunung di samping tempat peletakan jenazah. Jadi kesannya kotor banget.

Setelah cukup menikmati pertemuan dengan mayat dan tengkorak, haha, liburan macam apa ini tujuannya ketemu mayat dan tengkorak. Eh tapi aneh juga, sih, Cuma karena satu pohon gede itu, mayat disana nggak bau busuk. Keren. Kami pun kembali ke seberang, dan langsung menuju mobil. Rencana selanjutnya adalah mencari tempat untuk mengisi perut yang sudah teriak meminta asupan gizi.

Setelah makan siang, kami memilih untuk langsung kembali ke Kuta, dan menyempatkan diri untuk berbelanja di Krisna, yang merupakan salah satu tempat berbelanja oleh-oleh khas Bali. Malam sudah larut banget, kami pun pulang dan istirahat. Satu orang teman saya malam ini sudah harus pulang, sedangkan tiga orang lainnya besok akan bermain Water Spot di Tanjung Benoa dan saya memilih untuk check out dari penginapan dan menginap di rumah teman yang sejak awal mengajak untuk stay di rumahnya. Saya hanya berencana stay sehari saja di rumahnya, kemudian akan kembali ke penginapan.

Perjalanan hari ini hanya sampai disini saja, esok hari akan saya lanjutkan lagi perjalanan menjelajah seorang diri di Bali.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan