February 21, 2014

Dear Faris "Catatan Inspirasi Si Pahlawan Kecil"

 


Bahagia, satu kata itu yang selalu muncul tiap kali saya menulis. Menulis adalah bagian dari saya yang sudah mulai saya cintai sejak beberapa tahun terakhir. Ada bahagia yang meluap-luap saat melihat buku saya terbit.

Sebagian besar dari buku saya adalah based on a true story, saya merasa lebih nyaman menulis apa yang benar-benar saya alami. Saya masih belajar untuk bisa menulis fiksi, dan itu memang butuh waktu. Saya harus meluangkan waktu untuk bisa menulis dengan baik dan lebih baik lagi.

Menulis itu candu, candu yang nikmat. Kamu tahu, saya menemukan passion ini sejak menjelang semester akhir kuliah dan saya masih ingat dengan baik, ketika ada orang yang merobek tulisan saya di majalah dinding kampus dan itu saya jadikan semangat untuk terus berkarya.

Kemarin, saya mendapatkan kiriman paket buku terbaru saya yang berjudul “Dear Faris” sebuah buku yang juga saya ambil dari catatan harian saya saat menemani dia di kondisi yang terluka.
Faris Ersan Arizona, dia adalah salah satu murid saya, dia begitu baik dan tegar dalam menjalani cobaan demi cobaan di usianya yang masih muda. Dan saya kagum akan ketegarannya dalam menjalani itu semua.


Dia dan bapaknya mengalami kecelakaan. Bapaknya meninggal dunia, sedangkan Faris harus menjalani proses operasi di bagian kakinya. Luka? Ah jangan kalian Tanya lagi betapa dalam luka yang ia rasakan. Namun satu hal yang ingin saya beritahukan, betapa ia tegar dalam menjalani semua itu.

Faris menjalani operasi, kemudian satu bulan selanjutnya dia terjatuh dan menjalani proses operasi lagi. Disaat itulah dia sempat down dengan apa yang ia alami. Dan buku ini adalah perjalanannya untuk kembali melangkah, meski harus tertatih. Dia tetap berusaha untuk tegar meski harus mengulang kembali semua perjuangannya sedari awal. Saya melihat sendiri bagaimana dia berjuang untuk terus bertahan disaat hati ditemani luka yang semakin dalam

Tapi, Faris, pahlawan kecilku ini begitu meyakini akan kuasa Tuhan. Ia percaya, bahwa Tuhan tidak akan pernah mencoba hamba-Nya, melebihi kemampuan sang hamba. Dengan demikian, meski sempat down, tapi dia tidak membenci Tuhan.

Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah untuk hamba-Nya. Bukan? Seberat apapun cobaan yang kita alami, selalu ada jalan keluar yang Allah berikan, kita hanya harus melakukan semuanya dengan sebaik mungkin, jangan pernah berputus asa, karena Allah begitu sayang pada kita.

Dan ketika kita semua melakukan semuanya dengan terbaik, maka Allah pun akan memberikan hasil terbaik pada kita. Ia tidak pernah tidur dan tidak pernah lengah atas tingkah hamba-Nya. Bahkan ketika kita jauh akan Tuhan, Ia tetap Mahakasih, memberi kita begitu banyak anugerah hidup.

Dari Faris, saya banyak belajar bagaimana menyikapi permasalahan hidup.
Darinya, saya belajar untuk tetap tegar, meski luka semakin dalam.
Dan darinya, saya semakin belajar untuk mencintai Tuhan.

Akhirnya, inilah persembahanku untuk pahlawan keciku, terimakasih karena sudah menjadi inspirasi dalam penulisan buku ini.
Selamat berjuang, anakku
Salam, dari gurumu
Arian Sahidi




February 17, 2014

Anak-anakku Hebat

Saat kegiatan motivation day "Mulia dengan Al Quran"

Anak-anak di kelas yang saya ampu, selalu saya tekankan untuk shalat lima waktu tepat waktu dan berjemaah. Setiap pagi, sebelum memulai pelajaran, saya selalu menanyakan apakah mereka shalat tepat waktu atau tidak. Selain menanyakan shalat lima waktu, saya tidak lupa memastikan bahwa mereka semua sudah melaksanakan shalat dhuha sebelum bel masuk sekolah berdering. Ehm… bahagia melihat mereka memulai hari dengan tadarus dan shalat dhuha terlebih dahulu. Bagaimana dengan kalian, saudaraku? Jika anak-anak didik saya bisa tadarus dan shalat dhuha terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai, kalian pasti bisa mengikuti jejak mereka, tadarus dan shalat dhuha sebelum memulai aktifitas harian. Bisa, kan? Hehe

Nah, ada satu murid saya yang mengalami perubahan yang luar biasa besar. Saya mengenalnya sebagai sosok yang jarang bicara, dan jarang sekali mau shalat berjemaah di masjid. Sejak  sepekan yang lalu dia sudah mulai shalat berjemaah di masjid lima waktu bahkan sekarang dia sudah mulai puasa Senin dan Kamis, mengikuti jejak saya dan beberapa temannya yang sudah memulai lebih dahulu. Duh, senengnya melihat perubahan-perubahan yang ada pada dirinya. Namanya Farhan Hafidz. Semoga dia tumbuh menjadi anak yang shaleh. Amin

Saya memang suka memberikan konsekuensi yang logis jika anak melanggar tata tertib yang sudah kami sepakati bersama. Dulu, shalat dhuha hanyalah bersifat anjuran saja, tapi Alhamdulillah mereka sudah mendirikannya dengan baik. Dan sekarang, ketika shalat dhuha menjadi program wajib, mereka tidak kesusahan lagi untuk melakukannya, karena memang sejak awal sudah saya anjurkan untuk shalat dhuha.

Sedangkan shalat berjemaah di masjid pun saya mulai secara perlahan. Saya tidak langsung memerintahkan mereka untuk shalat berjemaah di masjid 5 waktu. Saya mulai dengan membuat aturan bahwa mereka semua harus shalat tepat waktu, tidak diundur-undur. Itu adalah kesepakatan awal. Setelah hampir satu bulan berlalu, dan mereka sudah bisa shalat lima waktu secara tepat, meski memang ada anak yang kadang tidak shalat tepat waktu. Jika demikian, saya tanyakan alasannya mengapa tidak shalat tepat waktu.

Setelah shalat tepat waktu, selanjutnya adalah “shalat maghrib berjemaah di masjid”. Ya, sejak awal februari lalu, setiap anak minimal harus shalat berjemaah di masjid dua kali dalam sehari. Saya tidak memaksa mereka harus shalat berjemaah di masjid setiap shalat fardhu, tidak demikian. Saya memulai semuanya perlahan terlebih dahulu. Shalat dzuhur dilaksanakan secara berjemaah di sekolah, maka di rumah harus ada salah satu shalat fardhu yang mereka kerjakan berjemaah di masjid, dan mereka sepakat bahwa shalat yang dipilih adalah “maghrib”.

Jika ada anak yang ternyata tidak shalat dhuha, atau tidak shalat berjemaah maghrib, atau tidak shalat tepat waktu, maka ada konsekuensi yang saya berikan, misal; mereka harus berjemaah di masjid pada saat maghrib, Isya dan Subuh. Atau bahkan jika ada yang ternyata lebih dari 3x tidak berjemaah di masjid, maka konsekuensinya adalah berjemaah di masjid 5x sehari dalam kurun waktu beberapa hari.

Dan ada satu hal yang begitu mengejutkan, bermula dari konsekuensi yang saya berikan agar ia shalat berjemaah setiap shalat lima waktu dalam jangka waktu beberapa hari, ia mulai terbiasa dan enggan untuk tidak berjemaah. Sungguh, semoga ini adalah titik balik perubahan ia menjadi seorang anak yang mulai terpaut akan masjid. Bukankah ada bahagia ketika melihat anak-anak kita menjadi anak-anak yang cinta akan Masjid?

Sudah memasuki Minggu ketiga kesepakatan kami buat, Alhamdulillah sebagian besar sudah berjemaah di masjid, bahkan beberapa memang sudah berjemaah di masjid setiap shalat fardhu. Segala puji bagi Allah Swt., yang sudah memberikan saya kesempatan untuk bersama mereka. Ada bahagia yang meluap-luap saat tahu mereka semakin taat dan cinta pada agama yang selama ini mereka yakini. Semua memang harus ditanamkan sejak dini, karena itu adalah bekal mereka nanti. Jika tidak diajarkan sejak dini, bisa saja mereka sama sekali tidak melaksanakan semua itu nantinya.

Terlepas dari itu, hidayah merupakan hak Allah Swt. Dia yang berhak menentukan kepada siapa hidayah itu akan Ia berikan. Saya hanya bisa berusaha membimbing mereka dengan baik, dan tetap merapal pinta kepada Allah Swt., semoga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang shaleh. Amin

Surga merindukan pemuda yang hatinya terpaut akan masjid. Mari ajarkan anak-anak kita untuk mencintai agamanya, dan menjalakan perintah Allah Swt. Dengan baik. Dan tentunya dimulai dari para orangtua terlebih dahulu.

Siap menjadi teladan yang baik bagi anak-anakmu? Yuk menjadi teladan yang baik.

February 16, 2014

Inspirasi Akhir Pekan


Sayang banget nih fotonya cuma sedikit haha

Sejak awal bulan Februari lalu, saya bertekad akan mengisi akhir pekan saya dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Biasanya saya hanya bermalas-malasan di kamar, nonton film, makan mulu dan masih banyak lagi hal-hal yang sebenarnya kalo dipikir malah banyak ruginya karena saya merasa tidak ada progress, cuma gitu-gitu aja. Saya merasakan kejenuhan yang luar biasa saat di akhir pekan, bukan malah bahagia. Seharusnya saya bisa bahagia di waktu luang saya setelah menjalankan rutinitas selama sepekan. Ehm… tapi ini malah jenuh haha.

Berdasarkan pengalaman akhir pekan yang menjenuhkan, akhirnya saya membuat tekad pada diri, agar melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain, meski itu adalah akhir pekan. Saya memberi nama keinginan saya ini dengan nama “Inspirasi Akhir Pekan” haha. Soalnya, saya rela diundang kesana kemari mengisi berbagai macam kegiatan; kependidikan, kepenulisan, kunjungan sosial, dan lain sebagainya dan itu saya lakukan dengan suka rela. Ada bahagia  yang menyusup di dalam hati, saat kita bisa memberi sesuatu kepada orang lain yang tidak hanya materi saja, tapi berbagi ilmu pengetahun #okesip. Saya paling suka galau kalau pas kunjungan ke panti asuhan, itu bawaannya mau nangis mulu. #cengeng

Nah, hari ini saya punya dua kegiatan, setelah selesai shalat subuh, saya sengaja menerima beberapa mahasiswa yang ingin belajar membaca Al Quran dengan baik dan benar. Rugi rasanya jika saya tidak mengabulkan keinginan mereka, maka dibuatlah kesepekatan bahwa setiap pagi hari Minggu, ada jadwal belajar membaca Al Quran bersama saya. Saya rela mengurangi jadwal bersepeda saya demi mereka wuahahah, seneng banget waktu belajar bareng mereka. Ehm…. Semacam tidak ingin menjadi pohon yang tidak berbuah.

“Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbauh.”

Mana mau dong saya menjadi pohon yang tidak berbuah. Ada banyak hal yang sebenarnya bisa saya lakukan di waktu senggang saya untuk orang-orang yang ada di sekitar saya.


Nah..Tiga hari yang lalu, saya mendapatkan surat cinta permohonan menjadi pembicara di hadapan anak-anak Oemah Sinau, yang merupakan kumpulan anak-anak binaan sebuah lembaga amil zakat. Wahh…. Seneng banget rasanya waktu mendapat undangan itu, nggak nyangka aja ada yang mau ngundang saya untuk jadi pembicara (lagi) hahaha. Maka langsung saya setujui dong tentunya. Dan kalian tahu? Sejak hari Sabtu sampai tadi pagi menjelang kegiatan dimulai, saya nervous luar biasa. Inilah saya, selalu dag dig dug layaknya sedang berhadapan dengan calon mertua #plak. Saya membuat slide untuk bahan presentasi di hadapan anak-anak, dan kebanyakan foto yang ada di slide adalah foto saya #naris, tapi tetap berkaitan dengan materi kok. Saya malas deh kalo presentasi dengan slide yang membosankan yang hanya berisi dengan tulisan yang bikin yang hadir ngantuk, jadi saya sengaja buat slide yang rada beda alias edisi narsis wuakakka.

Maka, tadi, meski sedikit molor dari jadwal yang ada diundangan dikarenakan pihak panitia yang mungkin sedang rada-rada pusing dengan banyaknya anak-anak yang harus diarahkan ke berbagai macam ruangan dengan pembicara yang berbeda, acara pun dimulai. Acara dipandu oleh seorang moderator. Setelah itu panggung saya kuasai dengan penuh semangat perjuangan #rakus.

Saya menyampaikan kepada mereka bagaimana menjadi seorang pelajar yang tangguh dan semangat dalam menuntut ilmu. Saya ingin mereka menjadi pelajar-pelajar yang memiliki semangat dalam menggapai apa yang mereka inginkan. Saya selalu semangat jika berbicara tentang impian, siapa yang tidak punya impian? Kamu nggak punya? Duhh….masa nggak punya. #nyengir.

Dalam penyampaian materi, saya sering lupa waktu deh wuahha, kalo sudah disuruh ngomong itu saya bakalan nyerocos deh. Saya selalu menyelipkan cerita-cerita inspirasi agar mereka tergugah untuk bangkit dan menuntut ilmu dengan baik. Saya tidak ingin mereka menjadi generasi yang lemah, yang tidak memiliki kemampuan untuk bertahan. Saya ingin mereka menjadi generasi yang memberi manfaat bagi orang-orang yang ada di sekitar mereka. Saya pastikan mereka bisa mengikuti materi dengan baik.

Ada satu pembahasan yang cukup menarik dan pembahasannya paling lama dari yang lain, yaitu tentang “Kecerdasan”. Ada banyak orang yang beranggapan bahwa anak yang cerdas hanya terbatas pada anak yang juara di kelas, menang lomba olimpiade, menang berbagai macam kejuaraan dan sebagainya. Padahal, setiap anak adalah cerdas di bidang mereka masing-maisng. Ada banyak pendidik yang salah dalam memahami kecerdasan anak-anak didiknya. Padahal, cerdas bukan hanya sebatas pengetahuan kognitif saja. Ada banyak kecerdasan; linguistic, matematis, spasial-visual, kinestesis, music, interpersonal, intrapersonal. Jadi, setiap anak itu pada hakikatnya punya potensi yang sudah Tuhan tanam pada diri masing-masing. Tugas selanjutnya adalah menggali potensi yang sudah ada, menggali berarti mengeruk sesuatu yang sudah tertanam pada diri.

Anak-anak paling semangat mendengarkan penjelasan saya tentang kecerdasan dan mulai memahami bahwa mereka semua punya potensi tersendiri yang mungkin saja tidak dimiliki oleh orang lain. And you know what? Saya itu susah serius wuahahha, ada banyak tawa saat materi berlangsung, ah begitulah saya, selalu suka dengan tawa para hadirin #sotoy

Selain itu, saya memberikan hadiah berupa buku (buku New Catatan Hati Sang Guru) yang tidak lain adalah buku saya sendiri haha #modus. Ada dua buah buku yang saya berikan pada peserta yang bisa menjawab  pertanyaan saya di penghujung kegiatan.

“Sepuluh tahun yang akan datang, kira-kira kamu menjadi apa?” Tanya saya pada satu anak yang berani tampil. Pertanyaannya rada keren, kan? #kalem

“Sepuluh tahun yang akan datang, saya Insya Allah akan menjadi wirausahawan onderdil motor,” jawabnya lugas dan mantap.

Saya dan hadirin pun langsung mengaminkan keinginannya dan bertepuk tangan. Gemuruh ruangan semakin menambah semangat. Dan akhirnya, setelah semua materi disampaikan, kami pun harus berpisah #hikzz…. #lebay

Semoga mereka terinpirasi untuk maju dan terus berusaha menjadi lebih baik lagi. Amin
Bukankah orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari kemarin? Maka mari terus memperbaiki diri.

February 15, 2014

Dear Faris


Hy,,,
Aku datang dengan penuh harapan, dari jauh dan membawa cita, tiada kusangka, tiada kuduga, engkau hadir di hari-hariku #Nyanyi #LupaLirik.... haha

Akhirnyaaaaa... setelah cukup lama menunggu, lahirlah sebuah karya yang saya beri judul "Dear Faris". Cukup rumit menulis buku ini, karena kebanyakan nangis dalam proses menulisnya. Buku ini merupakan Based on a true story. Buku ini merupakan catatan-catatan inspirasi saat saya menemani Faris Ersan Arizona, yang merupakan salah satu anak didik saya yang mengalami cobaan hidup yang begitu berat, tapi dia tetap tegar. Buku ini merupakan persembahan saya untuknya.

Berikut saya sertakan sinopsisnya, ya. 

Sinopsis: 


Tak pernah terbayang olehku, anak sekecil itu harus menghadapi cobaan yang begitu berat. Ditinggal orang yang dicintai untuk selamanya di tengah rasa sakit pascaoperasi akibat kecelakaan. Aku tahu, Faris pastilah sangat sedih meski senyum cerianya mampu menutupi kegundahan yang ada. Masih kuingat kata-katanya, “Ustaz, nggak usah sedih. Ini adalah jalan yang terbaik bagi kita semua. Kalaupun Bapak bisa bertahan, itu hanya membuat beliau menderita. Faris tidak tega jika harus melihat Bapak menderita sakit yang demikian.” Ya Allah, betapa tegarnya dia. Dia yang tengah berduka mampu berkata seperti itu. 

Ya, Faris, pahlawan kecilku, mengajariku banyak hal, bagaimana menyikapi musibah yang menimpa, bagaimana memandang cobaan yang diberikan Tuhan. Darinya, aku bisa belajar, ada pesan yang ingin disampaikan Sang Pencipta melalui ujian-Nya. Tuhan memberi cobaan bukan karena tidak sayang kepada hamba-Nya. Ujian yang diberikan sudah disesuaikan dengan kadar kemampuan hamba-Nya. 

Catatan-catatan ini hadir sebagai pengingat akan nikmat Tuhan, sehingga kita akan tambah bersyukur. Bisa juga untuk mengenang kembali saat-saat Faris berjuang menjalani cobaan, saat berjuang untuk kembali berdiri tegak, dan belajar untuk kembali melangkah meski harus dengan uraian air mata, harus terjatuh, dan mengulang kembali perjuangannya sedari awal lagi. Akhirnya, inilah sebuah persembahan cintaku kepada pahlawan kecilku. Semoga para pembaca bisa mengambil pelajaran dari catatan-catatan sederhana ini.

Nah....Sudah terbayang, kan, gimana jalan cerita bukunya? Penasaran? Yuk dipesan. Info pemesanan bisa langsung hubungi saya di 085289464322


Harga : Rp. 36.700,

Kuis Buku Dear Faris

Salam,..

Selamat pagi semuanya, selamat menikmati akhir pekan (meski saya kudu lembur sampai sore nanti #curhat). Setelah kemarin koar-koar tentang lomba Buku Gratis dari saya yang berjudul “Dear Faris” di Facebook, kali ini saya akan membuat lomba serupa yang berhadiah buku yang sama, bedanya kali ini hadiahnya saya peruntukkan untuk tiga orang pemenang yang masing-masing akan mendapatkan satu buah buku “Dear Faris” + Tanda tangan penulisnya (iya, itu saya, jangan nanya lagi siapa penulisnya wuahhaha).

Baiklah, saya sudah kebanyakan cuap-cuap deh kayaknya, mendingan saya langsung saja membuat ketentuan lomba ini. Sudah siaaappp??? Baiklah mari kita mulai:

Satu : Pastikan kamu adalah seorang blogger, karena kuis ini harus di posting di blog kalian masing-masing. Nggak ada ketentuan apakah kamu pencinta blogspot, wordpress dsb, intinya kamu adalah seorang blogger, jelas? #mendadakgalak karena kalo kamu adalah Krisdayanti, aku nggak mungkin sanggup bayar #sotoy

Dua : Pastikan kamu follow twitter saya @ariansilencer (sekalian modus mencari follower)

Tiga: Tuliskan pengalaman inspiratif yang pernah kalian alami (ingat, ya, INSPIRATIF, jadi jangan tulisan galau kalian karena lagi jatuh cinta ama anak tetangga dan berhasil membuat kalian rela nggak mandi selama setahun #okesip)

Empat : Kamu harus follow blog saya dong tentunya (modus nyari follower lagi hahaha)

Lima : Twit kalimat: "Ikut #KuisDearFaris @ariansilencer, yuk @(akun teman 1) @(akun teman 2), ini infonya: “www.ariansahidi.blogspot.com" 

Enam : Tulisan inspiratif kalian boleh lebih dari satu, nggak ada batasan minimal, dan pastikan tulisan kalian adalah yang terbaru, bukan tulisan lama yang udah nongol di blog.

Tujuh: Share Info #KuisDearFaris di facebook atau twitter kalian

Delapan : Di akhir postingan blog kalian, pasang cover buku Dear Faris dan backlink ke postingan ini. Biar banyak yang ikutan dong tentunya.


Sembilan : Kalo kamu sudah selesai menulis di blog, silahkan post di kolom komentar postingan ini : nama dan link tulisan kalian.

Sepuluh: Postingan kamu saya tunggu sampai tanggal 28 Februari, ya. Cukup, kan untuk nulis satu tulisan inspiratif?

Sebelas : Eh seriussss, kamu masih butuh aturan yang lain? Wuahhaha ,, udahhhh buruan sana nulisnya, jangan baca aturan Kuis mulu, aturannya udah selesai dari tadi, yang ini emang sengaja rusuh aja #dijitak.

Sekian banyak deh aturan ketentuan #KuisDearFaris ini, selamat mengikuti dan semoga kalian bisa memenangkan lomba ini. Saya yang akan menentukan 3 orang pemenang yang berhak mendapatkan hadiah, semacam juri tunggal haha. Salam dan selamat berakhir pekan #LanjutinMakanNasiUduk.