February 17, 2014

Anak-anakku Hebat

Saat kegiatan motivation day "Mulia dengan Al Quran"

Anak-anak di kelas yang saya ampu, selalu saya tekankan untuk shalat lima waktu tepat waktu dan berjemaah. Setiap pagi, sebelum memulai pelajaran, saya selalu menanyakan apakah mereka shalat tepat waktu atau tidak. Selain menanyakan shalat lima waktu, saya tidak lupa memastikan bahwa mereka semua sudah melaksanakan shalat dhuha sebelum bel masuk sekolah berdering. Ehm… bahagia melihat mereka memulai hari dengan tadarus dan shalat dhuha terlebih dahulu. Bagaimana dengan kalian, saudaraku? Jika anak-anak didik saya bisa tadarus dan shalat dhuha terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai, kalian pasti bisa mengikuti jejak mereka, tadarus dan shalat dhuha sebelum memulai aktifitas harian. Bisa, kan? Hehe

Nah, ada satu murid saya yang mengalami perubahan yang luar biasa besar. Saya mengenalnya sebagai sosok yang jarang bicara, dan jarang sekali mau shalat berjemaah di masjid. Sejak  sepekan yang lalu dia sudah mulai shalat berjemaah di masjid lima waktu bahkan sekarang dia sudah mulai puasa Senin dan Kamis, mengikuti jejak saya dan beberapa temannya yang sudah memulai lebih dahulu. Duh, senengnya melihat perubahan-perubahan yang ada pada dirinya. Namanya Farhan Hafidz. Semoga dia tumbuh menjadi anak yang shaleh. Amin

Saya memang suka memberikan konsekuensi yang logis jika anak melanggar tata tertib yang sudah kami sepakati bersama. Dulu, shalat dhuha hanyalah bersifat anjuran saja, tapi Alhamdulillah mereka sudah mendirikannya dengan baik. Dan sekarang, ketika shalat dhuha menjadi program wajib, mereka tidak kesusahan lagi untuk melakukannya, karena memang sejak awal sudah saya anjurkan untuk shalat dhuha.

Sedangkan shalat berjemaah di masjid pun saya mulai secara perlahan. Saya tidak langsung memerintahkan mereka untuk shalat berjemaah di masjid 5 waktu. Saya mulai dengan membuat aturan bahwa mereka semua harus shalat tepat waktu, tidak diundur-undur. Itu adalah kesepakatan awal. Setelah hampir satu bulan berlalu, dan mereka sudah bisa shalat lima waktu secara tepat, meski memang ada anak yang kadang tidak shalat tepat waktu. Jika demikian, saya tanyakan alasannya mengapa tidak shalat tepat waktu.

Setelah shalat tepat waktu, selanjutnya adalah “shalat maghrib berjemaah di masjid”. Ya, sejak awal februari lalu, setiap anak minimal harus shalat berjemaah di masjid dua kali dalam sehari. Saya tidak memaksa mereka harus shalat berjemaah di masjid setiap shalat fardhu, tidak demikian. Saya memulai semuanya perlahan terlebih dahulu. Shalat dzuhur dilaksanakan secara berjemaah di sekolah, maka di rumah harus ada salah satu shalat fardhu yang mereka kerjakan berjemaah di masjid, dan mereka sepakat bahwa shalat yang dipilih adalah “maghrib”.

Jika ada anak yang ternyata tidak shalat dhuha, atau tidak shalat berjemaah maghrib, atau tidak shalat tepat waktu, maka ada konsekuensi yang saya berikan, misal; mereka harus berjemaah di masjid pada saat maghrib, Isya dan Subuh. Atau bahkan jika ada yang ternyata lebih dari 3x tidak berjemaah di masjid, maka konsekuensinya adalah berjemaah di masjid 5x sehari dalam kurun waktu beberapa hari.

Dan ada satu hal yang begitu mengejutkan, bermula dari konsekuensi yang saya berikan agar ia shalat berjemaah setiap shalat lima waktu dalam jangka waktu beberapa hari, ia mulai terbiasa dan enggan untuk tidak berjemaah. Sungguh, semoga ini adalah titik balik perubahan ia menjadi seorang anak yang mulai terpaut akan masjid. Bukankah ada bahagia ketika melihat anak-anak kita menjadi anak-anak yang cinta akan Masjid?

Sudah memasuki Minggu ketiga kesepakatan kami buat, Alhamdulillah sebagian besar sudah berjemaah di masjid, bahkan beberapa memang sudah berjemaah di masjid setiap shalat fardhu. Segala puji bagi Allah Swt., yang sudah memberikan saya kesempatan untuk bersama mereka. Ada bahagia yang meluap-luap saat tahu mereka semakin taat dan cinta pada agama yang selama ini mereka yakini. Semua memang harus ditanamkan sejak dini, karena itu adalah bekal mereka nanti. Jika tidak diajarkan sejak dini, bisa saja mereka sama sekali tidak melaksanakan semua itu nantinya.

Terlepas dari itu, hidayah merupakan hak Allah Swt. Dia yang berhak menentukan kepada siapa hidayah itu akan Ia berikan. Saya hanya bisa berusaha membimbing mereka dengan baik, dan tetap merapal pinta kepada Allah Swt., semoga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang shaleh. Amin

Surga merindukan pemuda yang hatinya terpaut akan masjid. Mari ajarkan anak-anak kita untuk mencintai agamanya, dan menjalakan perintah Allah Swt. Dengan baik. Dan tentunya dimulai dari para orangtua terlebih dahulu.

Siap menjadi teladan yang baik bagi anak-anakmu? Yuk menjadi teladan yang baik.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan