March 30, 2014

Pantai Suwuk dan Goa Jatijajar


Pantai Suwuk terletak di desa Suwuk, kecamatan Puring, kabupaten Kebumen. Untuk menuju ke lokasi pantai, banyak jalur alternatif yang dapat digunakan. Jika anda dari arah Gombong maka dibutuhkan waktu sekitar 45 menit, namun jika anda berasal dari arah kota Kebumen maka dibutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk menuju Petanahan dan setengah jam berikutnya menuju Pantai Suwuk. 

Bagi anda yang berasal dari arah timur yang kebetulan sedang melintasi jalan selatan-selatan atau jalan Daendels dari arah Yogyakarta dapat langsung lurus menuju ke Pantai Suwuk Wisata di Pantai Suwuk ini pada dasarnya tidak berbeda dengan wisata-wisata pantai di Kebumen. Pemandangan pegunungan kapur yang elok memanjang dari utara sampai selatan, dan berbatasan langsung dengan pegunungan dan Pantai Karangbolong. Untuk lebih memanjakan mata anda, alangkah lebih baiknya anda menyewa seekor kuda untuk menyisir eloknya Pantai Suwuk ini. Usai lelah dan puas menikmati pantai, hal menarik lainnya adalah kita dapat menikmati suasana santai dengan beberapa sajian makanan khas yang ada di warung-warung sepanjang pantai. Anda dapat menikmati pecel dan lontong, es kelapa hijau, jangan lupa pula peyek ubur-uburnya dan berbagai jenis peyek lainnya. 
  Baiklah, saya tidak akan panjang lebar menjelaskan tentang pantai suwuk, ya. Yang diatas juga hasil nyomot dari lapak sebelah, karena saya malas menuliskannya wuahah. Saya sih mencoba untuk menikmati suasana yang tersaji di pantai suwuk, meski sebenarnya lagi malas dengan pantai (karena pas liburan terakhir kemarin puas pergi ke pantai-pantai yang ada di Bali yang jumlahnya itu bikin stress kalo mau dikunjungi semuanya haha).

Berhubung kali ini adalah agenda jalan-jalan bareng keluarga besar Guru-guru Al Irsyad Purwokerto, jadinya saya kebanyakan kabur dari rombongan karena (ehm, elus dada), saya malas ditanyain dengan pertanyaan sacral itu haha “KAPAN NIKAH?” iya, biasanya dalam momen seperti ini yang BUJANGAN jadi bulan-bulanan yang udah berkeluarga, kan kasihan kalo lagi sensi ditanyaian dengan pertanyaan maut yang kadang menusuk ke hati, nimbus ke jantung dan memanaskan otak (ini mulai lebay) wuaha. Saya sih seringnya cuek dengan pertanyaan itu, kadang malah jadi bahan ketawaan, seolah tanpa beban. Tapi ya namanya manusiawi lah, ya, kadang juga kesel, kenapa musti nanyain itu mulu? Ah, abaikan. Mari lanjutkan ke cerita jalan-jalan hari ini #kalem
  Setelah berhasil melarikan diri dari rombongan, layaknya orang sedang liburan, saya leyeh-leyeh di bibir pantai, jeprat sana jepret sini, kemudian duduk di warung-warung kecil yang ada di pinggir pantai, memesan minuman pelepas dahaga sekaligus mengisi perut yang sudah mulai teriak meminta asupan gizi. Saya mencoba menikmati bukit-bukit yang ada di hadapan saya, menatap dengan cermat beberapa perahu yang sedang lalu lalang menghantarkan pengunjung yang ingin menyeberang ke Pantai Karangbolong, sedangkan saya enggan untuk ikut naik  perahu karena trauma pas di Bali kemarin. Jadi waktu di Bali saya bela-belain tuh bangun jam 3 pagi, dari Kuta langsung ke Lovina beach demi bertemu dengan lumba-lumba. Saya berhasil ketemu sih, tapi melalui proses yang super dag dig dug pas naik perahu menuju ke tengah lautan. Gemetaran pokoknya, padahal masih pagi dan saya sudah penuh keringat. Ah ini aib ariannnn, ngapain diceritain disini.
  Setelah puas menikmati pemandangan yang disajikan oleh Pantau Suwuk, saya kembali ke Bus dan kami pun melanjutkan perjalanan selanjutnya, yaitu ke Goa Jatijajar. Awalnya, saya kira bakalan masuk ke dalam GOA yang gelap gulita kayak waktu di Bandung, dimana saya harus membawa senter untuk bisa melihat di dalam kegelapan goa. Tapi ternyata perkiraan saya salah total. Saat sampai di pintu masuk Goa Jatijajar, saya masih harus menapaki jalanan yang dipenuhi sesak oleh pengunjung, kemudian harus menaiki anak tangga yang rada banyak. Ya cukuplah menambah keringat dan bau badan semakin sedap. Kasihan yang di samping kiri kanan saya, saya merasa bau badan saya sudah ehm keren hahaha.

Berdasarkan hasil nanya dengan Mbah Google, Goa Jatijajar adalah sebuah tempat wisata berupa goa alam yang terletak di desa Jatijajar , Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen . Goa ini terbentuk dari batu kapur, mempunyai panjang dari pintu masuk ke pintu keluar sepanjang 250 meter. Lebar rata-rata 15 meter dan tinggi rata-rata 12 meter. Sedangkan ketebalan langit-langit rata-rata 10 meter, dan ketingian dari permukaan laut 50 meter.

Konon, Goa ini ditemukan oleh seorang petani yang memiliki tanah di atas Goa tersebut yang Bernama "Jayamenawi". Pada suatu ketika Jayamenawi sedang mengambil rumput, kemudian jatuh kesebuah lobang, ternyata lobang itu adalah sebuah lobang ventilasi yang ada di langit-langit Goa. Lobang ini mempunyai garis tengah 4 meter dan tinggi dari tanah yang berada dibawahnya 24 meter. Pada mulanya pintu-pintu Goa masih tertutup oleh tanah. Maka setelah tanah yang menutupi dibongkar dan dibuang, ketemulah pintu Goa yang sekarang untuk masuk. Karena di muka pintu Goa ada 2 pohon jati yang besar tumbuh sejajar, maka goa tersebut diberi nama Goa Jatijajar. Ini sih baru menurut satu versi, konon masih ada cerita versi lain yang rada malas saya tuliskan disini. Kalian bisa langsung Tanya Mbah Google saja, ya. Jangan malas baca #dijitak.

            Goa ini keren menurut saya, ternyata di dalamnya sudah dibuatkan jalan khusus untuk dilewati pengunjung, dari pintu masuk sampai ke pintu keluar, dan lengkap dengan penerangan yang menambah keren suasana di dalam Goa. Jadi kamu nggak perlu bawa senter, apalagi lampu tembak untuk menikmati apa yang disajikan di dalamnya. Ada banyak patung-patung di dalam Goa, dan payahnya saya lupa untuk membaca satu demi satu informasi yang tertulis di patung-patung tersebut, karena banyaknya pengunjung yang masuk ke dalam Goa. Jadi kudu jalan terus, kalo berhenti sedikit, bisa dipastikan akan terjadi macet panjang di dalam Goa, halah, kirain di Jakarta doing yang macet, di dalam Goa juga bisa macet. Jadinya saya hanya bisa motret secara kilat dan sedikit tentunya. Aihh saya jadi kurang bisa narsis banyak di dalam Goa haha.

            Ada ulah saya yang akhirnya berhasil memecah kesunyian Goa (tolong jangan tertawa dulu). Kalian tahu lagu Sherina yang judulnya “Gregetan”? nggak tahu? Duhhh… kamu kemana aja? Entah dari mana saya dapat ide tiba-tiba bernyanyi dan mengubah lirik lagu tersebut menjadi “Keringetan jadi keringetan apa yang harus kulakukan” dan tawa pun membahana di dalam Goa, saya hanya bisa tersenyum dan sok sibuk motret haha. Baru sadar kalo ini di dalam Goa, jadi suara kita mantul, padahal saya nyanyinya pelan loh #alesan.

            Setelah puas, saya dan rombongan pun memutuskan untuk mengakhiri jalan-jalan hari ini. Hujan membungkus semesta, saat kami dalam perjalanan pulang menuju Purwokerto. Menjelang maghrib, saya sudah sampai kamar dan siap menghadap Allah SWT dalam shalat maghrib.
Selamat berlibur.


March 28, 2014

I am (not) Ustadz


Apa yang ada di dalam benak kalian ketika mendengar kata “Ustadz”?

Mungkin apa yang ada di dalam benak kalian juga sama dengan apa yang ada di dalam benak saya. Ketika mendengar itu, saya langsung berimajinasi bahwa sosok Ustadz adalah seseorang yang alim, yang rajin mengisi berbagai kajian, dengan penampilan baju koko, lengkap dengan peci (mungkin hehe).

Saya adalah salah satu yang mendapat sapaan “Ustadz” dari orang-orang yang ada di sekitar saya. Biar saya jelaskan awal mula saya mendapatkan panggilan ini.

Bermula dari aturan sekolah, dimana anak-anak harus memanggil dengan panggilan Ustadz/Ustadzah kepada guru-gurunya, saya pun akhirnya dipanggil Ustadz. Bagaimana perasaan saya saat pertama kali dipanggil Ustadz? Deg-degan serius kemudian ada beban yang seolah-olah berat sekali untuk dipikul. 

Percaya atau tidak, saya pun akhirnya berusaha untuk memantaskan diri dengan panggilan itu; saya berusaha untuk memperbaiki perilaku saya, berusaha beribadah dengan baik, berusaha berpenampilan sesuai syariat dan berusaha untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak. Ada malu yang begitu besar di dalam diri, jika saya tidak bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak didik saya. dan panggilan Ustadz juga mengambil peran akan motivasi diri untuk berubah menjadi lebih baik.

Saya berbincang dengan bagian bersih-bersih di sekolah, bagaimana perasaan mereka ketika dipanggil “Ustadz”, dan ternyata mereka juga merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan. Mereka juga mendapatkan sebuah motivasi untuk terus menjadi lebih baik lagi. Mungkin inilah salah satu cara Tuhan untuk menjaga diri saya dengan baik, dengan cara dipanggil “Ustadz” oleh orang-orang yang ada di sekeliling saya.

Awalnya hanya di sekolah panggilan “Ustadz” saya dapatkan, selanjutnya oleh orang-orang yang ada di sekeliling saya, ditambah lagi saya menjadi imam di masjid besar. Lengkap sudah panggilan itu melekat pada diri saya.

Lantas bagaimana perasaan saya saat hampir semua orang yang ada di sekeliling saya memanggil saya Ustadz? Padahal pengetahuan saya akan Agama masih jauh dari kata baik. Bahkan sampai hari ini saya tidak mempunyai keberanian untuk mengisi kajian-kajian, bahkan sampai hari ini saya tidak pernah khutbah di masjid yang saya Imami, bahkan sampai hari ini saya tidak banyak hafal hadits dan dalil-dalil Al Quran. Semua masih jauh dari kata baik.

Akan tetapi, saya menyadari satu hal, bahwa kita tidak bisa membeli panggilan “Ustadz”, itu adalah sebuah penghormatan orang-orang yang ada di sekitar kita, bukan? Dan saya selalu berusaha untuk memantaskan diri menjadi hamba yang baik di hadapan Allah SWT. Allah menjaga saya dengan panggilan ini, Allah menjadikan saya semakin taat dengan panggilan ini. 

Saya akan berkata jujur pada kalian, kadang untuk melakukan suatu kebaikan kita perlu dipaksa terlebih dahulu.
“Bagaimana agar bisa shalat tahajud rutin, Ustadz?” Tanya salah seorang mahasiswa yang ada di sekeliling saya.
Saya tersenyum, kemudian menjawab “Just do it,” kemudian diikuti dengan kerutan di wajah pemuda tersebut. Saya lanjut menjelaskan.

“Caranya, ya, lakukan saja. Paksain aja. Terus demikian, semakin lama kita akan terbiasa bangun malam untuk shalat, kemudian mulai merasakan itu adalah bagian dari diri kita dan akhirnya bisa ikhlas menjalankannya karena Allah SWT. Berawal dari paksaan, terbiasa, kemudian menjadi cinta. Perlu perjuangan, memang,” jawab saya sok puitis, dan pemuda tersebut ikut tersenyum.
Maksud saya begini, mungkin saja karena panggilan Ustadz yang melekat pada diri saya, saya berusaha untuk taat hanya karena tidak ingin malu di hadapan orang-orang yang ada di sekeliling saya.

Masa Ustadz kok pacaran.
Masa Ustadz nggak shalat jamaah ke masjid
Masa Ustadz shalatnya terlambat
Masa Ustadz bla bla blab la bla

Dan serentet komentar miring yang mungkin akan saya dapatkan jika saya melakukan itu semua. Akan tetapi, berawal dari malu yang ada pada diri karena sudah terlanjur dipanggil “Ustadz”, saya berusaha untuk menjaga diri dengan baik, dan lagi-lagi ini adalah cara Tuhan menjaga diri saya dengan baik.

Pernah, nggak kamu bayangkan, di sebuah restoran saya dipanggil oleh seorang anak kecil “Ustadz Ariannnnn” dengan teriakannya yang lantang dan berhasil membuat orang-orang yang ada di restoran menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah anak kecil yang sedang berlari ke arah saya dengan penuh senyuman dan saya menjabat tangan anak kecil tersebut sambil tersenyum. Awalnya saya canggung dipanggil demikian di muka umum, tapi lagi-lagi inilah cara Tuhan menjaga diri saya dengan baik. Saya selalu meyakini itu seraya terus berusaha menjadi lebih baik lagi di hadapan-Nya.

Saya selalu berusaha memantaskan diri di hadapan Allah SWT., karena saya sadar bahwa saya adalah manusia lemah yang tak punya kuasa, melainkan kehendak-Nya. Dan saya selalu percaya, Tuhan menjaga saya dengan berbagai macam cara-Nya yang kadang sulit untuk saya mengerti. Dan ketika hati sudah mulai merasai cinta akan Ia yang Mahacinta, disanalah letak bahagia sesungguhnya, bahagia karena selalu percaya akan Tuhan.

Satu hal yang harus terus kita usahakan adalah “Menjalankan semua perintah Allah SWT dengan ikhlas, bukan karena mengharapkan pujian dari manusia. Karena kualitas perbuatan seseorang juga dinilai dari keikhlasannya dalam berbuat. Ketika kita melakukan semuanya karena Allah SWT, maka disanalah letak kemulian kita, sebagai hamba yang ikhlas dalam beramal. Namun jika hanya karena manusia, mungkin saja kita akan berpaling dari-Nya disaat tidak ada yang melihat kita beramal baik. Kita hanya beramal baik ketika dilihat oleh manusia semata, selebihnya tak ubahnya seperti orang munafik yang bermuka dua. Na’udzubillah.”

Kebahagiaan hidup sesungguhnya adalah ketika kita selalu berusaha memupuk cinta kepada Tuhan, dan Kesengsaraan sesungguhnya adalah ketika kita jauh dari Tuhan.

Kemana kita akan berpinjak andai Tuhan murka dan mengusir kita dari dunia ini? Tidak ada tempat kita untuk berlindung selain kepada-Nya.
Dipanggil Ustadz ataupun tidak, saya selalu berdoa kepada Allah SWT., semoga saya bisa menjadi salah satu dari hamba-hamba-Nya yang mencintai-Nya dengan tulus. Amin.

March 27, 2014

Pejuang Subuh



Saya tidak pernah bermimpi menjadi bagian dari mereka yang selama ini ada di sekeliling saya. Sama sekali tidak pernah terbesit di dalam benak saya bahwa saya akan menjadi bagian dari kehidupan mereka yang sebenarnya sejak 2,5 tahun terakhir sudah terjadi. Dan baru sekarang saya disadarkan oleh Allah SWT., untuk ambil bagian dalam mewujudkan generasi Qurani. Baru kali ini saya betul-betul merasa khawatir dengan mereka semua, kemudian timbul sebuah keinginan kuat di dalam diri untuk bisa melakukan sesuatu buat mereka. Saya tidak bisa hanya sekadar diam, kemudian membiarkan mereka lupa betapa nikmatnya mengkaji ayat-ayat Allah, betapa indahnya menghafal kalam-Nya dan betapa menyejukkannya ketika bisa membaca Al Quran dengan baik dan benar. Saya harus melakukan sesuatu. 

Begitulah yang saya jalani. Berbekal sebuah semangat, saya pun memulainya sejak satu bulan terakhir. Saya menjadi pejuang subuh bagi mereka, dan Allah selalu mempunyai cara yang begitu hebat untuk membuat hati ini bahagia dengan apa yang kulihat akhir-akhir ini.

Saya menjadikan diri sebagai pejuang subuh bagi mereka, mengajak mereka bangun malam untuk mendirikan shalat tahajud, hanyut dalam rangkaian ibadah mereka masing-masing. Saya membiarkan mereka hanyut dalam kesunyian malam bersama Sang Pencipta melalui ayat-ayat yang terdengar merdu di telinga, saya mengajak mereka untuk kembali belajar membaca Al Quran dengan baik dan benar, saya membantu mereka menghafal ayat-ayat Allah. Dan saya selalu percaya, bahwa mereka akan tumbuh menjadi generasi yang dirindukan surga. Mereka akan tumbuh menjadi generasi muslim yang hebat. Amin

Mereka adalah beberapa mahasiswa yang tersatukan dalam sebuah pesantren mahasiswa. PESMA MAFAZA, begitu kami biasa menyebutnya, yang merupakan singkatan dari “Pesantren Mahasiswa Masjid Fatimatuzzahrah” sebuah nama yang indah bukan? Disinilah kami bertemu dan disini pula kami disatukan dalam ikatan ukhuwah islamiyyah. Saling peduli satu sama lain dalam rangka mencari ridha Allah SWT.

Mungkin mereka tidak pernah tahu, bahwa saya selalu merangkai doa-doa kepada Allah SWT dalam tiap pertemuan dengan-Nya di malam yang sepi. Ada harapan yang saya sampaikan pada Sang Pencipta, semoga mereka menjadi generasi muslim yang shaleh, yang bisa menjadi  teladan yang baik bagi orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Sekarang, meski subuh belum datang menghampiri, mereka sudah bangun dari lelap tidur, bersiap diri menghadap Allah SWT dengan basuhan air wudhu, kemudian hanyut dalam rangkaian ibadah masing-masing. Masjid bercahaya, melihat generasi muda yang sedang mengadu cinta pada Sang Pencipta, malaikat pun sibuk mencatat amal kebaikan mereka di malam yang sunyi.

Saya kerap jalan-jalan, berhenti di beberapa rumah Allah yang tersebar di berbagai daerah yang saya kunjungi. Kadang saya menangis, melihat masjid yang hanya di huni oleh mereka yang sudah berusia senja, dimanakah para pemuda? Acap kali saya merasa seperti disayat-sayat pedih hati ini, saat melihat masjid kotor dan tak satu pun penduduk yang shalat berjemaah di masjid. Dimanakah mereka, Tuhan? Mengapa tidak ada yang datang ke rumah-Mu di saat waktu shalat tiba?

Hanya sekadar mengeluh tidak akan menghasilkan apa-apa, bukan? Mari lakukan sesuatu untuk membuat itu semua lebih baik. Lakukan semampu kita, agar semakin banyak generasi muslim yang cinta akan masjid, yang berbondong-bondong ke rumah Allah SWT demi menunaikan shalat berjemaah. Bukankah indah melihat pemuda-pemuda yang rajin shalat berjemaah di masjid?

Berbicara tentang hidayah, tidak ada yang bisa memilih kepada siapa hidayah itu diberikan, hanya Allah yang Mahakuasa akan semua itu. Dia lah yang menentukan kepada siapa hidayah itu akan Ia berikan. Tugas saya sekarang adalah berusaha dan berdoa. Saya hanya sedang berusaha sebisa saya untuk membantu mereka, selebihnya biarkan Tuhan memperlihatkan betapa indah kuasa-Nya.

Dulu, sebelum saya mengabdikan diri sebagai pejuang subuh bagi mereka, jadwal saya tadarus adalah setelah shalat subuh. Sekarang jadwal tadarus saya berubah, jadwal tadarus saya menjadi sebelum subuh. Sebelum subuh, saya memastikan diri untuk bisa tadarus 1 juz. Sedangkan lepas subuh, saya sibukkan diri membina pemuda-pemuda yang ada di sekeliling saya; mengajari mereka mengaji, dan membimbing mereka menghafal ayat demi ayat kalam Ilahi.

Ini adalah bagian dari bahagia saya dalam menjalani hidup. Tuhan memberi bahagia pada saya melalui mereka, saat melihat mereka hanyut dalam ayat demi ayat yang mereka baca. Setelah selesai membina mereka dari lepas subuh sampai pukul enam pagi, barulah saya bersiap diri untuk bertemu dengan malaikat-malaikat kecil yang ada di sekolah, saatnya saya berjuang di lahan yang berbeda. Dan lagi-lagi, inilah rencana indah Tuhan untuk memberi saya bahagia dalam hidup. Saya bahagia dengan jalan hidup yang Tuhan berikan pada saya dan semoga ini menjadi amal baik nantinya.

Di akhir tulisan ini, izinkan saya mengajak kalian semua untuk mulai shalat tahajud. Shalat tahajud memiliki banyak sekali keutamaan, Tuhan akan mengampuni dosa mereka yang shalat malam, dan Tuhan akan mengabulkan keinginan hamba-Nya.

Bagi yang belum mendirikan shalat tahajud, maka mulailah sejak malam ini. Bagi yang sudah mendirikan, mari tingkatkan kualitas shalat dengan menambah kekhusyukan dalam shalat. Semoga kita semua menjadi hamba-Nya yang selalu berusaha untuk taat akan perintah-Nya. Amin

March 26, 2014

Guru Favorit



Dua hari yang lalu, saat jam makan siang, tiba-tiba ada dua orang juarnalis yang datang ke sekolah dan mencari saya. Padahal tidak ada informasi sebelumnya, tidak ada janji sebelumnya. Tiba-tiba mereka nongol aja di sekolah dan langsung mencari saya. Saya rada kaget, ini kenapa mereka nyariin saya? Saya kan nggak ada terkenalnya, kenapa bisa mencari saya?  muwhahaha

Faris sedang berada di samping saya, saat keduanya meminta waktu untuk berbincang dengan saya. Konon mereka sudah lebih dulu bertemu dengan anak-anak dan bertanya kepada mereka tentang sosok “Guru Favorit” mereka dan nama saya yang keluar sebagai guru favorit mereka. Wuahaha ini sedikit lucu deh menurut saya.

“Kami akan akan mem-publish tentang Bapak sebagai Guru Favorit bagi anak-anak di sekolah ini.” Begitulah penjelasan mereka saat saya Tanya tujuan dari wawancara singkat ini.
Saya hanya tersenyum tipis, sambil menatap wajah mereka yang seolah-olah ingin menerkam saya #iniLebay

Dan akhirnya, wawancara pun dimulai. Saya menjawab dengan santai berbagai macam pertanyaan mereka, mulai dari identias dasar, sampai pada status saya sebagai Guru Muda yang masih SINGLE (caps lock on) wuahaha.

“Saya masih canggung untuk memanggil Bapak Guru, karena dari segi usia masih sangat muda untuk ukuran seorang Guru,” ucap salah seorang jurnalis saat meminta saya berdiri untuk pengambilan gambar.

Dalam hati saya bergumam, “Sejak kapan Guru ada batasan usia minimalnya?” hehe

Mereka bertanya banyak hal bagaimana saya mengajar di sekolah dan mereka sangat tertarik dengan penjelasan saya tentang sekolah saya yang merupakan sekolah Inklusi, dimana anak-anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak-anak lainnya di sekolah umum.

“Bagaimana cara menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus tersebut, Pak?” tanyanya lagi.
“Menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus tentu memerlukan keterampilan, dimana seorang Guru harus lebih dahulu mengerti tentang anak-anak ini, dengan demikian, mereka dilibatkan dalam proses pembelajaran, tidak hanya dijadikan penonton yang tidak dianggap keberadaannya. Harus ada perhatian khusus kepada mereka yang special needs ini. Kita harus membuat mereka nyaman dengan kita, membuat mereka merasa dihargai meski mereka berbeda dengan yang lainnya.”

“Kadang, karena ketidakmengertian seorang Guru akan anak-anak ini, mereka akhirnya hanya menjadi pendengar yang tidak dianggap keberadaannya. Mereka tidak dibina dengan baik, sehingga mereka tidak mendapatkan apa-apa saat bersekolah di sekolah Inklusi. Padahal, mereka memiliki hak untuk diberi perhatian sama layaknya seperti anak-anak yang lainnya.” Saya menjawab pertanyaannya sedikit panjang.

Saya selalu bersemangat jika diajak berbincang tentang anak-anak berkebutuhan khusus. Saya sengaja belajar tentang anak-anak berkebutuhan khusus, agar bisa mendidik mereka dengan baik, agar membuat mereka tumbuh sebagai anak-anak yang bisa mandiri nantinya, tidak selalu harus bergantung pada orang lain. Saya masih dalam tahap pemula akan anak-anak ini.

Selain itu, saya juga menjelaskan tugas yang diamanahkan kepada saya, yaitu mengajarkan anak-anak bagaimana membaca Al Quran dengan baik dan benar. Saya selalu sedih, jika melihat anak-anak tidak diberi waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan kalam Allah. Coba perhatikan anak-anak yang ada di sekeliling kita, mereka banyak sekali ikut berbagai macam les A B C D E F, tapi tidak diberi waktu untuk belajar membaca Al Quran, kenapa tidak ikut les Al Quran? Padahal Al Quran menjadi panduan hidup kita.

Dua orang jurnalis di hadapan saya mengangguk tanda setuju.
“Betul sekali, semuanya harus berimbang, ya, Pak.” Ujarnya sambil menulis di buku yang ada di tangannya.

“Bukankah indah, ketika anak-anak tumbuh menjadi generasi muslim yang baik? Mereka boleh menjadi dokter, tapi dokter yang sholeh. Mereka boleh memilih profesi yang mereka inginkan, tapi tetap berpegang teguh pada Al Quran. Bukankah bahagia jika mereka tumbuh menjadi polisi yang juga hafal Al Quran, Pilot yang juga hafizh Al Quran, pengusaha yang juga hafal Al Quran dan profesi-profesi yang lain.” Saya mengakhiri penjelasan sambil mengusap keringat yang sedari tadi membasahi muka saya.

Perbincangan pun kembali di lanjut, saya menjawab satu persatu pertanyaan mereka dengan tenang dan penuh antusias hingga wawancara pun selesai.
Keesokan harinya, saya melihat hasil wawancara dengan saya di publish di Koran pagi Radar Banyumas dan saya hanya berharap, semoga saya bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak didik saya, sehingga mereka bisa tumbuh menjadi generasi muslim yang bisa memberi manfaat bagi orang-orang yang ada di sekeliling mereka. Amin
Mari menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kita, karena mereka adalah amanah yang diberikan Tuhan pada kita.