March 22, 2014

Bincang-bincang Islami


Salam,
Kali ini saya ingin bercerita tentang satu sosok yang begitu menginspirasi saya, dengan gayanya yang begitu santun dan sangat lembut ketika berbicara, beliau adalah Prof. Dr. Amir Yasin An-Najjar, Guru Besar Filsafat Islam dari Canal Suez University, Mesir. Ini adalah pertemuan kedua saya dengan beliau. Beberapa waktu yang lalu, dalam seminar Internasional yang diadakan oleh STAIN Purwokerto, beliau diundang sebagai pembicara dan kebetulan beliau tinggal tidak jauh dari tempat saya. Itu adalah pertemuan kali pertama saya dengan beliau.

Dan kali ini, kunjungan beliau ke Purwokerto lebih lama dari sebelumnya, 20 hari Insya Allah beliau akan bersama kami disini, sudah dua minggu berlalu kebersamaan kami dengan beliau, dan itu artinya beliau segera akan kembali ke Negaranya, dan tentu kami akan merindukan kebersamaan dengan beliau.

Saya masih ingat dengan baik, saat beliau meminta saya menerjemahkan sekian banyak pesan dari operator seluler yang masuk ke dalam telepon genggamnya. Saya diminta untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris, karena saya lemah dalam Bahasa Arab. Sejak saat itulah, interaksi semakin rutin karena setiap hari beliau shalat berjemaah di masjid dan diikuti dengan bincang-bincang singkat dengan beliau. Saya memang lemah dalam bahasa Arab, saya paham apa yang beliau ucapkan, tapi merasa susah untuk menjawab dengan Bahasa Arab, karena sudah jarang sekali saya berbicara dengan bahasa Arab. Berbeda waktu masih di pesantren, hampir setiap hari kami berbicara bahasa Arab dan berinteraksi dengan berbagai macam literature yang berbahasa Arab. Sekarang, saya hanya bisa reading, listening dan writing, dan lemah dalam hal speaking.


Tadi malam beliau menjelaskan tentang pentingnya ikhlas dalam menjalani kehidupan ini. Dalam artian sederhananya begini, ketika kita melakukan sesuatu, harus diniati karena Allah SWT., karena semua yang terjadi di dunia ini tidak pernah lepas dari kuasa-Nya. Ketika kita melakukan sesuatu karena Allah SWT., maka perbuatan kita Insya Allah akan dihitung sebagai amal kebaikan, namun jika amal perbuatan kita karena manusia, maka itu ria namanya. Jika kita melakukan suatu kebaikan hanya karena ingin mendapatkan pujian dari manusia, maka amalan kita sia-sia.

Ehm… kadang, dalam melakukan kebaikan kita kudu dipaksa dulu, percaya, nggak? Contohnya begini, di sekeliling saya ada beberapa mahasiswa yang menjadi santri di Mafaza (masjid fatimatuzzahra), mereka menjadi binaan saya dan saya bertanggung jawab atas kemampuan mereka dalam membaca Al Quran, hafalan Al Quran, shalat wajib dan juga shalat malam mereka. Mungkin awalnya mereka terpaksa karena belum terbiasa bangun pagi untuk shalat tahajud terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan tadarus sambil menunggu shalat subuh. Mungkin ada yang melakukan itu semua karena takut akan saya, mungkin ada yang melakukan karena malu disebabkan teman-teman yang lain sudah bangun dan segera melaksanakan shalat tahajud. Dan mungkin juga ada yang memang dengan ikhlas melakukan semua itu karena Allah SWT.

Mungkin ini berat bagi mereka untuk bangun lebih awal, kemudian bersujud di hadapan Allah SWT dalam shalat malam mereka masing-masing. Tapi saya selalu percaya bahwa mereka semua akan mulai terbiasa untuk bangun malam. Awalnya karena terpaksa, kemudian menjadi terbiasa, selanjutnya mulai merasa perlu, kemudian semakin mencintai shalat malam mereka dan akhirnya melakukan semua itu karena Allah SWT tanpa perlu saya bangunkan. Saya percaya, suatu saat mereka bisa bangun sendiri tanpa perlu sentuhan lembut tangan saya ketika membangunkan mereka. Dan kebiasaan baik itu lambat laun akan menjadi karakter mereka masing-masing. Amin.

Begitu juga dengan anak-anak saya di sekolah, awalnya mereka dipaksa dulu untuk shalat lima waktu dengan berbagai macam konsekuensi, kemudian mulai terbiasa shalat lima waktu, semakin menyukai, kemudian mulai tumbuh kesadaran bahwa itu adalah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan sampai kapan pun. Karena satu kali saja shalat kita tinggalkan, maka sampai kapan pun kita akan tetap diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Ketika satu kali saja ditinggalkan, maka kita tidak bisa kembali untuk mengulang semua yang sudah berlalu.

Duh, ini kenapa jadi rada ngawur dan sok serius gini sih tulisan ini hehe.
Nah, dalam beramal diperlukan keikhlasan. Kamu nggak usah cuap-cuap di hadapan orang lain karena baru saja membantu anak-anak yatim di panti asuhan, kamu nggak usah juga dengan songongnya menceritakan kebaikan apa saja yang sudah dilakukan selama ini. Kamu nggak usah dengan semangat membara bilang ke mertua kamu bahwa kamu sudah melakukan ABCDEFGHIJAKLMNOPQRSTU dan banyak kebaikan yang lainnya. Nggak perlu.

Allah tidak pernah berhenti mengawasi kita, bagaimanapun kondisi hati kita, Allah selalu tahu, karena Dialah yang menguasai segala yang ada di dalam hati. Jadi, kita tidak akan pernah bisa membohongi Allah SWT., karena nyatanya, Dia Mahatahu semuanya.

Ikhlas tidak bisa hanya sebatas ucapan lisan yang mengatakan bahwa kamu ikhlas dalam melaksanakan suatu kebaikan, tapi harus diikuti dari hati, bahwa apa yang dilakukan bukan karena mengharapkan penghargaan dan pujian dari manusia, tapi karena mengharapkan ridha dari Allah SWT.
Ketika kita bisa melakukan semuanya karena Allah SWT., maka ada manusia maupun tidak di sekeliling kita, kita tetap melaksanakannya. Contohnya shalat, jangan sampai kamu rajin shalat hanya karena ingin dibilang rajin ibadah oleh pasangan, orangtua, anak-anak dan lain sebagainya. Saat mereka tidak ada di dekatmu, kamu dengan leluasa meninggalkan shalat. Itu namanya ria, melakukan suatu perbuatan karena mengharapkan pujian dari makhluk.

Ikhlas merupakan salah satu syarat sahnya suatu amal.
Ikhlas juga merupakan penentu kualitas suatu perbuatan.
Ikhlas mendatangkan berkah dan ridha Allah SWT.
Mereka yang beramal dengan ikhlas tidak akan pernah merasa rugi.
Perhatikan firman Allah SWT. yang artinya :

"Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang di infakkannya itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima, mereka memperoleh pahala disisi tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati." (QS; Al Baqarah: 262)

Semoga kita semua bisa menjadi hamba-hamba-Nya yang selalu ikhlas dalam beramal. Amin. Ingat, Allah lah tujuan kita dalam beramal, bukan karena manusia.


No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan