March 26, 2014

Guru Favorit



Dua hari yang lalu, saat jam makan siang, tiba-tiba ada dua orang juarnalis yang datang ke sekolah dan mencari saya. Padahal tidak ada informasi sebelumnya, tidak ada janji sebelumnya. Tiba-tiba mereka nongol aja di sekolah dan langsung mencari saya. Saya rada kaget, ini kenapa mereka nyariin saya? Saya kan nggak ada terkenalnya, kenapa bisa mencari saya?  muwhahaha

Faris sedang berada di samping saya, saat keduanya meminta waktu untuk berbincang dengan saya. Konon mereka sudah lebih dulu bertemu dengan anak-anak dan bertanya kepada mereka tentang sosok “Guru Favorit” mereka dan nama saya yang keluar sebagai guru favorit mereka. Wuahaha ini sedikit lucu deh menurut saya.

“Kami akan akan mem-publish tentang Bapak sebagai Guru Favorit bagi anak-anak di sekolah ini.” Begitulah penjelasan mereka saat saya Tanya tujuan dari wawancara singkat ini.
Saya hanya tersenyum tipis, sambil menatap wajah mereka yang seolah-olah ingin menerkam saya #iniLebay

Dan akhirnya, wawancara pun dimulai. Saya menjawab dengan santai berbagai macam pertanyaan mereka, mulai dari identias dasar, sampai pada status saya sebagai Guru Muda yang masih SINGLE (caps lock on) wuahaha.

“Saya masih canggung untuk memanggil Bapak Guru, karena dari segi usia masih sangat muda untuk ukuran seorang Guru,” ucap salah seorang jurnalis saat meminta saya berdiri untuk pengambilan gambar.

Dalam hati saya bergumam, “Sejak kapan Guru ada batasan usia minimalnya?” hehe

Mereka bertanya banyak hal bagaimana saya mengajar di sekolah dan mereka sangat tertarik dengan penjelasan saya tentang sekolah saya yang merupakan sekolah Inklusi, dimana anak-anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak-anak lainnya di sekolah umum.

“Bagaimana cara menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus tersebut, Pak?” tanyanya lagi.
“Menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus tentu memerlukan keterampilan, dimana seorang Guru harus lebih dahulu mengerti tentang anak-anak ini, dengan demikian, mereka dilibatkan dalam proses pembelajaran, tidak hanya dijadikan penonton yang tidak dianggap keberadaannya. Harus ada perhatian khusus kepada mereka yang special needs ini. Kita harus membuat mereka nyaman dengan kita, membuat mereka merasa dihargai meski mereka berbeda dengan yang lainnya.”

“Kadang, karena ketidakmengertian seorang Guru akan anak-anak ini, mereka akhirnya hanya menjadi pendengar yang tidak dianggap keberadaannya. Mereka tidak dibina dengan baik, sehingga mereka tidak mendapatkan apa-apa saat bersekolah di sekolah Inklusi. Padahal, mereka memiliki hak untuk diberi perhatian sama layaknya seperti anak-anak yang lainnya.” Saya menjawab pertanyaannya sedikit panjang.

Saya selalu bersemangat jika diajak berbincang tentang anak-anak berkebutuhan khusus. Saya sengaja belajar tentang anak-anak berkebutuhan khusus, agar bisa mendidik mereka dengan baik, agar membuat mereka tumbuh sebagai anak-anak yang bisa mandiri nantinya, tidak selalu harus bergantung pada orang lain. Saya masih dalam tahap pemula akan anak-anak ini.

Selain itu, saya juga menjelaskan tugas yang diamanahkan kepada saya, yaitu mengajarkan anak-anak bagaimana membaca Al Quran dengan baik dan benar. Saya selalu sedih, jika melihat anak-anak tidak diberi waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan kalam Allah. Coba perhatikan anak-anak yang ada di sekeliling kita, mereka banyak sekali ikut berbagai macam les A B C D E F, tapi tidak diberi waktu untuk belajar membaca Al Quran, kenapa tidak ikut les Al Quran? Padahal Al Quran menjadi panduan hidup kita.

Dua orang jurnalis di hadapan saya mengangguk tanda setuju.
“Betul sekali, semuanya harus berimbang, ya, Pak.” Ujarnya sambil menulis di buku yang ada di tangannya.

“Bukankah indah, ketika anak-anak tumbuh menjadi generasi muslim yang baik? Mereka boleh menjadi dokter, tapi dokter yang sholeh. Mereka boleh memilih profesi yang mereka inginkan, tapi tetap berpegang teguh pada Al Quran. Bukankah bahagia jika mereka tumbuh menjadi polisi yang juga hafal Al Quran, Pilot yang juga hafizh Al Quran, pengusaha yang juga hafal Al Quran dan profesi-profesi yang lain.” Saya mengakhiri penjelasan sambil mengusap keringat yang sedari tadi membasahi muka saya.

Perbincangan pun kembali di lanjut, saya menjawab satu persatu pertanyaan mereka dengan tenang dan penuh antusias hingga wawancara pun selesai.
Keesokan harinya, saya melihat hasil wawancara dengan saya di publish di Koran pagi Radar Banyumas dan saya hanya berharap, semoga saya bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak didik saya, sehingga mereka bisa tumbuh menjadi generasi muslim yang bisa memberi manfaat bagi orang-orang yang ada di sekeliling mereka. Amin
Mari menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kita, karena mereka adalah amanah yang diberikan Tuhan pada kita.

2 comments:

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan