March 21, 2014

Les Bahasa Inggris (Lagi)


Les tambahan penting, nggak sih?

Saya pernah mengajukan pertanyaan ini kepada beberapa murid saya dan mereka memiliki jawaban tersendiri tentang keputusan yang mereka ambil. Dan saya menghargai itu.

Hari ini, saya pun akhirnya akan memulai menjadi salah satu peserta kursus Bahasa Inggris (lagi), tidak tanggung-tanggung, saya akan mengikuti les Bahasa Inggris setiap hari Senin sampai dengan Jumat, dari pukul 15.30 sampai 17.00, kebayang gimana capeknya? Padahal setiap hari saya harus kerja sampai pukul 14.30.

Sekarang saya les di dua tempat, di LIA dan UPT Bahasa Universitas Jendral Soedirman.
Saya sudah ikut les di LIA sejak beberapa bulan yang lalu, dan saya merasakan perkembangan yang cukup baik, baik dari pengucapan, dan juga tata bahasa. Sedangkan di UPT Bahasa Unsoed baru akan dimulai pekan depan, hari ini adalah pretest.

“Ustadz, ngapain ikutan les, bukannya udah pintar Bahasa Inggris?” Tanya beberapa anak didik saya.
Pintar? Haha

Saya itu memang aktif berbicara Bahasa Inggris, karena memang pernah punya obsesi besar terhadap Bahasa Inggris pas kuliah dulu.

Sejak SMP dan SMA, Bahasa Inggris adalah pelajaran yang paling menakutkan bagi saya dan saya paling malas belajar Bahasa Inggris. Sudah berbagai macam cara dilakukan agar saya suka dengan yang berbau Inggris ini, tapi tetap saja gagal dan saya tidak pernah menyukainya.

Sampai akhirnya, saat saya mendapatkan beasiswa Sarjana di Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta, saya dituntut untuk bisa berbahasa Inggris. Ah, saat itu rasanya seperti disuruh makan sesuatu yang tidak saya sukai. Kesel dan malu juga tiap kali diminta berbicara Bahasa Inggris, tapi saya hanya bisa bengong, bahkan saya pernah diketawain karena tidak bisa mengeja tulisan dosen di papan tulis. Iya, saya pernah ditertawakan sedemikian rupa oleh mahasiswa-mahasiswa lain.

Sejak saat itu, saya memutuskan untuk ambil les di LIA, karena memang LIA yang dekat dengan kampus. Ada English First yang terkenal itu, tapi biayanya selangit untuk ukuran mahasiswa yang hanya mengandalkan beasiswa untuk hidup di tanah rantau yang baru saya tempati.

Cukup lama saya ikut les, hampir tiga semester, dan yang saya ambil saat itu adalah Conversation. Dalam jangka waktu satu semester, saya bisa cuap-cuap di kelas, yang awalnya ditertawakan, akhirnya dijadikan tempat untuk bertanya setiap kali ada tugas Bahasa Inggris. Setiap akhir pekan, saya pergi ke Kota Tua, yang kebetulan dekat rumah Mami, seseorang berhati mulia yang menjadi Ibu saya di rantauan. Saya berusaha untuk bisa berbicara bahasa Inggris dengan beberapa turis yang saya temui, yang penting yang saya ajak bicara bisa paham dengan apa yang saya ucapkan, saya tidak terlalu memerhatikan tata bahasa.

Bahasa itu sebenarnya tergantung kebiasaan. Meski kamu hafal ribuan kosa kata dalam bahasa tertentu, tapi nggak pernah kamu praktikkan, kamu nggak akan bisa ngomong dengan bahasa yang sedang kamu pelajari. Jadi pas les, saya selalu berusaha mempraktikkan apa yang diajarkan oleh guru saya di tempat les.

Di kampus, setiap kali ada acara, saya sering diminta menjadi MC. Suatu ketika, saat saya sedang berada di istana Negara, saat acara Maulid Nabi (kalo nggak salah), saya sempat diminta untuk menggantikan penerjemah bagi para duta besar. Karena penerjemah yang diberi tugas oleh pihak istana terlambat datang. Saya harus masuk ke dalam suatu ruangan, memakai headset, kemudian diminta untuk membaca teks yang sudah diberikan. Setiap MC utama berbicara, harus saya terjemahkan sesuai teks yang sudah ada di hadapan saya. Tidak sulit memang, toh saya hanya diminta untuk membaca teks yang sudah ada. Tapi, nggak begitu lama kemudian, penerjemah datang dan saya lolos dari ketidaknyamanan itu haha. Padahal sudah keringatan, meski diruangan yang full AC, secara istana Negara, mana ada panas.

Nah, sekarang, saya ingin memperbaiki kemampuan Bahasa Inggris saya yang masih jauh dari kata bagus. Saya nol dalam hal Tata Bahasa, saya buta jika ditanya dengan hal-hal yang berkaitan dengan aturan bahasa dan sebangsanya. Saya nyerah kalo disuruh nulis dalam bahasa Inggris, karena dituntut untuk bisa tata bahasa. Ah, saya jadi malu dengan diri sendiri, Cuma bisa ngomong tapi nggak paham dengan aturan bahasa yang ribet ituh #elusdada.

Saya itu cuma bisa ngomong sedikit saja, bisa reading juga sedikit #hening, selebihnya saya nggak paham. Fiuhhh ngapain aja saya selama ini.
Karena masih sangat kurang dengan Bahasa Inggris, saya memutuskan untuk belajar tata Bahasa, baik belajar mandiri maupun belajar dengan ikut les tambahan.
Sekarang saya mulai sibuk, mulai pekan depan, saya sudah siap dengan rutinitas les yang membuat saya bakalan lebih lelah dari sebelumnya. Tapi saya sudah siap kok dengan kesibukan baru ini, toh ini adalah pilihan saya.

Dalam hidup, kadang kita dihadapkan dalam pilihan-pilihan, dan setiap pilihan yang kita ambil selalu memiliki resiko tersendiri, bukan? Tidak ada pilihan yang tidak beresiko, entah itu baik maupun buruk, dan setelah kita memutuskan untuk memilih, kita harus siap menjalani semuanya dengan baik, kan? 

Sebenarnya, ini juga bagian dari persiapan saya yang sedang sibuk menyiapkan diri untuk melanjutkan kembali Studi saya yang sempat tertunda, dan saya selalu berdoa semoga Tuhan memberi saya kemudahan dalam melanjutkan cita-cita saya. Hidup saya harus terus menjadi lebih baik dari sebelumnya, harus ada kemajuan-kemajuan yang saya targetkan, untuk bisa menjadi lebih baik lagi.

Bukankah orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari sebelumnya?
Saya ingin menjadi lebih baik lagi, tentunya.
Semoga Allah memberkahi.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan