March 21, 2014

Trauma Masa Lalu


Sudah 3 Minggu saya itu bikin susah orang lain, kemana-mana harus diantarin, harus dijemput, bahkan tidur pun harus ditemani untuk jangka waktu beberapa waktu, karena kadang saya bangun di tengah malam dan merasakan nyeri di bagian luka bekas operasi, kadang susah bangun sendiri, harus dibantu.

Sebenarnya, saya bisa saja pergi kemana-mana sendiri dengan motor, tapi nyali saya ciut karena pernah sekali saya pakai motor dalam kondisi luka operasi di bagian perut belum kering dan itu berhasil membuat saya sedikit trauma, karena konsentrasi saya terpecah, antara mengemudikan motor dan menahan sakit karena gesekan celana terhadap luka bekas operasi yang ada di bagian bawah perut sebelah kanan.

Sejak saat itu, selama hampir 3 Minggu kemarin, saya selalu diantar jemput, karena tidak berani mengendarai sepeda motor sendiri. Cemen, memang, tapi mau gimana lagi, saya tidak punya keberanian untuk melakukan semuanya sendiri. Saya tidak pernah mau bikin repot orang untuk antar jemput saya, tapi kali ini situasinya berbeda.

Saya sangat berterimakasih kepada siapa saja yang selama ini sudah dengan setia mengorbankan banyak waktu untuk menjaga saya, bahkan setia mengantar saya setiap pagi ke sekolah, dan tidak lupa menjemput saya di sore hari. Saya sangat menghargai itu, dan saya sangat berterimakasih atas semua pengorbanan kalian. Saya sama sekali tidak bermaksud menjadikan kalian budak, yang harus patuh dengan apa yang saya inginkan, sama sekali tidak. Tapi keadaanlah yang membuat saya seperti ini. Toh dulu saya tidak pernah mau bikin repot kalian, bukan? Hehe

Tadi malam, dalam sujud panjang saya di hadapan Allah SWT., saya menangis, mengadu pada-Nya, agar saya segera diberi kekuatan dan keberanian untuk kembali menjadi diri saya yang mandiri seperti tiga pekan sebelumnya, dimana saya bisa melakukan sebagian besar kegiatan saya sendiri. Saya membulatkan tekad, bahwa hari ini, saya harus berangkat sendiri, tanpa perlu diantar jemput. Saya memberanikan diri untuk menatap sepeda motor yang sudah hampir satu bulan tidak saya tunggangi. Ada sedikit takut yang kemudian menghantui saya, tapi saya harus berani, bukan? 

Saya duduk di atas motor, kemudian menarik nafas dalam-dalam, berdoa, semoga semuanya baik-baik saja. Sedikit lebay, kah? Iya, anggap aja ini lebay, tapi saya memang dihantui oleh berbagai macam pemikiran yang aneh tiap kali naik sepeda motor. Tapi, saya percaya, bahwa saya bisa dan Alhamdulillah semuanya bisa berjalan dengan baik, meski saya sangat pelan mengendarai sepeda motor butut saya ini.

1,5 tahun yang lalu, saya pernah trauma mengendarai sepeda motor, setiap kali naik sepeda motor, saya selalu berhalusinasi di hadapan saya ada orang-orang yang berlumuran darah dan itu berhasil membuat saya berhenti dan segera memindahkan sepeda motor saya ke pinggir. Iya, saya pernah setrauma itu. Bermula dari saya menyaksikan langsung orang yang tabrakan, semuanya selalu teringat dan itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Hampir 7 bulan lamanya saya mengalami trauma itu. Tapi saya tidak bikin repot orang lain kala itu, karena saya sengaja membeli sepeda dan selama 7 bulan itu saya selalu pergi menggunakan sepeda, pelan dan dengan sangat hati-hati dan saya selalu memilih jalan pinggir, bahkan bisa dibilang sangat pinggir. Kadang saya memilih naik ke trotoar, karena takut dengan kendaraan yang lalu lalang.

Tapi, kali ini beda. Saya tidak diizinkan naik sepeda, karena takut apa yang baru saja saya alami kembali berulang, dan itu artinya saya harus diantar jemput kemana-kemana, dan itu tentu bikin repot orang lain, bukan? Meski saya selalu percaya ada banyak orang baik di sekitar saya yang siap membantu saya. Tapi, sampai kapan? Bukankah mereka juga mempunyai kegiatan lain?

Terimakasih, Tuhan, karena sudah mengirimi saya orang-orang baik yang dengan tulus membantu saya kala saya tidak bisa mandiri berpergian, saya sangat menghargai apa yang mereka lakukan. Saya sangat respect pada mereka semua. Terimakasih

Maaf, andai selama kurang lebih 3 Minggu belakangan saya selalu membuat kalian repot. Semoga kebaikan selalu menyertai kalian dan semoga Allah SWT. menempatkan kalian di sisi-Nya yang Ia Ridhai segala langkah perjalanan kalian. Semoga semua urusan kalian diberi kemudahan karena kalian sudah memberi saya kemudahan dalam menjalani semua aktifitas saya belakangan ini. Saya tidak perlu khawatir, karena nyatanya kalian selalu ada untuk saya, menemani saya dan membantu saya melakukan banyak hal. 

Dulu, saat saya trauma untuk yang pertama kalinya, saya sempat konsultasi dengan seorang psikolog dan saya diberi wejangan yang akhirnya membuat saya semakin bisa mengontrol pikiran saya, dan yang paling saya utamakan adalah bersujud di hadapan-Nya, memohon agar semua bisa kembali menjadi lebih baik lagi. Saya memperbaiki ikatan hati saya dengan Tuhan, dan dengan demikian saya bisa merasakan ketenangan dalam menjalani semuanya.

Dan pagi ini, saat anak-anak sedang sibuk bersiap diri melaksanakan rutinitas di hari Jumat, saya berusaha menuliskan ungkapan ini, sebagai rasa terimakasih saya kepada siapapun yang selama ini sudah menjaga saya dengan baik.
Terimakasih kepada Tuhan yang sudah menjaga hati saya agar tetap mencintai-Nya
Terimakasih kepada seluruh Tim Dokter yang begitu baik dan memberi saya pelayanan terbaik kala saya berada di rumah sakit.
Terimakasih kepada anak-anak binaan saya di Pesantren Mahasiswa Mafaza
Terimakasih khususnya kepada Jaenal Aripin yang paling sering saya repotkan
Terimakasih kepada semua rekan Guru yang juga dengan tulus mengerti saya
Terimakasih kepada anak-anak didik saya yang rela berkorban banyak demi saya, rela turun ke lantai satu saat pembelajaran yang semestinya di lakukan di lantai 4, karena saya masih belum berani naik turun tangga dengan ketinggian yang demikian.
Terimakasih kepada para security dan rekan TU yang juga sudah banyak berkorban demi saya, antar jemput saya ketika ada tugas di luar sekolah sementara saya tidak mungkin meminta anak-anak Pesma mengantar saya.
Terimakasih kepada para wali murid yang sudah meluangkan waktu untuk menemui saya di Rumah Sakit
Terimakasih kepada siapapun, yang tidak mungkin bisa saya sebutkan satu persatu dalam tulisan ini.

Akhirnya, semoga kita semua menjadi hamba Allah yang selalu taat akan-Nya, yang selalu percaya bahwa seberat apapun cobaan yang kita alami, Tuhan harus selalu ada di hati kita. Tidak boleh ada sedikiti pun keraguan akan kuasa-Nya, karena kita terlalu kerdil untuk bisa memahami betapa indah kuasa-Nya.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan