April 13, 2014

Bidadari Surgaku


“Aku ingin menikah, Bu,” ucapku sambil menatap wajah ibu yang ada di hadapanku. Teknologi membuatku bisa menghabiskan beberapa jam waktu luangku untuk berbincang dengan ibu dengan aplikasi skype.
“Dengan siapa? Apa dia orang Indonesia juga?” selidiknya ingin tahu. Aku mengangguk.
“Tapi dia keturunan Arab, Bu. Kami sama-sama sedang menempuh pendidikan Doktoral disini. Aku sama sekali tidak pernah berbincang dengannya, aku hanya pernah bertemu di kajian minggu dua atau tiga kali. Seorang sahabatku yang mencoba untuk mengenalinya lebih jauh, keluarga, latar belakang pendidikan agamanya dan juga budi pekertinya. Aku yakin akan segera menemuinya, dan menyatakan keinginanku untuk menikah dengannya.”
“Jadi, dia belum tahu apa yang kamu rasakan?”
Aku menggeleng, sambil tersenyum.
“Kamu itu sama saja dengan bapakmu. Dulu, waktu bapakmu melamar ibu, karena pernah melihat ibu mengisi kegiatan remaja di salah satu sekolah. Hanya satu kali melihat dan entah dari mana ia tahu banyak tentang ibu, kemudian datang dan melamar ibu.” Ibu bercerita tentang masa lalu, mengenang kembali tentang ia, laki-laki berusia senja yang baru dua tahun pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Aku tidak bisa kembali ke tanah air kala itu, karena sedang menempuh study di Melbourne, Australia.
Aku tersenyum, kemudian melemparkan pandangan ke luar jendela, melihat bulir-bulir salju yang mulai menggunung. Salju semakin mendinginkan hatiku yang sedang hangat terbakar cinta yang aku sendiri tak tahu bagaimana caranya membuat rasa itu teduh, selain bertemu dengan-Nya dalam sujud demi sujudku di malam yang sunyi.
“Fatih….” Suara ibu mengagetkanku yang sempat melamun seorang diri. Kulihat ibu tersenyum di hadapanku.
“Jika memang kamu sudah siap, ibu hanya bisa berdoa, semoga Tuhan memberikan yang terbaik bagimu, Nak.”
“Amin.”
“Jangan lupa istirahat. Kamu butuh istirahat yang cukup, jangan terus-terusan dipaksa untuk menyelesaikan disertasimu kalo sudah capek. Kamu semakin kurus, Nak.”
“Ibu jangan khawatir, aku baik-baik saja disini, Australia tidak bersikap kejam padaku.”
Kami sama-sama tersenyum, dan wajah ibu pun menghilang dari layar laptopku. Aku kembali melemparkan pandangan ke luar apartemenku, melihat ke ujung jalan yang berjarak dua blok dari apartemenku. Kulihat beberapa orang sedang duduk di pinggir jalan, sambil melempar sesuatu ke tumpukan salju yang menggunung. Mereka mengingatkanku akan kenangan saat pertama kali menyentuh salju
Ada banyak yang kurindukan dari negeriku, aku merindukan suara adzan yang membangunkanku kala terlelap dalam tidur, aku merindukan suara riuh anak-anak didikku yang sudah tiga tahun lebih tidak pernah bertemu denganku. Pihak sekolah beberapa kali menghubungiku melalui skype, dan mengizinkanku berbicara di hadapan anak-anak yang ada di kelas. Mereka berteriak kegirangan saat melihatku di layar, bahkan ada yang berdiri dan ingin menjabat tanganku, seolah aku berada disana. Aku kerap kali terpingkal melihat tingkah mereka yang lucu.
“Mengapa kamu tidak menjadi dosen saja, Fatih?” Tanya seorang temanku beberapa waktu lalu.
“Aku terlalu jatuh hati pada anak-anak,” jawabku singkat.
**
Aku sudah duduk di ruang tamu apartemen Najwa, ditemani oleh dua sahabatku yang sama-sama dari Indonesia. Kulihat Abi dan Umi Najwa menatapku hangat, tersenyum dan memersilahkanku untuk menyeruput segelas teh hangat yang telah tersaji sejak kedatanganku beberapa menit yang lalu. Mereka memang kerap kali mengunjungi putri mereka yang cuma satu-satunya. Indonesia dan Negeri Kangguru seolah tak berjarak, mereka bisa dengan kapan saja mengunjungi Najwa disini.
“Sebentar lagi Najwa pulang, tadi dia ada tugas mendadak, menggantikan supervisornya untuk mengajar di program sarjana.” Abi Najwa mencoba untuk menghangatkan suasana yang terkesan terlalu formal.
Suara seseorang mengetuk pintu, terdengar ucapan salamnya, suara yang sudah beberapa waktu kuhapal dengan baik. Aku mengenali suaranya yang lembut dan meneduhkan. Mungkin itu salah satu dari sekian banyak alasan hatiku memilihnya.

Wahai bidadari surgaku
Telah kusebut namamu dalam doa-doaku
Sebuah harap semoga kita bisa bersama
Membangun rumah tangga menuju surga-Nya

Tidak perlu menunggu lama, Najwa sudah bergabung bersama kami di ruang tamu. Aku langsung pada inti pembicaraan, menyampaikan rasa yang sudah sekian lama kupendam, aku mencintainya. Aku ingin menikah dengannya.
Najwa mendengarkan ucapanku dengan tetap tersenyum, dan aku tidak sanggup berlama-lama menatapnya. Aku beralih, melihat Abi dan Uminya yang ada di bagian kanan kursi panjang di ruangan ini.
“Najwa, kamu sudah mendengar keinginan Nak Fatih, Abi dan Umi menyerahkan sepenuhnya padamu,”
Najwa berbisik kepada Abinya beberapa saat dan membiarkan kami terdiam. Dua orang sahabat yang ada di samping kiri dan kananku tidak banyak membantuku. Mereka bak patung yang tak mampu angkat bicara.
“Fatih, Najwa menyampaikan satu syarat jika Nak Fatih ingin menikah dengannya. Laki-laki yang melamarnya harus hafal minimal 10 juz Al Quran. Kamu sanggup?”
Ada luka dan bahagia yang bersamaan datang di hatiku. Aku mencoba untuk tersenyum, meski di satu sisi aku tahu, bahwa sekarang belum waktunya bagiku untuk mengajak bidadari surgaku menikah denganku. Tapi aku masih memiliki harapan, harapan untuk bisa hidup bersama dengannya.
“Aku akan menunggumu, Mas Fatih. Datanglah, ketika syarat yang kuajukan telah terpenuhi.”
Aku mengangguk. Aku sadar, aku perlu perjuangan lebih untuk bisa menggapai ini semua. Aku hanya hafal juz 30 saja, itu artinya ada 9 juz lagi yang harus kuhafal demi menikah dengan Najwa.
**
Suasana di Kudus begitu ramai, banyak tamu yang berdatangan silih berganti, ziarah ke makam Sunan Kudus. Sudah seminggu aku berada disini, menjadi santri diusia yang sudah hampir kepala tiga. Setelah kelulusan program doktoralku di Australia, aku memilih untuk pulang ke tanah air, menemui Ibu di Bandung, kemudian meminta restunya untuk pergi ke Kudus demi menghafal Al Quran.
Aku kerap kali menangis, karena merasa kesulitan untuk menghafal Al Quran. Berbagai macam cara sudah kulakukan dalam sepekan terakhir, tapi masih saja sulit untuk menghafal.
Satu bulan berlalu, dan aku masih merasa sangat sulit untuk menghafal. Aku menemui Abah, pimpinan pesantren tahfidz tempatku mondok. Aku butuh pencerahan dari Abah. Abah menyambut kedatanganku hangat, ia memintaku untuk mengambil jubah putih miliknya, kemudian memersilahkanku duduk lesehan di atas karpet usang di ruang tamunya. Hidupnya sederhana, tapi tak pernah kulihat lelah di wajahnya. Seolah tak pernah habis waktunya untuk membimbing kami dalam menghafal Al Quran. Aku menjadi santri tertua dari sekian banyak santri binaannya.
“Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah meluruskan niatmu, Fatih.” Abah memberiku nasehat setelah mendengar apa yang menjadi alasanku dalam menghafal Al Quran. Kadang, kita memang perlu merasakan tamparan terlebih dahulu untuk menyadari sesuatu. aku merasa seolah-olah baru saja mendapatkan tamparan yang begitu kuat. Aku tertunduk malu, malu pada diri sendiri, malu pada Tuhan.
Hari-hariku berjalan seperti biasa, rutinitasku tidak banyak berubah, aku menghabiskan hari untuk menghafal dan terus menghafal. Masjid menara Kudus menjadi tempat favoritku dalam menghafal. Aku betah berlama-lama di rumah-Nya, sesuatu yang tidak bisa kurasakan ketika berada di Australia, karena masjid sangat jauh dari apartemenku. Aku suka melihat anak-anak kecil yang duduk di pojok masjid, menghafal ayat demi ayat-Nya. Kadang aku malu pada mereka, meski umur mereka masih di bawah sepuluh tahun, tapi banyak yang sudah hampir hafal 30 juz. Sedangkan aku? Di bulan ketiga ini, aku baru hafal 5 juz, setelah perjuangan yang tidak mudah.
Di akhir pekan, aku mengajar Bahasa Inggris bagi anak-anak di sekitar pesantren. Setidaknya aku masih punya kesibukan yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Inilah baktiku pada negeri ini.
Sudah hampir dua tahun berlalu, aku masih ingat dengan pertemuan kala itu, kala ia, yang kusebut sebagai bidadari surgaku mengajukan syarat untuk menjadi pendampingnya. Aku masih ingat dengan baik. Tapi, aku tidak ingin setengah-setengah dalam menghafal ayat-ayat-Nya. Aku telah jatuh cinta pada kalam-Nya dan meyakinkan diri untuk menyelesaikan hafalanku. Aku ingin menjadi seorang hafidzh, seseorang yang hafal Al Quran. Aku telah mendamba itu sejak hafalanku 10 juz. Aku sudah menghubungi Najwa dan Abinya. Kudengar ia tidak bisa menungguku lagi, ia akan segera menikah dengan orang lain. Tak apa, aku selalu percaya bahwa seseorang sedang bersiap diri untuk menerima lamaranku, meski belum kutemukan bidadari surgaku.

Teruntukmu yang masih tak nyata
Aku ada disini, menyiapkan diri menjadi pendamping hidupmu
Teruntukmu yang masih tak sanggup untuk kuraih
Aku percaya dengan janji-Nya
Laki-laki yang baik diperuntukkan bagi perempuan yang baik pula
Andai nanti kita berjumpa
Andai nanti telah kutemukan dirimu wahai bidadari surgaku
Semoga kita dipertemukan dalam cinta karena-Nya
Aku akan menikahimu
Bersiaplah bidadariku

Cinta adalah penerimaan yang tak terperi, meski tak selalu berbalas serupa, karena kita jarang sekali menang dalam urusan cinta, namun sakit hatinya pun tetap indah. Begitulah bagaimana Tuhan mengajarkan makna mencintai kepada hamba-Nya.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan