June 26, 2014

Mafaza



26 Juni
Tadi pagi, saya dan santri Mafaza duduk bareng, kemudian mencoba untuk menganalisa kembali apa yang sudah kami lakukan dalam satu semester ini. Menjelang Ramadhan, kegiatan kajian rutin akan diganti dengan kegiatan-kegiatan Ramadhan yang sudah disusun sedemikian baik oleh mereka. Saya bangga bisa mengenal mereka semua.

Sehari sebelumnya, saya sudah memberi mereka kesempatan untuk menulis kritik dan saran yang ditujukan untuk diri saya pribadi. Kritik dan saran ini dalam rangka introspeksi diri pribadi, agar bisa menjadi lebih baik lagi dalam membimbing mereka semua. Mereka bukan hanya sekadar santri bagi saya, tapi juga adik dan juga sahabat yang baik yang bisa menjadi teman berbagi suka dan duka. Mungkin perbedaan umur yang tidak terlalu jauh membuat kami lebih dekat satu sama lain meski memang belum sepenuhnya saya mengenal mereka satu persatu karena memang belum lama saya membina mereka secara penuh.

Saya memang suka memberikan kesempatan anak-anak di sekolah untuk menilai apa yang sudah saya lakukan untuk mereka, dan ini saya praktikkan di pesantren mahasiswa mafaza. Saya persilahkan mereka untuk menuliskan kritik dan saran yang membangun demi kebaikan bersama. Karena apa yang menurut saya baik, belum tentu baik bagi mereka.

Saya sengaja meminta mereka menuliskan sebanyak mungkin, karena kalo saya minta mereka untuk berbicara langsung, saya yakin mereka akan sungkan dan bisa jadi apa yang selama ini menjadi unek-unek mereka tidak bisa disampaikan dengan baik. Jadi, saya memilih memberikan mereka kesempatan untuk menuliskan kritik dan saran tanpa perlu mencantumkan identitas diri.

Setelah membaca sekian lembar kritik dan saran dari mereka, air mata saya menetes, kemudian memohon ampun kepada Allah SWT atas khilaf saya selama ini. Yang paling menonjol yang mereka rasakan adalah, saya kurang adil dalam memberi perhatian. meski demikian mereka masih memaklumi, karena memang baru lima bulan terakhir saya berusaha mengenal mereka lebih dekat dan peduli dengan mereka. dan ada satu tulisan yang kemudian begitu mengena di hati saya dan saya tahu siapa yang menulis ini. Berikut saya tuliskan langsung tulisan yang saya dapati saat membaca kritik dan saran dari para santri di pesantren mahasiswa Mafaza.

" Salam khusus untuk Ustadz Arian."

Sedikit bercerita, Ustadz, dulu selama tinggal di Jakarta, dari saya berumur 6 tahun sampai 15 tahun, saya belajar tentang Agama, dari Al Quran, kitab nahwu, shorf, mahfuzhot, adabul insan, tafsir dan lain-lain. Tapi, selama kurang lebih 5 tahun saya tidak menyentuh kitab-kitab itu lagi, mungkin karena saya terlalu sibuk bermain, kumpul-kumpul sama teman SMA. Saya dulu tergabung di kerohanian Islam dan sampai hari ini silaturahmi kami tetap terjaga. Banyak yang beranggapan bacaan Al Quran saya baik, tapi saya tidak berpikir demikian, sampai-sampai banyak guru yang menyuruh saya tadarus di sekolah.

Setelah lulus SMA, saya sudah jarang sekali menyentuh Al Quran. Hafalan saya dari saya kecil hanya An Nas - At takatsur. Dulu saya sangat sibuk dengan dunia saya. Selama kuliah di IPB Bogor saya sudah ada niat untuk tinggal di masjid agar ibadah saya, akhlak saya dan komunikasi saya dengan akhwat bisa terjaga.

Setelah 1 tahun berikutnya, ternyata mimpi saya belum diijabah sampai akhirnya saya bermigrasi dari Jakarta-Bogor, Bogor-Jakarta, dan Jakarta-Purwokerto. Mendaratnya saya di Purwokerto dengan keadaan buta arah, di bulan Ramadhan dan di malam menjelang pagi saya berdiri tegak dengan mata panda di Purwokerto tepatnya di Stasiun.

Dari stasiun sampai kampus Pak Dirman saya berjalan kaki. Sungguh Ramadhan yang indah. Tahu nggak Ustadz? Tempat pertama kali yang saya jajaki adalah ini, Masjid Fatimatuzzahra, Masjid yang saya kira masjid kampus. Masjid yang riuh dengan suara burung pagi hari. Saya menduga kalau tempat ini bukan tempat biasa. Saya suka masjid ini, saya suka dengan Imam yang selalu membaca surat yang panjang-panjang. Saya rasa ini krusial sekali, Masjid besar dengan bacaan Quran yang luar biasa.

Saya bertekad saya harus bisa baik bacaan Al Qurannya. Saya bercita-cita menjadi "Scientist yang bacaan Al Qurannya baik" dan Ustadz Arian merupakan Ustadz yang membimbing saya dengan jam terbang yang paling banyak. Mungkin, kalo tidak ada Ustadz, bacaan saya tetap seperti dulu, masih buruk. Entah apa jadinya keluarga saya nanti kalau saya tidak ada pemantasan dan perubahan.

Sungguh, dengan segenap hati saya, saya bersyukur dan berterima kasih karena bertemu Ustadz dan saya belum bisa memberikan apa-apa, malahan merepotkan. Ustadz sudah menjadi "pengaruh"

"Pengaruh itu bukan karena banyaknya orang yang berpengaruh, tetapi orang yang mampu mempengaruhi banyak orang"

25 Juni 2014
(Calon Scientist)
**

Setelah membaca tulisan di atas, saya mengelus dada, kemudian mengusap air mata di ujung sana yang berhasil tumpah. dan tadi pagi, saat saya mengakhiri kajian rutin bersama mereka karena mereka akan sangat sibuk menjadi pelayan umat di Bulan Ramadhan ini, ada tangis yang memecah pagi. Saya berusaha kuat menahan agar tidak sampai menangis, meski di samping saya sudah ada yang menangis terisak seolah akan terjadi perpisahan. dan saya bangga pada mereka dan perubahan mereka yang semakin baik.

Saya bilang ke mereka semua bahwa "Kita adalah keluarga. Sebagai sebuah keluarga, maka sudah seharusnya kita saling percaya dan saling support satu sama lain. Dimana pun kalian berada nanti, jadilah generasi muslim yang memberi manfaat kepada orang-orang yang ada di sekeliling kalian." Kami memegang erat tangan satu sama lain kemudian berjanji akan terus berusaha menjadi lebih baik lagi.

Ya rabb,
Lindungilah kami
Berilah kami kekuatan untuk selalu menjadi lebih baik
Ingatkan kami jika kami jauh dari jalan-Mu
Semoga cinta kami tetap utuh padamu, Tuhan. Amin

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan