July 09, 2014

Keluar Dari Zona Nyaman



Kadang kita memang harus pergi dari zona nyaman yang kita punya, untuk menggapai impian yang lebih tinggi dalam rangka meningkatkan kualitas diri. Mungkin inilah sebenarnya yang sedang saya lakukan, meninggalkan zona nyaman demi sebuah mimpi yang sudah saya persiapkan dalam satu tahun terakhir. Mulai dari belajar soal-soal bahasa inggris yang sempat membuat saya down parah karena merasa kesusahan dalam mencerna soal-soal yang dipenuhi dengan tata bahasa, belajar soal-soal Tes Potensi Akademik yang merupakan hal baru buat saya, psikotes, berulang kali merubah tujuan Universitas, sampai harus menghemat biaya hidup demi melanjutkan study, dan itu semua cukup menguras tenaga, waktu dan juga pikiran.

Meski demikian, saya menikmati kesempatan yang Allah berikan pada saya, meski saya juga tahu, ada orang-orang yang tidak suka melihat saya berusaha menjadi lebih baik lagi, tapi bukankah Tuhan punya rencana yang indah bagi hamba-Nya? Selagi apa yang kita usahakan itu baik, Insha Allah akan diberi kesabaran dalam menggapai mimpi.

“Bukankah kamu sudah mendapatkan apa yang kamu impikan? Menjadi Guru dengan gaji yang juga cukup, lalu apalagi yang kamu kejar?” begitulah Tanya seorang kawan kala waktu istirahat. Dan saya hanya tersenyum.

“Saya mengundurkan diri dari pekerjaan ini bukan karena saya tidak suka menjadi seorang Pendidik, justru ini adalah wujud kecintaan saya pada dunia pendidikan, saya ingin menyiapkan diri sebaik mungkin untuk sebuah pengabdian. Mengajar tidak mesti harus di sekolah formal, bukan? Bumi Allah itu luas, dimanan pun saya berada nanti, Allah akan mempertemukan saya dengan ladang dakwah baru, dan itulah sebenarnya bukti bahwa “Kita harus terus menjadi lebih baik lagi”, dan inilah yang sedang saya perjuangkan.”

Saya tahu, semua ini tidak semudah yang saya bayangkan, akan banyak sekali rintangan dalam menggapai apa yang saya impikan, namun saya meyakini satu hal bahwa “Akan selalu ada hasil dari sebuah usaha”, tugas kita hanya melakukan semuanya dengan baik, bahkan terbaik, selebihnya biarkan Allah yang mengatur, faiza ‘azamta fatawakkal ‘alallah, jika engkau memiliki keinginan yang kuat, maka bertawakkal lah kepada Allah, Rabb semesta alam raya. Percayakan sepenuhnya kepada-Nya.


Jika Allah meridhai, kota perjuangan saya selanjutnya adalah Malang, saya jatuh cinta dengan UIN Maulana Malik Ibrahim, yang harumnya semakin mewangi, yang gaungnya terdengar hingga manca Negara dan tentu saja karena kebijakan-kebijakan hebat diambil oleh pengelola UIN Malang. Saya bangga, saat mendengar pihak UIN menerima santri berprestasi meski tidak memiliki ijazah sekolah menengah atas dari Negara. Dengan hafalan 10 juz dan proses seleksi, mereka sudah bisa mendapatkan beasiswa Sarjana, bukankah ini adalah sebuah penghargaan yang luar biasa?

Suasana UIN yang semi pesantren juga memiliki daya tarik sendiri, kalian akan menemukan mahasiswa/mahasiswi menghafal Al Quran, meski mereka bukan dari jurusan Agama. Satu tahun pertama, semua mahasiswa/mahasiswi UIN wajib tinggal di asrama, diberi pembinaan keagamaan demi mewujudkan generasi yang shaleh/shalehah berlandaskan pada Aqidah Islamiyyah. Ini adalah salah satu dari sekian banyak cara yang dilakukan pengelola UIN Malang dalam mewujudkan generasi Qur’ani, generasi yang menjadikan Al Quran dan Sunnah sebagai panduan hidup.

Saya memilih Malang bukan tanpa sebab, saya ingin belajar di UIN terbaik di Negeri ini, saya ingin belajar menjadi lebih baik, dan semoga Allah meridhai keputusan yang sudah saya ambil ini. Terlepas nanti diterima atau tidak di UIN Malang, setidaknya saya sudah mencoba dan terus akan mencoba, meraih kesempatan lain. Saya melakukan semua dalam rangka mencari ridha Ilahi.

“Bagaimana kalo tidak diterima di UIN Malang?”

Saya akan bertahan di Malang, mencoba untuk memulai semuanya dari awal, menjalani kehidupan yang baru, sambil mempersiapkan diri lagi. Allah selalu mendengar doa hamba-Nya, kepadanyalah saya memohon diberikan yang terbaik. Perjalanan ini baru akan saya mulai, ada banyak tangis yang menemani keputusan-keputusan yang saya buat di dalam hidup, dan Tuhan selalu memeluk erat kala hati dirasa lelah dan gundah akan hidup. Karena pada-Nya lah seharusnya kita berserah diri.

Kadang orang takut mengambil langkah besar dalam hidup karena takut akan konsekuensi yang akan dihadapi. Bukankah akan selalu ada konsekuensi dari setiap pilihan yang kita ambil? Dan kita memang harus siap, bukan? Apa yang terjadi pada kita memang merupakan hasil dari pilihan-pilihan yang kita ambil. Hidup hanya sekali, maka hidup seperti apa yang ingin kita ambil? Menjadi pribadi shaleh berlimpah manfaat tentu adalah pilihan terbaik.

Saya tahu, banyak orang yang akan kecewa dengan keputusan ini, ada banyak orang yang juga akan merasakan kehilangan, dan tentu saja ada banyak tugas yang belum sepenuhnya saya selesaikan. Berat memang, tapi saya tetap harus mencoba untuk bangkit demi pengembangan diri.

Beberapa hari terakhir, rekan Guru banyak yang kaget ketika tahu saya sudah mengajukan pengunduran diri, karena menurut mereka saya memiliki semangat dalam mendidik anak-anak. Saya memaklumi itu. Beberapa hari terakhir juga ada banyak tangis dari beberapa santri pesma (Pesantren Mahasiswa) karena adanya kekhawatiran yang begitu besar, siapa yang akan membina mereka selanjutnya?

“Mengapa ustadz pergi di saat kami sudah merasa nyaman di PESMA, merasa ada yang memerhatikan kami, siapa yang akan membina angkatan baru nanti?”

Pertanyaan itu kadang membuat saya menangis, karena kami memang sedang merasakan kedekatan satu sama lain, saling mendukung satu sama lain, tentu perpisahan adalah hal yang berat.

“Ini bukanlah akhir dari kebersamaan kita, kita bisa tetap menjalin komunikasi, kita masih bisa bertemu di lain kesempatan.” Begitulah jawaban yang saya berikan.

Tiga hari yang lalu, salah satu santri pesma menemui saya selepas tharawih, bercerita tentang kondisi dia yang sesungguhnya, ia menangis hingga larut malam, dan saya duduk di sampingnya, saya dekap erat pundaknya, saya coba merasakan apa yang ia rasakan, saya coba untuk pelan-pelan memberinya arahan akan masalah yang sedang ia hadapi.

“Jangan sungkan untuk berbagi, anggap saya sebagai kakakmu, saya akan siap menjadi pendengar yang baik.” Begitulah yang saya ucapkan di hadapannya, sambil meyakinkannya bahwa Tuhan akan memberikan jalan terbaik.

Pilihan yang saya ambil memang berat, saya memilih disaat saya semakin nyaman dengan lingkungan yang ada di sekitar saya, saya memilih di saat saya berusaha menjadi pribadi lebih baik lagi di sekolah. Berat memang, tapi saya yakin dengan pilihan yang saya ambil.

Tuhan, bukankah Engkau selalu tahu apa yang ada di hati ini?

Kegundahan yang akhir-akhir ini melanda tentu memiliki alasan

Dalam sujud dan derai air mata yang kadang membasahi kedua mataku

Selalu kusebut nama-Mu

Kupeluk erat firman-Mu di dalam dada

Jika keputusan ini adalah yang terbaik, maka berilah kemudah bagi hamba, ya Rabb

Sesungguhnya, hanya pada-Mu lah hamba berserah diri.

1 comment:

  1. Semoga alloh selalu meridhai setiap langkah yg kita ambil. Unt dpt keluar dari zona nyaman butuh energi yg luar biasa n tdk semua orang dpt melakukanya. Semangat antum pasti bisa. Amin

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan