August 21, 2014

Jangan Sedih, Nak

Ariq

20 Agustus 2014
Kemarin, saya mendapat BBM dari Ibunya Tariq,
“Ariq sedih baca tulisan Ustadz di facebook. Semalem nangis. Dia memang halus perasaannya. Dulu, waktu kelas 7, Ariq mengidolakan Ustadz, dia banyak cerita tentang Ustadz. Ketika Ustadz jadi wali kelasnya, dia sangat senang.”
Seketika, saya mencoba untuk mengingat seraut wajah itu, wajah teduh nan menenangkan. Dia selalu tersenyum tiap kali saya menyambut kedatangannya di sekolah. Dia tidak banyak bicara, tapi saya tahu dia begitu menghormati saya sebagai gurunya. Sebelumnya, saya memang sudah tahu, kalo dia mengidolakan saya, tapi kami jarang berinteraksi, karena dia bukan anak di kelas saya, dan saya pun tidak mengajar di kelompoknya. Paling kami berinteraksi pas jam istirahat atau pas jam shalat dzuhur. Dia begitu baik, rajin membersihkan kelas, dan sangat santun.
Sore ini, saya sengaja pergi ke sekolah untuk menemui salah satu rekan Guru, karena ada hal yang ingin saya bicarakan. Saya tidak tahu kalo hari ini anak-anak kelas VIII jadwalnya pramuka. Ketika saya datang, mereka berhamburan ke halaman, menarik tangan saya, menyalaminya secara berebutan, kemudian mereka menanyakan berbagai macam hal. Saya tersenyum, menjawab satu persatu pertanyaan mereka.
Saat saya berdiri di depan kelas, Ariq baru saja keluar kelas, dia menghampiri saya, menjabat tangan saya dengan hangat, kemudian tersenyum dan berdiri di samping saya. Sama seperti biasa, dia memang tidak banyak bicara.
“Katanya kemarin nangis, ya?” Saya menggodanya, dia tersenyum.
“Nggak, kok,” jawabnya sambil malu-malu, kemudian teman-temannya ikut menggodanya.
“Tetap semangat, ya, jangan nangis, Insha Allah akan diganti dengan Ustadz yang lebih baik, yang bisa memberi kalian perhatian lebih.” Ucap saya menyemangatinya.
“Siapa yang bakalan jemput?”
“Nggak tahu, mungkin Papa, kalo nggak, ya, Mama.” Jawabnya pelan. Tidak berapa lama kemudian jemputannya datang, dia melepas jabatan tangannya, kemudian pergi.
“Hati-hati,” pesan saya sambil menatap punggungnya dari kejauhan, kemudian melanjutkan perbincangan dengan anak-anak yang lain.
“Karena Ustadz sekarang bukan Guru di Al Irsyad lagi, jadi sekarang nggak perlu panggil Ustadz lagi, cukup panggil “Mas, Om, atau Kakak”,” tutur saya sambil menatap mereka satu persatu. Mereka berdiri mengelilingi saya. Mendengar apa yang saya sampaikan, mereka malah tertawa lebar, memperlihatkan barisan gigi mereka yang putih. Saya tersenyum, kemudian pamit.
Setelah pulang dari sekolah, handphone saya bergetar, sebuah pemberitahun masuk. Saya membuka notification dari facebook saya, kemudian membaca status Ariq yang sengaja menandai saya di statusnya.
“Mungkin ini hari paling mengharukan karena saya bertemu Guru terbaik dan mungkin ini yang terakhir.”
Saya tersenyum, kemudian mengomentari statusnya.
“Salam. Insha Allah akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya, Nak. Ust masih bakalan sering ke sekolah sebelum berangkat ke Malang untuk memulai kuliah. Nanti bisa video call skype sama Ust, Ariq bisa cerita banyak hal sama Ust.”
***
Anas yang pake baju merah kotak-kotak

Selepas Isya, saya pergi ke rumah Anas, pagi tadi Ibunya telepon, memberitahu saya tentang Anas yang tidak mau ke sekolah sejak kemarin. Ini hari kedua dia nggak mau berangkat ke Sekolah. Awalnya Ibunya sama sekali tidak tahu alasan mengapa Anas nggak mau ke sekolah, setelah saya ceritakan bahwa saya mengundurkan diri, barulah Ibunya paham. Ibunya langsung ke sekolah, menemui wakil kepala sekolah level, kemudian memintanya untuk menghubungi Anas via tlp, menjelaskan bahwa “saya pergi bukan karena tidak sayang dengan mereka semua, tapi karena ingin menuntut ilmu. Jika ada kesempatan bertemu, Insha Allah akan kembali bertemu.”
Anas memang tidak bisa berkomunikasi secara verbal dengan baik, dia sangat pendiam. Dia lebih suka memendam beban sendirian, ketimbang harus bercerita ke orang-orang terdekatnya. Makanya Ibunya sering bingung melihat Anas yang tiba-tiba murung, nggak mau ke sekolah, nggak mau keluar kamar, dan sederet masalah yang lain.
Tapi satu hal yang saya suka dari Anas, dia begitu lembut dan baik hati. Di sekolah, saya dan dia memang cukup akrab, saya sering bercanda dengannya di jam istirahat, bahkan saat saya pamitan ke dia, dia saya beri bet nama saya yang biasa saya pakai sebagai identitas Guru. Dia memakai identitas itu di bajunya, menutupi bet namanya. Saya cuma tersenyum melihat tingkahnya yang dingin. Ya, dia sangat pendiam.
Saya berbincang banyak dengan Anas di rumahnya, kemudian memberi dia penjelasan, dan juga motivasi.
“Besok mau ke sekolah, kan?”
Lama dia mengulur waktu untuk menjawab.
“Iya,” jawabnya sambil mengangguk. Saya tersenyum.
“Sebelum Ustadz ke Malang mau ketemu lagi?” Tanya saya memastikan.
Dia mengangguk.
“Insha Allah Jumat pagi Ustadz bakal ke sekolah, kok. Jadi santai aja,” ujarku sebari tersenyum dan merengkuh pundaknya, mengusap rambutnya yang sudah mulai panjang.
Setelah berbincang banyak hal, penuh canda dan tawa, saya pun undur diri. Anas berdiri di depan pintu, menatap punggung saya yang semakin menjauh. Saya menoleh di kegelapan malam dan merapal doa, semoga dia baik-baik saja. Amin.
*** 
Berpisah dengan orang yang kita cintai memang berat dirasa, namun demi sebuah impian yang lebih baik, kadang itu menjadi pilihan. Namun jarak bukanlah alasan untuk tidak menjalin hubungan silaturahmi yang baik antara satu sama lain. Selalu ada acara untuk bisa tetap menjalin hubungan, ditambah dengan kecanggihan teknologi yang semakin maju.
Saya terbiasa video call dengan orang-orang terdekat saya dengan bantuan aplikasi skype di laptop dan handphone, menghabiskan waktu bercakap-cakap, berbagi cerita, berbagi bahagia dan berbagi apapun yang positif.

Bismillah, saya percaya, anak-anak pun demikian, mereka akan bisa mengerti alasan saya mengundurkan diri.

August 18, 2014

Surat Untuk Anakku Sayang


18 Agustus 2014
Anak-anakku,
Raga kita memang terpisah jauh, bukankah hati kita kan selalu terpaut? Mengulang kenang kebersamaan kita, merangkai mimpi kita masing-masing dan berharap akan ada pertemuan di lain waktu. Kalian tahu, anak-anakku? Semakin jauh aku melangkah, hatiku semakin dekat pada kalian. Aku telah jatuh cinta sejak pertama kali kita bersama.
Anak-anakku,
Kita memang tidak lagi bersama seperti sebelumnya, akan banyak perbedaan dalam menjalani hari. Pertemuan yang rutin terjadi akan berubah menjadi pertemuan yang entah kapan akan terulang. Namun percayalah, aku tetap menyimpan kisah kebersamaan kita dengan baik di hati. Kisah kebersamaan kita tidak akan mampu dirusak oleh jauhnya jarak yang membentang, ataupun usia yang semakin menua. Ia akan tetap ada, karena aku mendidik kalian dengan cinta, ya, aku telah jatuh cinta sejak pertama kita berjumpa.
Anak-anakku,
Tahukah kalian, aku menangis, saat tahu bahwa kita akan berpisah. Aku memang sengaja pura-pura kuat di hadapan kalian, menahan air mata yang sejak awal sudah memaksa untuk tumpah. Namun aku memilih untuk membendungnya, karena tidak ingin melihat kalian menangis saat aku pergi. Nyatanya, tetap ada tangis, meski aku sudah berusaha sedemikian kuat untuk tetap tersenyum saat perpisahan hari ini. Aku berusaha berdiri tegak meski sebenarnya badanku luruh ke bumi. Aku berusaha menebar senyum, meski sebenarnya hatiku menangis. Aku berusaha menjabat tangan kalian dengan erat, meski sebenarnya tanganku bergetar hebat. Itulah aku, begitu berat rasanya berpisah dengan kalian semua, pelangi hatiku. Tapi percayalah, aku pergi bukan karena tidak suka dengan kebersamaan kita. Kepergianku karena ingin menggapai mimpi. Apakah kalian masih ingat apa yang selalu kukatakan? Jadilah yang terbaik, karena tidak ada yang berhak melarangmu menjadi pribadi yang sukses.
Anak-anakku
Saat kutulis surat ini untuk kalian, shalat isya baru saja selesai kudirikan. Ada doa-doa yang kupinta pada Allah SWT, semoga kita akan dipertemukan di lain waktu, namun tetap dengan kehangatan kasih yang telah kita jalin dengan baik. Ada bulir-bulir yang jatuh saat kurangkai doa-doa indah untuk kebaikan kalian semua. Aku selalu betah berlama-lama di atas sajadah, memohon kebaikan untuk kalian semua, karena hanya itulah yang bisa kulakukan saat ini.
Anak-anakku
Malam ini terasa dingin menusuk tulang, namun dinginnya malam tidak mampu meredam hangatnya rinduku pada kalian, meski baru sehari kita berpisah. Mungkin saja, karena aku terlalu cinta pada kebersamaan kita. Semoga Allah selalu menjaga kalian dengan baik, hingga kalian tumbuh menjadi anak-anak yang shaleh/shalehah.
Anak-anakku
Aku jatuh cinta pada kebersamaan kita
Aku jatuh cinta akan senyum kalian yang selalu berhasil membuatku tersenyum
Aku bahagia meski tidak lagi bersama kalian
Aku bahagia pernah menjadi bagian dari kalian semua
Berada di dekat kalian adalah bahagia yang tidak bisa digantikan dengan apapun
Anak-anakku
Kalian adalah murid-muridku, kebahagianku dalam hidup
Kalian adalah senyumku kala hati dirundung resah
Kalian adalah semangatku kala lelah menggelayuti tubuh
Kalian adalah mimpi-mimpi indahku, kala kulelap dalam tidur
Anak-anakku
Seerat apapun aku memegang kalian, nyatanya perpisahan tetap terjadi, bantu aku untuk kuat, bantu aku untuk bertahan dengan semua ini. Jadilah anak-anak yang berbakti, anak-anak yang selalu menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi.
Anak-anakku, kalian adalah pelangi yang akan selalu ada di hatiku.
Semoga kisah kebersamaan kita abadi, menyatu dalam lika-liku kehidupan.
Semoga ridha Allah selalu menyertai kita semua. Amin.

August 17, 2014

Dirgahayu (Ku) Indonesia

Foto bersama pengurus masjid dan panitia amaliah Ramadhan 

17 Agustus 2014
Setelah mengikuti tes masuk pascasarjana UIN Malang, saya kembali ke Purwokerto, kembali ke sekolah, bertemu dengan anak-anak, bertemu dengan para santri di Pesantren Mahasiswa Masjid Fatimatuzzahrah, bertemu para jamaah Mafaza dan tentu saja kembali menikmati lezatnya sajian mendoan yang dibuat khusus oleh Bu Darmaji, seorang Ibu yang sejak satu tahun terakhir begitu dekat dengan kami yang merupakan anak-anak masjid. Beliau selalu bangga melihat kebersamaan kami.
Ada rasa bahagia bisa kembali ke Kota Satria ini, mengulang kenang tiga tahun kebersamaan. Ada banyak kisah yang tidak bisa dikisahkan, ada banyak tawa yang tidak bisa diruntut, ada banyak air mata yang tidak bisa dibagi, semua menyatu menjadi satu kesatuan, membentuk satu kisah bahagia. Saya bahagia, bisa berada di lingkungan yang begitu baik, lingkungan yang membuat saya semakin bisa mengembangkan diri.
Hari ini, tepat 25 tahun umur saya, sudah seperempat usia, namun belum banyak yang bisa saya lakukan. Bisa dibilang, tahun ini begitu berkesan bagi saya. Saat saya mulai membuka diri untuk berbaur dengan masyarakat sekitar, membina para santri, dan berusaha menjadi pembicara di berbagai tempat, saya dapat merasakan bahagia yang meluap-luap. Rasa takut yang dulu sering menghampiri, kini perlahan mulai terkikis. Nervous yang kerap kali datang, kini mulai berubah menjadi semangat. Semua itu tidak lepas dari para asatidz yang selama ini ada di sekitar saya.
Tahun ini merupakan tahun yang begitu berkesan bagi saya. Saya banyak menghadapi cobaan-cobaan berat, namun Allah juga memberi ganjaran bahagia yang berlimpah. Di awal tahun lalu, Allah memberi hadiah yang sangat saya damba sejak lama, adik perempuan saya sekarang sudah berhijab. Tidak mudah membuatnya mau memakai hijab. Karena memang kita tidak bisa memaksa orang-orang yang ada di sekitar kita untuk menjadi seperti yang kita mau. Saya hanya bisa memberi arahan kepadanya, memberi motivasi, memberi penjelasan-penjelasan logis akan kewajiban menutup aurat. Saya rajin membelikan adik saya buku-buku tentang kewajiban menutup aurat, kami juga rajin berdiskusi banyak hal, dan akhirnya Allah SWT. memberikan hidayah padanya untuk berhijab. Ada tangis bahagia yang pecah saat pertama kali tahu dia memutuskan untuk berhijab.
Di tahun ini, saya kembali menulis, karena memang ini adalah bagian dari diri saya. Menulis selalu membuat saya bahagia, maka tidak ada alasan untuk berhenti menulis. Sebuah buku terbit di awal tahun lalu, sebuah buku yang berkisah tentang Faris, seorang murid yang mengalami cobaan hidup yang begitu berat. Saya menulis kisah kebersamaan dengannya, saat menemaninya kembali berjuang untuk bisa berdiri tegak.
Di tahun ini juga, saya mulai dekat dengan para santri di Mafaza. Kedekatan kami tidak hanya sekadar antara seorang Ustadz dan Santri, tapi lebih dari itu, mereka adalah adik sekaligus sahabat yang baik bagi saya. Ada banyak kisah bahagia kebersamaan kami. Dekat dengan mereka ternyata banyak membuat dampak positif pada diri saya. Awalnya saya jarang berinteraksi dengan mereka karena alasan kesibukan, setelah saya meluangkan waktu untuk mereka, Allah memberi ganjaran bahagia berupa hangatnya kebersamaan yang terjalin. Mereka begitu peduli akan saya. Saya masih ingat saat mereka berbondong-bondong datang ke rumah sakit saat saya menjalani operasi beberapa waktu lalu. Mereka meluangkan waktu mereka untuk menjaga saya secara bergantian. Semoga Allah menjadikan mereka generasi muslim yang shaleh. Amin.
Ini ibu-ibu dan para akhwat PAR 2014
Hari ini juga bertepatan dengan halal bihalal Panitia Amaliah Ramadhan Masjid Fatimatuzzahrah. Saya bertemu dengan para jamaah masjid, saling memaafkan, menjalin ikatan silaturahmi dengan baik. Sedari awal acara, saya mengukir senyum bahagia bisa berada di tengah-tengah mereka semua. Sejak pertama berada di Masjid ini, saya menemukan bahagia yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Saya bisa beribadah lebih baik sejak berada di sini, bertemu dengan orang-orang shaleh. Setelah selesai acara, kami berfoto bersama, mengukir kenangan kebersamaan kami. Semoga nanti, dimana pun kami berada, kami akan mendapat ladang dakwah baru, dan tetap menjalin hubungan baik satu sama lain.
Foto setelah maen bola pake sarung :)
Sore selepas ashar tadi, saya dan para santri bermain bola kaki sambil memakai sarung. Jangan Tanya betapa bahagianya kami. Canda tawa menemani permainan sore ini. Kami tidak peduli siapa yang menang siapa yang kalah. Bisa bermain bersama saja sudah cukup membuat kami bahagia. Setelah bermain, kami berfoto bersama lagi. Saya memang suka mengabadikan kebersamaan kami. Karena bagi saya, foto-foto inilah yang nantinya akan menjadi pengingat kebersamaan kami jika memang kami sudah tidak lagi berada berdekatan. Cepat atau lambat, masing-masing dari kami akan menempuh jalan tersendiri, dan semoga kami tetap menempuh jalan yang Allah ridhai.
Pas maen bola bareng di depan masjid 
Semakin hari, saya semakin menua, semakin berkurang waktu saya di muka bumi ini. Semoga semakin hari, saya bisa menjadi lebih baik lagi. Semoga saya semakin bisa mensyukuri hidup. Karena pada hakikatnya kita tidak pernah menjalani hari yang sama, maka perlu adanya syukur, setidaknya hari ini kita masih diberi kesempatan untuk hidup.
Hidup hanya sekali, maka menjadi pribadi shaleh berlimpah manfaat tentu menjadi pilihan yang baik. Maka jangan tunda untuk menjadi baik. Semoga Allah selalu membimbing kita untuk terus menjadi lebih baik lagi. Amin.

August 15, 2014

Bertemu Orang-orang Hebat

Teman satu kamar waktu di rumah singgah pascasarjana UIN Malang
13 Agustus 2014
Di dalam kampus pascasarjana, ada guest house yang disediakan oleh pihak kampus. Saya belum langsung memesan kamar, belum bertanya lebih lanjut tentang harga dan fasilitas yang tersedia, karena ingin berkeliling kota terlebih dahulu sampai esok hari. Perjalanan saya semakin panjang, sedari siang sampai lepas isya, saya pergi menempuh perjalanan sekian jauh untuk mengenal keindahan kota malang baik kala siang maupun malam. Malang adalah kota yang cantik dan teduh. Saya mulai jatuh cinta dengan kota ini.
Jarum jam di tangan sudah menunjukkan pukul sembilan malam, setelah seharian berkeliling ke berbagai macam tempat, saatnya untuk kembali, mencari tempat untuk istirahat. Dari masjid alun-alun kota saya kembali ke masjid Universitas Muhammadiyah Malang, namun sudah gelap, tidak ada tanda-tanda kehidupan di masjid ini. Tidak ada terlihat aktifitas jamaah di dalam masjid, semua sudah gelap. Ada tiga orang mahasiswa yang berjaga di salah satu kamar yang ada di masjid, Saya menghampiri mereka, menanyakan kemungkinan ada kamar untuk transit sementara. Biasanya, di masjid-masjid besar, disediakan kamar-kamar untuk transit bagi mereka yang datang dari jauh sebagai wujud pelayanan terhadap ummat. Namun sayang, masjid sebesar ini tidak menyediakan kamar transit.
Malam semakin larut, udara malam semakin menusuk kulit. Jaket yang  saya bawa sudah kotor dan berbau. Saya hanya membawa satu jaket, terpaksa saya memakainya kembali meski sudah bau dan kotor, agar tubuh tetap hangat di tengah dinginnya udara. Saya berjalan menuju pom bensin yang bersebelahan dengan masjid, masuk ke dalam mushalla kecil di dalamnya, berselonjor, kemudian membuka laptop dan berselancar sejenak di dunia maya mencari penginapan di sekitar UMM. Saya mencoba menghubungi beberapa hotel, namun kebanyakan penuh. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke hotel Helios yang tidak jauh dari stasiun Malang. Hotel ini banya direkomendasikan oleh para traveller.
Angkutan sudah sepi, bahkan mungkin sudah tidak ada lagi yang beroperasi di jam segini. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih. Dengan bantuan seorang tukang ojek, Saya pergi ke beberapa penginapan yang lain, karena ternyata penginapan Helios sedang penuh. Tidak mengapa, bapak yang mengendarai motor begitu baik, ia menghantarkan saya ke berbagai hotel, dan memastikan saya bisa istirahat dengan baik malam ini. Setelah pencarian yang cukup melelahkan, akhirnya saya bisa menginap di sebuah hotel yang tidak jauh dari stasiun.
Jalanan sudah semakin lengang, saya duduk di balkon hotel yang menghadap ke jalan raya. Lalu lalang kendaraan sudah tidak terlihat, hanya beberapa motor yang terlihat melintas, sepi dan hening.
Saya mempelajari buku TPA yang masih belum terlalu saya pahami, semua butuh proses yang tidak mudah. Inilah yang disebut sebuah perjuangan, bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang lebih maka kita harus berusaha lebih. Namun perlu diingat, bahwa kita hanya bisa berusaha, selebihnya Allah yang menentukan mana yang terbaik bagi kita, asal kita bisa mengambil pelajaran dari semua peristiwa yang kita lalui di dalam hidup.
Pagi menjelang siang, ada banyak yang bejualan di sekitar hotel, mulai dari makanan kelas menengah ke atas, sampai makanan yang ada di kedai-kedai pinggir jalan, semua menggugah selera.
“Jangan lupa nyobain rawon, itu makanan wajib kalo lagi di Malang,” begitu pesan Bu Syifa.
Berbicara soal makanan selalu membuat saya lapar.
Sudah saatnya untuk check out dari hotel, Saya menuju hotel UMM INN yang tidak jauh dari Universitas Muhammadiyah Malang. Konon, ini merupakan hotel pendidikan pertama yang dikelola oleh pihak kampus UMM. Namun semua kamar penuh. Seorang teman memberitahu tentang rumah singgah di belakang gedung pascasarjana UIN Malang yang sempat terlupakan.
“Nginap di Pascasarjana saja, 250.000,/malam, bisa buat berdua. Kualitasnya berbintang. Kan lebih murah kalo dibagi dua,” ucapnya melalui telepon.
“Ini tawaran yang menarik,” pikirk saya singkat. Tidak perlu menunggu waktu lama, saya langsung ke kampus dan menemui pihak pengelola rumah singgah. Disinilah saya bertemu dengan orang-orang hebat dari berbagai macam daerah. Ada yang datang dari Palu, Makasar, Jambi, Cirebon, Surabaya, dan berbagai macam daerah yang lain. Mereka semua adalah orang-orang hebat di bidangnya masing-masing. Kami berkomunikasi satu sama lain dengan bahasa Arab. Saya yang jarang berbincang dengan Bahasa Arab terpaksa harus mengikuti perbincangan mereka.
Kami saling mengenal satu sama lain, saling berbagi pengalaman, saling memberi semangat. Kebanyakan mereka akan mengambil S3 Pendidikan Bahasa Arab. Saya banyak belajar dari mereka tentang arti sebuah perjuangan untuk meraih mimpi.
Ada seorang bapak yang sudah berusia 56 tahun, beliau baru akan melanjutkan program doktor.
“Belajar itu tidak mengenal batas usia, tidak terbatas pada bangku sekolah saja. Ada banyak hal yang tidak kita dapatkan dari dunia pendidikan. Maka perlu adanya pengembangan diri. Jangan mengandalkan dunia kampus saja,” ucap beliau di sela-sela perbincangan kami.
Selain itu, ada beberapa anak muda yang tidak jauh beda umurnya dengan saya, mereka sedang menempuh pendidikan doktor, bahkan ada yang baru mau masuk program doktor, namun sudah menulis buku yang diterjemahkan dalam tiga bahasa. Setelah kuliah doktor, ia akan berkeliling ke tiga Negara untuk mempresentasikan karyanya. Ini adalah pengalaman yang luar biasa, dan memicu semangat saya untuk bisa menjadi lebih baik lagi.
Hakikatnya, belajar adalah sebuah proses perbaikan diri dari tidak tahu menjadi tahu. Sesungguhnya belajar yang baik adalah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semakin dalam ilmu yang kita miliki, semakin takut kita akan Allah. Karena ada banyak orang yang lancang melanggar aturan-aturan Allah, meninggalkan perintah Allah, karena tidak adanya rasa takut kepada Allah.
Kami kembali ke kamar masing-masing, istirahat penuh dan mempersiapkan diri untuk mengikut tes masuk pascasarjana esok hari.

Selamat Pagi Malang

Salah Satu Gedung UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
12 Agustus 2014
Bus sudah memasuki Kota Malang yang dingin, kami berhenti di terminal Arjosari. Berdasarkan informasi yang saya dapat melalui internet, saya masih harus naik angkot dengan tulisan AL untuk bisa sampai ke UIN Maulana Malik Ibrahim, dimana mimpi sejak sekian lama telah  saya ukir. Mimpi untuk bisa belajar di UIN Maliki memang sudah mendarah daging. Padahal, saat kuliah sarjana dulu, saya tidak pernah akan mengira untuk bisa sejauh ini melangkah. Namun inilah kehendak Tuhan, Ia dengan mudah memindahkan tempat kita untuk berjuang.
Saya menghirup udara segar di kota yang benar-benar baru. Saya belum mengenal siapapun di kota ini, ini adalah kedatangan saya yang pertama kali di kota ini, dan semoga saya bisa bertahan demi sebuah impian.
Perjalanan demi perjalanan yang saya lalui selalu mengajarkan banyak hal, bertemu dengan orang-orang baru dengan latar belakang budaya yang berbeda, dan itu semua mengajarkan saya akan kedewasaan diri. Saya selalu mengambil banyak pelajaran dalam setiap langkah demi langkah kehidupan. Bumi Allah ini luas, dimana pun kita berada, kita bisa menjadi hamba yang baik, asal ada kesungguhan di dalam hati untuk berjuang menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi ini.
Bangunan itu begitu megah,  saya memperhatikan setiap sudut bangunannya yang dikelilingi rimbunnya pohon-pohon yang menjulang. Sejuk udara menusuk kulit. Saya mengeratkan jaket yang  saya pakai. Saya sedang berdiri di depan gerbang UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
“Pak, tempat pendaftaran pascasarjana di sebelah mana?” Saya bertanya pada seorang security yang sedang bertugas. Tampaknya ia sudah berjaga sejak malam, kulihat kusut wajahnya yang mengantuk.
“Pendaftaran Pascasarjana langsung di kantor Pascasarjana, Mas, di daerah Batu.” Jawabnya sambil mengusap kedua matanya yang merah. Mungkin saja ia belum tidur.
“Dari sini kesana naik apa, Pak?”
“Mas naik jurusan Landungsari, kemudian ambil angkot ke arah Batu, nanti turun pas di depan Pascasarjana UIN, tanya aja dengan supirnya, pasti tahu.” Jelasnya lebih lanjut.
Saya mengangguk, kemudian menyalaminya sambil mengucap terimakasih.
Saya bergegas menuju kantor Pascasarjana, jarum jam di tangan sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran. Seorang pegawai administrasi menerima semua berkas yang saya bawa, kemudian memberikan selembar tanda terima. Lega rasanya, sudah menyerahkan semua persyaratan dan tinggal menunggu tanggal 14 Agustus untuk tes masuk.
Di depan kampus Pascasarjana terdapat sebuah masjid yang indah, meski tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Saya meletakkan semua barang bawaan ke lantai dua, kemudian mengambil air wudhu di lantai bawah. Saya menunaikan shalat dhuha, sebagai ucapan syukur atas karunia yang telah Allah berikan pada saya selama ini. Saya mengucap doa-doa pada-Nya, semoga impian-impian yang selama ini saya yakini bisa terwujud.
Setelah shalat dhuha, saya menghampiri seorang laki-laki yang sedang membaca Al Quran di pojok masjid, kami saling kenal satu sama lain, ternyata dia juga calon mahasiswa Pascasarjana, namun kami mengambil jurusan yang berbeda. Dia mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab, sedangkan saya mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam.
Belum tertulis di dalam catatan harian saya alamat tempat tinggal saya sementara. Tes masih dua hari lagi, sedangkan saya tidak mengenal siapapun di kota ini.
“Kamu itu nekad banget, Mas. Masa pergi nggak kenal satu orang pun dan masih belum tahu harus nginep dimana.” Komentar seorang perempuan yang kebetulan duduk di samping saya selama perjalanan dari Purwokerto. Saya hanya tersenyum mendengar ucapannya. Ini bukanlah yang pertama kalinya saya seperti ini. Saya sudah sering bepergian dan tidak pernah ada masalah dimana saya akan menginap. Biasanya Masjid yang menjadi pilihan saya. Tenang rasanya bisa tidur di masjid, bangun malam kemudian bermunajat kepada Allah SWT.
Saya membuka juz keempat dari Al Quran kecil yang saya bawa, saya membaca ayat demi ayat Ilahi, tidak terasa air mata saya tumpah saat melantunkan kalam Ilahi yang sejak lama saya cintai. Tuhan memang begitu baik, memberi saya kesempatan untuk belajar sedikit demi sedikit tentang kalam-Nya.
Sudah hampir dzuhur, saya memilih untuk shalat di Masjid Universitas Muhammadiyah Malang yang terletak tidak begitu jauh dari gedung Pascasarjana. Disinilah Saya bertemu dengan berbagai macam orang, saling kenal satu sama lain. Saya memang tipe orang yang berani mengenalkan diri pada orang-orang yang saya temui. Dengan demikian, saya tidak merasa asing di tempat yang baru saya singgahi. Selalu ada cara membuat saya betah dan mulai mencintai suasana di tempat ini.
Kota Batu memang terkenal dengan sejuknya udara yang berembus. Bahkan di siang hari seperti ini, saya harus mengenakan jaket tebal agar tidak kedinginan.
Di tengah dinginnya udara, bayang-bayang anak-anak di sekolah melintas tak beraturan. Ribuan kenangan tentang mereka seketika hadir begitu saja. Saya terdiam, tertunduk, kemudian kembali menyentuh dada yang mulai sesak. Bahkan di tengah dinginnya udara, kehangatan kasih antara saya dan murid-murid tak mampu dihilangkan begitu saja. Saya merindukan mereka, meski baru sehari saya berpisah dengan mereka. Tapi ini adalah bagian dari pilihan saya.
Anak-anakku, mungkin kalian tidak tahu betapa berat hatiku berpisah dengan kalian semua. Namun Saya percaya, kalian akan tumbuh menjadi anak-anak yang shaleh/shalehah. Amin. 

Mundur Untuk Melangkah Maju

di depan gedung pascasarjana UIN Malang
11 Agustus 2014
“Apa lagi yang kamu cari, bukankah kamu sudah berada di tempat yang baik, rekan kerja yang baik dan juga anak-anak yang selalu kamu banggakan? Bukankah itu adalah karunia yang seharusnya kamu syukuri, bukan malah pergi meninggalkan kenyaman yang sudah ada.” Ucap seorang sahabat saat saya mudik Idul Fitri kemarin.
“Bukan saya tidak mensyukuri nikmat yang selama ini telah Tuhan berikan, bukan itu maksud saya. Saya hanya ingin kembali mengenyam pendidikan tinggi di jenjang selanjutnya, melanjutkan mimpi-mimpi yang sejak lama saya rajut dengan cinta. Saya telah menyiapkan ini sejak lama. Saya pergi bukan karena tidak nyaman dengan apa yang selama ini saya dapatkan, Saya hanya ingin belajar di tempat yang lebih baik, menyiapkan diri untuk pengabdian selanjutnya dengan baik.”
Untuk beberapa saat, kami sama-sama diam, kemudian menatap langit malam yang semakin kelam. Saya menghirup dinginnya udara malam yang berembus, sementara ia beranjak pergi meninggalkan tanda tanya dan kebingungannya akan keputusan yang saya ambil.
Tepat satu bulan yang lalu, saya memutuskan untuk mengajukan pengunduran diri dari tempat kerja. Bergetar kedua tangan, saat memasuki ruang kepala sekolah. Saya mengucap salam, menjabat tangan Ustadz Nandi, kemudian menjelaskan maksud dan tujuan saya menemuinya. Saya telah menyiapkan selembar surat dalam sebuah amplop berwarna putih yang berisi surat pengunduran diri.
Ustadz Nandi dengan bijak menerima kehadiran saya, kemudian berbincang sejenak tentang alasan demi alasan yang sejak lama telah ia dengar dari saya.
“Insha Allah, saya akan melanjutkan kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ustadz, sebagaimana yang pernah saya sampaikan dulu. Sekarang sudah saatnya saya kembali belajar di bangku kuliah.”
“Antum sudah yakin?”
“Insha Allah, Ustadz. Semoga ini yang terbaik. Saya sama sekali tidak ada masalah di sekolah. Saya mengundurkan diri demi mengejar mimpi yang sudah lama saya perjuangkan.”
Perbincangan sederhana terus berlanjut. Kemudian saya pamit. Ada bulir-bulir hangat di ujung sana. Saya memantapkan hati, bahwa ini adalah jalan yang telah saya pilih, maka saya harus siap dengan segala konsekuensi yang ada.
Hari ini, saya akan berangkat ke Malang, Saya melihat wajah-wajah pelangi hati yang selama ini hadir menemani. Anak-anak berlarian ke halaman sekolah untuk mengikuti apel pagi di hari Senin. Seperti biasa, Saya menyiapkan barisan anak-anak, sambil tersenyum dan memastikan mereka berbaris dengan baik. Mereka belum tahu bahwa hari ini saya akan pergi meninggalkan mereka demi sebuah mimpi.
Setelah apel pagi, saya dan anak-anak masuk ke dalam kelas, kelas kami adalah kelas VIII Bilal bin Rabah. Saya sengaja memilih nama itu, mengambil pelajaran dari sosok Bilal yang begitu kokoh keyakinannya meski siksaan bertubi-tubi ia rasakan. Anak-anak sudah siap berdoa, kemudian mengucapkan salam. Saya ingin anak-anak mencontoh Bilal, menjadi sosok yang begitu yakin akan kebenaran Islam. Saya selalu mendoakan mereka, agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang cinta akan Tuhannya.
Saya menatap lekat-lekat wajah mereka, hening. Mereka begitu baik dan sangat menghormati saya sebagai guru sekaligus wali kelas mereka. Kelas semakin hening saat saya menyampaikan keinginan saya untuk meraih mimpi dan terpaksa harus meninggalkan mereka semua.
“Ada ustadz ataupun tidak, kalian harus tetap belajar dan berusaha menjadi anak-anak yang shaleh. Jadilah anak yang berbakti.”
Suasana kelas sedikit ramai oleh ucapan-ucapan mereka.
“Berarti ustadz nggak ngajar disini lagi?”
Saya menggeleng.
“Terus siapa yang akan menjadi wali kelas kami nanti kalo ustadz pergi?”
“Siapa yang akan mengajari kami membaca Al Quran? Bukankah Ustadz sudah janji akan mengajari kami membaca Al Quran dengan baik dan benar?”
Saya terdiam sejenak, kemudian meyakinkan mereka semua bahwa mereka akan baik-baik saja meski tanpa kehadiran saya di dekat mereka.
“Insha Allah akan diganti dengan ustadz yang lain, yang lebih baik dan bisa menyayangi kalian dengan penuh cinta.”
Suasana kembali hening. Kulihat wajah-wajah itu mulai menunduk. Entahlah, mungkin saja mereka berat melepaskan kepergian saya. Saya tidak mengerti itu.
Tidak mudah memang, ada banyak perdebatan tentang keinginan saya untuk belajar di Kota Malang. Pihak yayasan sebenarnya siap menyekolahkan saya dengan biaya penuh, asal tetap di dalam kota. Akan tetapi, saya memilih untuk belajar di Malang. Itu artinya, pengunduran diri saya sudah mantap dan semoga ini adalah pilihan terbaik dan diridhai oleh Allah SWT. Saya percaya, dimanapun saya berada kelak, Allah akan menempatkan saya pada ladang dakwah baru, meski harus memulai semuanya sedari awal lagi. Tidak mengapa, kadang memang demikianlah adanya. Kadang kita harus keluar dari zona nyaman kita untuk meraih cita yang lebih tinggi.
**
Bus yang membawa saya menuju Kota Malang sudah berangkat sejak beberapa jam yang lalu. Saya masih belum bisa tidur nyenyak. Bayang-bayang anak-anak di sekolah tadi masih terus terngiang di dalam benak. Beberapa anak sedang chat dengan saya di blackberry messenger.
“Hati-hati di jalan, ya, ustadz, semoga apa yang ustadz impikan bisa terwujud.” tulis seorang murid, namanya Nabil.
“Amin, terimakasih, ya, Nak.”
Kami pun melanjutkan saling berbalas pesan. Kedekatan kami memang begitu terasa. Itulah mengapa begitu berat rasanya untuk pergi meninggalkan mereka semua. Namun sekali lagi saya teguhkan hati, bahwa ini demi sebuah impian, saya harus siap dengan berbagai macam konsekuensinya.
Pilihan demi pilihan telah banyak saya lalui dalam hidup ini. Ada banyak tawa dan tangis yang menemani pilihan demi pilihan yang telah saya buat. Seberat apapun pilihan itu, sebesar apapun konsekuensi atas pilihan yang telah saya buat, nyatanya Tuhan tidak pernah pergi. Ia selalu mendekap erat diri ini dalam kasih-Nya. Selalu ada tempat untuk bersujud di hadapan-Nya, mengadukan segala keluh kesah di dalam hidup.
Bus terus melaju, saya terdiam dan mencoba untuk lelap dalam tidur. Saya percaya, esok saya akan terbangun dan lebih tegar dalam menghadapi semua ini.
Ya Allah
Jika memang ini yang terbaik untuk kujalani, kuatkan hati hamba
Aku berserah diri sepenuhnya pada-Mu             
Semoga cintaku tetap utuh pada-Mu

Semoga pilihanku ini membawku ke jalan yang lebih dekat pada rahmat-Mu. 

August 08, 2014

Usaha dan Doa


Usaha dan Doa adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa mendapatkan impian-impian yang telah lama kita rajut hanya dengan berpangku tangan, diam di tempat, dan tidak melakukan apa-apa untuk meraih impian. Usaha yang terbaik, diiringi dengan khusyu’nya doa kepada Allah SWT adalah dua hal yang seharusnya tidak dilupakan. Manusia hanya memiliki sedikit kemampuan bila dibandingkan dengan kuasa Allah SWT. Manusia hanya memiliki sedikit pengetahuan, bila dibandingkan dengan ilmu Allah SWT. Itulah mengapa, dalam meraih impian perlu adanya doa, berupa permohonan kepada Allah SWT atas apa yang kita inginkan. Doa inilah yang kadang terlupakan oleh kita dalam meraih impian. Acapkali kita berusaha sedemikian keras, namun lupa untuk memohon kepada Tuhan Yang Mahaesa, dimana Dialah sebenarnya yang berkuasa atas apa yang kita inginkan.
Kadang, apa yang kita impikan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Kadang, apa yang kita harapkan tidak serta merta sama dengan apa yang ada di hadapan kita. Disinilah letak kuasa Allah SWT. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut-Nya. Apa yang menurut kita sudah tepat, bisa jadi sebaliknya menurut-Nya. Maka perlu adanya kelapangan hati, kebijaksanaan dalam menghadapi realita kehidupan. Yang perlu kita lakukan adalah berusaha sungguh-sungguh, selebihnya bersujudlah di hadapan-Nya, jemput impian-impian yang kita inginkan di sepertiga malam.
Ini juga sebenarnya hal penting yang harus dipahami oleh orang tua, sering kali kita hanya mengharapkan anak-anak tumbuh menjadi anak-anak yang baik, namun lupa untuk memohon kepada Allah SWT, tempat yang seharusnya kepada-Nya jualah kita memohon. Ayah Bunda, jangan lupa mendoakan kebaikan bagi anak-anak, doakan mereka agar tumbuh menjadi generasi muslim yang shaleh/shalehah.
Pada saat mudik kemarin, saya dikejutkan dengan pengumuman tes masuk Pascasarjana UIN Malang yang diundur. Seharusnya tes masuk dilakukan pada tanggal  7 Agustus, namun berubah menjadi tanggal 14 Agustus, dengan alasan terlalu berdekatan dengan hari raya jika tes masuk dilakukan pada tanggal 7 Agustus. Padahal, saya sudah menyiapkan tiket pesawat dari Bengkulu ke Jakarta tanggal 4 Agustus, kemudian dari Jakarta ke Malang juga sudah saya siapkan tiket pesawatnya pada tanggal 5 Agustus, pun demikian dengan tiket kereta dari Malang ke Purwokerto. Saya sempat terdiam, kemudian mengambil nafas dalam-dalam, sambil mengelus dada, dan meyakinkan hati bahwa mungkin inilah yang terbaik, meski saya harus mereschedule, bahkan membatalkan tiket penerbangan. Bukan masalah uang yang terbuang, namun kacaunya rencana yang membuat saya sempat terdiam. Hingga akhirnya saya tersenyum, sambil meyakinkan diri, bahwa Allah SWT sedang menguji saya, Allah SWT sedang mengajarkan saya untuk bisa mengambil hikmah dari semua ini, bahwa kita hanya bisa berusaha, Allah lah yang memutuskan mana yang terbaik bagi kita.
Saya percaya, Allah SWT sedang menyiapkan kejutan-kejutan indah bagi saya. Tugas saya hanya berusaha sebaik mungkin, kemudian tawakkal kepada Allah SWT. Jika impian ini diijabah oleh Allah SWT, maka inilah yang terbaik untuk dijalani, jika tidak, mungkin Tuhan sedang mengajarkan saya untuk lebih giat lagi dalam mempersiapkan diri menggapai impian.
Ketika kita melakukan sesuatu, maka niatkanlah dalam rangka mencari ridha Allah SWT., karena bahagia sesungguhnya adalah ketika kita tetap berjalan di jalan yang Allah SWT tetapkan.
Yang perlu diingat, mimpi hanya akan menjadi mimpi, selama kita tidak bangun untuk mewujudkan impian kita. Impian akan mewujud menjadi kenyataan ketika kita berusaha mewujudkannya. Impian hanya akan menjadi angan-angan belaka, ketika kita hanya berdiam diri, tidak berusaha meraihnya.
Ayah selalu bilang, “Bukan masalah kecil dan besarnya impianmu, namun seberapa besar usahamu untuk mewujudkan impianmu.”
Semoga Allah meridhai langkah demi langkah saya dalam menjalani kehidupan. Amin.

August 07, 2014

Ayah



Ayah tipe orang yang sangat hemat dalam berucap. Setiap kali mudik pas lebaran, beliau tidak akan banyak berbincang dengan saya. Dalam diamnya, saya tahu, Ayah sangat menyayangi kami anak-anaknya. Saya tahu bagaimana ia bekerja sedemikian keras demi kami anak-anaknya yang terkasih.
Biasanya, saya dan Ayah berbincang selepas maghrib di ruang tamu, ditemani Ibu dan juga adik-adik yang sudah semakin besar. Jangan harap akan banyak basa-basi dari Ayah, beliau hanya akan bertanya pertanyaan standar setelah lama tidak bertemu, misal,
“Bagaimana perjalanan dari Jawa ke Bengkulu?”
“Bagaimana pekerjaan dan rencana studi S2-mu?”
Dan lain-lain, setelah itu biasanya Ibu yang lebih banyak berbicara, sedangkan Ayah hanya menjadi pendengar yang baik, dan tentu saja ucapan beliau selalu saya dengarkan dengan baik.


Ayah dan Ibu memang dua orang yang berbeda dalam hal bagaimana berkomunikasi dengan anak-anaknya. Ibu paling aktif berbicara, sedangkan Ayah tipe yang sangat hemat dalam berucap. Meski demikian, saya tahu betapa Ayah sangat menyayangi kami, saya tahu betapa Ayah sangat merindukan kebersamaan yang hanya terjadi satu kali dalam satu tahun, saya tahu betapa Ayah sangat menyayangi keluarga kecil kami ini.
Pada saat menjelang kembali ke rantau, kami satu keluarga duduk di ruang tengah, berbincang satu sama lain, saling introspeksi diri demi kebaikan keluarga, saling support satu sama lain. Ayah berbicara sedikit tapi mengena.
“Jangan pernah takut untuk keluar dari zona nyamanmu, bismillah, lakukanlah semuanya dalam rangka mencari ridha Allah.”
Itulah yang diucapkan Ayah saat saya menyampaikan rencana saya untuk melanjutkan kuliah pascasarjana. Ibu kemudian mengangguk.
Ayah begitu sederhana dalam penampilan, begitu sederhana dalam menjalani kehidupan, tapi begitu semangat dalam hal menyekolahkan anak-anaknya. Meski Ayah tidak tamat sekolah dasar, tapi Ayah memiliki mimpi-mimpi yang dititipkan pada kami, anak-anaknya. Ayah dan Ibu sama-sama tidak mengenyam pendidikan tinggi, bahkan sekolah dasar saja tidak lulus. Itulah mengapa, Ayah dan Ibu selalu memberi support pada kami, agar kami mengenyam pendidikan tinggi, agar kami bisa menjadi lebih baik dari mereka.
Ayah mendidik kami dalam kesederhanaan.
Saya tahu, kerap kali Ayah menangis saat melihat saya bisa tampil di masyarakat, berbaur, bisa memberi inspirasi bagi orang-orang lain agar anak-anaknya belajar Agama. Saya tahu Ayah sering menunduk, kemudian merapal doa demi kami anak-anaknya.
Saya tahu Ayah bangga pada kami anak-anaknya, meski beliau tidak pernah mengatakan itu secara langsung. Saya tahu Ayah begitu ingin kami menjadi lebih baik darinya, dan saat melihat kami bisa tampil di masyarakat, Ayah pun terus merangkai doa, agar kami terus bisa mengembangkan diri.
Setiap kali mudik, biasanya saya diminta masyarakat untuk mengisi kajian, khutbah Idul Fitri, Khutbat Jumat di desa, diundang khutbah di masjid-masjid pemerintahan, diminta mengisi ceramah halal bihalal dan berbagai macam kesibukan yang lain. Dan saya tahu, setiap kali Ayah tahu bahwa saya mulai berani tampil di masyarakat, ia merapal doa, semoga saya bisa menjadi teladan yang baik bagi masyarakat.
Setiap kali saya diundang mengisi suatu acara, Ayah selalu berucap,
“Sampaikan dengan baik, dan jadilah teladan dari apa yang kamu sampaikan.”
Hanya itu saja, dan selalu diulang-ulang oleh Ayah. Saya mengingat pesan itu dengan baik. Saya masih ingat saat Ayah tertawa ketika saya malu untuk tampil, kemudian Ayah memberi semangat dengan nada suara yang pelan,
“Tidak ada yang langsung bisa bagus, Nak, semua perlu proses. Proses inilah yang seharusnya kami lalui, kalau tidak pernah mencoba, mana mungkin akan bisa. Jalani prosesnya, nikmati prosesnya. Jangan menyerah, Ayah yakin kamu bisa.”
Ada banyak orang yang dulunya mencemooh Ayah, karena menyekolahkan anaknya di Pesantren, kini mereka berbalik memuji. Saya tahu ada banyak orang yang menyampaikan berbagai macam pemikiran negatif tentang pendidikan pesantren, tapi Ayah meyakinkan bahwa pendidikan Agama adalah yang paling penting, karena ia menjadi panduan hidup sampai akhir usia.
Ayah memang tidak pandai dalam hal Agama, ia hanya sekadar tahu untuk dirinya dan tidak memiliki kemampuan untuk mengajarkannya kepada kami anak-anaknya. Itulah mengapa, Ayah menitipkan kami kepada mereka yang bisa membimbing kami dengan baik. Ayah ingin, jika nanti kami berkeluarga, kami bisa menjadi pemimpin yang baik bagi keluarga, bisa mengajarkan Agama, bisa menjadi teladan yang baik. Itulah mengapa, Ayah sering terdiam saat saya membaca Al Quran, karena Ayah bangga anak-anaknya cinta pada Al Quran.
Bagi saya, Ayah adalah pahlawan yang tidak akan pernah pudar kasih dan semangatnya dalam berjuang untuk kami anak-anaknya.
Ayah semakin menua, tapi semangatnya tetap ada.
Rambut Ayah sudah mulai memutih, kulitnya sudah mulai dipenuhi oleh garis-garis kehidupan, langkahnya sudah tidak sekuat dulu lagi, tapi kasihnya tetap sama, bahkan semakin hari semakin bertambah cintanya pada kami anak-anaknya.
Ayah, terimalah bakti kami padamu, semoga Allah menjaga Ayah dengan baik, sebagaimana Ayah telah menjaga kami dengan setulusnya kasih. Amin