August 07, 2014

Ayah



Ayah tipe orang yang sangat hemat dalam berucap. Setiap kali mudik pas lebaran, beliau tidak akan banyak berbincang dengan saya. Dalam diamnya, saya tahu, Ayah sangat menyayangi kami anak-anaknya. Saya tahu bagaimana ia bekerja sedemikian keras demi kami anak-anaknya yang terkasih.
Biasanya, saya dan Ayah berbincang selepas maghrib di ruang tamu, ditemani Ibu dan juga adik-adik yang sudah semakin besar. Jangan harap akan banyak basa-basi dari Ayah, beliau hanya akan bertanya pertanyaan standar setelah lama tidak bertemu, misal,
“Bagaimana perjalanan dari Jawa ke Bengkulu?”
“Bagaimana pekerjaan dan rencana studi S2-mu?”
Dan lain-lain, setelah itu biasanya Ibu yang lebih banyak berbicara, sedangkan Ayah hanya menjadi pendengar yang baik, dan tentu saja ucapan beliau selalu saya dengarkan dengan baik.


Ayah dan Ibu memang dua orang yang berbeda dalam hal bagaimana berkomunikasi dengan anak-anaknya. Ibu paling aktif berbicara, sedangkan Ayah tipe yang sangat hemat dalam berucap. Meski demikian, saya tahu betapa Ayah sangat menyayangi kami, saya tahu betapa Ayah sangat merindukan kebersamaan yang hanya terjadi satu kali dalam satu tahun, saya tahu betapa Ayah sangat menyayangi keluarga kecil kami ini.
Pada saat menjelang kembali ke rantau, kami satu keluarga duduk di ruang tengah, berbincang satu sama lain, saling introspeksi diri demi kebaikan keluarga, saling support satu sama lain. Ayah berbicara sedikit tapi mengena.
“Jangan pernah takut untuk keluar dari zona nyamanmu, bismillah, lakukanlah semuanya dalam rangka mencari ridha Allah.”
Itulah yang diucapkan Ayah saat saya menyampaikan rencana saya untuk melanjutkan kuliah pascasarjana. Ibu kemudian mengangguk.
Ayah begitu sederhana dalam penampilan, begitu sederhana dalam menjalani kehidupan, tapi begitu semangat dalam hal menyekolahkan anak-anaknya. Meski Ayah tidak tamat sekolah dasar, tapi Ayah memiliki mimpi-mimpi yang dititipkan pada kami, anak-anaknya. Ayah dan Ibu sama-sama tidak mengenyam pendidikan tinggi, bahkan sekolah dasar saja tidak lulus. Itulah mengapa, Ayah dan Ibu selalu memberi support pada kami, agar kami mengenyam pendidikan tinggi, agar kami bisa menjadi lebih baik dari mereka.
Ayah mendidik kami dalam kesederhanaan.
Saya tahu, kerap kali Ayah menangis saat melihat saya bisa tampil di masyarakat, berbaur, bisa memberi inspirasi bagi orang-orang lain agar anak-anaknya belajar Agama. Saya tahu Ayah sering menunduk, kemudian merapal doa demi kami anak-anaknya.
Saya tahu Ayah bangga pada kami anak-anaknya, meski beliau tidak pernah mengatakan itu secara langsung. Saya tahu Ayah begitu ingin kami menjadi lebih baik darinya, dan saat melihat kami bisa tampil di masyarakat, Ayah pun terus merangkai doa, agar kami terus bisa mengembangkan diri.
Setiap kali mudik, biasanya saya diminta masyarakat untuk mengisi kajian, khutbah Idul Fitri, Khutbat Jumat di desa, diundang khutbah di masjid-masjid pemerintahan, diminta mengisi ceramah halal bihalal dan berbagai macam kesibukan yang lain. Dan saya tahu, setiap kali Ayah tahu bahwa saya mulai berani tampil di masyarakat, ia merapal doa, semoga saya bisa menjadi teladan yang baik bagi masyarakat.
Setiap kali saya diundang mengisi suatu acara, Ayah selalu berucap,
“Sampaikan dengan baik, dan jadilah teladan dari apa yang kamu sampaikan.”
Hanya itu saja, dan selalu diulang-ulang oleh Ayah. Saya mengingat pesan itu dengan baik. Saya masih ingat saat Ayah tertawa ketika saya malu untuk tampil, kemudian Ayah memberi semangat dengan nada suara yang pelan,
“Tidak ada yang langsung bisa bagus, Nak, semua perlu proses. Proses inilah yang seharusnya kami lalui, kalau tidak pernah mencoba, mana mungkin akan bisa. Jalani prosesnya, nikmati prosesnya. Jangan menyerah, Ayah yakin kamu bisa.”
Ada banyak orang yang dulunya mencemooh Ayah, karena menyekolahkan anaknya di Pesantren, kini mereka berbalik memuji. Saya tahu ada banyak orang yang menyampaikan berbagai macam pemikiran negatif tentang pendidikan pesantren, tapi Ayah meyakinkan bahwa pendidikan Agama adalah yang paling penting, karena ia menjadi panduan hidup sampai akhir usia.
Ayah memang tidak pandai dalam hal Agama, ia hanya sekadar tahu untuk dirinya dan tidak memiliki kemampuan untuk mengajarkannya kepada kami anak-anaknya. Itulah mengapa, Ayah menitipkan kami kepada mereka yang bisa membimbing kami dengan baik. Ayah ingin, jika nanti kami berkeluarga, kami bisa menjadi pemimpin yang baik bagi keluarga, bisa mengajarkan Agama, bisa menjadi teladan yang baik. Itulah mengapa, Ayah sering terdiam saat saya membaca Al Quran, karena Ayah bangga anak-anaknya cinta pada Al Quran.
Bagi saya, Ayah adalah pahlawan yang tidak akan pernah pudar kasih dan semangatnya dalam berjuang untuk kami anak-anaknya.
Ayah semakin menua, tapi semangatnya tetap ada.
Rambut Ayah sudah mulai memutih, kulitnya sudah mulai dipenuhi oleh garis-garis kehidupan, langkahnya sudah tidak sekuat dulu lagi, tapi kasihnya tetap sama, bahkan semakin hari semakin bertambah cintanya pada kami anak-anaknya.
Ayah, terimalah bakti kami padamu, semoga Allah menjaga Ayah dengan baik, sebagaimana Ayah telah menjaga kami dengan setulusnya kasih. Amin

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan