August 21, 2014

Jangan Sedih, Nak

Ariq

20 Agustus 2014
Kemarin, saya mendapat BBM dari Ibunya Tariq,
“Ariq sedih baca tulisan Ustadz di facebook. Semalem nangis. Dia memang halus perasaannya. Dulu, waktu kelas 7, Ariq mengidolakan Ustadz, dia banyak cerita tentang Ustadz. Ketika Ustadz jadi wali kelasnya, dia sangat senang.”
Seketika, saya mencoba untuk mengingat seraut wajah itu, wajah teduh nan menenangkan. Dia selalu tersenyum tiap kali saya menyambut kedatangannya di sekolah. Dia tidak banyak bicara, tapi saya tahu dia begitu menghormati saya sebagai gurunya. Sebelumnya, saya memang sudah tahu, kalo dia mengidolakan saya, tapi kami jarang berinteraksi, karena dia bukan anak di kelas saya, dan saya pun tidak mengajar di kelompoknya. Paling kami berinteraksi pas jam istirahat atau pas jam shalat dzuhur. Dia begitu baik, rajin membersihkan kelas, dan sangat santun.
Sore ini, saya sengaja pergi ke sekolah untuk menemui salah satu rekan Guru, karena ada hal yang ingin saya bicarakan. Saya tidak tahu kalo hari ini anak-anak kelas VIII jadwalnya pramuka. Ketika saya datang, mereka berhamburan ke halaman, menarik tangan saya, menyalaminya secara berebutan, kemudian mereka menanyakan berbagai macam hal. Saya tersenyum, menjawab satu persatu pertanyaan mereka.
Saat saya berdiri di depan kelas, Ariq baru saja keluar kelas, dia menghampiri saya, menjabat tangan saya dengan hangat, kemudian tersenyum dan berdiri di samping saya. Sama seperti biasa, dia memang tidak banyak bicara.
“Katanya kemarin nangis, ya?” Saya menggodanya, dia tersenyum.
“Nggak, kok,” jawabnya sambil malu-malu, kemudian teman-temannya ikut menggodanya.
“Tetap semangat, ya, jangan nangis, Insha Allah akan diganti dengan Ustadz yang lebih baik, yang bisa memberi kalian perhatian lebih.” Ucap saya menyemangatinya.
“Siapa yang bakalan jemput?”
“Nggak tahu, mungkin Papa, kalo nggak, ya, Mama.” Jawabnya pelan. Tidak berapa lama kemudian jemputannya datang, dia melepas jabatan tangannya, kemudian pergi.
“Hati-hati,” pesan saya sambil menatap punggungnya dari kejauhan, kemudian melanjutkan perbincangan dengan anak-anak yang lain.
“Karena Ustadz sekarang bukan Guru di Al Irsyad lagi, jadi sekarang nggak perlu panggil Ustadz lagi, cukup panggil “Mas, Om, atau Kakak”,” tutur saya sambil menatap mereka satu persatu. Mereka berdiri mengelilingi saya. Mendengar apa yang saya sampaikan, mereka malah tertawa lebar, memperlihatkan barisan gigi mereka yang putih. Saya tersenyum, kemudian pamit.
Setelah pulang dari sekolah, handphone saya bergetar, sebuah pemberitahun masuk. Saya membuka notification dari facebook saya, kemudian membaca status Ariq yang sengaja menandai saya di statusnya.
“Mungkin ini hari paling mengharukan karena saya bertemu Guru terbaik dan mungkin ini yang terakhir.”
Saya tersenyum, kemudian mengomentari statusnya.
“Salam. Insha Allah akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya, Nak. Ust masih bakalan sering ke sekolah sebelum berangkat ke Malang untuk memulai kuliah. Nanti bisa video call skype sama Ust, Ariq bisa cerita banyak hal sama Ust.”
***
Anas yang pake baju merah kotak-kotak

Selepas Isya, saya pergi ke rumah Anas, pagi tadi Ibunya telepon, memberitahu saya tentang Anas yang tidak mau ke sekolah sejak kemarin. Ini hari kedua dia nggak mau berangkat ke Sekolah. Awalnya Ibunya sama sekali tidak tahu alasan mengapa Anas nggak mau ke sekolah, setelah saya ceritakan bahwa saya mengundurkan diri, barulah Ibunya paham. Ibunya langsung ke sekolah, menemui wakil kepala sekolah level, kemudian memintanya untuk menghubungi Anas via tlp, menjelaskan bahwa “saya pergi bukan karena tidak sayang dengan mereka semua, tapi karena ingin menuntut ilmu. Jika ada kesempatan bertemu, Insha Allah akan kembali bertemu.”
Anas memang tidak bisa berkomunikasi secara verbal dengan baik, dia sangat pendiam. Dia lebih suka memendam beban sendirian, ketimbang harus bercerita ke orang-orang terdekatnya. Makanya Ibunya sering bingung melihat Anas yang tiba-tiba murung, nggak mau ke sekolah, nggak mau keluar kamar, dan sederet masalah yang lain.
Tapi satu hal yang saya suka dari Anas, dia begitu lembut dan baik hati. Di sekolah, saya dan dia memang cukup akrab, saya sering bercanda dengannya di jam istirahat, bahkan saat saya pamitan ke dia, dia saya beri bet nama saya yang biasa saya pakai sebagai identitas Guru. Dia memakai identitas itu di bajunya, menutupi bet namanya. Saya cuma tersenyum melihat tingkahnya yang dingin. Ya, dia sangat pendiam.
Saya berbincang banyak dengan Anas di rumahnya, kemudian memberi dia penjelasan, dan juga motivasi.
“Besok mau ke sekolah, kan?”
Lama dia mengulur waktu untuk menjawab.
“Iya,” jawabnya sambil mengangguk. Saya tersenyum.
“Sebelum Ustadz ke Malang mau ketemu lagi?” Tanya saya memastikan.
Dia mengangguk.
“Insha Allah Jumat pagi Ustadz bakal ke sekolah, kok. Jadi santai aja,” ujarku sebari tersenyum dan merengkuh pundaknya, mengusap rambutnya yang sudah mulai panjang.
Setelah berbincang banyak hal, penuh canda dan tawa, saya pun undur diri. Anas berdiri di depan pintu, menatap punggung saya yang semakin menjauh. Saya menoleh di kegelapan malam dan merapal doa, semoga dia baik-baik saja. Amin.
*** 
Berpisah dengan orang yang kita cintai memang berat dirasa, namun demi sebuah impian yang lebih baik, kadang itu menjadi pilihan. Namun jarak bukanlah alasan untuk tidak menjalin hubungan silaturahmi yang baik antara satu sama lain. Selalu ada acara untuk bisa tetap menjalin hubungan, ditambah dengan kecanggihan teknologi yang semakin maju.
Saya terbiasa video call dengan orang-orang terdekat saya dengan bantuan aplikasi skype di laptop dan handphone, menghabiskan waktu bercakap-cakap, berbagi cerita, berbagi bahagia dan berbagi apapun yang positif.

Bismillah, saya percaya, anak-anak pun demikian, mereka akan bisa mengerti alasan saya mengundurkan diri.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan