August 15, 2014

Mundur Untuk Melangkah Maju

di depan gedung pascasarjana UIN Malang
11 Agustus 2014
“Apa lagi yang kamu cari, bukankah kamu sudah berada di tempat yang baik, rekan kerja yang baik dan juga anak-anak yang selalu kamu banggakan? Bukankah itu adalah karunia yang seharusnya kamu syukuri, bukan malah pergi meninggalkan kenyaman yang sudah ada.” Ucap seorang sahabat saat saya mudik Idul Fitri kemarin.
“Bukan saya tidak mensyukuri nikmat yang selama ini telah Tuhan berikan, bukan itu maksud saya. Saya hanya ingin kembali mengenyam pendidikan tinggi di jenjang selanjutnya, melanjutkan mimpi-mimpi yang sejak lama saya rajut dengan cinta. Saya telah menyiapkan ini sejak lama. Saya pergi bukan karena tidak nyaman dengan apa yang selama ini saya dapatkan, Saya hanya ingin belajar di tempat yang lebih baik, menyiapkan diri untuk pengabdian selanjutnya dengan baik.”
Untuk beberapa saat, kami sama-sama diam, kemudian menatap langit malam yang semakin kelam. Saya menghirup dinginnya udara malam yang berembus, sementara ia beranjak pergi meninggalkan tanda tanya dan kebingungannya akan keputusan yang saya ambil.
Tepat satu bulan yang lalu, saya memutuskan untuk mengajukan pengunduran diri dari tempat kerja. Bergetar kedua tangan, saat memasuki ruang kepala sekolah. Saya mengucap salam, menjabat tangan Ustadz Nandi, kemudian menjelaskan maksud dan tujuan saya menemuinya. Saya telah menyiapkan selembar surat dalam sebuah amplop berwarna putih yang berisi surat pengunduran diri.
Ustadz Nandi dengan bijak menerima kehadiran saya, kemudian berbincang sejenak tentang alasan demi alasan yang sejak lama telah ia dengar dari saya.
“Insha Allah, saya akan melanjutkan kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ustadz, sebagaimana yang pernah saya sampaikan dulu. Sekarang sudah saatnya saya kembali belajar di bangku kuliah.”
“Antum sudah yakin?”
“Insha Allah, Ustadz. Semoga ini yang terbaik. Saya sama sekali tidak ada masalah di sekolah. Saya mengundurkan diri demi mengejar mimpi yang sudah lama saya perjuangkan.”
Perbincangan sederhana terus berlanjut. Kemudian saya pamit. Ada bulir-bulir hangat di ujung sana. Saya memantapkan hati, bahwa ini adalah jalan yang telah saya pilih, maka saya harus siap dengan segala konsekuensi yang ada.
Hari ini, saya akan berangkat ke Malang, Saya melihat wajah-wajah pelangi hati yang selama ini hadir menemani. Anak-anak berlarian ke halaman sekolah untuk mengikuti apel pagi di hari Senin. Seperti biasa, Saya menyiapkan barisan anak-anak, sambil tersenyum dan memastikan mereka berbaris dengan baik. Mereka belum tahu bahwa hari ini saya akan pergi meninggalkan mereka demi sebuah mimpi.
Setelah apel pagi, saya dan anak-anak masuk ke dalam kelas, kelas kami adalah kelas VIII Bilal bin Rabah. Saya sengaja memilih nama itu, mengambil pelajaran dari sosok Bilal yang begitu kokoh keyakinannya meski siksaan bertubi-tubi ia rasakan. Anak-anak sudah siap berdoa, kemudian mengucapkan salam. Saya ingin anak-anak mencontoh Bilal, menjadi sosok yang begitu yakin akan kebenaran Islam. Saya selalu mendoakan mereka, agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang cinta akan Tuhannya.
Saya menatap lekat-lekat wajah mereka, hening. Mereka begitu baik dan sangat menghormati saya sebagai guru sekaligus wali kelas mereka. Kelas semakin hening saat saya menyampaikan keinginan saya untuk meraih mimpi dan terpaksa harus meninggalkan mereka semua.
“Ada ustadz ataupun tidak, kalian harus tetap belajar dan berusaha menjadi anak-anak yang shaleh. Jadilah anak yang berbakti.”
Suasana kelas sedikit ramai oleh ucapan-ucapan mereka.
“Berarti ustadz nggak ngajar disini lagi?”
Saya menggeleng.
“Terus siapa yang akan menjadi wali kelas kami nanti kalo ustadz pergi?”
“Siapa yang akan mengajari kami membaca Al Quran? Bukankah Ustadz sudah janji akan mengajari kami membaca Al Quran dengan baik dan benar?”
Saya terdiam sejenak, kemudian meyakinkan mereka semua bahwa mereka akan baik-baik saja meski tanpa kehadiran saya di dekat mereka.
“Insha Allah akan diganti dengan ustadz yang lain, yang lebih baik dan bisa menyayangi kalian dengan penuh cinta.”
Suasana kembali hening. Kulihat wajah-wajah itu mulai menunduk. Entahlah, mungkin saja mereka berat melepaskan kepergian saya. Saya tidak mengerti itu.
Tidak mudah memang, ada banyak perdebatan tentang keinginan saya untuk belajar di Kota Malang. Pihak yayasan sebenarnya siap menyekolahkan saya dengan biaya penuh, asal tetap di dalam kota. Akan tetapi, saya memilih untuk belajar di Malang. Itu artinya, pengunduran diri saya sudah mantap dan semoga ini adalah pilihan terbaik dan diridhai oleh Allah SWT. Saya percaya, dimanapun saya berada kelak, Allah akan menempatkan saya pada ladang dakwah baru, meski harus memulai semuanya sedari awal lagi. Tidak mengapa, kadang memang demikianlah adanya. Kadang kita harus keluar dari zona nyaman kita untuk meraih cita yang lebih tinggi.
**
Bus yang membawa saya menuju Kota Malang sudah berangkat sejak beberapa jam yang lalu. Saya masih belum bisa tidur nyenyak. Bayang-bayang anak-anak di sekolah tadi masih terus terngiang di dalam benak. Beberapa anak sedang chat dengan saya di blackberry messenger.
“Hati-hati di jalan, ya, ustadz, semoga apa yang ustadz impikan bisa terwujud.” tulis seorang murid, namanya Nabil.
“Amin, terimakasih, ya, Nak.”
Kami pun melanjutkan saling berbalas pesan. Kedekatan kami memang begitu terasa. Itulah mengapa begitu berat rasanya untuk pergi meninggalkan mereka semua. Namun sekali lagi saya teguhkan hati, bahwa ini demi sebuah impian, saya harus siap dengan berbagai macam konsekuensinya.
Pilihan demi pilihan telah banyak saya lalui dalam hidup ini. Ada banyak tawa dan tangis yang menemani pilihan demi pilihan yang telah saya buat. Seberat apapun pilihan itu, sebesar apapun konsekuensi atas pilihan yang telah saya buat, nyatanya Tuhan tidak pernah pergi. Ia selalu mendekap erat diri ini dalam kasih-Nya. Selalu ada tempat untuk bersujud di hadapan-Nya, mengadukan segala keluh kesah di dalam hidup.
Bus terus melaju, saya terdiam dan mencoba untuk lelap dalam tidur. Saya percaya, esok saya akan terbangun dan lebih tegar dalam menghadapi semua ini.
Ya Allah
Jika memang ini yang terbaik untuk kujalani, kuatkan hati hamba
Aku berserah diri sepenuhnya pada-Mu             
Semoga cintaku tetap utuh pada-Mu

Semoga pilihanku ini membawku ke jalan yang lebih dekat pada rahmat-Mu. 

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan