August 15, 2014

Selamat Pagi Malang

Salah Satu Gedung UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
12 Agustus 2014
Bus sudah memasuki Kota Malang yang dingin, kami berhenti di terminal Arjosari. Berdasarkan informasi yang saya dapat melalui internet, saya masih harus naik angkot dengan tulisan AL untuk bisa sampai ke UIN Maulana Malik Ibrahim, dimana mimpi sejak sekian lama telah  saya ukir. Mimpi untuk bisa belajar di UIN Maliki memang sudah mendarah daging. Padahal, saat kuliah sarjana dulu, saya tidak pernah akan mengira untuk bisa sejauh ini melangkah. Namun inilah kehendak Tuhan, Ia dengan mudah memindahkan tempat kita untuk berjuang.
Saya menghirup udara segar di kota yang benar-benar baru. Saya belum mengenal siapapun di kota ini, ini adalah kedatangan saya yang pertama kali di kota ini, dan semoga saya bisa bertahan demi sebuah impian.
Perjalanan demi perjalanan yang saya lalui selalu mengajarkan banyak hal, bertemu dengan orang-orang baru dengan latar belakang budaya yang berbeda, dan itu semua mengajarkan saya akan kedewasaan diri. Saya selalu mengambil banyak pelajaran dalam setiap langkah demi langkah kehidupan. Bumi Allah ini luas, dimana pun kita berada, kita bisa menjadi hamba yang baik, asal ada kesungguhan di dalam hati untuk berjuang menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi ini.
Bangunan itu begitu megah,  saya memperhatikan setiap sudut bangunannya yang dikelilingi rimbunnya pohon-pohon yang menjulang. Sejuk udara menusuk kulit. Saya mengeratkan jaket yang  saya pakai. Saya sedang berdiri di depan gerbang UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
“Pak, tempat pendaftaran pascasarjana di sebelah mana?” Saya bertanya pada seorang security yang sedang bertugas. Tampaknya ia sudah berjaga sejak malam, kulihat kusut wajahnya yang mengantuk.
“Pendaftaran Pascasarjana langsung di kantor Pascasarjana, Mas, di daerah Batu.” Jawabnya sambil mengusap kedua matanya yang merah. Mungkin saja ia belum tidur.
“Dari sini kesana naik apa, Pak?”
“Mas naik jurusan Landungsari, kemudian ambil angkot ke arah Batu, nanti turun pas di depan Pascasarjana UIN, tanya aja dengan supirnya, pasti tahu.” Jelasnya lebih lanjut.
Saya mengangguk, kemudian menyalaminya sambil mengucap terimakasih.
Saya bergegas menuju kantor Pascasarjana, jarum jam di tangan sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran. Seorang pegawai administrasi menerima semua berkas yang saya bawa, kemudian memberikan selembar tanda terima. Lega rasanya, sudah menyerahkan semua persyaratan dan tinggal menunggu tanggal 14 Agustus untuk tes masuk.
Di depan kampus Pascasarjana terdapat sebuah masjid yang indah, meski tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Saya meletakkan semua barang bawaan ke lantai dua, kemudian mengambil air wudhu di lantai bawah. Saya menunaikan shalat dhuha, sebagai ucapan syukur atas karunia yang telah Allah berikan pada saya selama ini. Saya mengucap doa-doa pada-Nya, semoga impian-impian yang selama ini saya yakini bisa terwujud.
Setelah shalat dhuha, saya menghampiri seorang laki-laki yang sedang membaca Al Quran di pojok masjid, kami saling kenal satu sama lain, ternyata dia juga calon mahasiswa Pascasarjana, namun kami mengambil jurusan yang berbeda. Dia mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab, sedangkan saya mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam.
Belum tertulis di dalam catatan harian saya alamat tempat tinggal saya sementara. Tes masih dua hari lagi, sedangkan saya tidak mengenal siapapun di kota ini.
“Kamu itu nekad banget, Mas. Masa pergi nggak kenal satu orang pun dan masih belum tahu harus nginep dimana.” Komentar seorang perempuan yang kebetulan duduk di samping saya selama perjalanan dari Purwokerto. Saya hanya tersenyum mendengar ucapannya. Ini bukanlah yang pertama kalinya saya seperti ini. Saya sudah sering bepergian dan tidak pernah ada masalah dimana saya akan menginap. Biasanya Masjid yang menjadi pilihan saya. Tenang rasanya bisa tidur di masjid, bangun malam kemudian bermunajat kepada Allah SWT.
Saya membuka juz keempat dari Al Quran kecil yang saya bawa, saya membaca ayat demi ayat Ilahi, tidak terasa air mata saya tumpah saat melantunkan kalam Ilahi yang sejak lama saya cintai. Tuhan memang begitu baik, memberi saya kesempatan untuk belajar sedikit demi sedikit tentang kalam-Nya.
Sudah hampir dzuhur, saya memilih untuk shalat di Masjid Universitas Muhammadiyah Malang yang terletak tidak begitu jauh dari gedung Pascasarjana. Disinilah Saya bertemu dengan berbagai macam orang, saling kenal satu sama lain. Saya memang tipe orang yang berani mengenalkan diri pada orang-orang yang saya temui. Dengan demikian, saya tidak merasa asing di tempat yang baru saya singgahi. Selalu ada cara membuat saya betah dan mulai mencintai suasana di tempat ini.
Kota Batu memang terkenal dengan sejuknya udara yang berembus. Bahkan di siang hari seperti ini, saya harus mengenakan jaket tebal agar tidak kedinginan.
Di tengah dinginnya udara, bayang-bayang anak-anak di sekolah melintas tak beraturan. Ribuan kenangan tentang mereka seketika hadir begitu saja. Saya terdiam, tertunduk, kemudian kembali menyentuh dada yang mulai sesak. Bahkan di tengah dinginnya udara, kehangatan kasih antara saya dan murid-murid tak mampu dihilangkan begitu saja. Saya merindukan mereka, meski baru sehari saya berpisah dengan mereka. Tapi ini adalah bagian dari pilihan saya.
Anak-anakku, mungkin kalian tidak tahu betapa berat hatiku berpisah dengan kalian semua. Namun Saya percaya, kalian akan tumbuh menjadi anak-anak yang shaleh/shalehah. Amin. 

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan