September 23, 2014

Rutinitas Baru Sebagai Mahasiswa

Tahun silih berganti, perjalanan hidup saya pun kian berganti. Sejak mengundurkan diri dari Al Irsyad, melepaskan sepotong hati disana, rutinitas keseharian saya pun ikut berubah. Biasanya, pagi hari saya sudah harus siap-siap ke sekolah, untuk menyambut kedatangan mereka, anak-anak yang selalu mempunyai cerita indah tersendiri. Sekarang semua menjadi berbeda. Kini, sudah 1,5 bulan saya menjalani rutinitas yang berbeda dari apa yang saya lakukan selama 3 tahun belakangan. Rutinitas mengajar tentu saja sudah tidak ada lagi, yang ada hanya kesibukan dengan sederet tugas kuliah yang meminta untuk diselesaikan.
Kini, tidak ada lagi canda tawa anak-anak seperti saat saya masih menjadi Guru, yang ada hanya sahabat-sahabat yang baru saya kenal dalam satu bulan terakhir dan persahabatan kami cukup terjalin erat, saling menguatkan satu sama lain, saling membantu satu sama lain, dan tentu saja semua kehidupan menjadi mahasiswa lagi membawa cerita bahagia tersendiri. Teman-teman di kelas saya bisa dibilang cukup ramai, kami 21 mahasiwa yang berasal dari berbagai macam latar belakang, baik mahasiswa dalam negeri maupun Internasional. Selain sahabat satu kelas, teman-teman di kelas yang lain juga memiliki kesan tersendiri, hidup saya seolah Allah beri bahagia yang meluap-luap tak terhingga. Perubahan demi perubahan yang diganti dengan pertemuan demi pertemuan dengan lingkungan baru, sahabat baru, dan rutinitas baru nyatanya tidak mengubah arti bahagia bagi saya.
Dalam satu minggu, saya kuliah hanya pada hari Senin, Selasa, dan Rabu, selebihnya saya menghabiskan waktu dengan berdiam diri di Perpustakaan, bahkan hari Minggu pun saya tetap ke perpustakaan, melahap berbagai macam literatur yang memerlukan kesabaran tingkat tinggi, baik karena kerumitan dalam memahami dikarenakan keterbatasan kemampuan saya dalam berbahasa Arab dan Inggris, maupun karena banyaknya buku yang harus saya baca. Sempat kaget dengan pola belajar yang demikian, dengan literatur yang tentu saja tidak sama dengan saat masih Studi Sarjana tiga tahun yang lalu. Perlu penyesuaian ekstra. Tapi saya bahagia, dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang luar biasa baik.
Pernah suatu ketika, kami harus membaca buku Ira M Lapidus, sejarah sosial umat islam dalam berbahasa Inggris, tebalnya cocok buat jadi bantal, dan saya kebagian tugas menerjemahkan satu bab untuk presentasi keesokan harinya. Malamnya, saya iseng mengirim file yang sudah berbentuk word ke Adik Sari yang di Inggris agar dia mau menerjemahkannya. Namun saya menyadari, dia pasti tidak bakalan nyambung dengan materi yang sedang saya baca, akhirnya, meski file sudah terlanjur dikirim, saya berusaha membaca, memahami dan menerjemahkan untuk teman-teman di Kelas, sekalian membantu mereka memahami. Ini terjadi di awal-awal perkuliahan. Disinilah saya seperti dipecut lagi dengan rotan yang keras, dilecut lagi semangat untuk rajin membaca literatur yang tersedia di perpustakaan.
Kata ibu, “Semakin sering kamu membaca buku-buku berbahasa Arab dan Inggris, Insha Allah akan lebih mudah.”
Perubahan juga terjadi di pola hidup, saya yang dulunya tidak ngekos, sekarang tinggal di kos-kosan, di kamar yang luasnya hanya cukup untuk tempat tidur, lemari pakaian  dan sebuah meja kecil. Cuku sempit memang, tapi nyaman. Disinilah saya menjalani kehidupan, menjadikannya tempat istirahat dari kesibukan kuliah. Dulu, saya kira kuliah S2 itu santai, ternyata sibuk, meski sebenarnya ada juga teman yang bilang santai. Sebenarnya, kuliah S2 memang santai, akan tetap pengembangan diri dijadikan tanggung jawab personal, jika ingin berkembang, maka silahkan mengembangkan diri dengan banyak-banyak membaca literatur-literatur yang ada baik di perpustakaan maupun e-journal yang tersebar di berbagai macam situs.
Ini bukan untuk pertama kali saya hidup di kosan, saat kuliah sarjana pun sama. Namun perjuangan sekarang terasa lebih seru, karena saya kuliah atas biaya sendiri, bukan beasiswa seperti saat kuliah sarjana dulu. Sekarang harus pintar-pintar menghemat uang. Saya hanya membeli buku-buku yang memang menjadi referensi wajib dan susah untuk dicari di perpustakaan. Jika di perpustakaan ada, saya masih lebih memilih membaca di perpustakaan ketimbang membeli, karena saya sadar diri, tidak semua bisa saya beli. Ini cukup menghemat uang.
Rutinitas berburu buku pun cukup berkesan, seperti saat mencari buku-buku studi peradaban Islam terbitan sekian puluh tahun yang lalu, dan buku-buku pemikiran-pemikiran yang juga terbit sejak sekian dekade. Cukup sulit memang, namun akhirnya bisa didapatkan, meski kondisinya tidak lagi baru. Namun disinilah nilai seninya. Perjuangan menjadi lebih baik benar-benar terasa.
            Jarak dari orang tua yang semakin jauh pun cukup membuat gejolak rindu yang menyesakkan dada. Rasanya, hidup di rantau lebih lama ketimbang hidup di dekat orang tua. Ini adalah tahun ke 14 saya merantau. Dan dalam satu tahun, saya hanya bertemu dengan orang tua pada saat Idul Fitri saja. Ditambah jarak yang semakin jauh, harus 2 kali penerbangan untuk bisa sampai ke Bengkulu, tentu saja menyimpan gejolak tersendiri. Namun satu hal yang selalu menjadi semangat saya dalam belajar, yaitu dukungan Ayah dan Ibu yang tidak henti-hentinya. Di keluarga besar Ayah maupun Ibu, baru saya sendiri yang melanjutkan Studi S2. Maklum, kami hanyalah penduduk kampong yang diberi Tuhan semangat untuk terus belajar, baik formal maupun formal.
            Bismillah, saya menjalani semua ini dengan baik, dan mengharap ridha Allah SWT. Semoga apa yang saya impikan dijawab oleh-Nya. Semoga perjalanan saya menggapai impian diberi kemudahan. Tetap sabar menjalani prosesnya demi sampai pantai harapan.

September 22, 2014

Ponpes Al Irsyad Batu – Jatim


19 September 2014
Hari-hari menjadi Mahasiswa itu ternyata sibuk, kesibukannya tidak lain dengan literatur-literatur yang tebalnya itu cocok buat ganjel pintu kamar kosan. Ah iya, saya belum cerita tentang kisah saya yang sekarang menjadi anak kosan, ya? Haha kisah jadi anak kosan itu ya nggak jauh-jauh lah dari yang namanya hidup prihatin. Sekarang saya tidak mau cerita tentang kehidupan saya di kosan, ya, itu udah biasa.
Sekarang saya sudah mulai banyak kenal dengan orang-orang di sekitar, sudah kenal dengan Pimpinan Muhammadiyah Batu, Pimpinan pondok-pondok Pesantren yang ada di sekitar Batu beserta dewan asatidznya, dan juga masyarakat sekitar. Setelah sekian abad saya nggak jadi muadzin, sekarang saya jadi muadzin di dekat kosan haha, biasanya jadi Imam, sekarang muadzin. Masyarakat di sekitar sini baik-baik semua, saya berasa kayak punya orang tua. Ibu kosan juga baik (ih, malah curhat masalah kosan lagi). Saya pernah dikira Wahabi karena kalo shalat selalu pakai gamis panjang, haha, saya punya senyum kemudian menjelaskan sesederhana mungkin. Maklum, disini kebanyakan NU dan Muhammadiyah.
Umar
Dari sekian banyak pesantren yang ada, saya suka di Al Irsyad Batu dan Ar Rohmah. Jauh-jauh hari sebelum saya ke Malang, saya memang sudah mempelajari hal-hal yang terkait dengan kedua pesantren ini, yang kebetulan dekat dengan Kampus. Mau ke pesantren Ar Rohmah cukup jalan kaki saja dari kampus. Kalo mau ke Al Irsyad perlu naik motor, bisa sih kalo mau jalan kaki, asal kuat aja lo jalan, paling juga lecet tuh kaki, hehe.
Nah, berbicara tentang Al Irsyad, saya jadi teringat anak-anak di Al Irsyad Purwokerto, sekarang Allah pertemukan saya dengan santri di Al Irsyad Batu, saat tulisan ini saya buat, saya baru saja melarikan diri dari literatur yang tebelnya banget dan bahasa Inggris pula. Besok saya harus maju presentasi, seharian sudah baca literature macam-macam, membuat resume, dan mempersiapkan bahan untuk disampaikan besok. Menulis kisah kebersamaan saya dengan para santri di Al irsyad ini sebagai obat kepala yang sudah mulai cenat-cenut. Pusing, bro, tapi nikmat.
Saat bertemu mereka untuk yang kedua kalinya, saya dikelilingi, kemudian ditanya macam-macam, kemudian ditertawain karena gaya berbicara saya yang katanya kayak upin dan ipin dan akhirnya saya memilih berbahasa Arab dan Inggris karena kebetulan mereka mulai dibiasakan untuk berbahasa Arab dan Inggris. Mulailah, sejak saya datang, mereka selalu berusaha untuk berbicara dalam Bahasa Arab dan Inggris, dan saya meladeni mereka dengan senang hati. Senang banget bisa berada di tengah-tengah mereka, ikut membangkitkan semangat mereka untuk mulai menghafal Al Quran seperti yang sedang saya lakukan saat ini.
Malam Minggu kemarin, saya ketemu mereka lagi, sengaja hadir di acara Muhadoroh, yakni latihan pidato tiga bahasa; Arab, Inggris dan Indonesia. Saya membawa DSLR, mengabadikan penampilan dari masing-masing peserta dan supporter dari masing-masing yang tampil. Selain pidato, ada juga hafalan Al Quran juz 29. Seru pokoknya. Acara dimulai lepas Isya sampai pukul 21.30, serunya terasa hingga akhir kegiatan. Saya duduk di belakang, di samping saya ada Umar, ditemani oleh Haqi dan lain sebagainya.
Setelah anak-anak tampil, saya menyempatkan diri untuk menyimak hafalan anak-anak yang tampil tahfidz, ada yang sudah hafal 4 juz, 2 juz, dan ada juga yang baru 1 juz. Tapi seneng, melihat mereka begitu antusias saat saya menyimak hafalan mereka.
Umar dan Haqi paling dekat dengan saya, langsung nyambung aja pas kenal ama mereka berdua. Si Umar ini paling susah kalo di foto, tahu sendiri saya itu suka motret dan juga menjadi objek hehe. Sekarang saya nggak galau lagi, sudah banyak anak-anak yang siap menjadi tempat saya untuk berbagi suka maupun duku (halah, malah duku haha).
            Para santri di Ponpes Al Irsyad tidak terlalu banyak, disesuaikan dengan kapasitas asrama yang hanya bisa menampung seratusan santri. Santri terdiri dari anak-anak di sekitar Batu dan juga pendatang dari luar batu, bahkan ada yang dari Bengkulu juga, sama seperti saya.
Para santri disini menempuh pendidikan di jenjang SMP. Anak-anaknya ramah dan tentu saja gokil semua. Pas saya motret mereka, mereka pasang aksi bikin saya ketawa terbahak-bahak sampai sakit perut. Ustadz-ustadz disana juga ramah, apalagi Ustadz Amrozi yang begitu baik, memberi saya kesempatan untuk bertemu dengan anak-anak. Baiklah, sekian curhat saya malam ini, saya mau lanjut membaca literatur yang berserakan di tempat tidur.

September 18, 2014

Dear Pesma

Kurang lebih sudah 3 Minggu saya hengkang dari Mafaza karena melanjutkan Studi di Pascasarjana UIN Malang. Sejak awal, saya memang sudah mewanti-wanti pada anak-anak di Pesantren Mafaza untuk tetap melakukan kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah saya tanamkan pada mereka selama ini. Tentu ada air mata yang menemani kepergian saya dari Mafaza. Di mafaza lah saya belajar menjadi lebih dewasa, mulai berbaur, mulai menjalin hubungan baik dengan anak-anak Mafaza, dan juga mulai memperbaiki kualitas ibadah kepada Allah SWT.
Ada banyak hal yang Allah berikan pada saya selama berada di Mafaza, terutama saat menemani para santri yang ada di Mafaza. Nah, beberapa hari terakhir, ada banyak yang sms, WhatsApp, inbox di Facebook, BBM ataupun melalui skype. Tri Irawan, Jovi, Yoko, Eko sudah sejak beberapa waktu yang lalu berbagi cerita tentang kondisi mereka di pesma saat ini.
Seperti pagi ini, saya menyapa Nasir melalui facebook. Kemudian menanyakan bagaimana Mafaza. Berikut jawaban Nasir;
“Waduh semuanya sepi, kayak membangun dari nol lagi. Mas Arif juga pergi. Good Habbits yang kemarin coba dibangun berantakan lagi.”
Saya membalas pesannya.
“Justru sebenarnya inilah pembuktian, apakah kalian sudah bisa mandiri atau belum. Mungkin kenyataannya memang belum siap ditinggal.”
“Mungkin emang bener juga. Kalo diruntutkan, baru tanam awal habbits ketabrak ramadhan, setelah lebaran belum terkondisi, kemudian ditinggal pergi.” Lanjutnya.
“Bukannya ada Ustadz yang baru pindah ke Mafaza?” Tanya saya lebih lanjut.
“Jika saya pribadi, liat Ustadz yang baru belum bisa bermesraan dengan anak-anak pesma, entah karena sudah terlanjur berkeluarga atau ada sebab lain. Memang memprihatinkan, anak-anak masih belum siap dilepas betul.”
Chatting pun saya akhiri.
Tri Irawan beberapa hari yang lalu juga chatting dengan saya, menyampaikan kekhawatirannya karena tidak ada lagi yang membimbing mereka menghafal Al Quran. Hafalan yang kemarin sudah dimulai malah terhenti, tidak ada semangat untuk melanjutkan lagi karena tidak ada yang membina secara khusus seperti sebelumnya. Hanya Jovi yang terus menambah hafalannya dengan penuh semangat. Selebihnya biasa saja. Kekhawatirannya juga ada pada santri baru.
Jovi pernah mengeluh karena teman-temannya tidak lagi ada semangat untuk bangun malam seperti sebelumnya, hanya segelintir santri yang ikut shalat malam. Biasanya, pagi Jumat, pukul 03.30, kami shalat tahajud bersama, saya yang menjadi Imam, kadang bergantian dengan santri Pesma. Selain pagi Jumat, shalat tahajud dilakukan secara mandiri di masjid. Sebelum subuh biasanya mereka sudah di Masjid.
**


Dear Pesma
Jangan pernah berhenti berusaha lebih baik, karena orang yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Jangan lepas dari kebaikan-kebaikan yang sudah kita bangun bersama, disinilah pembuktian kemandirian kita dalam membangun kesadaran beragama sebagaimana yang sering kita sampaikan saat Ramadhan yang baru saja berlalu.
Jika sebelumnya kita bisa saling beriringan, bersama-sama mewujudkan sebuah kondisi dimana satu sama lain saling mengingatkan akan kebaikan, maka seharusnya sekarang pun kalian bisa lebih mandiri dalam mewujudkan generasi-generasi yang dirindukan surga.
Kehidupan memang demikianlah adanya, selalu saja ada yang datang dan pergi dari kehidupan kita. Disinilah pembuktian kesadaran diri kita masing-masing untuk meyakinkan bahwa kita siap untuk tetap konsisten dalam melakukan good habbits yang sudah kita sepakati dahulu.
Jangan lepas dari Al Quran, jangan lepas dari shalat malam yang selalu kita dirikan bersama, jangan lepas dari kesadaran untuk menyegerakan diri untuk menghadap Allah SWT. Kalian sudah dewasa, sudah bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang tidak. Lakukan semua dalam rangka mencari keberkahan hidup, dalam rangka mencari ridha Allah SWT.
Perlu perjuangan hebat memang, untuk mewujudkan itu semua. Disinilah perjuangan kita semua, dalam mewujudkan apa yang sudah kita impikan bersama. Jika terus seperti ini, terlena dalam kekosongan, bisa saja akan menguap, menghilang begitu saja dan semua kembali seperti semula, dimana Pesma hanya sekadar tempat tidur, tanpa menghasilkan apa-apa.
Pesantren Mahasiswa ini adalah sebagai wadah kita mengembangkan diri. Kalian yang lebih tahu apakah kalian sudah semakin lebih baik atau malah sebaliknya. Mafaza memang belum bisa memberikan pelayanan terbaik untuk kalian. Belum bisa membina secara terus menerus, belum bisa secara fokus mewujudkan harapan kalian saat pertama kali masuk ke Mafaza. Tapi jangan jadikan itu alasan untuk tidak berjuang menjadi lebih baik.
Kalian tahu? Saya sering menangis saat bangun malam, mendengar suara lantunan ayat-ayat suci Al Quran dari kalian semua. Saya sering menangis sebagai ucapan syukur karena akhirnya kalian mau bangun malam, mendirikan shalat malam, menghafal ayat-ayat Allah hingga subuh menjelang, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan yang lain. Saya sering meraba dada yang berdegup lebih kencang saat melihat tawa bahagia kalian saat sedang bersama-sama bergotong royong membersihkan rumah Allah yang selama ini telah menjaga kita. Maka, jangan biarkan kondisi sekarang ini merusak semua kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah kita jalani beberapa waktu yang lalu.
            Saya percaya, kalian bisa kembali harmonis, kembali bahagia menjalani ini semua dalam rangka menjadi pejuang Allah dalam rangka menegakkan hukum-hukum  Allah di muka bumi ini. Melangkahlah dengan pasti, buang kekhawatiran-kekhawatiran yang selama ini menjadi beban, percayalah, bahwa Allah SWT selalu ada bagi hamba-Nya yang selalu berusaha mendekatkan diri pada-Nya. Tetap semangat, Faiza ‘Azamta Fatawakkal’Alallah. Salam rindu dariku untuk kalian semua.

September 07, 2014

To Win a War You Have to Start One

6 September 2014
Hari ini adalah orientasi program studi mahasiswa baru Pascasarjana. Sedari pagi saya sudah excited banget untuk hari ini. Maklum, secara sudah tiga tahun lamanya saya mempersiapkan ini semua, menjalani proses yang tidak mudah. Sudah seminggu saya berada di Batu, merasakan dinginnya yang luar biasa. Suhu di pagi hari bisa sampai di bawah 20’ C dan saya masih nekad mandi menjelang subuh. Mungkin karena sudah kebiasaan saya yang sejak dulu rajin mandi sebelum subuh, jadinya masih penyesuaian dengan cuaca yang cukup berbeda.
Masyarakat di Indonesia beberapa waktu lalu cukup resah dengan adanya tulisan di spanduk orientasi mahasiswa baru di UIN Surabaya. Ada tulisan “Tuhan Membusuk” yang kemudian tersebar luas. Saya tidak menemukan hal-hal aneh saat orientasi di sini, di program sarjana pun saya tidak menemukan hal-hal aneh.
Semangat di awal-awal study memang luar biasa, semoga tetap semangat hingga proses study ini selesai, dan bisa mengabdikan diri untuk mendidik generasi muslim agar bisa menjadi lebih baik lagi. Saya bertemu dengan berbagai macam orang dan tentunya dengan kepribadian yang berbeda. Ada yang dari pesantren, masih mempertahankan kebiasaan memakai kopiah hitam saat ke kampus. Ada yang bicaranya bikin ketawa lepas dengan gaya bicara yang lucu. Sampai saat ini, saya masih sering ketawa (dalam hati) saat mendengar orang Madura bicara di depan umum. Gaya bicara orang Madura itu lucu dan tegas. Ada teman yang kerjaannya jadi pelawak setiap hari, yang berhasil membuat kegaduhan dengan tingkahnya yang lucu.
Hidup di daerah yang memang baru dan saya belum banyak mengenal banyak orang memang perlu penyesuaian. Namun satu hal yang saya yakini, ketika niat kita baik, Allah akan memberikan kemudahan-kemudahan bagi kita mewujudkannya, asal kita mau berusaha dan berdoa. Bukankah Allah itu Mahakaya? Kepadanyalah kita memohon, bukan?
Ada banyak teman-teman yang dalam satu minggu terakhir menjadi dekat satu sama lain. Ada yang dari Medan, Riau, Jambi, Lampung, Aceh, Bengkulu, Kalimantan, Sulawesi, Jatim, Jateng, Libia, Rusia, Malaysia, Thailand dan lain sebagainya. Saya dan teman-teman satu kosan komitmen untuk berbicara dengan Bahasa Arab dan Inggris, meski Bahasa Inggris yang paling sering saya gunakan, guna menunjang kemampuan berbahasa di kampus.
Saat pembukaan orientasi, Pak Rektor sudah menekankan sejak awal, bahwa lulusan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang harus mampu bersaing, salah satunya adalah dengan menguasa bahasa Internasional. Beliau sudah memulai, dengan berbicara Bahasa Inggris pada mahasiswa, dan itu cukup memberi suntikan semangat baru bagi kami untuk berbincang dengan Bahasa Aran dan Inggris. Maka tidak aneh, jika mendengar teman-teman yang berbincang satu sama lain dengan Bahasa Arab dan Inggris. Ah, saya jadi makin semangat.
Suasana di UIN Malang memang cukup kondusif, dengan fasilitas yang baik. Perpustakaan yang menyediakan sekian banyak literatur, ruang belajar yang nyaman, tenaga pengajar yang kompeten, dan juga lingkungan yang seperti pesantren.
Pak Rektor memberi wejangan yang menginspirasi, Pak Direktur Pascasarjana juga memberikan gambaran jelas bagaimana menempuh pendidikan pascasarjana di UIN Malang. Saya melihat pemikiran-pemikiran yang disampaikan oleh Pak Muhaimin selaku Direktur, menekankan pada islamisasi ilmu pengetahuan, seperti pemikiran Syek Muhammad Naquib Al Attas yang baru saja saya baca beberapa waktu yang lalu.
Setelah dzuhur, kami masuk ke masing-masing jurusan, membahas lebih rinci bagaimana pendidikan di masing-masing program. Saya mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam, kami masuk di ruangan yang sangat representatif untuk belajar. Semangat dari masing-masing begitu terasa di ruangan kami.
Setiap orang pasti memiliki banyak mimpi, karena tidak tidak ada yang berhak melarang kita untuk bermimpi. Meski demikian, tidak semua orang memperjuangkan impian-impiannya. Maka bersyukurlah, jika kamu termasuk orang yang berusaha memperjuangkan impian-impianmu, karena engkau termasuk orang-orang yang berada di jalan menuju pantai harapan.
Dalam menggapai impian ini, tentu saja banyak cobaan yang Allah siapkan untuk menguatkan kita, namun percayalah, Allah selalu ada untuk kita jadikan tempat untuk memohon. Seberat apapun perjuangan dalam mewujudkan apa yang kita impikan, tetaplah berada di jalan yang Allah ridhai, karena ketika Allah meridhai, maka disanalah letak bahagia yang sesungguhnya, hidup dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.
Saya sempat berbincang dengan seorang teman yang baru berumur 24 tahun tapi sedang mengambil program doktor, sedangkan saya berusia 25 tahun, tapi baru mengambil program Magister.
“Sebenarnya, saya sudah jenuh belajar, mau istirahat dulu, kerja, biar lebih fresh belajarnya. Tapi orangtua yang selalu mendorong untuk terus melanjutkan study hingga lulus.”
“Ya bagus itu, selama orangtua memang siap untuk membiayai, kenapa tidak?” ujar saya sambil melihat anak-anak yang sedang bermain di depan.
“Saya nggak boleh kerja yang berat-berat, takut mengganggu kuliah. Sampai hari ini saya masih hidup dengan biaya dari orangtua. Setiap bulan orangtua mengirimi saya uang. Padahal, kuliah nggak setiap hari, bosen juga kalo begini terus.”
“Ambil positifnya saja,” jawab saya sekedarnya, karena tidak ingin terbawa lebih jauh dengan sikap orangtuanya.
Saya teringat dengan bagaimana Bapk dan Ibu berusaha menyekolahkan saya. Dulu, adik saya yang perempuan rela berhenti satu tahun terlebih dahulu, menunggu saya selesai kuliah, baru kemudian dia melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Setelah saya lulus, adik saya mulai kuliah, dan saya berhenti selama 3 tahun untuk membiayai kuliahnya. Sekarang dia sudah semester tujuh, dan saya kembali ke bangku kuliah. Saya selalu bilang ke adik,
“Bapak dan Ibu berjuang, Kakak Berjuang, dan Adik pun berjuang. Allah mempunyai kejutan-kejutan untuk kita. Tetaplah belajar, mewujudkan impian-impian Bapak dan Ibu, melihat anak-anaknya sekolah tinggi, meski dengan keadaan yang biasa-biasa saja.”
Saat ini, kondisi ekonomi orang tua saya memang sedang berada di bawah, namun Bapak dan Ibu tetap meyakinkan pada kami agar tetap melanjutkan study. Adik saya kuliah sambil bekerja. Saya kuliah Magister dengan tabungan yang saya kumpulkan selam 3 tahun terakhir, baik dari gaji, royalti penjualan buku, dan lain sebagainya.
Saya memang sudah bertekad sejak dulu, setelah wisuda, saya harus bisa mandiri, membantu biaya sekolah adik-adik, dan membantu bapak dan ibu sebisa mungkin. Kami memang bukan lahir dari keluarga yang kaya raya, tapi satu hal yang selalu membuat saya kuat dalam mewujudkan impian-impian saya, yaitu doa dari Bapak dan Ibu.
Kata Ibu,
“Melihat kalian bisa mengenyam pendidikan lebih baik dari Bapak dan Ibu adalah kebahagiaan hidup.”
Maka saya pun mengajarkan pada adik-adik untuk tidak menyerah dalam mewujudkan impian. Untuk bisa melangkah hingga ribuan langkah, tentu saja dimulai dari langkah pertama. Maka ketika melangkah, niatkan dalam rangka mencari ridha Allah SWT. Insha Allah ilmu yang kita dapat akan barokah. Amin.

September 04, 2014

Bahasa Arab di UIN Malang


4 September 2014
Hari ini, saya silaturahmi ke Ma’had Sunan Ampel Al-Ali, yang merupakan asrama bagi seluruh mahasiswa baru UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sekian banyak mahasiswa baru, baik putra maupun putri diwajibkan menetap di asrama, dan wajib mengikuti semua aturan yang berlaku. Asrama putra dan putri tentu saja dibedakan. Di dalam asrama ini, mereka diajarkan tentang keislaman, dibina dengan baik, demi mempersiapkan generasi penerus yang lebih baik. Saya rasa ini adalah salah satu cara yang baik, menjaga dan mempersiapkan generasi muda muslim, agar menjadi pemuda-pemudi yang dirindukan surga. Mereka diajarkan membaca Al Quran, dan juga menghafal.
Saat ke UIN Pusat, ada pemandangan yang sangat menyentuh hati saya. Saya melihat sekian banyak mahasiswa yang duduk dalam bentuk lingkaran-lingkaran kecil di sekitar kampus, dipandu oleh seorang Mu’allim. Saya memotret kegiatan mereka, sambil berusaha mendengarkan apa yang sedang mereka pelajari. Saya menghampiri salah seorang mahasiswi yang kebetulan sedang berdiri.
“Afwan, ini ada kegiatan apa, ya, Mbak?” Tanya saya padanya. Dia tersenyum dan menjawab.
“Sedang belajar bahasa Arab, ini menjadi program pendidikan bahasa Arab bagi mahasiswa.”
Belajar bahasa arab di bawah pohon di sekitar kampus

Saya pun tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Saya terus mengamati kegiatan yang mereka lakukan hingga menjelang maghrib tiba. Jam lima sore, mereka berhenti, kemudian kembali ke asrama masing-masing, mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Allah SWT.
Karena masih penasaran, saya izin pihak security asrama untuk keliling ke dalam asrama. Saat melihat kehidupan para mahasiswa di asrama, saya bernostalgia dengan kehidupan saya beberapa tahun yang lalu, saat sedang menimba ilmu di Pesantren. Saya merindukan itu semua.
Berbicara tentang Bahasa Arab, saya akui bahwa kemampuan berbahasa Arab saya masih sangat lemah. Di kampus Pascasarjana saya sering berbincang dengan beberapa mahasiswa dari Luar Negeri, ada yang dari rusia dan juga Libia. Saya baru bertemu dengan mereka, dan kebanyakan dari mereka tidak bisa berbahasa Inggris, hanya satu yang bisa berbahasa Inggris yang kemudian menjadi teman ngobrol. Disinilah saya merasa kembali ditegur oleh Allah SWT untuk mempelajari Bahasa Arab.
Dulu, ketika masih di Pondok, saya termasuk yang paling baik bahasa Arabnya, setiap kali ada lomba, saya yang diutus, karena memang pada saat itu saya sangat menyukai bahasa Arab. Bahkan pernah sampai ke tingkat Provinsi. Namun, bahasa Arab saya menjadi pasif sejak mulai kuliah di Jakarta, karena bahasa yang paling sering dipakai adalah Bahasa Inggris. Saya mengambil les conversation di LIA agar bisa mengikuti pelajaran di kelas. Sejak saat itulah, saya mulai jarang berbicara Bahasa Arab, sampai sekarang, saya hanya bisa reading dan listening. Ketika diminta berbicara Bahasa Arab, saya merasa sangat kesulitan karena memang sudah jarang digunakan.
Sekarang, sejak masuk di UIN Malang, saya kembali tertantang untuk bisa aktif berbicara bahasa Arab. Karena memang komunikasi antara satu sama lain lebih sering memakai bahasa Arab. Antara dosen dan mahasiswa, dosen dan dosen pun demikian, meski memang tidak semuanya memiliki kemampuan berbahasa Arab dengan baik. Setidaknya, kebiasaan untuk berbahasa Arab ini menular ke saya dan mahasiswa-mahasiswa yang lain. Makanya, Bahasa Arab sangat ditekankan bagi mahasiswa-mahasiswa baru di UIN Malang.
Saya dan teman-teman di kosan akhirnya komitmen untuk menggalakkan bahasa Arab dan Inggris. Nanti, saat libur semester, rencananya kami akan kursus Bahasa Arab di Pare, sebagaimana rencana saya sejak awal memilih Malang menjadi tempat belajar.
Saat pertama masuk, saya mengikuti International Conference On Civilization dengan Bahasa Arab sebagai pengantar. Pembicaranya kebanyakan memakai Bahasa Arab, hanya ada satu yang memakai Bahasa Inggris sebagai pengantar, itu pun masih diselingi dengan Bahasa Arab. Saya merasa malu pada diri sendiri, selama ini saya hanya fokus pada Bahasa Inggris, sampai lupa untuk mempelajari bahasa Arab. Ketika pembicara berbicara sedikit pelan, saya bisa memahami, namun ketika dengan ritme yang cepat, saya kewalahan untuk memahami.
Untuk bisa aktif berbicara dengan bahasa Arab memang diperlukan lingkungan yang mendukung, dimana orang-orang juga menggunakannya sebagai bahasa untuk berkomunikasi satu sama lain. Kita perlu untuk mempraktikkannya dalam keseharian. Sekian banyak kosa kata yang kita hapal, kalau tidak pernah dipraktikkan, akan membuat kemampuan bahasa Arab menjadi pasif.
Bismillah, tidak ada salahnya bermimpi tinggi, karena tidak ada seorangpun yang berhak melarang kita menjadi pribadi sukses. Semoga saya bisa istiqamah mempelajari Bahasa Arab ini, karena sudah Allah pertemukan dengan lingkungan yang juga mendukung.