September 18, 2014

Dear Pesma

Kurang lebih sudah 3 Minggu saya hengkang dari Mafaza karena melanjutkan Studi di Pascasarjana UIN Malang. Sejak awal, saya memang sudah mewanti-wanti pada anak-anak di Pesantren Mafaza untuk tetap melakukan kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah saya tanamkan pada mereka selama ini. Tentu ada air mata yang menemani kepergian saya dari Mafaza. Di mafaza lah saya belajar menjadi lebih dewasa, mulai berbaur, mulai menjalin hubungan baik dengan anak-anak Mafaza, dan juga mulai memperbaiki kualitas ibadah kepada Allah SWT.
Ada banyak hal yang Allah berikan pada saya selama berada di Mafaza, terutama saat menemani para santri yang ada di Mafaza. Nah, beberapa hari terakhir, ada banyak yang sms, WhatsApp, inbox di Facebook, BBM ataupun melalui skype. Tri Irawan, Jovi, Yoko, Eko sudah sejak beberapa waktu yang lalu berbagi cerita tentang kondisi mereka di pesma saat ini.
Seperti pagi ini, saya menyapa Nasir melalui facebook. Kemudian menanyakan bagaimana Mafaza. Berikut jawaban Nasir;
“Waduh semuanya sepi, kayak membangun dari nol lagi. Mas Arif juga pergi. Good Habbits yang kemarin coba dibangun berantakan lagi.”
Saya membalas pesannya.
“Justru sebenarnya inilah pembuktian, apakah kalian sudah bisa mandiri atau belum. Mungkin kenyataannya memang belum siap ditinggal.”
“Mungkin emang bener juga. Kalo diruntutkan, baru tanam awal habbits ketabrak ramadhan, setelah lebaran belum terkondisi, kemudian ditinggal pergi.” Lanjutnya.
“Bukannya ada Ustadz yang baru pindah ke Mafaza?” Tanya saya lebih lanjut.
“Jika saya pribadi, liat Ustadz yang baru belum bisa bermesraan dengan anak-anak pesma, entah karena sudah terlanjur berkeluarga atau ada sebab lain. Memang memprihatinkan, anak-anak masih belum siap dilepas betul.”
Chatting pun saya akhiri.
Tri Irawan beberapa hari yang lalu juga chatting dengan saya, menyampaikan kekhawatirannya karena tidak ada lagi yang membimbing mereka menghafal Al Quran. Hafalan yang kemarin sudah dimulai malah terhenti, tidak ada semangat untuk melanjutkan lagi karena tidak ada yang membina secara khusus seperti sebelumnya. Hanya Jovi yang terus menambah hafalannya dengan penuh semangat. Selebihnya biasa saja. Kekhawatirannya juga ada pada santri baru.
Jovi pernah mengeluh karena teman-temannya tidak lagi ada semangat untuk bangun malam seperti sebelumnya, hanya segelintir santri yang ikut shalat malam. Biasanya, pagi Jumat, pukul 03.30, kami shalat tahajud bersama, saya yang menjadi Imam, kadang bergantian dengan santri Pesma. Selain pagi Jumat, shalat tahajud dilakukan secara mandiri di masjid. Sebelum subuh biasanya mereka sudah di Masjid.
**


Dear Pesma
Jangan pernah berhenti berusaha lebih baik, karena orang yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Jangan lepas dari kebaikan-kebaikan yang sudah kita bangun bersama, disinilah pembuktian kemandirian kita dalam membangun kesadaran beragama sebagaimana yang sering kita sampaikan saat Ramadhan yang baru saja berlalu.
Jika sebelumnya kita bisa saling beriringan, bersama-sama mewujudkan sebuah kondisi dimana satu sama lain saling mengingatkan akan kebaikan, maka seharusnya sekarang pun kalian bisa lebih mandiri dalam mewujudkan generasi-generasi yang dirindukan surga.
Kehidupan memang demikianlah adanya, selalu saja ada yang datang dan pergi dari kehidupan kita. Disinilah pembuktian kesadaran diri kita masing-masing untuk meyakinkan bahwa kita siap untuk tetap konsisten dalam melakukan good habbits yang sudah kita sepakati dahulu.
Jangan lepas dari Al Quran, jangan lepas dari shalat malam yang selalu kita dirikan bersama, jangan lepas dari kesadaran untuk menyegerakan diri untuk menghadap Allah SWT. Kalian sudah dewasa, sudah bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang tidak. Lakukan semua dalam rangka mencari keberkahan hidup, dalam rangka mencari ridha Allah SWT.
Perlu perjuangan hebat memang, untuk mewujudkan itu semua. Disinilah perjuangan kita semua, dalam mewujudkan apa yang sudah kita impikan bersama. Jika terus seperti ini, terlena dalam kekosongan, bisa saja akan menguap, menghilang begitu saja dan semua kembali seperti semula, dimana Pesma hanya sekadar tempat tidur, tanpa menghasilkan apa-apa.
Pesantren Mahasiswa ini adalah sebagai wadah kita mengembangkan diri. Kalian yang lebih tahu apakah kalian sudah semakin lebih baik atau malah sebaliknya. Mafaza memang belum bisa memberikan pelayanan terbaik untuk kalian. Belum bisa membina secara terus menerus, belum bisa secara fokus mewujudkan harapan kalian saat pertama kali masuk ke Mafaza. Tapi jangan jadikan itu alasan untuk tidak berjuang menjadi lebih baik.
Kalian tahu? Saya sering menangis saat bangun malam, mendengar suara lantunan ayat-ayat suci Al Quran dari kalian semua. Saya sering menangis sebagai ucapan syukur karena akhirnya kalian mau bangun malam, mendirikan shalat malam, menghafal ayat-ayat Allah hingga subuh menjelang, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan yang lain. Saya sering meraba dada yang berdegup lebih kencang saat melihat tawa bahagia kalian saat sedang bersama-sama bergotong royong membersihkan rumah Allah yang selama ini telah menjaga kita. Maka, jangan biarkan kondisi sekarang ini merusak semua kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah kita jalani beberapa waktu yang lalu.
            Saya percaya, kalian bisa kembali harmonis, kembali bahagia menjalani ini semua dalam rangka menjadi pejuang Allah dalam rangka menegakkan hukum-hukum  Allah di muka bumi ini. Melangkahlah dengan pasti, buang kekhawatiran-kekhawatiran yang selama ini menjadi beban, percayalah, bahwa Allah SWT selalu ada bagi hamba-Nya yang selalu berusaha mendekatkan diri pada-Nya. Tetap semangat, Faiza ‘Azamta Fatawakkal’Alallah. Salam rindu dariku untuk kalian semua.

2 comments:

  1. Insya Allah Ustadz.
    Bukan hanya saya saja sebenarnya yang masih semangat menghafal Qur'an tadz. Mas Nasir, Ulil, Eko, Pahri, Arifin, Mas Andi, dan masih banyak lagi yang lain. Mereka semua hebat. Insya Allah kedepannya juga akan tetap hebat.

    Barakallah.
    Jovi dan kawan-kawan.

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan