September 23, 2014

Rutinitas Baru Sebagai Mahasiswa

Tahun silih berganti, perjalanan hidup saya pun kian berganti. Sejak mengundurkan diri dari Al Irsyad, melepaskan sepotong hati disana, rutinitas keseharian saya pun ikut berubah. Biasanya, pagi hari saya sudah harus siap-siap ke sekolah, untuk menyambut kedatangan mereka, anak-anak yang selalu mempunyai cerita indah tersendiri. Sekarang semua menjadi berbeda. Kini, sudah 1,5 bulan saya menjalani rutinitas yang berbeda dari apa yang saya lakukan selama 3 tahun belakangan. Rutinitas mengajar tentu saja sudah tidak ada lagi, yang ada hanya kesibukan dengan sederet tugas kuliah yang meminta untuk diselesaikan.
Kini, tidak ada lagi canda tawa anak-anak seperti saat saya masih menjadi Guru, yang ada hanya sahabat-sahabat yang baru saya kenal dalam satu bulan terakhir dan persahabatan kami cukup terjalin erat, saling menguatkan satu sama lain, saling membantu satu sama lain, dan tentu saja semua kehidupan menjadi mahasiswa lagi membawa cerita bahagia tersendiri. Teman-teman di kelas saya bisa dibilang cukup ramai, kami 21 mahasiwa yang berasal dari berbagai macam latar belakang, baik mahasiswa dalam negeri maupun Internasional. Selain sahabat satu kelas, teman-teman di kelas yang lain juga memiliki kesan tersendiri, hidup saya seolah Allah beri bahagia yang meluap-luap tak terhingga. Perubahan demi perubahan yang diganti dengan pertemuan demi pertemuan dengan lingkungan baru, sahabat baru, dan rutinitas baru nyatanya tidak mengubah arti bahagia bagi saya.
Dalam satu minggu, saya kuliah hanya pada hari Senin, Selasa, dan Rabu, selebihnya saya menghabiskan waktu dengan berdiam diri di Perpustakaan, bahkan hari Minggu pun saya tetap ke perpustakaan, melahap berbagai macam literatur yang memerlukan kesabaran tingkat tinggi, baik karena kerumitan dalam memahami dikarenakan keterbatasan kemampuan saya dalam berbahasa Arab dan Inggris, maupun karena banyaknya buku yang harus saya baca. Sempat kaget dengan pola belajar yang demikian, dengan literatur yang tentu saja tidak sama dengan saat masih Studi Sarjana tiga tahun yang lalu. Perlu penyesuaian ekstra. Tapi saya bahagia, dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang luar biasa baik.
Pernah suatu ketika, kami harus membaca buku Ira M Lapidus, sejarah sosial umat islam dalam berbahasa Inggris, tebalnya cocok buat jadi bantal, dan saya kebagian tugas menerjemahkan satu bab untuk presentasi keesokan harinya. Malamnya, saya iseng mengirim file yang sudah berbentuk word ke Adik Sari yang di Inggris agar dia mau menerjemahkannya. Namun saya menyadari, dia pasti tidak bakalan nyambung dengan materi yang sedang saya baca, akhirnya, meski file sudah terlanjur dikirim, saya berusaha membaca, memahami dan menerjemahkan untuk teman-teman di Kelas, sekalian membantu mereka memahami. Ini terjadi di awal-awal perkuliahan. Disinilah saya seperti dipecut lagi dengan rotan yang keras, dilecut lagi semangat untuk rajin membaca literatur yang tersedia di perpustakaan.
Kata ibu, “Semakin sering kamu membaca buku-buku berbahasa Arab dan Inggris, Insha Allah akan lebih mudah.”
Perubahan juga terjadi di pola hidup, saya yang dulunya tidak ngekos, sekarang tinggal di kos-kosan, di kamar yang luasnya hanya cukup untuk tempat tidur, lemari pakaian  dan sebuah meja kecil. Cuku sempit memang, tapi nyaman. Disinilah saya menjalani kehidupan, menjadikannya tempat istirahat dari kesibukan kuliah. Dulu, saya kira kuliah S2 itu santai, ternyata sibuk, meski sebenarnya ada juga teman yang bilang santai. Sebenarnya, kuliah S2 memang santai, akan tetap pengembangan diri dijadikan tanggung jawab personal, jika ingin berkembang, maka silahkan mengembangkan diri dengan banyak-banyak membaca literatur-literatur yang ada baik di perpustakaan maupun e-journal yang tersebar di berbagai macam situs.
Ini bukan untuk pertama kali saya hidup di kosan, saat kuliah sarjana pun sama. Namun perjuangan sekarang terasa lebih seru, karena saya kuliah atas biaya sendiri, bukan beasiswa seperti saat kuliah sarjana dulu. Sekarang harus pintar-pintar menghemat uang. Saya hanya membeli buku-buku yang memang menjadi referensi wajib dan susah untuk dicari di perpustakaan. Jika di perpustakaan ada, saya masih lebih memilih membaca di perpustakaan ketimbang membeli, karena saya sadar diri, tidak semua bisa saya beli. Ini cukup menghemat uang.
Rutinitas berburu buku pun cukup berkesan, seperti saat mencari buku-buku studi peradaban Islam terbitan sekian puluh tahun yang lalu, dan buku-buku pemikiran-pemikiran yang juga terbit sejak sekian dekade. Cukup sulit memang, namun akhirnya bisa didapatkan, meski kondisinya tidak lagi baru. Namun disinilah nilai seninya. Perjuangan menjadi lebih baik benar-benar terasa.
            Jarak dari orang tua yang semakin jauh pun cukup membuat gejolak rindu yang menyesakkan dada. Rasanya, hidup di rantau lebih lama ketimbang hidup di dekat orang tua. Ini adalah tahun ke 14 saya merantau. Dan dalam satu tahun, saya hanya bertemu dengan orang tua pada saat Idul Fitri saja. Ditambah jarak yang semakin jauh, harus 2 kali penerbangan untuk bisa sampai ke Bengkulu, tentu saja menyimpan gejolak tersendiri. Namun satu hal yang selalu menjadi semangat saya dalam belajar, yaitu dukungan Ayah dan Ibu yang tidak henti-hentinya. Di keluarga besar Ayah maupun Ibu, baru saya sendiri yang melanjutkan Studi S2. Maklum, kami hanyalah penduduk kampong yang diberi Tuhan semangat untuk terus belajar, baik formal maupun formal.
            Bismillah, saya menjalani semua ini dengan baik, dan mengharap ridha Allah SWT. Semoga apa yang saya impikan dijawab oleh-Nya. Semoga perjalanan saya menggapai impian diberi kemudahan. Tetap sabar menjalani prosesnya demi sampai pantai harapan.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan