September 07, 2014

To Win a War You Have to Start One

6 September 2014
Hari ini adalah orientasi program studi mahasiswa baru Pascasarjana. Sedari pagi saya sudah excited banget untuk hari ini. Maklum, secara sudah tiga tahun lamanya saya mempersiapkan ini semua, menjalani proses yang tidak mudah. Sudah seminggu saya berada di Batu, merasakan dinginnya yang luar biasa. Suhu di pagi hari bisa sampai di bawah 20’ C dan saya masih nekad mandi menjelang subuh. Mungkin karena sudah kebiasaan saya yang sejak dulu rajin mandi sebelum subuh, jadinya masih penyesuaian dengan cuaca yang cukup berbeda.
Masyarakat di Indonesia beberapa waktu lalu cukup resah dengan adanya tulisan di spanduk orientasi mahasiswa baru di UIN Surabaya. Ada tulisan “Tuhan Membusuk” yang kemudian tersebar luas. Saya tidak menemukan hal-hal aneh saat orientasi di sini, di program sarjana pun saya tidak menemukan hal-hal aneh.
Semangat di awal-awal study memang luar biasa, semoga tetap semangat hingga proses study ini selesai, dan bisa mengabdikan diri untuk mendidik generasi muslim agar bisa menjadi lebih baik lagi. Saya bertemu dengan berbagai macam orang dan tentunya dengan kepribadian yang berbeda. Ada yang dari pesantren, masih mempertahankan kebiasaan memakai kopiah hitam saat ke kampus. Ada yang bicaranya bikin ketawa lepas dengan gaya bicara yang lucu. Sampai saat ini, saya masih sering ketawa (dalam hati) saat mendengar orang Madura bicara di depan umum. Gaya bicara orang Madura itu lucu dan tegas. Ada teman yang kerjaannya jadi pelawak setiap hari, yang berhasil membuat kegaduhan dengan tingkahnya yang lucu.
Hidup di daerah yang memang baru dan saya belum banyak mengenal banyak orang memang perlu penyesuaian. Namun satu hal yang saya yakini, ketika niat kita baik, Allah akan memberikan kemudahan-kemudahan bagi kita mewujudkannya, asal kita mau berusaha dan berdoa. Bukankah Allah itu Mahakaya? Kepadanyalah kita memohon, bukan?
Ada banyak teman-teman yang dalam satu minggu terakhir menjadi dekat satu sama lain. Ada yang dari Medan, Riau, Jambi, Lampung, Aceh, Bengkulu, Kalimantan, Sulawesi, Jatim, Jateng, Libia, Rusia, Malaysia, Thailand dan lain sebagainya. Saya dan teman-teman satu kosan komitmen untuk berbicara dengan Bahasa Arab dan Inggris, meski Bahasa Inggris yang paling sering saya gunakan, guna menunjang kemampuan berbahasa di kampus.
Saat pembukaan orientasi, Pak Rektor sudah menekankan sejak awal, bahwa lulusan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang harus mampu bersaing, salah satunya adalah dengan menguasa bahasa Internasional. Beliau sudah memulai, dengan berbicara Bahasa Inggris pada mahasiswa, dan itu cukup memberi suntikan semangat baru bagi kami untuk berbincang dengan Bahasa Aran dan Inggris. Maka tidak aneh, jika mendengar teman-teman yang berbincang satu sama lain dengan Bahasa Arab dan Inggris. Ah, saya jadi makin semangat.
Suasana di UIN Malang memang cukup kondusif, dengan fasilitas yang baik. Perpustakaan yang menyediakan sekian banyak literatur, ruang belajar yang nyaman, tenaga pengajar yang kompeten, dan juga lingkungan yang seperti pesantren.
Pak Rektor memberi wejangan yang menginspirasi, Pak Direktur Pascasarjana juga memberikan gambaran jelas bagaimana menempuh pendidikan pascasarjana di UIN Malang. Saya melihat pemikiran-pemikiran yang disampaikan oleh Pak Muhaimin selaku Direktur, menekankan pada islamisasi ilmu pengetahuan, seperti pemikiran Syek Muhammad Naquib Al Attas yang baru saja saya baca beberapa waktu yang lalu.
Setelah dzuhur, kami masuk ke masing-masing jurusan, membahas lebih rinci bagaimana pendidikan di masing-masing program. Saya mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam, kami masuk di ruangan yang sangat representatif untuk belajar. Semangat dari masing-masing begitu terasa di ruangan kami.
Setiap orang pasti memiliki banyak mimpi, karena tidak tidak ada yang berhak melarang kita untuk bermimpi. Meski demikian, tidak semua orang memperjuangkan impian-impiannya. Maka bersyukurlah, jika kamu termasuk orang yang berusaha memperjuangkan impian-impianmu, karena engkau termasuk orang-orang yang berada di jalan menuju pantai harapan.
Dalam menggapai impian ini, tentu saja banyak cobaan yang Allah siapkan untuk menguatkan kita, namun percayalah, Allah selalu ada untuk kita jadikan tempat untuk memohon. Seberat apapun perjuangan dalam mewujudkan apa yang kita impikan, tetaplah berada di jalan yang Allah ridhai, karena ketika Allah meridhai, maka disanalah letak bahagia yang sesungguhnya, hidup dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.
Saya sempat berbincang dengan seorang teman yang baru berumur 24 tahun tapi sedang mengambil program doktor, sedangkan saya berusia 25 tahun, tapi baru mengambil program Magister.
“Sebenarnya, saya sudah jenuh belajar, mau istirahat dulu, kerja, biar lebih fresh belajarnya. Tapi orangtua yang selalu mendorong untuk terus melanjutkan study hingga lulus.”
“Ya bagus itu, selama orangtua memang siap untuk membiayai, kenapa tidak?” ujar saya sambil melihat anak-anak yang sedang bermain di depan.
“Saya nggak boleh kerja yang berat-berat, takut mengganggu kuliah. Sampai hari ini saya masih hidup dengan biaya dari orangtua. Setiap bulan orangtua mengirimi saya uang. Padahal, kuliah nggak setiap hari, bosen juga kalo begini terus.”
“Ambil positifnya saja,” jawab saya sekedarnya, karena tidak ingin terbawa lebih jauh dengan sikap orangtuanya.
Saya teringat dengan bagaimana Bapk dan Ibu berusaha menyekolahkan saya. Dulu, adik saya yang perempuan rela berhenti satu tahun terlebih dahulu, menunggu saya selesai kuliah, baru kemudian dia melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Setelah saya lulus, adik saya mulai kuliah, dan saya berhenti selama 3 tahun untuk membiayai kuliahnya. Sekarang dia sudah semester tujuh, dan saya kembali ke bangku kuliah. Saya selalu bilang ke adik,
“Bapak dan Ibu berjuang, Kakak Berjuang, dan Adik pun berjuang. Allah mempunyai kejutan-kejutan untuk kita. Tetaplah belajar, mewujudkan impian-impian Bapak dan Ibu, melihat anak-anaknya sekolah tinggi, meski dengan keadaan yang biasa-biasa saja.”
Saat ini, kondisi ekonomi orang tua saya memang sedang berada di bawah, namun Bapak dan Ibu tetap meyakinkan pada kami agar tetap melanjutkan study. Adik saya kuliah sambil bekerja. Saya kuliah Magister dengan tabungan yang saya kumpulkan selam 3 tahun terakhir, baik dari gaji, royalti penjualan buku, dan lain sebagainya.
Saya memang sudah bertekad sejak dulu, setelah wisuda, saya harus bisa mandiri, membantu biaya sekolah adik-adik, dan membantu bapak dan ibu sebisa mungkin. Kami memang bukan lahir dari keluarga yang kaya raya, tapi satu hal yang selalu membuat saya kuat dalam mewujudkan impian-impian saya, yaitu doa dari Bapak dan Ibu.
Kata Ibu,
“Melihat kalian bisa mengenyam pendidikan lebih baik dari Bapak dan Ibu adalah kebahagiaan hidup.”
Maka saya pun mengajarkan pada adik-adik untuk tidak menyerah dalam mewujudkan impian. Untuk bisa melangkah hingga ribuan langkah, tentu saja dimulai dari langkah pertama. Maka ketika melangkah, niatkan dalam rangka mencari ridha Allah SWT. Insha Allah ilmu yang kita dapat akan barokah. Amin.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan