October 30, 2014

What is your name?


Biasanya di tempat yang baru, pertanyaan ini tentu sering ditanyakan kepada rekan kerja, teman satu kampus, tetangga, dan lain sebagainya. Pertanyaan “siapa nama kamu?” seolah menjadi sebuah pertanyaan wajib diajukan demi mengakrabkan satu sama lain, demi sebuah harmoni keakraban yang bisa dirasakan ketika kita saling mengenal satu sama lain.
Ini juga yang saya alami sejak pertama kuliah S2 bahkan sampai hari ini, berusaha untuk mengenal satu sama lain, tidak hanya sebatas teman sekelas, tidak hanya sekadar teman satu fakultas yang jumlahnya sudah cukup banyak, tapi saya berusaha untuk berbaur satu sama lain, saling berbagi pengalaman, dan berusaha semaksimal mungkin bisa mengenal mereka lebih jauh, tidak hanya sekadar tahu nama saja, setelah itu sudah. Inilah sebenarnya yang sedang saya pelajari, bagaimana bisa berkomunikasi dengan berbagai macam orang yang tentu saja memiliki keunikan tersendiri. Saya yang awalnya tidak terlalu banyak berbincang dengan selain teman di kelas, kini mulai akrab dengan teman-teman yang lain, terutama anak-anak ICP (international class program)
“What is your name? I’m sorry, I tried to remember your name,” tanya ‘Adil, seorang mahasiswa asal Libia, saat bertemu dengan saya di depan pintu kelas, dia menatap lekat sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
Hening.
“Rayyan, right, your name is Rayyan?” ucapnya kemudian
Saya pun mengangguk. Biar saya jelaskan, mengapa sekarang saya dikenal dengan nama “Rayyan”, bukan “Rian” seperti sebelumnya. Saya sama sekali tidak mengubah nama di kartu identitas saya, sama sekali tidak ada rencana untuk merubah nama saya yang konon kalo diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sangat tidak baik artinya.
Nama “Rayyan” dipakai saat awal-awal saya berkenalan dengan sekian banyak mahasiswa asing di kampus, bukan maksud hati untuk mengubah nama, namun kelihatannya mereka lebih nyaman menggunakan nama itu saat memanggil saya, jadilah nama itu disematkan pada saya, tanpa ada sesajen dalam rangka mengubah nama (mendadak horror). Di kalangan mahasiswa dalam negeri nama saya tetap “Rian”, di kalangan mahasiswa asing, terutama yang berbahasa Arab, nama saya menjadi “Rayyan”, sedangkan di kalangan mahasiswa-mahasiswa Eropa, nama saya dipanggil “Ryan”, yupz, I have three names right now and you can choose one of these names :p
“Why they call you “Rayyan”, your name is “Ryan” not “Rayyan”,” komentar salah seorang teman, dan saya cuma tersenyum manis semanis madu (ok ini mulai lebay).
“My real name is “Rian” and you knew it, you call me “Ryan” because it’s not easy for you to mention that name, and I don’t care about that. You may call me “Ryan”, “Rian” or “Rayyan”, just don’t call me “Rihana”, jawab saya sambil tertawa, dan kami pun tertawa.
Apa sih pentingnya sebuah nama? Penting, tentu saja penting, karena itu adalah sebuah identitas. Namun, di kalangan orang tertentu, kadang nama kita tidak mudah untuk diucapkan, dan akhirnya kita dipanggil dengan panggilan yang sebenarnya bukan nama asli kita, namun selagi itu tidak masalah, saya sama sekali tidak keberatan.
Di dalam Handphone seorang teman, nama saya tertulis jelas dengan nama “Rayyan Syahid” dalam bahasa Arab dan saya tidak berkomentar apa-apa.
“Mengapa kamu tidak ganti nama saja?” ucap salah seorang teman yang kebetulan paham dengan arti nama saya jika dijadikan ke dalam bahasa Arab.
“Biarkan saja,” jawab saya sekenanya.
Saya termasuk yang sangat kesulitan dalam menghafal nama-nama, biasanya saya ingat dengan raut wajah seseorang dan kesulitan dalam mengingat nama. Ini sering saya alami. Pernah suatu ketika, dalam satu kelas, kami berbincang banyak dengan mahasiswa-mahasiswa Timur Tengah, dan kebanyakan nama mereka adalah “Ahmad” dan “Muhammad”, kebayang, dong, bagaimana sulitnya saya membedakan mana yang “Ahmad” dan mana yang “Muhammad” dan semuanya mau dipanggil sesuai dengan nama depan itu.
Ketika saya tanya kepada mereka, mengapa mereka memiliki nama yang hampir sama antara satu sama lain, jawaban mereka sama.
“Karena ini adalah nama Nabi Muhammad SAW., Nabi yang paling mulia yang pernah diutus oleh Allah.”
Nama adalah sebuah “doa”, sebuah harapan dari orang tua yang memberikan nama tersebut. Meski pada kenyataannya tidak semua orang tua paham dengan nama yang disematkan pada anak yang baru lahir. Saya tidak pernah menanyakan kepada Bapak dan Ibu tentang arti nama yang mereka berikan kepada saya sejak lahir, meski sebenarnya nama asli saya bukanlah “Arian Sahidi”, melainkan “Adrian Syahid” dan terjadi kesalahan dalam Ijazah ketika sekolah dasar dan akhirnya nama itu tetap dipakai sampai saat ini, di semua dokumen yang saya miliki, nama “Arian Sahidi” lah yang dipakai, bukan nama ketika lahir.
Mungkin, suatu saat jika saya berubah pikiran, saya akan mengganti nama saya dengan nama yang lain, tapi tidak untuk saat ini. Saya tidak mau menutup kemungkinan yang ada, bisa saja suatu ketika saya ingin merubah nama saya menjadi “Rayyan Syahid”, atau mungkin saya akan merubah nama saya menjadi “Muhammad Rayyan”, dan yang jelas saya tidak akan merubah nama saya menjadi “Rihanna” *kemudian dijitak*.
Baiklah, ini curcol banget isinya, setelah dua minggu terakhir tugas numpuk. Tulisan ini ditulis setelah sejak pagi sampai ashar bersemedi di perpustakaan mengerjakan tugas filsafat ilmu.  *nggak sempat diedit karena sudah capek dan mau pulang*

October 26, 2014

Sindrom Inferioritas Orang Indonesia Terhadap Bule



Inferioritas merupakan kebalikan dari superioritas (rasa percaya diri yang terlalu tinggi). Inferioritas itu adalah minder atau rasa rendah diri. Inferioritas adalah perasaan yang relatif tetap (persistent) tentang ketidakmampuan diri atau munculnya kecenderungan untuk merasa kurang atau menjadi kurang sehingga tidak bisa menunjukkan kebolehan secara optimal.
Baiklah, tulisan ini tidak akan menggunakan bahasa ilmiah layaknya tugas paper akhir semester yang sebentar lagi akan saya hadapi. Fiuhh..
Bukan rahasia lagi, betapa banyak wanita yang mengidamkan memiliki seorang suami yang punya tampang bule bak artis Hollywood di layar kaca. Rasanya, memiliki seorang suami yang punya tampang bule sudah menjadi semacam keinginan yang demikian hebat dan menjamur di kalangan wanita Indonesia, meski tidak semuanya demikian.
Saya sebenarnya tidak pernah ada niat menulis semua ini. Kalo tidak karena perbincangan antara saya, Renat dan ‘Athoullah di asrama kemarin malam, mungkin saja saya tidak akan pernah menulis ini, karena saya tahu tidak semua wanita Indonesia mendambakan suami yang punya tampang bule. Atau karena tidak semua orang yang memiliki suami bule hanya karena ingin memperbaiki keturunan alias ingin punya anak yang punya tampang ke-bule-bule-an. Karena nyatanya ada yang memang menikah dengan bule karena sama-sama menempuh study di Universitas yang sama kemudian jatuh cinta dan menikah.
“Ada banyak wanita Indonesia yang ingin menikah dengan saya,” ucap ‘Athoullah yang sedang menyelesaikan S2 nya di UIN Malang. Padahal tampangnya tidak seperti seperti orang eropa, lebih ke timur tengah.  
Saya melirik Renat yang sedang makan sate lengkap dengan aneka camilan lain di sampingnya. Memahami apa yang saya maksud, Renat pun memiliki pengalaman yang sama. Entah sudah berapa banyak wanita yang menurut mereka kadang membuat risih dan tidak nyaman. Jika bule yang sukanya mempermainkan wanita, rasanya sudah sekian banyak yang akan menjadi korban oleh Renat maupun ‘Athoullah, untungnya mereka adalah bule yang shaleh, yang sedang mempelajari Bahasa Arab di UIN Malang.
Ini hanyalah satu contoh kecil dari sekian banyak orang yang sudah datang ke tanah air ini, dan merasakan hal yang sama, bahwa kadang penduduk lokal terlalu mengagungkan orang-orang yang punya tampang “bule”, seolah mereka adalah artis papan atas yang perlu untuk dielu-elukan kehadirannya, perlu diteriaki untuk diminta foto bersama, seolah memiliki foto bersama “bule” adalah sebuah keberhasilan hebat. Kenapa orang-orang lokal sedemikian merendahnya di hadapan mereka? Apakah mereka memang memiliki derajat yang lebih tinggi dari kita? Tidak demikian, bukan? Lantas mengapa kita kadang merendahkan diri kita sendiri hanya karena berhadapan dengan seseorang yang punya embel-embel “bule”.
Dua hari yang lalu, seorang teman mengunjungi saya di asrama, kebetulan saya memang teman baik dengan Renat. Saya ajak teman saya ke kamar Renat, karena saya harus pamitan dulu sebelum pergi bersama teman yang menemui saya. Saya meletakkan tas di kamar Renat. Saat tahu bahwa teman-teman di kamar adalah “Bule”, muncullah keinginan teman saya ini untuk foto bareng dengan Renat setelah pertemuan saya dengannya. Saya pun langsung komentar,
“Please, nggak usah, ngapain juga sih pengen foto ama dia? Jangan bikin malu bangsa sendiri deh. Saya yang setiap hari ketemu dia nggak pernah foto bareng ama dia, nggak ada niatan juga, kecuali dalam momen tertentu yang memang dirasa perlu. Kalo cuma untuk share di media sosial punya foto bareng bule, duh, please, deh. Don’t do that.”
Ok, saya tahu komentar saya itu cukup tidak bijak, karena mungkin saja ia punya alasan lain selain alasan bangga bisa punya foto bareng ama “bule”. Saya punya banyak foto teman-teman bukan karena saya bangga karena punya teman mereka, tapi lebih kepada hobi saya mengabadikan kebersamaan saya dengan teman-teman manca Negara. Itu pun jarang ada saya ikut foto bareng mereka.
Saat sedang berada di Bali, kurang lebih 9 hari saya liburan akhir tahun 2013 di Bali,  saya kadang memandang rendah sekelompok anak muda yang berlarian menghampiri bule, kemudian minta foto bareng ama bule, setelah foto bareng kemudian berkerumun melihat hasil fotonya, dan saya yakin setelah itu akan di share di media sosial karena sudah berhasil memiliki foto bersama bule, kemudian teman-temannya bakalan komentar kalo mereka keren bisa foto bareng bule, kemudian fotonya kemungkinan juga bakalan dipasang di seabrek jejaring sosial mereka. Duh.
Saya dan Renat sering berbincang tentang ini, seperti cerita dia yang setiap ke kampus harus naik angkot dan banyak mengalami berbagai macam hal unik karena dia adalah seseorang yang berwajah “bule” dan memiliki kulit kemerah-merahan. Dan biasanya saya cuma komentar,
“Kalo ada yang minta foto bareng, cukup senyum aja, silahkan diladeni kalo memang mau, kalo nggak ya cukup senyum dan berlalu pergi.”
Biasanya Renat cuma nyengir mendengar komentar saya.
Di dunia kerja, orang asing memiliki gaji yang lebih tinggi ketimbang orang lokal, meski mereka memiliki tingkat pendidikan yang sama dan kinerja yang juga sama. Ini juga merupakan sebuah kejanggalan. Padahal, tidak sedikit juga orang lokal yang memiliki kemampuan yang lebih baik dari kaum ekspatriat ini. Hanya karena mereka adalah tenaga kerja asing, lantas mereka digaji sedemikian tinggi, bahkan jauh bila dibandingkan dengan orang-orang lokal. Ini merupakan sebuah fenomena yang sudah menjamur di tengah-tengah kita.
Apakah orang yang memiliki tampang ‘Bule” lantas artinya mereka lebih “hebat” dari kita? Lebih pintar? Lebih kaya? Tidak menjadi jaminan, bukan.
Kadang orang kita beranggapan bahwa orang-orang “bule” yang datang ke tanah air adalah orang yang kaya raya, yang sedang liburan dan menikmati keindahan Indonesia. Padahal, itu semua tidak menjadi jaminan. Banyak yang kerjanya cuma biasa-biasa saja. Pola pikir ini yang sebenarnya perlu dirubah.
Ketika sedang berada di Jogja, saat saya, Ansi dan Jonash yang dari Finland sedang liburan bersama, saya sampai malu sendiri dengan kedua teman saya ini, saat mereka bercerita betapa warga lokal terkadang “rasis” tiap kali bertemu dengan orang asing. Dan saya hanya berkomentar tentang kemungkinan adanya rasa ingin tahu warga lokal tentang para turis mancanegara.
Merasa demikian, saat berlibur ke jogja untuk kesekian kalinya, saya akhirnya memutuskan untuk berbahasa Inggris saat mengunjungi candi Borobudur, dan kalian tahu apa yang terjadi? Hanya karena saya berbahasa Inggris, kemudian ketika ditanya saya jawab bahwa saya berasal dari Negara tetangga, yaitu Malaysia, sekelompok anak mudah berkerumun dan minta foto bareng saya, merasa aneh? Banget. Setelah mereka minta foto bareng dengan saya yang jelas-jelas nggak ada tampang bule, saya menghampiri mereka dan menjelaskan bahwa saya bukan dari Malaysia dan saya bisa berbahasa Indonesia, mereka pun langsung loyo, alias nggak se-excited saat tahu bahwa saya adalah orang asing.
Saat makan malam bersama Renat di kantin asrama, semua mata seolah tertuju pada dia, dan saya seolah hanya makhluk alien yang keberadaannya tidak dianggap. Semua telinga seolah sedang berusaha mendengarkan apa yang sedang saya perbincangkan dengan Renat, dan saya pun risih.
Saat masih menjadi Guru, saya beberapa kali menjadi pendamping “bule” yang diundang oleh pihak sekolah untuk mengajar anak-anak agar lebih berani dalam berbahasa Inggris dan saya menyaksikan riuh yang luar biasa saat anak-anak minta foto satu persatu atau bahkan rame-rame bersamaan dengan teman masing-masing, dan saya hanya terdiam di pojokan, sambil berusaha menertibkan suasana.
Intinya begini, tidak perlulah kita sedemikian mengagungkan mereka yang punya tampang “bule”, cukup bersikap baik, sopan, dan tunjukkan pada dunia bahwa kita adalah Negara yang bermartabat, bukan rendahan, dimana wanitanya dijadikan pelampiasan nafsu para “bule” karena mereka beranggapan bahwa mendapatkan wanita lokal adalah semudah menjentikkan jari di hadapan para wanita. Sementara di Negara mereka sendiri, belum tentu ada yang melirik mereka, sedangkan disini mereka diagung-agungkan sedemikian rupa.
Coba bayangkan kalo kita yang berada di Negara mereka, apa mereka mengelu-elukan kita seperti ketika mereka datang ke Negara kita? Belum tentu, bukan. Atau bahkan bisa saja keberadaan kita sama saja dengan tidak adanya kita di tengah-tengah mereka.
Kita adalah bangsa yang cukup besar, kita bisa bermartabat di mata dunia ketika kita berusaha untuk menghargai apa yang ada di negeri ini. Jangan malah terbalik, kita kadang lebih menghargai orang asing ketimbang warga Negara yang menjadi teman kita hidup di Negara kita tercinta. 

October 16, 2014

Menikah Muda


Berbicara tentang fenomena menikah muda rasanya sudah bukan hal baru lagi, ada sekian banyak artikel bahkan buku yang menjelaskan tentang keutamaan menikah di usia muda, bahkan ada buku-buku yang terkesan mengompori kaula muda yang masih bertahan dengan kesendirian mereka agar segera menikah. Tidak sedikit yang akhirnya memilih untuk segera menikah setelah mendengar tausiah dari seorang Ustadz tentang keutamaan menikah, tidak sedikit juga yang segera mencari pasangan hidup setelah membaca buku yang isinya tentang hal-hal yang berkaitan dengan menikah muda.
Bagaimana dengan saya? Mengapa di usia yang sudah seperempat abad ini saya masih bertahan dengan kesendirian? Bukankah sudah seharusnya saya menikah di usia yang sekarang?
Bagi saya pribadi, saya tidak pernah mempermasalahkan seseorang menikah di usia berapa pun. Saya percaya masing-masing orang memiliki target hidup dan rencana tersendiri di dalam hidup mereka, maka saya tidak suka mempertanyakan pertanyaan yang berkaitan dengan hal yang demikian. Karena bagi orang-orang tertentu, pertanyaan demikian tidaklah perlu untuk diajukan kepada mereka, bahkan bagi orang tertentu, pertanyaan “kapan menikah?” dan semisalnya adalah pertanyaan sensitif yang seharusnya cukup dipertanyakan di dalam hati saja.
Saya punya teman yang kerjaannya komentar sana-sini, dan kebanyakan komentarnya tidak positif tentang saya, misal saat saya memutuskan untuk melanjutkan S2, atau tentang status saya yang sampai hari ini masih single, semua menarik baginya untuk dikomentari. Bagi saya, pertanyaan seputar demikian adalah hal biasa, namun bisa menjadi luar biasa ketika pertanyaan yang sama diulang oleh orang yang sama. Mungkin dia lupa atau tidak menyadari bahwa dia adalah orang kesekian yang menanyakan pertanyaan yang semisal, mungkin yang keseribu kalinya.
Melihat fenomena menikah di usia muda yang sedang marak di Indonesia, saya lebih baik memandang ini sebagai sebuah fenomena yang positif yang berarti semakin meningkatnya kesadaran masyarakat kita untuk menyatukan hati dalam bahtera rumah tangga. Pengaruh buku-buku yang membicarakan tentang tidak bolehnya pacaran di masyarakat juga ikut andil dalam mewujudkan fenomena menikah muda ini.
Di sisi lain, ada semacam kekhawatiran bagi saya pribadi, melihat semakin tingginya angka perceraian yang terjadi di tanah air, seolah pernikahan adalah sebuah permainan antara kata “Suka” dan “Tidak Suka”, ketika diawali dengan “Suka” kemudian munculnya perasaan “Tidak Suka” dan sedemikian mudahnya mengucapkan kata “Cerai”. Saya paham, ada sekian banyak alasan yang memicu terjadinya perceraian di masyarakat kita. Saya tidak ingin berkomentar lebih jauh, namun yang perlu dikaji adalah penyebab meningkatnya angka perceraian pernikahan yang dilakukan di usia muda.
Menikah muda bukan berarti tidak memiliki persiapan, bukan? Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Setidaknya bagi seorang laki, dia memiliki kesiapan menjadi seorang pemimpin di dalam keluarga. Pun demikian bagi seorang perempuan, setidaknya dia memiliki keinginan kuat untuk menjalani bahtera rumah tangga dalam rangka menuju keridhaan Allah SWT.
Menikah muda adalah sebuah proses menuju kebahagian lebih awal. Silahkan menikah lebih awal, di usia yang masih muda, asal benar-benar paham kemana arah biduk rumah tangga akan dikayuh. Jangan sampai hanya karena ikut-ikutan fenomena yang lagi marak di masyarakat, atau hanya sekadar pelarian agar tidak lagi dijejali oleh sebuah pertanyaan sakral “Kapan Menikah?” saja.
Percayalah, Allah akan menemukan kita dengan pasangan hidup kita dengan orang di waktu yang memang sudah Ia gariskan kepada kita. Tugas kita adalah berusaha menggapai semua itu, menjalani semua prosesnya sesuai dengan kehendak Ilahi. Jangan berkecil hati ketika jodoh tak kunjung datang, mungkin saja Allah masih memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri lebih lama lagi, sementara seseorang di belahan lain pun sedang melakukan hal yang sama dan akan dipertemukan di saat keduanya sudah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Menikah muda bukan hanya sekadar melepas status “single” menjadi “married”, akan tetapi timbulnya semangat menjalan kehidupan rumah tangga sebagai bagian dari ketaatan kepada hukum-hukum Allah di muka bumi. Persiapkan diri lebih awal untuk menyambut pasangan hidup yang dijanjikan oleh Allah untuk kita.
Bagi yang sudah berusia 30 ke atas dan sampai hari ini belum menikah juga, saya yakin bukan karena tidak mau, tapi karena memang belum dipertemukan dengan jodoh yang Tuhan janjikan, jangan berkecil hati, tetaplah berusaha menjadi lebih baik, abaikan cibiran masyarakat, tetaplah berjalan di jalan yang Allah ridhai. Allah tidak pernah ingkar dengan janji-Nya, bahwa wanita yang taat berhak mendapatkan pasangan hidup yang taat, begitu juga dengan laki-laki yang taat, ia berhak mendapatkan pasangan hidup yang taat pada Allah SWT. Percayai dan berusahalah mewujudkan semua itu.
Pada hakikatnya tidak ada orang yang ingin mendapatkan pasangan yang tidak baik, semua tentu ingin mendapatkan pasangan yang baik. Permasalahannya adalah, banyak orang yang menginginkan pasangan yang baik, tapi tidak berusaha memantaskan diri untuk mendapatkan pasangan yang baik. Ingin berpasangan dengan seseorang yang shalih/shalihah tapi ia sendiri tidak berusaha untuk mencapai tingkatan itu. Itu omong kosong.
Silahkan menikah muda, tapi jangan lukai hati mereka yang belum menikah meski usia mereka sudah jauh di atas kalian. Cukup doakan saja mereka bisa segera menjatuhkan hati pada hati pilihan mereka. Silahkan menikah di usia yang terbilang muda, tapi jangan kau cemooh mereka yang masih bertahan dengan kesendirian mereka, mereka mempunyai hak untuk menjalani prosesnya sesuai dengan keinginan mereka. Percayalah, Tuhan tidak pernah tidur, Ia selalu melihat bagaimana hamba-Nya berusaha menggapai semua impian di dalam hidup hamba-Nya. Maka jangan kalian lukai dengan pertanyaan semisal yang sebenarnya sudah tidak perlu kalian pertanyakan lagi. Cukup simpan pertanyaan-pertanyaan kalian itu di dalam hati, pilah dan pilih mana yang memang perlu dipertanyakan dan mana yang cukup disimpan di hati saja.

October 15, 2014

Seluas Bahasamu, Seluas Itu Pula Duniamu


Bagi yang pernah berpergian ke suatu tempat, dimana bahasa yang digunakan adalah bahasa yang tidak bisa dipahami, tentu akan menyadari betapa pentingnya bahasa sebagai alat untuk komunikasi antara satu sama lain. Inilah sebuah keajaiban, dimana masing-masing Negara bahkan daerah memiliki aneka ragam bahasa yang memiliki ciri khas tersendiri. Di Bengkulu terdapat berbagai macam bahasa yang digunakan, masing-masing Kabupaten bahkan memiliki ragam bahasa tersendiri yang tidak semuanya saya pahami.
Berbicara di ruang lingkup yang lebih besar, saat pertama kali belajar di tanah Jawa, saya seperti orang asing yang datang dari dunia antah berantah, yang sama sekali tidak paham tentang bahasa yang mereka gunakan, yakni bahasa Jawa. Lantas bagaimana akhirnya saya bisa sedikit mengerti tentang bahasa Jawa? Meski sampai hari ini saya hanya sebatas paham dan tidak bisa mengucapkannya. Adanya kebiasaan mendengar tentu memiliki peran penting di dalam perkembangan kemampuan seseorang di dalam memahami suatu bahasa.
Berbicara di skala yang lebih besar lagi, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris adalah dua bahasa Internasional yang cukup mendominasi dunia, meski saat ini Bahasa Inggris yang lebih populer di dunia. Bagi umat Islam, tentu sangatlah penting mempelajari bahasa Arab, karena Al Quran menggunakan bahasa Arab, dan tentu akan sangat membantu jika seseorang bisa memahami kandungan ayat-ayat Allah dengan kemampuan bahasa yang ia miliki dan itu akan menambah keimanan seseorang tentang indahnya kandungan ayat-ayat Allah SWT.
Belajar bahasa Internasional tentu menjadi bekal yang bisa dibilang wajib untuk kita dalam mengepakkan sayap kita. Semakin luas bahasa yang kita kuasai, maka semakin luas dunia kita, dunia yang bisa kita genggam. Dengan kemampuan bahasa yang demikian baik, kita bisa menjelajah ke berbagai macam tempat tanpa perlu takut akan orang-orang yang berusaha menjebak kita dengan bahasa yang mereka gunakan, karena kita bisa memahami apa-apa yang mereka ucapkan. Kita bisa belajar banyak dengan membaca literatur-literatus berbahasa asing.
Setidaknya, ada salah satu bahasa asing yang kita kuasai, sebagai bekal bagi kita untuk membaca berbagai macam literatur ilmu pengetahuan. Saat ini yang berkembang pesat tentang ilmu pengetahuan adalah dunia barat, maka dirasa perlu bagi kita untuk bisa memahami bahasa Inggris guna membantu kita mempelajari sumber-sumber ilmu pengetahuan yang mereka gunakan hingga mereka bisa berkembang seperti sekarang ini. Mempelajari bahasa Inggris tentu memiliki peranan penting bagi kita jika ingin memahami metodologi yang digunakan dunia barat di institusi-institusi pendidikan yang mereka miliki. Ketika kita tidak bisa berbahasa Inggris, kecil kemungkinan kita bisa memahami literatur-literatur yang menggunakan bahasa Inggris, karena di Negara Indonesia sendiri, usaha penerjemahan literatur berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia masih sangat minim.
Begitu juga dengan Bahasa Arab, ada jutaan literatur klasik maupun modern yang bisa kita lahap dengan baik, jika kita menguasa Bahasa Arab. Ada sebuah lelucon yang sebenarnya betul, yang ditujukan oleh orang barat bagi-bagi orang-orang Muslim,
“Orang Islam itu memiliki kitab suci, tapi mereka tidak membacanya. Meskipun mereka membaca Al Quran, tapi mereka tidak memahami kandungannya. Andaipun mereka paham, tapi mereka tidak mengamalkannya.”
Benar adanya, dari sekian banyak generasi Muslim, tidak lebih dari 10 % yang bisa memahami ayat-ayat Allah SWT. Untuk bisa memahami tentu saja harus memiliki kemampuan berbahasa Arab yang baik dan benar disertai dengan kemampuan ilmu-ilmu penunjang yang lainnya.
Kembali kepada pentingnya berbahasa, saya baru menyadari pentingnya Bahasa Arab saat menjadi mahasiswa Pasca sarjana, sekian banyak literatur yang ada di perpustakaan yang menggunakan bahasa Arab tidak mampu untuk saya pahami. Menyentuhnya saja sudah terasa asing bagi saya, membaca satu halaman saja memakan waktu sekian lama karena ada banyak kosa kata yang tidak saya pahami. Kadang, lebih lama membuka kamus ketimbang membuka kitab yang akan saya baca, karena saya sibuk mencari makna kata-kata yang ada di teks, untuk kemudian dicoba untuk memahami secara utuh maksud dari teks yang saya baca.
Ketika kita pergi ke Negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar, tentu dirasa perlu bagi kita untuk menguasai bahasanya, dengan demikian kita bisa berinteraksi dengan baik dengan masyarakat lokal. Al Jahil akan berkata tentang orang yang berusaha untuk mempelajari bahasa internasional dengan ucapan yang tidak baik, dia akan mengatakan bahwa seseorang tersebut sombong. Tapi Al ‘Aqil akan mengatakan hal yang berbeda, dia akan bangga melihat seseorang yang mencoba untuk menguasai dunia dengan berbagai macam bahasa dunia.
Di masyarakat kita, sering kali seseorang dikatakan sombong, mencari perhatian, lebay, dan masih banyak lagi julukan yang lain, hanya karena ia sedang berusaha untuk bisa berbahasa Internasional. Yang berbicara bahasa Inggris akan dikatakan sok kebarat-baratan, yang berbahasa Arab akan dikatakan sok kearab-araban. Padahal, bahasa akan mudah didapatkan ketika menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Kebiasaan berbahasa akan membuat kemampuan kita dalam berkomunikasi akan lebih mudah. Maka perlu adanya sebuah lingkungan yang mendukung seseorang untuk bisa meningkatkan kemampuan berbahasa.
Namun, yang perlu digaris bawahi adalah, perlu melihat situasi dan kondisi, jangan sampai karena semangat dalam berbahasa tertentu, kemudian kita menggunakannya di hadapan orang-orang yang jelas-jelas tidak bisa mengerti apa yang kita ucapkan, misal,  kamu sedang belajar bahasa Arab, kemudian kamu berbicara di hadapan pemulung dengan bahasa Arab, meski tidak menutup kemungkinan ada pemulung yang bisa bahasa Arab. Intinya harus bisa melihat kapan dan dimana seharusnya kita bisa menggunakannya. Di lingkungan kampus, tentu mempraktikkan bahasa internasional, semisal Arab dan Inggris tentu sangat memungkinkan.
Sering kali kita menemukan orang-orang yang cemerlang di suatu bidang, karena terkendala bahasa, ia tidak mampu berbicara di forum-forum internasional, atau malah menggunakan jasa penerjemah. Maka, rasanya memang dirasa penting bagi seseorang, apalagi seorang akademisi untuk bisa menguasai setidaknya bahasa internasional, entah itu Arab maupun Inggris, atau bahasa apapun yang memang menunjang kegiatan akademisnya.
Mengubah pola pikir masyarakat kita akan pentingnya suatu bahasa tidaklah mudah. Maka perlu adanya revolusi cara pandang suatu masyarakat tentang pentingnya mempelajari bahasa-bahasa yang berkembang di dunia. Kita kembali ke masa dahulu, saat Rasulullah SAW. berdakwah, ia memerintahkan sahabatnya untuk mempelajari bahasa-bahasa asing, semisal Persia, Yunani, dan lain sebagainya guna penyebaran Agama Islam ke daerah-daerah di luar Arab. Bahkan, Bahasa Arab pernah menjadi bahasa yang digunakan oleh beberapa Negara di Barat sebagai bahasa pengantar sehari-hari.
Maka sudah saatnya, kita meningkatkan kemampuan kita dalam memahami bahasa-bahasa dunia, agar kita bisa menjejakkan kaki di belahan dunia mana pun, kemudian menegakkan hukum-hukum Allah SWT di muka bumi.

Islam dan Generasi Muda Muslim


Islam adalah agama Rahmatan Lil’alamin, di dalamnya telah diatur sedemikian rupa agar seseorang yang memeluk Agama Islam bisa menjalani kehidupan ini dengan baik. Ketika seseorang mengaku sebagai seorang “Muslim” maka hendaknya ia memiliki kesadaran untuk melakukan ajaran-ajaran Allah SWT. ke dalam kehidupan sehari-hari. Dalam artian tidak hanya sekadar menjadi seorang “Muslim” yang hanya menjadikannya sebagai sebuah identitas. Ada banyak teman-teman saya yang dari belahan dunia Barat yang masuk ke dalam Islam hanya karena ingin menikah dengan seorang perempuan yang Muslimah, setelah menikah, perilaku beragama tidak berubah, hanya identitas keagaamaan saja yang berubah.
Ada banyak teman saya yang dari Barat yang mencoba untuk membandingkan Indonesia yang negaranya mayoritas Muslim dengan Negara mereka yang muslimnya minoritas. Menurut mereka menjadi Muslim mayoritas nyatanya tidak menjadikan sebuah Negara itu baik dan berkembang. Contohnya sudah jelas, Indonesia dan Negara-negara Islam lainnya.
“Kami penganut Kristen, di Negara kami, muslim adalah minoritas. Kami bukan Muslim, tapi nilai-nilai keislaman jelas terlihat di Negara kami. Kita ambil contoh kesadaran tentang berlalu lintas, kesadaran untuk menjaga kebersihan, kesadaran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Kami tidak menemukan itu di Negara-negara Muslim, paling di Iran yang sudah mampu membuat satelit sendiri, sudah berhasil membuat kapal yang tidak mampu di deteksi oleh radar Amerika Serikat, sudah bisa membuat nuklir. Selain Iran, kita bisa melihat Dubai yang semakin berkembang pesat, sedangkan Negara-negara Islam lainnya terkesan tenggelam.  Peradaban dunia sekarang dipegang oleh Barat. Timur masih merangkak untuk maju dan tidak lepas dari bayang-bayang Amerika.”
Begitulah komentar mereka tentang Negara Islam. Kita memang tidak memungkiri apa yang mereka katakan tentang Negara-negara Islam. Saat ini ilmu pengetahuan memang berkembang pesat di Negara-negara barat. Nilai-nilai positif yang sebenarnya ada di dalam islam juga terlihat jelas di Negara-negara barat, tentang semangat keilmuan, semangat menjaga kebersihan, kesadaran berlalu lintas, dan masih banyak lagi yang lain. Lantas, apa yang sebenarnya salah dengan Islam? Apakah Islamnya ataukah oknumnya? Tentu saja bukan Islamnya yang salah, melainkan para pemeluknya yang masih memiliki kesadaran yang rendah dalam mewujudkan keislaman ke dalam kehidupan sehari-hari.
Di Iran, para petinggi pemerintahan memiliki para penasihat yang terdiri dari para Ulama yang menjadi tempat berdiskusi para pemegang kekuasaan dalam membuat sebuah kebijakan. Dalam artian, Iran sudah berusaha untuk kembali menjalankan roda pemerintahan di Negaranya sebagaimana yang dikehendaki oleh Al Quran. Nilai-nilai keislaman kembali diterapkan sebagaimana dahulu, Islam pernah jaya di masa lalu.
Generasi Muslim kadang hanyut dalam bayang-bayang kejayaan di masa lalu, saat Islam mengalami masa kejayaan yang sering kita baca di buku-buku sejarah. Ya, generasi muda muslim kadang hanya bisa mengatakan bahwa “Islam sudah pernah jaya, Islam memiliki kontribusi demikian besar atas kemajuan dunia barat.” Betul, Islam memiliki peran bagi kemajuan Negara-negara Barat. Banyak hasil dari pemikiran-pemikiran Muslim yang kemudian dipelajari, dijadikan sebuah bidang studi, diteliti, hingga menghasilkan sumbangsi penting bagi perkembangan ilmu pengetahun. Kita sebut saja Ibnu Sina di bidang kedokteran, Al Kindi yang dikenal sebagai seorang Filosof, Ibnu Rusyd, dan masih banyak lagi, dimana karya-karya mereka diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa di Barat, kemudian dipelajari.
Namun, sekadar hanyut dengan kejayaan masa lalu saja tidaklah cukup. Generasi muslim harusnya menyadari bahwa sudah saatnya kita kembali bangkit. Ada banyak sekali pembaharu-pembaharu yang mencoba untuk mengajak umat Islam untuk kembali bangkit, sebut saja Muhammad Abduh yang merupakan pembaru Mesir Modern.
Jika kita kembali membaca sejarah, Nabi Muhammad SAW. sudah mulai melakukan perluasan wilayah Muslim Arab, kemudian dilanjutkan oleh penerusnya Abu Bakr, di masa pemerintahan Abu Bakr, di bawah pedang Khalid Bin Walid, Islam sudah membentang di semenanjung Arab, tidak hanya di kota-kota besar, bahkan mencapai pelosok-pelosok Negeri. Setelah Abu Bakr Wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh penerusnya. Ekspansi Islam semakin meluas, Suriah, Iraq, Persia, Mesir dan lain sebagainya masuk ke dalam kekuasaan Islam. Ketika masa Ali, ekspansi Islam relatif terhenti karena banyaknya konflik internal di dalam tubuh Islam. Perluasan dilanjutkan oleh dinasti-dinasti selanjutnya. Islam sampai pada Spanyol dan Sisilia dan terus berkembang, hingga akhirnya terjadinya perang salib dan Islam kemudian kembali ke masa dark age, meninggalkan masa golden age.
Kekuasaan Muslim Arab runtuh, sedangkan Dunia Barat mengalami Renaisans atau kebangkitan kembali, menjadi zaman modern kemudian lahirnya ilmu pengetahuan yang berbasis rasionalisme dan empirisme.
Itulah sejarah. Lantas bagaimana seharusnya kita bersikap? Apakah sebagai generasi Muslim kita hanya cukup berdiam diri, membanggakan kejayaan masa lalu? Tentu tidak cukup demikian. Mental para generasi penerus perlu diubah. Gaya hidup generasi muslim yang berkiblat ke dunia Barat perlu dikaji kembali, gaya hedonisme dan sebagainya perlu diseleksi sedemikian rupa, agar para generasi tidak hanya sibuk membanggakan kemajuan dunia barat dan bersikap lemah saat dunia barat menjejakkan kakinya di Negara-negara Islam.
            Kita perlu kembali kepada Al Quran, mengakajinya dan menjadikannya sebagai pegangan hidup, mengamalkan nilai-nilai kehidupan yang ada di dalamnya. Kita perlu meniru semangat keilmuan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh Islam terdahulu, betapa mereka haus akan ilmu pengetahuan. Kita perlu merubah pola pikir kita yang cenderung konsumtif. Kita perlu menanamkan kesadaran bagi generasi penerus agar memiliki kesadaran dalam mewujudkan Islam yang sesungguhnya.

October 14, 2014

Life Is Beautiful


14 Oktober 2014
Kadang, kita mungkin pernah merasa betapa sulitnya menjalani kehidupan ini, selalu saja ada hal yang kurang dan tidak sesuai dengan keinginan kita. Kadang kita juga sering lalai mensyukuri kehidupan yang telah kita miliki, selalu saja melihat kehidupan orang lain lebih baik dari apa yang kita miliki. Padahal, mungkin saja orang yang kita anggap lebih bahagia justru mendambakan kehidupan seperti yang kita miliki. Itulah kita, manusia yang kadang terlalu disibukkan dengan menghitung apa yang kita miliki, bukan menyibukkan diri untuk mensyukuri kehidupan, dengan beramal sebaik mungkin kemudian menyerahkan semuanya kepada kehendak Allah SWT. Berusaha maksimal disertai doa, kemudian tawakkal, selesai. Itulah sebenarnya yang bisa kita lakukan.
Kadang, dalam berdoa, memohon kepada Allah SWT., kita sering terlalu mengatur Allah SWT., terkesan mengucapkan doa-doa yang memaksa Tuhan untuk mengabulkan harapan-harapan yang telah terpatri di dalam diri kita. Padahal, Tuhan Mahatahu mana yang terbaik bagi kita. Sering kita berburuk sangka kepada Tuhan karena tidak mengabulkan sesuai pinta kita pada-Nya, padahal lagi-lagi Tuhan yang Mahatahu mana yang memang kita butuhkan. Sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik menurut-Nya. Pun demikian sebaliknya.
Ketika kita menjalani kehidupan hanya mengandalkan nafsu, bisa dipastikan kita tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki, padahal Allah sudah menjanjikan akan menambah nikmat bagi hamba-Nya yang selalu mensyukuri nikmat yang telah Ia berikan kepada kita. Nafsu duniawi akan selalu membuat kita merasa kekurangan dengan apa yang kita miliki, hingga menghalalkan segala macam cara untuk menggapai apa yang kita miliki.
Sering kali, kesibukan yang kita jalani sehari-hari membuat kita lupa untuk mensyukuri segalanya, setidaknya hari ini kita masih diberi kesempatan untuk bisa menjalani kehidupan, karena kelemahan kita, kita tidak pernah tahu kapan waktu terbaik untuk mensyukuri karunia-Nya. Seolah kesempatan kita menjalani kesibukan bukanlah sebuah nikmat, padahal ada banyak orang yang mendamba bisa beraktifitas dalam keadaan sehat.
            Kehilangan orang-orang yang kita cintai kadang menimbulkan sedikit ketidaksukaan atas kehendak Tuhan, berharap semua itu tidak terjadi, padahal, kehilangan orang-orang yang kita cintai merupakan bagian dari kuasa-Nya, kita tidak pernah tahu kapan dan dimana kita akan dipisahkan dari keluarga yang selama ini selalu ada di sekitar kita. Maka, seberat apapun cobaan kehidupan yang kita hadapi, tetaplah percaya bahwa Tuhan selalu ada di dekat kita, mendekatlah pada-Nya, jangan sungkan memohon karunia-Nya, jangan malu berhadapan dengan-Nya. Karena ketika kita dekat dengan Tuhan, maka kehidupan ini akan baik-baik saja, karena kita percaya bahwa selagi kita percaya akan kuasa-Nya, maka disanalah akan timbul kesadaran diri untuk selalu menjalani hidup penuh syukur.
            Ketika salah satu sahabat saya di Pasca sarjana kehilangan kemampuan melihatnya, saya seolah ditampar dengan sedemikian keras oleh Tuhan, bahwa selama ini saya tidak terlalu mensyukuri kemampuan melihat yang telah Tuhan berikan kepada saya. Sahabat saya itu, ia dinyatakan akan kehilangan kemampuan melihat di mata sebelah kirinya, sedangkan  bagian kanan masih bisa diselamatkan. Karena dalam jangka waktu yang lama tidak adanya kontrol yang benar-benar serius atas apa yang ia rasakan di matanya, sekarang ia baru menyadari apa yang terjadi di kedua matanya. Ada semacam virus yang menggerogoti kemampuannya untuk melihat. Saya tersadar dalam kelalaian, kemudian mengucap syukur hingga saat ini masih diberi kemampuan untuk melihat meski dengan bantuan kaca mata. Bukankah ini juga bagian dari hal yang seharusnya kita syukuri?
Kalau kita ingin jujur, sampai kapan pun kita tidak akan pernah berhasil menghitung sekian banyak nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kita. Bahkan, jika seluruh manusia di permukaan bumi ini berusaha menghitung nikmat yang ada pada satu orang saja, dipastikan tidak akan mampu untuk menghitung keseluruhan karunia yang telah Tuhan berikan kepadanya. Karena kita hanyalah manusia lemah yang tidak sebanding dengan kuasa-Nya, maka tugas kita adalah menjalani semua kehidupan ini dengan penuh syukur.
Mencintai kehidupan berarti mensyukuri apa yang ada. Mencintai kehidupan berarti mempercayai kehendak-Nya. Percaya akan Tuhan berarti meyakini bahwa semua akan baik-baki saja, selama kita mengimani-Nya, menjalankan semua perintahnya dengan sebaik-baiknya. Selamat menjalani hidup penuh syukur, semoga kita semua dijadikan hamba-hamba yang termasuk dalam golongan orang-orang yang mensyukuri hidup dan dimasukkan ke dalam jannah-Nya, dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang shaleh. Amin.  

October 13, 2014

Rahman Ya Rahman


Ya Rahman
Mungkin lengkingan tangis tak kan pernah cukup untuk mengungkapkan betapa aku merindui-Mu, Tuhan. Lirih doa-doa yang kupanjatkan pada-Mu di malam-malamku rasanya tak akan pernah cukup mewakili betapa aku ini adalah hamba-Mu yang berdosa, yang kadang lupa akan kekuasaan-Mu akan diriku yang lemah ini.

Ya Rahman,
Gema takbir kadang tak sanggup menyentuh hatiku untuk menyegerakan diri untuk bersujud di hadapan-Mu. Lantunan ayat-ayat-Mu kadang hanya terdengar sekali lalu saja, kemudian menghilang entah kemana, sedemikian lalainya aku pada-Mu, Tuhan. Tak cukup banyak cintaku pada-Mu, Tuhan.

Ya Rahman
Menggigil badanku saat rindu ini membuncah, aku merindukan saat-saat bersama-Mu seperti dahulu, kala Engkau selalu ada di dalam derap langkahku, saat Engkau selalu kusebut dalam deru nafasku, saat Engkau selalu kupuja meski kadang luka bersemayam dalam dada. Aku mencintai-Mu, Rabbi.

Rahman ya Rahman
Jagalah hatiku agar tetap mengingat-Mu
Jagalah diriku agar tetap berjalan di jalan yang Engkau ridhai

Rahman ya Rahman
Lalai kadang membuatku menjauh dan semakin menjauh akan-Mu, jangan biarkan aku menjauh, izinkan aku menggenggam erat asma-Mu, menjadikannya sebagai kehidupanku. Aku ingin hidup di dalam lindungan-Mu, di dalam rahmat-Mu.

Rahman ya Rahman
Sering aku menangis saat mengingat betapa banyak dosa yang telah kuperbut di permukaan bumi ini. Aku malu pada-Mu, Tuhan. Sekian banyak orang mengira aku adalah orang yang baik, yang patut ditiru, yang menginspirasi sekian banyak orang, namun sebenarnya aku tak sebaik yang mereka kira, Engkau tahu betapa kadang kebohongan menemani kehidupanku ini, Tuhan. Ampuni hamba, ya, Rabbi.

Ya Rahman
Jika nanti Engkau menghendaki aku kembali ke sisi-Mu, kembalikan aku dalam keadaan husnul khatimah, yang selalu menjadikanmu sebagai sebenar-benarnya cinta. Cinta yang kuukir dengan penuh ketulusan, sebagai wujud pengabdianku kepada-Mu. Kembalikan aku dalam keadaan yang baik.

Ya Rahman
Ketika tak sanggup lagi kusebut nama-Mu dalam hidupku
Ketika tak  sanggup lagi kulangkahkan kaki ke rumah-Mu
Ketika tak sanggup lagi kubacai ayat-ayat-Mu
Ketika mungkin nafasku sudah tak lagi ada sebaik sekarang
Ketika mungkin tak sanggup lagi kuperjuangkan hokum-hukum-Mu di bumi ini
Maka jagalah aku agar tetap di jalan-Mu hingga maut menjadi awal pertemuanku dengan-Mu.

Indonesia di Mata Renat


13 Oktober 2014
Tadi pagi, setelah menunggu dosen yang ternyata nggak bisa hadir karena ada acara penting di kampus, saya ke asrama, Renat baru bangun tidur, saya duduk di kursi belajar, sedangkan dia masih leyeh-leyeh di tempat tidur. Padahal saya sudah mandi, sudah ganteng #abaikan
“Renat,” ujar saya sambil menatap layar laptop.
“Hmmm,,,”jawabnya sambil memperbaiki posisi kepalanya.
“What do you think about Indonesia?” Tanya saya lebih lanjut. (ini semacam obrolan sok serius di pagi hari).
Setelah beberapa waktu menjadi teman dekat, saya belum pernah menanyai Renat tentang bagaimana pendapatnya tentang Indonesia, setelah lebih dari satu tahun dia menimba ilmu di UIN Malang. Renat tipe orang yang sangat pemalu dan tentu saja sangat sopan. Security asrama pernah bercerita tentang anak-anak dari Rusia yang sangat sopan, jauh berbeda dengan beberapa mahasiswa dari Timur Tengah, meski sebenarnya tidak semua mahasiswa dari Timur Tengah tidak sopan, tapi kebanyakan tidak terlalu peduli dengan yang lainnya. Begitulah komentar security di asrama putra. Namun, saya tidak merasakan demikian, atau mungkin karena saya tidak berinteraksi setiap hari dengan mereka, hanya saat di kampus saja, saya kurang paham. Sejauh ini, mereka, mahasiswa-mahasiswa dari Timur Tengah cukup bersahabat dengan saya, begitu juga dengan beberapa mahasiswa dari Rusia, yang memang lebih terasa kedekatan satu sama lain.
Menanggapi pertanyaan saya, Renat duduk, kemudian berusaha untuk menjawab pertanyaan saya, sambil diselingi dengan canda tawa khas Renat. Jangan harap akan melihat barisan giginya kalo dia tertawa, susah, haha.
ORANGNYA BAIK
Ini adalah komentar pertama Renat tentang Indonesia, dia merasakan kenyamanan stay di Negara ini, meski banyak penduduk asli di Indonesia yang tidak nyaman dengan keadaan bangsanya sendiri. Menurutnya, Indonesia sangat baik padanya, terlebih karena dia belajar di Jawa, yang memang terkenal dengan kesantunan budayanya. Mungkin akan berbeda pandangan ketika Renat tinggal di Medan, dengan gaya bicara yang jauh berbeda dengan orang Jawa.
ORANG INDONESIA SOPAN
Sebenarnya ini masih sama dengan yang pertama, namun Renat ingin menegaskan kembali bahwa orang Indonesia sangat sopan padanya, terlepas bagaimana yang dia maksud, saya cuma tersenyum ketika mendengar dia mengatakan bahwa kesopanan di Negara ini masih terasa demikian melekat pada masing-masing penduduknya.
Tidak hanya demikian, Renat kembali memberi pernyataan di poin selanjutnya, tentang orang Indonesia di matanya,
ORANG INDONESIA SUKA MENOLONG
“Setiap kali saya butuh akan sesuatu, saya tidak banyak mendapatkan kesulitan disini, orang-orang yang saya temui dengan senang hati membantu saya,” ucapnya penuh semangat.
“Dan satu lagi yang saya suka dengan Indonesia, mereka bangun lebih awal.” Tegasnya kemudian.
Beberapa poin di atas adalah hal-hal positif menurutnya tentang Indonesia.
“Apa yang tidak kamu sukai dari Indonesia?” Tanya saya lebih lanjut, sementara Renat sudah kembali berbaring di tempat tidur.
MACET
Yupz, ini cerita lama dari sekian banyak teman-teman saya yang dari luar yang mengatakan tidak nyaman dengan permasalahan kemacetan yang ada di Negara ini, padahal Malang belum semacet Jakarta. Saya tidak bisa membayangkan apa komentar Renat jika dia kuliah di Jakarta, mungkin akan lebih parah, melihat kemacetan Jakarta yang super duper parah.
TIDAK TAAT ATURAN LALU LINTAS
Salah satu permasalahan di negeri ini adalah rendahnya kesadaran pengguna jalan untuk mentaati aturan lalu lintas yang ada, sehingga banyak sekali kecelakaan yang terjadi dan diawali dengan tidak taatnya pengguna jalan akan tata tertib lalu lintas.
SAYA SEPERTI ARTIS
Orang-orang Indonesia terkadang berlebihan dalam memandang orang luar, terutama bule. Renat cerita saat dia sedang berada di Borobudur temple, ada segerombolan orang-orang yang mengajaknya berfoto bersama, layaknya superstar. Ah, ini cerita lama, ya, saya tahu persis yang dimaksud oleh Renat.
Karena sudah lama saya dan Renat berbincang, nggak terasa sudah jamnya makan siang. Saya dan Renat pergi ke kantin asrama untuk makan siang, lebih tepatnya menemaninya makan siang, karena saya sedang berpuasa. Disinilah, perbincangan kami lebih serius, tentang ETIKA PARA PEROKOK.
Menurutnya, para perokok yang ada di Indonesia tidak mentaati aturan yang seharusnya disadari, semisal dilarang merokok di ruang publik, karena tidak semua orang suka ketika ada orang yang merokok di dekat mereka. Keadaan ini diperparah dengan kondisi kantin yang kebanyakan mahasiswanya merokok setelah makan. Saya juga merasakan sesak, saat berlama-lama di kantin.
“Di Rusia, khususnya di Kampus Islam, kamu tidak akan menemukan orang-orang merokok di Kampus. Siapa saja yang merokok di lingkungan Universitas maka akan mendapatkan sangsi. Ada kesadaran dari orang-orang yang ada di sana untuk memahami mana saja tempat yang boleh dijadikan tempat merokok dan mana yang tidak. Ini yang tidak saya temukan di Indonesia.” Komentarnya sambil menikmati menu makan siang.
Saya menyadari betul apa yang dirasakan oleh Renat, ini juga bagian dari kelemahan pihak kampus yang tidak berusaha membuat lingkungan Universitas bebas dari asap rokok. Awal-awal saya datang, saya sempat kaget dengan banyaknya mahasiswa yang merokok di sekitar kampus, meski sebenarnya di tempat-tempat tertentu saja, karena saya tidak pernah menemukan mahasiswa merokok di dalam gedung, biasanya di luar gedung, entah taman, parkiran, dan sebagainya.
Terkait rokok, ternyata Renat memiliki kekhawatiran yang cukup besar, melihat betapa rokok sudah menjadi candu bagi sekian banyak orang. Obrolan saya dan Renat terhenti, saat Muhammad, yang juga mahasiswa dari Rusia datang menghampiri kami, dan berbincang sejenak tentang rencana pergi di hari Sabtu yang akan datang.
“You should join us,” kata Muhammad.
“Insha Allah,” jawab saya sekenanya.
Adzan dzuhur berkumadang, saya ke Masjid, Renat ke kamar sebentar baru kemudian ke masjid, sedangkan Muhammad menemui dosen sebentar, baru kemudian ke masjid. Itulah hasil bincang-bincang saya dengan Renat tadi pagi hingga siang.

*Renat nggak suka di foto, jadilah postingan ini tanpa foto, Hikz

Ta’aruf Qurany XII

Calon Hafiz/Hafizah, Insha Allah

“Membangun Akademisi Qurany, Menuju World Class University”
10-11 Oktober 2014
Membangun akademisi yang Qurany, dalam artian mewujudkan para ilmuan-ilmuan yang menjadi Al Quran sebagai panduan hidup mereka adalah suatu hal mulia, yang perlu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Mengutip apa yang diucapkan oleh Prof. Dr. Imam Suprayogo, Mantan Rektor UIN Malang, sekaligus Guru Besar yang begitu peduli dengan pendidikan Islam, “Jadikanlah Al Quran sebagai kurikulum pendidikan, generasi muslim akan menjadi baik.” Inilah yang sejak dulu diperjuangkan oleh pihak UIN Malang, membangun peradaban muslim dengan pembelajaran yang terintegrasi, dimana dunia akademik tidak hanya mewujudkan ilmuan saja, melainkan melahirkan generasi yang berpegang teguh pada Al Quran, atau bisa disebut sebagai moslem scholars.
Selama dua hari kemarin, saya mengikuti rangkaian kegiatan dari “Hai’ah Tahfidz Qurany” yang dikemas dalam acara yang bertajuk “Ta’aruf Qurany” sebagai wadah calon hafizh/hafizhah di lingkungan kampus yang tidak lain terdiri dari mahasiswa/mahasiswa yang belajar di UIN Malang. Dalam mengikuti rangkaian demi rangkaian kegiatan yang diselenggarakan, saya dan sekian banyak mahasiswa yang memiliki impian menjadi seorang hafizh/hafizhah mendapatkan suntikan semangat dari para pembicara yang tentu saja berkompeten dalam bidangnya maisng-masing. Prof. Imam Suprayogo tentu saja paling berperan penting dalam memberi motivasi hebat bagi kami demi mewujudkan generasi Qurany, jangan Tanya berapa banyak jasa beliau terhadap perkembangan UIN Malang hingga bisa berkembang seperti sekarang ini.
Ganteng dan cantik, kan, kami? #dijitak
Apa yang dilakukan oleh UIN Malang banyak ditiru oleh kampus-kampus lain, di UIN Malang, mahasiswa yang hafal minimal 10 juz akan dibebaskan dari biaya pendidikan. Dari tahun ke tahun, mahasiswa-mahasiswa yang menjadi lulusan-lulusan terbaik di kampus ini adalah para penghafal Al Quran, mereka tidak hanya sekadar cerdas di dunia akademik, tapi sekaligus menjadi pribadi muslim yang shaleh berlimpah manfaat.
Di sini, di UIN Malang, saya dan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai macam Negara, menuntut ilmu dan berharap akan menjadi lebih baik lagi, dalam rangka mewujudkan generasi emas Muslim, generasi Qurany. Ada lebih dari 30 Negara yang belajar di UIN Malang, saya berinteraksi dengan sekian banyak International Students, saling support satu sama lain dan tentu saja saling berbagi inspirasi.
Degup jantung saya semakin cepat, diikuti semangat yang kian membara, bahwa saya tidak akan menyia-nyiakan semua kesempatan ini. Saya telah bergabung di komunitas yang tepat, komunitas yang mengkaji ayat-ayat Allah SWT, komunitas yang sama-sama memiliki impian besar dalam hidup, untuk menjadi hafizh/hafizhah, untuk menjadi bagian dari keluarga Allah SWT yang bertebaran di muka bumi ini.
Saya bertemu dengan sekian banyak mahasiswa/mahasiswi yang begitu antusias mengikuti kegiatan awal dari Hai’ah Tahfidz Qurany ini, sebagai langkah awal bagi kami untuk resmi menjadi anggota dan mendapatkan fasilitas yang ditawarkan oleh pihak HTQ, fasilitas yang tidak lain berupa bimbingan bagaimana menjadi seorang hafizh/hafizhah. Ah, sungguh bahagia rasanya bisa berada di satu ruangan, yang terdiri dari orang-orang yang sedang berusaha mencintai kalam Allah.
Prof. Imam Suprayogo selalu bilang, “Kembalikan semua kepada Al Quran, semua akan baik-baik saja.” Ya, mulailah menghafal, maksimalkan ikhtiar, pasti sukses. Amin.
ceritanya jadi peserta putra terbaik :p
Ketika kegiatan berakhir, ada sesi pengumuman peserta terbaik, saya sama sekali tidak memperhatikan pengumuman itu, saya sibuk menulis sesuatu di buku harian saya menjelang acara usai, kemudian saya mendengar samar-samar, nama saya disebut, kemudian mendongakkan kepala, melihat nama saya di layar, haha, saya masih bingung apa yang mereka nilai dari saya sehingga dijadikan sebagai peserta terbaik. Tapi ya sudahlah, karena sudah disebut dan diminta maju, saya langsung maju ke depan, disertai dengan tepuk tangan meriah dari para hadirian yang ada, saya tersipu malu (lebay).
Mimpi saya menjadi seorang hafizh memang belum usai dan tidak akan pernah usai, saya akan berusaha mewujudkan ini selama hidup saya. Saya memang pernah selesai setoran 30 juz, tapi sampai hari ini hafalan saya tidak begitu baik, yang mampu bertahan hingga saat ini tidak lebih dari 13 juz, selebihnya entah kemana, hilang dibawa kesibukan dan rasa malas yang kadang menggerogoti diri. Bismillah, semoga niat baik ini bisa istiqamah, Al Quran bisa membuat saya menangis, Al Quran bisa membuat saya bahagia. Saya ingin kembali bersamanya, memeluk erat cahaya yang ia pancarkan.

Aku berdiri di ujung gelap, menatap lekat ia di ujung sana, memesonaku.
Aku berdiri semakin dekat dengannya, menyentuh lembut kulitnya yang kusam berdebu
Telah lama aku pergi darinya, menjauh dan semakin jauh hingga lupa arah untuk kembali
Namun, Tuhan selalu memiliki cara tersendiri untuk membuatku kembali padaNya.
Kini, kudekap erat ia di dadaku, berharap ia akan tetap ada di dadaku, kini, nanti dan selamanya.
Ya Rahman, jadikanlah aku seseorang yang mampu menghafal ayat-ayatMu
Imla’ Qolbi Quran
Isyrah Sodri Quran
Amin.

Pindah Apartemen (baca: Kos)


10 Oktober 2014
Balada anak kos, sejak awal saya memang sengaja belum ambil untuk satu tahun di tempat kosan saya sebelumnya, karena ingin merasakan selama satu bulan terlebih dahulu, baru kemudian kalo betah akan saya perpanjang untuk satu tahun. Setelah satu bulan, saya cukup nyaman sebenarnya di kosan yang lama, namun tidak adanya cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar saya cukup membuat saya kelimpungan karena kamar jadinya lembab dan selalu harus menghidupkan lampu meskipun siang hari. Ini tidak baik untuk kesehatan saya *sok cari alasan.* selain itu, motor saya kasihan banget, setiap hari harus mengalami penderitaan sedemikian rupa setiap mau masuk ataupun mau keluar dari kosan, ada aja yang lecet, emang sayanya aja, sih, yang nggak ahli dalam bidang ini haha. *makin mencari alasan*
Akhirnya, akhir bulan September, saya memutuskan untuk berhenti ngekos disana dan menitipkan barang-barang saya di kamar teman di lantai dua, sedangkan saya memilih untuk tidur di masjid kampus, kebetulan di sebelah kamar takmir ada kamar yang dilengkapi dengan beberapa kasur, konon katanya untuk tamu *anggap saja saya sebagai tamu disana*. Selama dua hari saya tidur disana, karena masih belum mendapatkan kosan yang baru.
Kemarin, setelah mencari dengan penuh seksama dan penuh perjuangan, *lebay*, akhirnya saya dapat kosan di dekat kampus juga, cukup nyaman dan kerennya lagi teman-teman disini kompak banget. Baru sehari saya stay di kosan yang baru, saya sudah cekikikan dengan berbagai macam lelucon dari teman-teman. Seperti tadi pagi, saat teman-teman cerita bahasa arab sehari-hari di gontor yang berhasil membuat saya sakit perut karena kelucuan mereka mempraktikkan berbagai kalimat yang menjadi ciri khas gontor yang sebenarnya tidak ada di dalam bahasa Arab.
Kembali ke cerita kosan baru, di kosan yang baru ini kompak masak bareng, biar lebih hemat. Nah disinilah pengalaman baru lagi saya dapatkan, setelah sekian abad nggak bersentuhan dengan alat masak *makin lebay* tadi pagi saya kebagian mengiris tomat dan cabe serta masak nasi. And you know what? Saya masih belum bisa masak nasi *tissue mana tissue* *hikz*, udah segede gini saya masih belum tahu berapa banyak air yang harus dimasukkan setiap kali mau masak nasi. Bahkan, mengiris bawang dan cabe pun masih harus banyak tanya, fiuh. Rasanya seperti ditampar-tampar, ya, jadi ingat emak yang setiap hari masak di dapur. Susah ternyata, bro. justru ini jadi keseruan di kosan yang baru, yang tidak saya dapatkan di kosan yang lama.
Karena sedari awal saya sudah komitmen akan banyak berbicara Arab maupun Inggris, rasanya di kosan yang baru saya lebih punya teman untuk melatih kemampuan berbahasa, dan saya bisa dengan bebas bertanya berbagai macam hal kepada mereka yang tentu saja lebih bagus kemampuan bahasa arab mereka, jadilah saya tukang tanya berbagai macam hal. Setiap kali tidak tahu bahasa arab, maka ada teman yang siap mengajarkan. Intinya saling support satu sama lain.
Selain itu, yang paling saya dambakan adalah kesadaran beragama teman-teman di kosan yang baru ini cukup baik. Setiap shalat selalu rame-rame ke mushala dekat kosan, habis maghrib ngaji, habis subuh juga pada ngaji, beda banget di kosan saya yang lama, duh, subuh udah kayak kuburan deh disana. Biasanya saya sendiri yang duduk di ruang tamu, sambil mengaji, dan menunggu teman-teman yang lain bangun. Sebenarnya ini menjadi ladang dakwah, sih, ya, tapi saya malah memilih untuk kabur haha.
Kosan yang baru memang lebih kecil, tapi lebih nyaman karena kasurnya nggak gede kayak kamar kosan yang lama. Jadi terasa lebih leluasa bergerak. Ditambah lingkungan yang merupakan mahasiswa-mahasiswa UIN baik S2 maupun S3 cukup membuat betah, bisa saling belajar, saling membantu satu sama lain.
Sebenarnya saya mau tinggal di asarama S1, tapi nggak ada tempat untuk mahasiswa pasca sarjana, jadilah kudu sabar menunggu asrama pasca sarjana selesai dibangun. Sekarang cuma bisa menjadi penyusup di kamarnya Renat kalo pas lagi di asrama.
Ah cukup sampai disini cerita tentang kosan saya yang baru ini.

Tarek

Makan Bakso Tukul Arwana :p
9 Oktober 2014
Pagi ini, kegalauan terjadi, setelah sebelumnya saya disibukkan dengan perkuliahan (sok sibuk), tiba-tiba Tarek, sahabat saya yang sedang menempuh study di Qairo University membagikan foto saya tentang Mafaza, tempat dimana kami bertemu tiga bulan yang lalu.
“I Love this place and I will be back soon” tulisnya di dinding facebooknya. Saya tersenyum, kemudian saya balas komentar, “I wanna call you now on BBM”. Mulailah kegalauan terjadi disini, duh, ini curhat akhir pekan bener ini kayaknya.
Tarek beberapa kali menghubungi saya melalui BBM, meski sebenarnya kebanyakan nggak ada suaranya. Mungkin saja signal sedang ngambek pagi ini. Hampir setengah jam berlalu, dan saya cuma mendengar ucapan salam dari Tarek yang berulang kali dan dia tidak berhasil mendengar suara saya selain ucapan salam juga, hahaha. Sebenarnya saya lebih suka Video Call melalui Skype jika dengan teman-teman yang jauh. Skype lebih menarik bagi saya, ketimbang aplikasi yang lain, dan masalahnya, Tarek tipe orang yang jarang online skype *gigitJari*.
Pertemuan saya dan Tarek sebenarnya terjadi pas dia stay di Mafaza untuk beberapa waktu pas Ramadhan kemarin, meski cuma kurang lebih tiga hari bersama, namun kedekatan kami cukup terjalin, dan banyak hal-hal kocak yang kami lakukan bersama. Saya masih ingat saat Tarek berkenalan dengan saya,
Tarek Selalu Pake Gamis Panjang Berwarna Putih :p

“What is your name?” Tanya saya, sambil tersenyum (lebih tepatnya nyengir)
“My name is….(tarek langsung berlagak sedang menarik sesuatu, kayak orang konyol) kemudian tersenyum dan berharap saya memahami apa yang dia maksud.
“What do you mean?” ujar saya meminta penjelasan.
“My name is …(mengulangi hal yang sama).”
Duh ini orang ngomong apa, sih. Saya pun menyerah.
“My name is Tarek, in Indonesian you call this with “Tarek”, right?”
Kami pun tertawa terbahak di pojokan masjid.
Tarek tipe anak muda yang tidak suka jejaring sosial, dia lebih suka membaca buku. Iya, beda banget dengan saya. Fiuh. Selama di Mafaza, setiap hari kerjaan saya dan Tarek adalah pergi ke pasar dan membeli berbagai macam bahan masakan, tomat, cabe, jeruk, beras dan lain sebagainya. Tarek selalu memakai gamis panjang, sedangkan saya memilih pake celana panjang dan kaos oblong kalo ke pasar, udah persis kayak tukang ojeknya. Dan setiap ke pasar, pasti bakalan rame deh pasarnya, karena banyak yang motretin dia, sedangkan saya cuma melongo, sambil berharap ada yang motret atau setidaknya minta foto bareng ama saya, gitu hahahaha. Becanda.
Tarek tidak bisa berbahasa Indonesia, hanya bisa bahasa Arab dan sedikit Inggris, jadi saya harus menerjemahkan apa yang mau dia beli ke para penjual disana.
Pose Lebay haha
“You are famous, dude,” goda saya padanya. Tarek Cuma nyengir, kemudian bilang,
“It’s weird, looks like a superstar,”
Saya terkekeh,
“yeah,,,”
Kejadian demikian selalu terjadi selama tiga hari saya menemani dia ke pasar. Setiap mau ke pasar, saya selalu menggodanya.
“Be ready, the local are curious about you. May be they will take your pictures again, so, be nice, dude.”
Setelah ke pasar, kegiatan selanjutnya adalah masak, dan saya tidak pernah mau ikut campur kerjaan Tarek kalo sudah di dapur, saya mau jadi penonton dan tukang masak saja.
Lain lagi kalo setelah tharawih, kerjaan selanjutnya adalah kuliner. Duh, gagal sudah proses diet saya saat Tarek ada di Mafaza #halah. Tarek paling suka dengan bakso, dan tentu saja saya dengan senang hati mengajak dia mencari tempat makan yang dia mau, secara, dia yang selalu bayarin kalo pas makan di luar #plak #dijitak. Setelah makan bakso, lanjut cari ice cream. Kadang sampai larut nggak tidur, karena ngobrol ngalur ngidul di pojokan masjid. Dan kerennya, Tarek selalu membaca Al Quran sebelum tidur, meski kami sudah ngoceh sampe larut.
Setelah Tarek kembali ke Mekah kemudian kembali ke kampusnya dai Qairo University , dia selalu mengirim pesan baik melalui Facebook maupun BBM.
“I really love Indonesia. I wanna go back again. After my graduation Insha Allah I will go back to Indonesia, I wanna marry someone from Indonesia.”
Biasanya saya cuma tertawa membaca pesannya. Meski sebenarnya Tarek memang terlihat nyaman selama beberapa hari di Purwokerto dan kota-kota lain di Indonesia, itu terlihat dari cara dia berinteraksi dengan penduduk lokal
Kalo pas lagi nelpon saya, Tarek ini udah kayak teriak aja ngomongnya,
“Ustadzzzzz….” Kata ini yang biasanya mengawali obrolan setelah terlebih dahulu ia mengucapkan salam.
            Sebenarnya, jarak bukanlah alasan untuk tidak menjalin hubungan baik satu sama lain. Saya dan sekian banyak teman-teman di belahan dunia yang lain, tetap berusaha menjalin komunikasi satu sama lain, berusaha untuk saling berbagi dan tentu saja berharap untuk bisa kembali berjumpa di lain waktu, tidak hanya dengan bertatap muka melalui Video Call, tapi benar-benar bisa bertemu langsung dan melanjutkan kehidupan dengan aneka warna dalam indahnya persahabatan. Ini satu dari sekian banyak sahabat saya yang saya ceritakan, lain waktu saya akan cerita lagi teman-teman yang lain. *berasa penting*