October 03, 2014

Pengaruh Lingkungan Terhadap Kemampuan Berbahasa

Dulu, saat masih di Purwokerto, Ust Sofwan sering bilang gini,
“Bahasa itu hanya perlu dibiasakan, butuh lingkungan yang bisa membantu kita berkembang. Saat pertama di Sudan, tiga bulan pertama adalah masa yang cukup sulit karena kemampuan bahasa saya belum baik. Setelah dijalani, pengaruh lingkungan yang memaksa saya harus bisa berbahasa Arab sangat membantu. Karena komunikasi menggunakan Bahasa Arab.”
Saya memang tidak belajar di Negara yang menjadikan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa wajib saat berkomunikasi dengan sesama, namun saya belajar di lingkungan yang memaksa saya untuk bisa berkomunikasi baik dalam Bahasa Arab dan Inggris. Kebetulan, saya akrab dengan sekian banyak International Students yang ada di UIN Malang, baik yang setingkat dengan saya di Pasca sarjana maupun S1.
Awalnya, saya sangat kesusahan dalam berkomunikasi dalam Bahasa Arab, karena sebagian besar mahasiswa timur tengah tidak bisa berbahasa Inggris, pun demikian dengan yang dari beberapa Negara ASEAN. Ini memaksa saya belajar Bahasa Arab lebih giat lagi, ditambah kewajiban membaca literatur Arab yang tidak bisa dinego, semua tugas kuliah harus menjadikan literatur berbahasa Arab dan Inggris sebagai rujukan. Kebayang, kan, bagaimana ribetnya saya menyesuaikan diri? Duh ini curhat mahasiswa banget.

Sempat sok, sempat galau, sempat pernah mau menyerah di masa-masa awal saya belajar disini. Sempat diem-dieman dengan teman-teman kelas ICP (International Class Program) karena terkendala bahasa dan akhirnya saya memaksa diri untuk terus belajar. Setiap saya pergi, di dalam tas selalu saya siapkan kamus baik Arab maupun Inggris. Di HP juga saya install aplikasi kamus. Sedikit cerita, saya dekat dengan Renat, teman dari Rusia, dia mengambil jurusan Bahasa Arab di Pasca sarjana. Saya kenal dia sejak awal saya di Malang, tepatnya saat tes masuk Pasca sarjana. Dia bisa Bahasa Arab tentunya, karena memang dia mengambil jurusan ini, untungnya dia juga bisa bahasa Inggris meski sedikit. Nah, awal-awal temenan, kami berkomunikasi dengan bahasa yang campur aduk, bahkan sampai hari ini. Saya yang lebih banyak berbicara dalam bahasa Inggris, sedangkan Renat lebih banyak berbicara dalam Bahasa Arab, saya harus menyesuaikan, dan dia pun harus menyesuaikan. Jadi jangan aneh, Renat selalu memegang HP yang di dalamnya ada aplikasi kamus sebagai alat bantu dalam berkomunikasi dengan saya. Ketika saya tidak bisa menjelaskan dalam bahasa Arab, hanya bisa menjelaskan dalam bahasa Inggris, kamus sangat membantu, biasanya renat akan membuka HP, kemudian meminta saya mengetik beberapa kata yang saya ucapkan agar dia mengerti apa yang saya maksud. Ribet, kan?
Muhammad (Libia)
Lain lagi dengan mahasiswa yang dari Timur Tengah, yang bahkan sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, dan saya harus berkomunikasi dalam Bahasa Arab, kebayang, dong, berapa lama kami diem-dieman di awal waktu kenalan dulu? Well, bayangin sendiri haha. Tapi itu sebulan yang lalu, sekarang sudah tidak terlalu, sudah bisa berkomunikasi dengan baik satu sama lain, karena saya menyesuaikan dengan bahasa mereka.
Disinilah saya menyadari betapa besar pengaruh lingkungan terhadap perkembangan bahasa kita. Kemampuan bahasa kita akan terasah dengan baik ketika kita menjadikan itu sebagai bahasa dalam keseharian. Kebanyakan dari kita tidak bisa berkembang dalam berbahasa, karena tidak mencoba untuk mempraktikkan apa yang kita miliki, ditambah lingkungan yang memang tidak mendukung kita untuk berbahasa. Saya menemukan lingkungan yang memakai bahasa yang beraneka ragam, dan ini cukup bagus untuk perkembangan kemampuan saya dalam berbahasa.
Said dari Thailand
Jangan khawatir, di awal-awal memang cukup berat, tapi jalani saja, pacu diri untuk terus berbahasa Arab maupun Inggris, atau bahasa lain yang kamu sukai. Saat ini, saya sedang semangat belajar Bahasa Arab, meski diawali dengan lingkungan yang memaksa untuk demikian. Dan saya bisa menikmati semua proses itu dengan baik.
Saya jadi ingat dengan Emak Gaoel, Winda Krisnadefa yang memiliki anak yang sudah berbahasa Inggris sejak dia umur 2 tahun, karena dia konsisten berbahasa Inggris dengan Safina, putrinya sejak ia lahir. Mungkin apa yang saya rasakan tidak sepenuhnya dirasakan oleh mahasiswa-mahasiswa disini, karena memang tidak semua mau berinteraksi dengan International Students yang ada di kampus. Bagi saya, ini bagus untuk perkembangan saya dalam berbahasa Arab dan Inggris, maka dijalinlah hubungan baik, saling membantu satu sama lain. Dengan mahasiswa yang dari Libia, saya belajar ‘Ulumul Quran, yang dari Thailand, saya bisa nanya banyak tentang tips memasak nasi goring Pattaya kesukaan saya hehe. Dari rusia, saya belajar lebih bijak (Renat kebetulan sangat alim). Sering saling tukar pikiran, saling berbagi informasi tentang perkembangan dunia pendidikan di Negara masing-masing dsb. Seru aja sih ketemu lingkungan yang betul-betul mendukung untuk bisa berkembang.
Hamzatee (Thailand)
Jangan lupa, tahun 2015 adalah tahun Asean Economic Community, artinya kita harus bisa bersaing dengan sumber daya manusia yang datang dari Negara-negara ASEAN, dimana mereka bebas bekerja di Negara kita. Dan jangan lupa yang paling utama, niatkan semua dalam rangka mencari ridha Allah SWT. Insha Allah berkah. Kemampuan saya memang belum seberapa, baru sekadar awal menjadi lebih baik lagi, kalo tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Yuk belajar bahasa Internasional J

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan