October 26, 2014

Sindrom Inferioritas Orang Indonesia Terhadap Bule



Inferioritas merupakan kebalikan dari superioritas (rasa percaya diri yang terlalu tinggi). Inferioritas itu adalah minder atau rasa rendah diri. Inferioritas adalah perasaan yang relatif tetap (persistent) tentang ketidakmampuan diri atau munculnya kecenderungan untuk merasa kurang atau menjadi kurang sehingga tidak bisa menunjukkan kebolehan secara optimal.
Baiklah, tulisan ini tidak akan menggunakan bahasa ilmiah layaknya tugas paper akhir semester yang sebentar lagi akan saya hadapi. Fiuhh..
Bukan rahasia lagi, betapa banyak wanita yang mengidamkan memiliki seorang suami yang punya tampang bule bak artis Hollywood di layar kaca. Rasanya, memiliki seorang suami yang punya tampang bule sudah menjadi semacam keinginan yang demikian hebat dan menjamur di kalangan wanita Indonesia, meski tidak semuanya demikian.
Saya sebenarnya tidak pernah ada niat menulis semua ini. Kalo tidak karena perbincangan antara saya, Renat dan ‘Athoullah di asrama kemarin malam, mungkin saja saya tidak akan pernah menulis ini, karena saya tahu tidak semua wanita Indonesia mendambakan suami yang punya tampang bule. Atau karena tidak semua orang yang memiliki suami bule hanya karena ingin memperbaiki keturunan alias ingin punya anak yang punya tampang ke-bule-bule-an. Karena nyatanya ada yang memang menikah dengan bule karena sama-sama menempuh study di Universitas yang sama kemudian jatuh cinta dan menikah.
“Ada banyak wanita Indonesia yang ingin menikah dengan saya,” ucap ‘Athoullah yang sedang menyelesaikan S2 nya di UIN Malang. Padahal tampangnya tidak seperti seperti orang eropa, lebih ke timur tengah.  
Saya melirik Renat yang sedang makan sate lengkap dengan aneka camilan lain di sampingnya. Memahami apa yang saya maksud, Renat pun memiliki pengalaman yang sama. Entah sudah berapa banyak wanita yang menurut mereka kadang membuat risih dan tidak nyaman. Jika bule yang sukanya mempermainkan wanita, rasanya sudah sekian banyak yang akan menjadi korban oleh Renat maupun ‘Athoullah, untungnya mereka adalah bule yang shaleh, yang sedang mempelajari Bahasa Arab di UIN Malang.
Ini hanyalah satu contoh kecil dari sekian banyak orang yang sudah datang ke tanah air ini, dan merasakan hal yang sama, bahwa kadang penduduk lokal terlalu mengagungkan orang-orang yang punya tampang “bule”, seolah mereka adalah artis papan atas yang perlu untuk dielu-elukan kehadirannya, perlu diteriaki untuk diminta foto bersama, seolah memiliki foto bersama “bule” adalah sebuah keberhasilan hebat. Kenapa orang-orang lokal sedemikian merendahnya di hadapan mereka? Apakah mereka memang memiliki derajat yang lebih tinggi dari kita? Tidak demikian, bukan? Lantas mengapa kita kadang merendahkan diri kita sendiri hanya karena berhadapan dengan seseorang yang punya embel-embel “bule”.
Dua hari yang lalu, seorang teman mengunjungi saya di asrama, kebetulan saya memang teman baik dengan Renat. Saya ajak teman saya ke kamar Renat, karena saya harus pamitan dulu sebelum pergi bersama teman yang menemui saya. Saya meletakkan tas di kamar Renat. Saat tahu bahwa teman-teman di kamar adalah “Bule”, muncullah keinginan teman saya ini untuk foto bareng dengan Renat setelah pertemuan saya dengannya. Saya pun langsung komentar,
“Please, nggak usah, ngapain juga sih pengen foto ama dia? Jangan bikin malu bangsa sendiri deh. Saya yang setiap hari ketemu dia nggak pernah foto bareng ama dia, nggak ada niatan juga, kecuali dalam momen tertentu yang memang dirasa perlu. Kalo cuma untuk share di media sosial punya foto bareng bule, duh, please, deh. Don’t do that.”
Ok, saya tahu komentar saya itu cukup tidak bijak, karena mungkin saja ia punya alasan lain selain alasan bangga bisa punya foto bareng ama “bule”. Saya punya banyak foto teman-teman bukan karena saya bangga karena punya teman mereka, tapi lebih kepada hobi saya mengabadikan kebersamaan saya dengan teman-teman manca Negara. Itu pun jarang ada saya ikut foto bareng mereka.
Saat sedang berada di Bali, kurang lebih 9 hari saya liburan akhir tahun 2013 di Bali,  saya kadang memandang rendah sekelompok anak muda yang berlarian menghampiri bule, kemudian minta foto bareng ama bule, setelah foto bareng kemudian berkerumun melihat hasil fotonya, dan saya yakin setelah itu akan di share di media sosial karena sudah berhasil memiliki foto bersama bule, kemudian teman-temannya bakalan komentar kalo mereka keren bisa foto bareng bule, kemudian fotonya kemungkinan juga bakalan dipasang di seabrek jejaring sosial mereka. Duh.
Saya dan Renat sering berbincang tentang ini, seperti cerita dia yang setiap ke kampus harus naik angkot dan banyak mengalami berbagai macam hal unik karena dia adalah seseorang yang berwajah “bule” dan memiliki kulit kemerah-merahan. Dan biasanya saya cuma komentar,
“Kalo ada yang minta foto bareng, cukup senyum aja, silahkan diladeni kalo memang mau, kalo nggak ya cukup senyum dan berlalu pergi.”
Biasanya Renat cuma nyengir mendengar komentar saya.
Di dunia kerja, orang asing memiliki gaji yang lebih tinggi ketimbang orang lokal, meski mereka memiliki tingkat pendidikan yang sama dan kinerja yang juga sama. Ini juga merupakan sebuah kejanggalan. Padahal, tidak sedikit juga orang lokal yang memiliki kemampuan yang lebih baik dari kaum ekspatriat ini. Hanya karena mereka adalah tenaga kerja asing, lantas mereka digaji sedemikian tinggi, bahkan jauh bila dibandingkan dengan orang-orang lokal. Ini merupakan sebuah fenomena yang sudah menjamur di tengah-tengah kita.
Apakah orang yang memiliki tampang ‘Bule” lantas artinya mereka lebih “hebat” dari kita? Lebih pintar? Lebih kaya? Tidak menjadi jaminan, bukan.
Kadang orang kita beranggapan bahwa orang-orang “bule” yang datang ke tanah air adalah orang yang kaya raya, yang sedang liburan dan menikmati keindahan Indonesia. Padahal, itu semua tidak menjadi jaminan. Banyak yang kerjanya cuma biasa-biasa saja. Pola pikir ini yang sebenarnya perlu dirubah.
Ketika sedang berada di Jogja, saat saya, Ansi dan Jonash yang dari Finland sedang liburan bersama, saya sampai malu sendiri dengan kedua teman saya ini, saat mereka bercerita betapa warga lokal terkadang “rasis” tiap kali bertemu dengan orang asing. Dan saya hanya berkomentar tentang kemungkinan adanya rasa ingin tahu warga lokal tentang para turis mancanegara.
Merasa demikian, saat berlibur ke jogja untuk kesekian kalinya, saya akhirnya memutuskan untuk berbahasa Inggris saat mengunjungi candi Borobudur, dan kalian tahu apa yang terjadi? Hanya karena saya berbahasa Inggris, kemudian ketika ditanya saya jawab bahwa saya berasal dari Negara tetangga, yaitu Malaysia, sekelompok anak mudah berkerumun dan minta foto bareng saya, merasa aneh? Banget. Setelah mereka minta foto bareng dengan saya yang jelas-jelas nggak ada tampang bule, saya menghampiri mereka dan menjelaskan bahwa saya bukan dari Malaysia dan saya bisa berbahasa Indonesia, mereka pun langsung loyo, alias nggak se-excited saat tahu bahwa saya adalah orang asing.
Saat makan malam bersama Renat di kantin asrama, semua mata seolah tertuju pada dia, dan saya seolah hanya makhluk alien yang keberadaannya tidak dianggap. Semua telinga seolah sedang berusaha mendengarkan apa yang sedang saya perbincangkan dengan Renat, dan saya pun risih.
Saat masih menjadi Guru, saya beberapa kali menjadi pendamping “bule” yang diundang oleh pihak sekolah untuk mengajar anak-anak agar lebih berani dalam berbahasa Inggris dan saya menyaksikan riuh yang luar biasa saat anak-anak minta foto satu persatu atau bahkan rame-rame bersamaan dengan teman masing-masing, dan saya hanya terdiam di pojokan, sambil berusaha menertibkan suasana.
Intinya begini, tidak perlulah kita sedemikian mengagungkan mereka yang punya tampang “bule”, cukup bersikap baik, sopan, dan tunjukkan pada dunia bahwa kita adalah Negara yang bermartabat, bukan rendahan, dimana wanitanya dijadikan pelampiasan nafsu para “bule” karena mereka beranggapan bahwa mendapatkan wanita lokal adalah semudah menjentikkan jari di hadapan para wanita. Sementara di Negara mereka sendiri, belum tentu ada yang melirik mereka, sedangkan disini mereka diagung-agungkan sedemikian rupa.
Coba bayangkan kalo kita yang berada di Negara mereka, apa mereka mengelu-elukan kita seperti ketika mereka datang ke Negara kita? Belum tentu, bukan. Atau bahkan bisa saja keberadaan kita sama saja dengan tidak adanya kita di tengah-tengah mereka.
Kita adalah bangsa yang cukup besar, kita bisa bermartabat di mata dunia ketika kita berusaha untuk menghargai apa yang ada di negeri ini. Jangan malah terbalik, kita kadang lebih menghargai orang asing ketimbang warga Negara yang menjadi teman kita hidup di Negara kita tercinta. 

4 comments:

  1. I know how it feels. I myself cringe when people start to take pictures of me when I start to speak in English -- but in most days when I use Bahasa Indonesia -- people treat me like a second-class citizen. Not that I yearn to be treated like a VIP -- but I cringe to see people treat me as that because they think I am a local. There is a postcolonialism work that puts all these into one sentence: we are so good at oppressing our own people that we do not need the White Master to be around.

    Your post inspired me to write my own reflection as a brown 'bule' in Indonesia: https://durianwriter.wordpress.com/2015/12/07/brown-bule-indonesia/

    ReplyDelete
  2. Kdg lucu juga ya ngelihat kelakuan orang-orang sini terhadap orang asing (bule) yg terlalu mendewa-dewakan bahkan sampai overdosis tidak karuan. Saya jadi inget dengan seseorang waktu jalan bareng ke pulau dewata, bilangnya mau ketemu dengan temannya, eh ga taunya janjian dengan bule yg notabene itu bukan temannya dan baru kenal lewat forum couchsurfing melalui fitur CS Hangout. Kekonyolan dan kurang ajarnya orang tsb sangat terlihat jelas waktu motor baru parkir dan mesin motor blum juga mati, dia langsung turun dari motor dan ninggalin saya. Saya cuma bisa melongok kaget, dia pergi berlalu gitu ja, clingak-clinguk sambil sibuk dengan hp nya seperti mencari seseorang, dan saat itu saya hampiri tp tidak di gubris, dia asyik sendiri seperti orang autis main hp sambil clingak-clinguk, lalu saya suruh duduk dlu di salah satu restoran di seminyak, ttp kelakuannya msh seperti itu dan hingga akhirnya salah satu bule datang, dan wow sekali ketika bule itu datang, sikapnya langsung berubah, tidak lagi main hp dan sibuk ngobrol berdua, sementara saya yang duduk di sampingnya tidak di gubris sama sekali, akhirnya saya pun pergi menjauh. Buat saya hal itu sudah sangat keterlaluan sekali, terlalu menggebu-gebu demi sosok bule yg jelas-jelas bukan temannya baru kenal lewat obrolan fitur CS Hangout kemudian ketemuan, dan konyolnya saya sudah kayak jongosnya aja buat nganterin tuh orang ketemuan dengan bule tersebut. Sekolah tinggi tapi IQ jongkok, selidik punya selidik ternyata terlalu obsesi dengan sosok bule yg membuat daya nalar jadi tolol akut stadium 4. Dan saat itu juga, saya putuskan untuk misah dan tidak jalan bareng lagi. Kebodohan berikutnya adalah esok harinya nemuin bule yg lain lagi yg baru dikenal lewat forum couchsurfing juga. Orang kalo udah terobsesi dgn bule (bule hunter), kebodohannya akan semakin terlihat jelas. Dan gobloknya lagi bukannya mikir malah sok pinter.

    Ini pengalaman saya sendiri bro, dari awal jalan bareng saya juga sudah curiga, dia ngajakin saya ke pulau dewata ada maksud terselubung, dan benar saja hal tersebut terjadi, tanpa kompromi lagi, langsung memutuskan untuk berpisah, buat apa jalan bareng kalo cuma jadi jongos sebagai jembatan buat nganterin dia nemuin tuh bule-bule yang baru di kenalnya yang jelas-jelas bukan teman, kenal juga belum. Ya begitu deh klo orang udah terjangkit sindrom inferioritas, kegoblokannya terlihat jelas, buat mikir juga kagak bisa karena sudah tertutup oleh obsesi rasa bloonnya, hehehe.....

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan