November 03, 2014

A Sensitive Guy


Dalam sebuah tabloid, saya pernah membaca tentang “Pria sensitif”, disana dijelaskan bahwa A “Sensitive” Guy adalah seorang pria yang memiliki perasaan yang sangat halus, emosinya mudah terkuras, selalu menghindari tontonan yang berbau kekerasan, hal-hal kecil bisa membuatnya berempati sedemikian tinggi, lebih peka terhadap kejujuran lawan bicaranya (memiliki intuisi yang bagus untuk menilai kejujuran lawan bicaranya), memiliki apresiasi yang tinggi terhadap alam, musik, dan lain sebagainya.
Sejak awal, saya menyadari, bahwa saya tipe laki-laki yang sangat sensitif. Ada banyak hal yang membuat emosi saya terkuras, saya mudah menitikkan air mata, saya sangat mudah tersentuh dengan suatu kondisi tertentu meski bagi laki-laki lain itu adalah hal biasa, saya kadang mudah tersinggung meski sebenarnya teman sedang bercanda, saya kadang tidak menerima sesuatu yang orang lakukan yang tidak sesuai dengan harapan saya pada mereka dan kadang menyalahkan diri sendiri.
Ustadz Toha pernah bilang, menurutnya, pria sensitif adalah pria yang lembut hatinya, dia baik. Dan saya hanya bisa terdiam saat beliau membicarakan tentang hal itu menjelang keberangkatan saya ke Malang.
Kadang, saya bersikap berlebihan dalam memandang sesuatu yang menurut kebanyakan orang adalah hal yang sangat biasa. Seperti saat-saat saya akan berpisah dengan anak didik saya, saya menangis untuk beberapa waktu. Saat pamitan dengan kepala sekolah pun saya meneteskan air mata, bahkan saat berbicara di hadapan rekan guru, saya hampir saja menangis, meski akhirnya bisa ditahan dan hanya meneteskan bulir-bulir hangat di ujung sana. Iya, saya sedemikian sensitifnya. Saya tidak tahu bagaimana penilaian orang lain terhadap a “sensitive” guy.
Dalam artikel yang lain, ada yang menulis  bahwa perempuan banyak yang mengharapkan seorang laki-laki yang sensitif, yang mana menurut mereka akan lebih peka dalam menjalani kehidupan bersama dengan mereka, lebih lembut dalam menjalin hubungan dan tentu saja lebih perhatian. Entahlah, saya malah tidak percaya dengan semua itu karena memang saya belum sampai pada tahap hidup bersama dengan seseorang yang disebut “istri”. Terlepas dari pandangan positif dan negatif orang terhadap laki-laki yang sensitif, kadang saya tidak merasa nyaman dengan perasaan sendiri.
Begitu juga dalam pertemanan, sering saya merasa tidak nyaman dengan komunikasi yang menurut orang adalah hal yang wajar, namun menurut saya itu adalah hal yang tidak wajar. Kadang, hanya karena perbedaan pemahaman terhadap sesuatu, karena tidak terjalinnya komunikasi yang baik, bisa membuat saya berpikiran yang tidak baik, menyalahkan diri sendiri, mungkin saya yang salah, mungkin saya yang terlalu berlebihan, mungkin saya yang terlalu serius, dan ada banyak kemungkinan yang lain.
Pernah suatu ketika, saya merasa sangat bersalah dengan seorang teman hanya karena kesalahan dalam memahami bahasa. Seorang teman pernah mengirimi saya sebuah pesan dalam bahasa Inggris,
“Don’t bother,”
Pemahaman saya, itu artinya “Don’t disturb”, saya balas,
“Sorry, I just wanna keep my promise”
Beberapa saat kemudian pesan balasan masuk,
“You don’t understand, I mean “Don’t worry”
Barulah kemudian ada penjelasan bahwa dia menggunakan google translate untuk membalas pesan saya, dan saya paham dengan usahanya untuk bisa berbahasa Inggris. Hanya karena komunikasi yang demikian saja, saya kadang merasa sangat bersalah, dan tidak nyaman. Saya tidak tahu apakah ini bagian dari sifat seseorang yang sensitif atau bukan. Yang jelas, saya berusaha untuk bersikap senormal mungkin.
Lain lagi dengan masalah kepekaan hati, saya tipe orang yang mudah tersinggung, meski disisi yang lain saya mudah “memaafkan”. Namun, kadang perasaan yang demikian mudah tersinggung dengan ucapan maupun sikap orang lain, saya merasa “unsecure” dengan diri sendiri dan saya rasa ini perlu untuk diubah menjadi lebih baik, lagi, bukan?
Saya percaya, tidak hanya saya sendiri yang merasakan hal ini, ada banyak orang yang mungkin juga merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan. Dalam sebuah artikel yang lain saya pernah membaca 7 ways to treat a sensitive guy, ada beberapa cara yang dipaparkan, kemudian saya menemukan dua cara yang menurut saya lumrah dan itu normal. Pertama, make him feel secure, kedua, don’t try to make him jealous,. Oh well, siapa sih yang mau dibuat “unsecure” oleh pasangan hidupnya? Siapa sih yang mau dibuat “jealous” oleh pasangannya? I think no one wanna feel that way.
PR terbesar saya adalah bagaimana mengelola perasaan yang cukup sensitif ini, bisa menjadikannya sebagai sebuah kelebihan dalam memaknai sesuatu. Bisa berusaha semaksimal mungkin menjadi seseorang pribadi yang baik terlepas dari kelebihan dan kekurangan masing-masing. Inilah keunikan ciptaan Tuhan, manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan saya percaya akan itu.
  *curcol pagi, ditulis sambil menunggu dosen Tafsir*

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan