November 22, 2014

Merinduimu


Jarak memang membentang jauh di antara hatiku dan hatimu. Derap langkah kita tak lagi beringingan seperti dahulu, ada batas-batas yang membuat langkah kita semakin menjauh, menuju jalan masing-masing dengan cara dan aneka ragam warna jalan yang dilalui. Tapi hati kita tetap bersama meski ada jarak yang memisah.
Aku disini, dengan rangkaian doa-doa suci yang kurajut untukmu, seseorang yang telah berhasil menggenggam erat cinta yang dulu berterbangan bersama waktu. Engkau hadir mewarnai gelapnya malam yang dulu seakan menjadi akhir dari perjalanan hati yang tak kunjung berlabuh, aku jatuh cinta ketika tegur sapa pertama denganmu meski tanpa suara.
“Cinta, setialah pada hatiku sebagaimana kesetiaan hatiku menyebut namamu dalam doaku.”
Cinta, merinduimu adalah caraku membagi rasa yang kadang lelah merayu hati. Aku mencintaimu dalam tiap rindu-rindu yang terucap di kalbu nan disana. Ada namamu yang selalu kusebut di dalam sujud panjangku, ada wajahmu yang hadir kala tangisku tumpah karena menahan rindu, ya, aku merindumu sedemikian dalam. Adakah rindu untukku di hatimu, cinta?
Andai saja engkau hadir di sisiku kali ini, mungkin aku tak akan menjadi bak Majnun yang merindukan Laila, aku tenggelam dalam gejolak rindu yang entah kapan akan berlabuh. Aku berdiri tegak, berteriak dalam gelap malam nan sunyi, berharap hadirmu menemani hati yang dilanda cinta.
Kasih, kita berjanji akan bersabar, bukan? Bersabar menjalani semua ini sebaik mungkin, sampai nanti ajal memisahkan kita, meski belum kuikat kebersamaan kita. Aku masih tetap setia menunggumu, cinta. Menunggumu adalah bagian dari cinta yang tak sanggup kuucapkan kala berada di hadapanmu, meski sebenarnya menunggu adalah hal yang tak mudah bagi hatiku.
“Cinta, berjanjilah padaNya, bahwa akan selalu ada tentangku di hatimu, meski jarak memisahkan kita. Aku mencintaimu, kini, nanti dan selamanya.”
Cinta, mungkin engkau tak pernah tahu betapa aku mencintaimu. Engkau juga mungkin tidak pernah tahu sejak lama aku hadir di belakangmu dan tak pernah berani berkata jujur padamu. Aku hanyalah seorang pecinta yang tak punya nyali berucap cinta. Aku hanyalah pejuang rindu di kegelapan malam, namun luluh kala berhadapan denganmu. Itulah aku, cinta, aku yang dulu.
Cinta, kini tak ada lagi kekhawatiran tentang perasaanku padamu, karena engkau telah memberiku harapan, harapan untuk berjuang bersama denganmu, membangun cinta menuju ridha-Nya.
Cinta, aku mulai berani mengucap cinta di hadapanmu, meski hanya sebatas ucapan lirih yang mungkin tak sanggup untuk kau dengar, namun setidaknya aku sudah mulai berani menyebutnya di hadapanmu meski lirih tak terdengar.
Cinta, detik waktu terus berjalan, pun demikian dengan rasaku padamu, ia semakin mekar mewangi, meski belum sepenuhnya kumengerti tentangmu, tapi engkau memberiku kesempatan untuk mencintaimu.
Cinta, tetaplah yakin akan cintaku, sebagaimana keyakinanku akan cintamu untukku.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan