December 01, 2014

Etika Perokok


Sabtu, 29 November 2014
Rasanya weekend atau tidak sama saja bagi saya. Nyatanya, hari ini saya tetap ke kampus, bawa buku seabrek-abrek gitu, masuk ke perpustakaan, melanjutkan penulisan makalah yang belum selesai. Minggu ini saya menulis tiga makalah, maju presentasi dua makalah, revisi satu makalah dan hari Sabtu yang seharusnya buat santai alias bermalas-malasan, itu hanya mitos belaka. Yupz, I have to finish my papers.
Setelah dirasa cukup, otak saya sudah mumet alias pusing, saya mengirim pesan ke renat.
“Salam. Apa kabar? Apa yang kamu lakukan akhir pekan kali ini?”
“Salam. Saya sedang istirahat seperti biasa, apa yang kamu lakukan?” jawab Renat kemudian.
“Saya baru pulang dari perpustakaan seperti biasa.”
Akhir-akhir ini memang sebisa mungkin saya menggunakan Bahasa Indonesia dengan Renat, karena dia juga sedang berusaha belajar Bahasa Indonesia, lagi rajin-rajinnya belajar.
Habis ashar, saya pergi ke kampus satu, saya lihat Renat di masjid, sedang membaca buku, sambil memegang sebuah kamus Arab-Rusia dan sambil memainkan pulpen berwarna biru. Saya abaikan sejenak, kemudian baru saya tegur.
Lepas maghrib, Renat berbisik, karena yang lain sedang berdzikir.
“I’m going to my room now,”
“Ok, I will meet you after reading qur’an.”
Setelah membaca kurang lebih setengah juz, saya ke kamar Renat dan disinilah dimulai perbincangan tentang etika para perokok. Dan ini berlanjut setelah isya. Seperti biasa, setelah isya kami makan malam di salah satu rumah makan di depan kampus, kemudian disinilah ada kejadian yang membuat saya deg-degan. Renat diam, terlihat gelisah.
“What’s wrong?”
“Look at him, he is smoking and you know I don’t like this.”
“so?”
“Adribuhu (saya akan memukulnya)” jawabnya sambil berdiri, kemudian menghampiri seorang bapak yang sedang merokok. Saya sudah deg-degan kalo beneran dia bakalan mukul bapak  tersebut. Saya sudah berdiri, bersiap diri jika sesuatu yang tidak baik terjadi. Dan ternyata, dia menunduk, sambil berusaha berbicara bahasa Indonesia sebaik mungkin di hadapan bapak tersebut.
“Bapak, bisa tidak bapak berhenti merokok, saya tidak suka dengan rokok,” ucap Renat sambil terbata-bata, dan saya mengelus dada, melihat reaksi bapak tersebut yang manggut-manggut tanpa berucap sepatah katapun.
“See, it’s easy to ask him stop smoking,”
“well done, bro.”
Perbincangan kami makin berlanjut, ada satu hal yang kemudian menurut saya memang betul. Renat bilang, mungkin saja mereka merokok karena menganggap bahwa orang-orang yang tidak merokok tidak masalah dengan itu semua. Karena tidak banyak orang yang berusaha mengingatkan mereka, sehingga hal itu dianggap diperbolehkan, padahal ini adalah tempat umum yang seharusnya tidak dijadikan tempat merokok. Maka itulah pentingnya kita saling mengingatkan, tapi tentu saja dengan cara yang baik.
Saya terdiam sejenak, mencoba untuk berpikir sejenak. Betul memang, etika bagi para perokok memang masih jauh dari kata baik. Kesadaran untuk memahami mana saja tempat yang boleh untuk merokok masih sangat minim, kesadaran untuk mengerti bahwa tidak semua orang suka berada di sekeliling orang yang merokok, dan kesadaran tentang bahayanya merokok juga masih sangat minim. Atau bisa jadi sebenarnya mereka sudah tahu tentang tempat-tempat yang boleh merokok, tentang bahaya merokok, dan tentang orang-orang yang terganggu dengan kehadiran perokok di tempat-tempat tertentu.
Saya bukan tipe orang yang membenci orang yang merokok, saya hanya tidak suka jika mereka merokok di tempat yang memang seharusnya bebas dari asap merokok. Ada satu pengalaman yang menurut saya sangat baik untuk ditiru oleh para perokok di tanah air. Ketika saya sedang liburan di Semarang, saya stay di hostel, berbentuk dormitory, alias gabung sama sekian banyak orang. Kebetulan saya sekamar dengan beberapa orang dari Belanda. Ketika makan malam, mereka mau merokok, sebelum merokok, salah satu di antara mereka bertanya terlebih dahulu apakah saya merokok atau tidak, dan saat tahu saya tidak merokok, tidak ada satu pun yang merokok, jika mereka ingin merokok, mereka akan ke belakang, menyendiri agar bisa merokok dan tidak mengganggu yang lainnya.
Coba lihat di Negara kita, orang seenaknya merokok di mana saja, bahkan sangat abai terhadap aturan-aturan yang sudah dibuat. Di Negara kita bukan karena tidak ada aturannya, ada aturan yang sudah dibuat, tempat-tempat yang harusnya bebas asap rokok. Aturan itu ada, namun realisasinya yang tidak ada, kontrolnya yang tidak terlihat. Aturan seolah hanya cukup tertulis saja dan cukup berakhir sampai disitu saja. Saya tahu, ada banyak kampus yang sudah menerapkan aturan bebas asap rokok, ada banyak orang yang berusaha untuk menerapkan aturan itu sebaik mungkin, namun tidak sedikit pula orang yang abai akan peraturan itu, sehingga Negara kita adalah surganya industri rokok yang jelas-jelas berbahaya.
Bahkan, kita sering melihat seorang bapak yang merokok di depan keluarganya, istri, anak-anaknya yang jelas-jelas tidak merokok, tapi dia santai saja merokok di hadapan mereka. Inilah realita yang ada di sekitar kita, yang menjadi PR besar bagi kita semua, bagaimana mewujudkan kondisi yang baik, dimana antara perokok dan tidak terjadi saling pengertian, sehingga tidak ada yang merasa terganggu dengan itu semua.
Indonesia seolah menjadi tempat paling bebas bagi para perokok, dan juga surga bagi industri rokok. Maka sekarang bagaimana usaha kita mengedukasi generasi kita agar memiliki kesadaran akan bahaya rokok ini. Miris melihat di sekeliling kita banyak anak-anak yang sudah menjadi pecandu rokok, bahkan beberapa waktu lalu menjadi headline dunia internasional tentang seorang balita yang menghabiskan rokok dua bungkus perharinya dan menjadi bahan tertawaan dunia sekaligus menjadi kekhawatiran yang luar biasa akan hal ini. Maka disinilah peran kita selaku orang tua, untuk bisa memberikan pemahaman sekaligus teladan yang baik bagi generasi kita.
Sekadar mengutuk tentu saja tidak akan menghasilkan apa-apa, do something meskipun itu hanya kecil. Mari bersama kita berusaha mewujudkan Indonesia yang nyaman.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan