December 14, 2014

Mengeja Kenangan

Pantai Linau-Kab.Kaur-Bengkulu
Sebagai anak desa, tentu saja saya berkenalan dekat dengan yang namanya sawah. Saya suka bermain di sawah saat pulang sekolah, masih lengkap dengan seragam sekolah. Tidak jarang saya pulang dengan seragam yang sudah penuh lumpur dan bau apek. Ibu tidak pernah marah, palingan ibu cuma bilang, “lain kali, kalo mau maen sama temen, ganti pakaian dulu,” udah gitu aja. Sekarang saya baru mengerti mengapa ibu selalu membiarkan anaknya bermain bebas di alam bebas, tanpa pernah marah atau bahkan khawatir akan terjadi apa-apa. Kenangan demi kenangan keindahan masa kecil itu ternyata mampu saya ingat sampai sekarang.
Saya dan teman-teman rasanya sudah memiliki jadwal tetap selepas sekolah, kalo tidak maenan di sawah belakang rumah, ya mandi di bendungan yang juga tidak jauh dari rumah. Lengkap, bukan? Setelah selesai bermain lumpur, mancing, kejar-kejaran, maen petak umpet, dilanjutkan dengan mandi di sungai, kurang apa, coba? Oh jangan tanya betapa bahagianya saya dengan kebebasan bersama alam raya yang begitu indah. Mungkin kebebasan bersama alam seperti ini tidak akan saya dapatkan jika saya lahir di kota besar.
Saya suka melihat nelayan yang sedang sibuk dengan perahunya.
Dulu, selain suka bermain di sawah dan sungai, saya juga suka bermain di pantai, menunggu air laut surut kemudian berlarian ke tengah sambil mencari karang-karang yang berbentuk lucu untuk dibawa pulang ke rumah. Mandi tentu saja sudah menjadi hal wajib kalo sudah ke pantai. Nggak keren rasanya kalo sudah di pantai dan nggak mandi, itu sama saja sudah beli makanan tapi malah nggak dimakan, mubazir, kata saya saat itu. Nggak ada khawatir kulit akan menjadi hitam dan belang kayak harimau, masa bodoh amat, yang penting saya bahagia menjalani semua itu bersama teman-teman.
Memancing adalah rutinitas wajib saat bulan ramadhan. Saya dan teman-teman suka pergi memancing mulai pagi hingga menjelang maghrib. Kami membunuh waktu akhir pekan atau libur sekolah dengan pergi bersama-sama ke sungai untuk mancing. Sebelum mancing, kami terlebih dahulu mencari cacing di belakang rumah untuk dijadikan sebagai umpan. Biasanya, saat pulang ke rumah sudah menjelang adzan maghrib, jadi kami bisa langsung mandi, kemudian siap-siap berbuka puasa.
Masjid depan rumah
Dulu, setiap habis ashar, saya dan teman-teman satu kampung sudah berkumpul rame di langgar yang berada di sebelah masjid. Di sanalah kami belajar mengaji dengan Abang Nur, namanya. Saya bisa dibilang menjadi murid kesayangannya saat itu. Terbukti, ketika ada beasiswa untuk sekolah di kota, saya yang diberi rekomendasi oleh beliau untuk berangkat. Ah, masa kecil yang begitu indah, bukan?
Sawah, sungai, pantai, adalah tempat-tempat yang akan selalu saya sukai bahkan sampai hari ini. Semua tempat itu memiliki arti yang begitu besar bagi saya. Saya suka menghabiskan waktu di pinggir sawah bersama ayah. Ayah sering menggendong saya saat berangkat ke sawah dan membiarkan saya berpanas-panasan di tengah sawah dengan sebuah bambu kecil yang saya gunakan untuk mancing. Saya akan berteriak kencang ke arah ayah ketika pancingan saya mendapat ikan. Ibu akan tersenyum lebar ketika melihat saya bahagia dengan kesenangan saya kala itu.
Makan goreng ikan teri sambel ijo adalah makanan favorit saya ketika panen raya. Saya suka merengek manja di samping ibu agar dibuatin menu favorit saya ini untuk makan besok siang. Biasanya panen raya adalah menjadi ajang kumpul keluarga besar, karena ibu mengajak keluarga besar untuk ikut panen raya di sawah. Disinilah letak kedekatan satu sama lain. Ibu dan Ayah termasuk orang yang sangat peduli dengan kondisi saudara-saudaranya. Sering kali Ibu dan Ayah menjadi tumpuan keluarga yang lain, dan keduanya tetap berusaha membantu mereka dengan sebaik mungkin, meski sebenarnya kehidupan kami jauh dari kata kaya. Di sinilah kekaguman saya akan sosok keduanya. Ayah dan Ibu adalah dua sosok yang berbeda. Ibu merupakan satu sosok yang begitu vokal kalo berbicara, sedangkan ayah adalah satu sosok yang sangat hemat berbicara. Justru itulah yang membuat mereka terlihat saling melengkapi satu sama lain.
Hari ini saya sedang merindukan suasana kampung halaman, merindukan derai tawa ayah dan ibu. Merindukan kebersamaan saya dengan adik dan kakak, merindukan kakek yang sudah semakin menua, dan tentu saja saya merindukan sawah, sungai dan juga panti yang menjadi tempat bermain saya sejak kecil.
Hidup kita memang terus melaju, perubahan adalah sebuah kepastian. Kita semakin beranjak dewasa, menjalani jalan hidup yang sudah kita pilih, namun tetaplah percaya bahwa di mana pun kita hidup, selalu ada rindu akan kampung halaman, mungkin itu cara Tuhan mengajarkan kita akan indahnya sebuah kenangan. Kita tidak bisa kembali ke masa lalu, bukan? Maka lakukanlah yang terbaik atas setiap kesempatan yang Tuhan berikan pada kita. Berjalanlah dengan damai, yakini bahwa bahagia adalah milik semua orang.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan