January 01, 2014

Bali, The Island of Beauty 2



24 Desember 2013

Berdasarkan pengalaman di hari pertama yang diguyur hujan terus menerus, saya pun tidak ingin mengambil resiko kehujanan lagi, kemudian sakit dan tidak bisa menikmati masa liburan saya selama di Bali, akhirnya saya memutuskan untuk mengajak teman-teman yang kebetulan baru tiba di Bali untuk menyewa sebuah mobil lengkap dengan supirnya. Setelah musyawarah, akhirnya semua setuju untuk menyewa mobil.

Saya dan empat orang teman memulai perjalanan pukul tujuh pagi, rencananya hari ini kami akan mengeksplor Bali Selatan, tidak terlalu jauh memang, akan tetapi ada banyak tempat yang cantik yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Rencananya hari ini full day tour, jadi perjalanan kami bakalan seharian penuh. Memang dasar saya itu tukang tidur, baru beberapa menit jalan saya sudah molor di mobil.

Tanjuang Benoa

Tujuan pertama kami adalah Pantai Tanjung Benoa yang terkenal dengan water spot-nya yang keren. Sebelum ke Tanjung Benoa, kami terlebih dahulu mampir sejenak di Pusat Peribadatan Puja Mandala, yaitu tempat yang menjadi lokasi rumah ibadah lima agama di Indonesia (Masjid, Gereja Katolik, Vihara, Gereja Protestan, dan Pura). Setelah itu kami baru melanjutkan ke Tanjung Benoa. Akan tetapi, cuaca sama sekali tidak bersahabat, hampir satu jam lamanya kami hanya duduk di salah satu restoran yang ada di pinggir pantai, menunggu hujan reda dan hujan sama sekali tidak reda, akhirnya kami memutuskan untuk berbelanja oleh-oleh di Toko Kahuripan. dan kalian tahu siapa yang paling suka kalo diajak berbelanja? Ahhh jangan pura-pura nggak tahu, saya adalah orang yang paling bersemangat berbelanja dari semua rombongan yang ada.

GWK Cultural Park

Di perjalanan menuju GWK, hujan masih tetap menderas, untungnya kami menyewa mobil, jadi masih bisa molor lagi di mobil hehe. GWK ini keren banget, semacam tebing-tebing yang kemudian dibentuk sedemikian rupa menjadi tempat wisata yang menakjubkan. Bahkan, jika patung yang ada disini sudah selesai dibuat, akan menjadi patung tertinggi di dunia. Silahkan cari di Mbah Google, saya tidak mau berbicara lebih lanjut tentang GWK ini hehe.

Hujan sedikit mereda sejenak, sebelum akhirnya kembali menderas dan kami langsung kembali ke mobil, dan melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Pantai Pandawa

Nah, di Pantai ini nggak kalah keren dengan GWK, tebing-tebing dibentuk sedemikian rupa, kemudian dibuat patung-patung yang menghiasi sepanjang jalan menuju pantai, ditambah air terjun yang mengalir deras menjadi pemandangan yang indah, saya berasa seperti sedang berada di lembah hehe. Tapi hujan kembali menemani perjalanan di pantai ini, jadi tidak terlalu bisa mengeksplor lebih banyak lagi.

Pantai Dreamland

Pantai yang sudah cukup terkenal dan indah ini begitu cantik. Saya betah berlama-lama di pantai ini, menghabiskan waktu sambil duduk di salah satu resort yang ada di pinggir pantai, meski tidak makan haha. Saya hanya numpang duduk, kemudian menikmati sajian alam yang agung, ciptaan Tuhan. Sungguh luar biasa indahnya alam raya ini. Beberapa kali saya berdecak kagum, melihat betapa indah hamparan pasir di hadapan saya, gugusan karang yang menjulang tinggi, dan deru ombak yang menenangkan. Saya suka berlama-lama disini, meski teman-teman sudah kembali ke mobil lebih awal. Saya yang paling terakhir kembali ke mobil.

Pantai Padang-Padang

Pernah menonton film Eat Pray Love yang dibintangi oleh pesohor Dunia Julia Robert? nah di pantai ini menjadi salah satu tempat pembuatan film tersebut. Sejak film itu hadir, pantai ini semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik oleh wisatawan domestik maupun internasional. Tidak ingin hanya sekadar menikmati keindahan dari pinggir pantai, saya langsung mengganti pakaian, kemudian berteriak sekencang-kencangnya tanpa peduli dengan keramaian. Saya membenamkan diri di air laut yang asin, kemudian mencoba untuk bersantai, sementara yang lain hanya sibuk foto-foto di bibir pantai.

Rugi rasanya jika hanya sekedar foto-foto dan tidak merasakan nikmatnya bermain dengan ombak-ombak yang begitu bersahabat. Di dekat saya ada seorang Bapak dari Francis yang sedang bersama anaknya yang lucu, proses mandi saya pun jadi galau haha. Huh, saya jadi galau dan ingin segera punya anak. #hening

Uluwatu


Setelah mandi dan berhasil membuat rombongan menunggu sekian lama, saya baru kembali ke mobil dan kami pun melanjutkan perjalanan ke Uluwatu. Sampai disini, saya banyak mengucap puji-pujian kehadirat Tuhan, atas ciptaan-Nya yang luar biasa menakjubkan. Kami berada di bibir jurang, yang dihadapkan dengan hamparan laut di bawahnya. Begitu cantik. Saya betah berlama-lama melihat ke bawah, mencoba untuk mendengarkan nyanyian ombak di bawah sana.

Setelah asik menikmati keindahan yang ada, saya dan empat orang teman saya langsung menuju tempat Kecak Dance tampil. Dengan merogoh kocek 75.000, kami bisa menikmati sajian tari yang baru kali ini saya saksikan. Ada lebih dari seribu penonton dari berbagai macam belahan dunia yang menyaksikan tari ini.


Tarian ini cukup keren dan menghibur, hanya saja ada lakon yang bagi saya tidak serius dalam menyajikan tarian, sehingga membuat tarian ini tidak sakral, alias seperti lelucon. Saat tarian sedang berlangsung, ada saja lakon yang celingak celinguk, ketawa sendiri, dan saling tegur satu sama lain, sementara ada lebih dari seribu orang yang menyaksikan tarian mereka. Over All, tarian ini keren dan cukup menghibur.

Oh ya, monyet-monyet disini rada nakal, hati-hati dengan barang bawaan anda, lebih-lebih kaca mata, karena menurut pengamatan saya selama disini, banyak monyet yang mengambil kacamata pengunjung. Jadi berhati-hatilah.

Malam semakin larut, kami pun langsung kembali ke penginapan, melepas penat setelah menjalani hari dengan berbagai macam kegiatan. Kami sempat menikmati santap malam, sebelum akhirnya kembali ke penginapan masing-masing.

Bali, The Island of Beauty 1


Mengapa judul tulisan ini sama dengan salah satu buku yang membahas tentang tempat-tempat menarik di Bali? Karena buku itulah yang sudah memberikan saya gambaran Pulau Dewata yang sejak sekian lama ingin saya kunjungi. Meski sebenarnya sudah pernah menginjakkan kaki ke Pulau yang tersohor ke seluruh dunia ini, namun tidak sempat mengeksplor Bali dengan sempurna.
            Sejak beberapa bulan yang lalu, saya memang sudah merencanakan dengan baik perjalanan kali ini. Tiket sudah saya pesan sejak tiga bulan sebelum keberangkatan, penginapan sudah siap sejak sebulan sebelumnya, dan begitu juga rencana perjalanan selama disana sudah jelas dalam rencana perjalanan saya. Dan akhirnya, saya pun berangkat seorang diri ke Bali, dengan menumpang pesawat air asia, terimakasih karena sudah memberi saya tiket promo J

21 Desember 2013
Perjalanan saya dimulai pada malam ini, pukul setengah dua belas malam saya berangkat naek kereta ke Jogjakarta, sampai di Jogja kurang lebih setengah tiga pagi. Saya sempat tidur di mushalla Adi Sucipto International Airport. Bandar Udara ini cukup kecil untuk ukuran sebuah Bandar Udara yang cukup sibuk dengan penerbangan domestik maupun internasional.

22 Desember 2013
Setelah tidur seenaknya di mushalla, saya pun ikut shalat subuh berjamaah dengan yang lainnya, kemudian melanjutkan persemedian (baca; tidur) saya di pojok mushalla yang sepi dan cukup membuat saya lelap dalam tidur. Saat bangun dari tidur, perut saya sudah keroncongan, saya pun langsung makan di KFC yang ada disono, cukup menguras dompet. Backpacker macam apa ini? makannya aja di tempat mahal. hikz.

Setelah menunggu, penerbangan saya pun tiba, dengan penuh semangat perjuangan, saya pun check in, dan langsung menunggu di ruang tunggu beberapa saat sebelum akhirnya pesawat kami siap untuk mengudara. Setelah dirasa semuanya siap, kami pun mengudara, dan seperti biasa, saya langsung tidur. Pas bangun, semua orang sudah siap-siap turun, saya sendiri yang masih molor. Kebiasaan buruk saya memang seperti ini, gampang banget tidur.

Saya langsung buru-buru turun dari pesawat, kemudian langsung menuju tempat pengambilan bagasi. fiuhhh, backpacker macam apa ini? Moso jalan-jalan bawa koper gede? haha. Saya baru sadar ternyata backpack saya yang besar sudah robek saat menjelang keberangkatan ke Jogja, jadilah alternatifnya membawa koper segede gajah ini ke Bali. Meski demikian, saya tetap membawa backpack kok #alesan.

Setelah menunggu sekian lama, sampai semua barang sudah diangkut oleh pemiliknya masing-masing, saya masih bengong sendirian, menatap ke depan dan tidak menemukan koper saya yang segede gajah itu. Fiuh,,, lari kemana itu koper?? Saya beringsut sedikit ke depan, kemudian melihat koper saya terjatuh di lantai bagian dalam, pantesan aja ditunggu bertahun-tahun nggak keluar juga tuh koper, dia malah tidur seenaknya aja di lantai. Saya langsung loncat, kemudian membawa koper itu penuh semangat sebel, hikz.

Seorang teman dari Grouf Backpacker Indonesia sudah menunggu saya di Ngurah Rai International Airport, dan kami pun langsung mencari taxi, kemudian menuju ke penginapan di Jl. Poppies Line 2, yang berdekatan dengan Pantai Kuta (Baca: Pantai sejuta Umat). Setelah check ini, kami langsung tewas di kamar, kemudian berjemur sebentar di Pantai Kuta, biar kulit saya lebih eksotis hehe.

Hujan semakin deras, dan kami pun kembali tidur di penginapan sampai maghrib. Berghhh ini mau jalan-jalan atau mau numpang tidur doang di Bali?

23 Desember 2013

1.      Pantai Lovina

Setelah puas tidur semalaman, pukul tiga pagi kami langsung cabut menuju Pantai Lovina, demi bertemu dengan lumba-lumba yang keren disono. Perjalanan dengan sepeda motor kurang lebih memakan waktu tiga jam perjalanan, lama banget, kan? Yah demi melihat lumba-lumba nggak apa-apa deh. Setelah nyasar hampir satu jam, kami pun sampai dan melihat suasana pantai yang sudah sepi, sepertinya sebagian pengunjung sudah pulang dan sudah puas melihat lumba-lumba di bagian tengah. Karena nyasar, kami jadi kesiangan, dan mungkin saja tidak bisa melihat lumba-lumba yang hanya menampakkan diri di pagi dan sore hari saja. Tapi, kami masih tetap nekad, menyewa satu perahu dengan membayar 120.000, demi melihat lumba-lumba ke tengah. Dan bahagia banget rasanya saat melihat lumba-lumba nan cantik di hadapan kami. Keren pokoknya, meski sejujurnya saya sempat mual-mual dan gemetar waktu perjalanan dari pinggir menuju ke tengah laut (ini rahasia, loh, jangan bilang siapa-siapa kalo saya mabuk laut). Tapi semua itu terbayar dengan keindahan lumba-lumba yang beramai-ramai di hadapan kami.

2.      Git Git Waterfall

Setelah puas melihat lumba-lumba, perjalanan pun dilanjutkan ke air terjun Git Git, dari pantai Lovina menuju ke air terjun ini tidak begitu jauh. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit, kami sampai di lokasi air terjun. Sayang banget waktu kesono, saya tidak membawa baju ganti. Padahal enak banget kalo mandi disini, seger. Next time kalo kesini lagi saya bakalan mandi deh. Pas di lokasi, nggak ada pengunjung selain kami berdua, berghhh, sepi dan menenangkan. Udaranya juga sejuk banget. Airnya juga nyessss dingin. Saya sempat terpeleset disini, dan membuat kaki saya sedikit terluka, tapi nggak apa-apa, kok.

3.      Bedugul

Setelah dari air terjun Gig Git, kami melanjutkan perjalanan menuju Bedugul, dan disinilah pemandangan hebat yang membuat saya terkagum-kagum; danau yang cantik, pura yang menawan, kemudian bukit-bukit yang hijau. Pokoknya seneng banget bisa kesini, pengen deh nyebur ke danau, tapi nggak bawa pakaian ganti dan nggak boleh juga ama yang jaga disana, hikz.

Kalian pernah lihat gambar yang ada di uang 50.000, ? nah itu berada di Bedugul. coba lihat deh. Saya sempat duduk di pinggir danau, kemudian menyentuh dinginnya air dengan kedua kaki, memainkan air dengan lembut. Semua terasa begitu menenangkan.

4.      Tanah Lot

Sebelum ke Tanah Lot, kami mampir sejenak ke Joger, berbelanja kaos joger yang super terkenal itu. Saya beli cuma satu, tapi ngantrinya super lama, wuahahha parah. Setelah ngantri dan bayar, kami melanjutkan perjalanan ke Tanah Lot yang terkenal dengan keindahan sunset-nya itu. Tapi sayang, hujan membasahi perjalanan kami menuju tempat ini. Kami sempat terdampar di warung makan, sebelum akhirnya memaksa diri demi melihat tanah lot, meskipun hujannya cukup deras.

Dengan memakai kain Bali, ikat kepada layaknya orang Bali, saya pun pergi ke Pura yang ada di Tanah Lot. Di Pura ini, ada sumber air yang dianggap suci oleh penduduk setempat, sedangkan saya cuma numpang foto doang.

“Kenapa nggak diminum, Mas?” tanya seorang penjaganya.

Saya cuma diam dan tersenyum. Bukan malah menjawab pertanyaannya, saya malah mengajak Bapak itu foto bersama haha.

Perjalanan hari pertama berakhir disini, setelah selesai melihat pemandangan yang ada di sekitar Tanah Lot, kami pun pulang ke penginapan dengan pakaian yang sudah basah. Meski demikian, perjalanan hari ini cukup keren. Tapi kasihan juga teman saya yang menjadi pengemudi di depan, karena saya tidak berani mengemudikan motor dengan kondisi jalan yang licin.

Setelah sampai di penginapan, langsung mandi, cari makan, kemudian langsung merencanakan perjalanan untuk keesokan harinya. Eh mencari makanan halal disini nggak susah kok. Nggak jauh dari penginapan kami ada Warung Makan Indonesia yang sudah ada sertifikat halal-nya. Selain itu ada banyak juga warung Jawa, meski memang letaknya di gang-gang sempit. Jadi nggak usah khawatir mencari makanan halal disini.