January 02, 2014

Bali, The Island of Beauty 4


26 Desember 2013

Hutan Mangrove

Setelah tiga hari sebelumnya menjelajah Bali secara full day tour, hari ini saya menjelajah lebih santai, ditemani oleh Hadi, yang merupakan teman kuliah dulu (berasa tua banget saya). Dia yang menghantarkan saya ke Hutan Mangrove yang dibudidayakan oleh dinas setempat. Hutan Mangrove ini cukup menawan, sajian mangrove yang hijau bisa kita nikmati dengan berjalan di atas jalan panggung yang sengaja didesain bagi pengunjung hutan mangrove. Sajian alam yang indah, hembusan angin yang menyejukkan bisa saya nikmati dengan baik. Namun sangat disayangkan, sampah masih saja menjadi pengganggu indahnya hutan mangrove ini.

Untuk bisa masuk kesini, kita hanya membayar 5 ribu rupiah saja. Murah banget, kan? pemandangan elok bisa kita nikmati di sepanjang jalan yang ada di dalam hutan mangrove. setelah puas mengeksplorasi hutan mangrove, saya melanjutkan perjalanan ke Pantai Sanur yang tenang.

Pantai Sanur

Saya duduk di pinggir pantai, menikmati deru ombak yang bernyanyi riang di bawah terik matahari yang tidak terlalu panas. Saya mengambil posisi di bawah pohon-pohon yang ada di bibir pantai, santai. Saya memang tidak ingin terburu-buru dengan perjalanan hari ini, saya ingin bermalas-malasan di pantai ini hingga puas. Sambil membaca buku, sesekali saya melihat lalu lalang turis lokal maupun mancanegara yang sedang menikmati keindahan pantai yang cukup terkenal dengan keindahan sunrise-nya. Pantai inilah yang membuat sekian banyak orang rela bangun pagi, menuju sanur demi melihat keindahan matahari terbit. Tapi saya belum bisa menikmati keindahan itu.

Setelah cukup puas dengan keindahan pantai sanur, saya pulang ke rumah teman untuk mengambil pakaian dan kembali lagi ke penginapan. Setelah istirahat, tidur sejenak, saya langsung mengganti pakaian dengan pakaian santai, menuju Pantai Kuta yang terkenal dengan keindahan sunset-nya yang menakjubkan. Bahkan, konon Pantai Kuta memiliki sunset terindah.



Saya bermalas-malasan di bibir pantai, menjentikkan jari-jari di atas pasir, sambil menikmati hembusan angin yang sejuk. Matahari mulai perlahan kembali ke peraduannya, pengunjung semakin banyak yang berdatangan. Pantai ini adalah pantai sejuta umat yang menjadi salah satu pantai yang wajib dikunjungi jika berkesempatan ke Bali. Padahal, pantai kuta dipenuhi oleh tumpukan sampah yang tak pernah habis. Meski demikian, pengunjung tetap saja penuh. dan saya adalah salah satu pengunjung pantai ini di kala senja. Hampir setiap senja saya disini, dan tidak pernah bosan.

27-28 Desember 2013

Setelah empat hari sebelumnya sangat sibuk, saya ingin menghabiskan dua hari terakhir di Bali dengan bersantai ria di penginapan, mandi pantai, jalan-jalan di pusat perbelanjaan, nonton di Mall, berburu oleh-oleh, atau hanya sekadar berbagi cerita dengan teman-teman dari berbagai macam negara yang kebetulan menemani di hari-hari terakhir di Bali; ada Sa’id dari Dubai, Queen dari Francis, Joey dari Australia, dan beberapa orang lainnya.

Meski kami berasal dari negara yang berbeda, tapi kami semua tetap kompak. Mereka dengan setia mengajari saya bagaimana cara surfing, meski akhirnya saya harus menahan sakit karena dihantam oleh papan surfing yang berukuran lebih besar dari badan saya. Tapi tidak mengapa, saya menikmati detik demi deti masa liburan ini dengan bahagia.

Jika malam tiba, biasanya teman-teman pada sibuk dengan gemerlap dunia malam di Legian, sedangkan saya hanya di penginapan, kadang mandi di kolam renang, kadang mandi di pantai kuta meski dengan cahaya yang temaram. Saya bahagia melakukan itu semua.

Pada akhirnya, perjalanan demi perjalanan yang akhir-akhir ini semakin saya cintai, mengajarkan saya akan banyak hal. Travelling menjadikan saya seseorang yang lebih baik lagi; lebih aktif dalam berbicara, lebih percaya diri, lebih bisa hidup sederhana, lebih bisa mengatur diri sendiri dengan baik, lebih banyak teman, dan masih banyak lagi hal-hal baik yang saya dapatkan dari sebuah perjalanan. Kata Sa’id, jalan-jalan itu membuat kamu semakin tampan, dan kami pun terkekeh bersama-sama di senja yang semakin gelap.

Jika saya membandingkan saya yang sekarang dengan saya yang dulu, ada banyak sekali perbedaan. Sekarang saya dengan mudahnya pergi kemana saja meski saya belum mengenal siapa pun di tempat yang akan saya tuju. Saya lebih berani, saya lebih mengenal budaya suatu daerah, saya lebih banyak tahu tentang aneka ragam manusia yang menjadi penghuni alam raya ini. Perjalanan demi perjalanan mengajarkan saya akan kedewasaan diri. Saya lebih terbuka, saya lebih pandai dalam menilai sesuatu, dan saya semakin cinta pada-Nya, yang telah menciptakan alam raya nan indah ini.

Dua orang sahabat saya, Anssi dan Jonash akan segera kembali ke Finland. Saat sudah berada di Malaysia, Jonash Said “if I had more time here, I would come back to Indonesia again.” Selamat kembali sahabatku, semoga pertemuan demi pertemuan akan tetap ada, meski jarak yang cukup jauh di antara kita. Saya bahagia bisa mengenal kalian sejak beberapa bulan yang lalu.

Jika ada yang bertanya, mengapa kamu mau membuang-buang waktu hanya untuk sebuah perjalanan? Maka saya tidak akan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang panjang lebar.

“Mulailah perjalananmu, dan rasakan betapa banyak pelajaran hidup yang bisa engkau dapatkan dalam sebuah perjalanan.”

Jadi, mengapa tidak mencoba sendiri?
Mari berpetualang.

Bali, The Island of Beauty 3


25 Desember 2013
Awalnya saya dan seorang teman saya akan menyewa motor, karena tiga orang teman lainnya ingin bermain water spot di Tanjung Benoa. Intinya kami memiliki tujuan yang berbeda hari ini. Akan tetapi, saya takut hujan kembali menemani perjalanan, sedangkan tujuan perjalanan hari ini cukup jauh; Ubud dan Kintamani. Perjalanan dari Kuta ke Ubud dan Kintamani kurang lebih memakan waktu dua jam perjalanan, bolak-balik sudah empat jaman, dan jika macet tentu akan lebih lama lagi.

Ubud terkenal dengan keseniannya, ada banyak ragam kesenian disana, di sekitarnya juga ada Monkey Forest, Pasar Sukowati yang terkenal dengan pusat oleh-oleh khas Bali, dan lain sebagainya. Sedangkan Kintamani terkenal dengan Danau dan Bukit Baturnya.

Setelah menggunakan rayuan maut (lebay), akhirnya saya berhasil membujuk tiga orang teman yang lain untuk kembali menyewa mobil, mereka menunda perjalanan demi ke Ubud dan Kintamani. Yeayyyy, ini namanya penghematan. Kalo nyewa mobil hanya untuk berdua saja, jatuhnya mahal jendral.

Ubud

Pukul 8.30 pagi, kami baru berangkat menuju Ubud, di perjalanan, saya sudah molor lagi, hadeuhhh kebiasaan molor saya itu emang udah parah banget, jarang banget nggak tidur dalam perjalanan. Setelah menempuh perjalanan cukup lama, sampailah kami di Ubud, menikmati aneka ragam kesenian di sepanjang jalan yang membuat saya terkagum-kagum dengan kreatifitas masyarakat Bali yang mendunia. Saya hanya bisa menjadi penikmat seni, tanpa punya nyali untuk memiliki kesenian yang ada di hadapan saya haha, lebih tepatnya harganya itu super deh, langsung ciut dompet saya. Kan ceritanya backpacker #alesan

Kami masuk ke Museum Antonio Blanco, sebuah museum yang menyimpan berbagai macam lukisan karya Antonio Blanco yang mendunia. Antonio Blanco adalah pelukis dunia, kemudian menikah dengan perempuan Bali, dan lukisan-lukisan si Antonio Blanco ini di pajang di rumah yang menjadi tempat tinggalnya di Ubud. Museum ini rada nggak pantas kalo mengajak anak-anak di bawah umur, karena lukisan-lukisan yang ada rada ehm gimana gitu, ya kalian pasti pahamlah dengan apa yang saya maksud hehe.

Di dalam museum ini juga terdapat ruangan yang biasa dipakai Antonio Blanco untuk melukis dan sekarang dipakai anaknya sebagai tempat untuk melukis juga. Sebuah karya seni yang luar biasa hebat, meski awalnya saya nggak ngeh dengan arti dari sekian banyak lukisan yang ada. Untung ada guide yang menjelaskan semua lukisan yang ada di dalam museum, barulah saya paham sedikit (doang) tentang arti lukisan-lukisan yang ternyata sebagian besar adalah istri, anak, cucu dan lain sebagainya.

Kintamani
Setelah puas melihat semua lukisan yang ada, kami melanjutkan perjalanan ke daerah Tampak Siring. kemudian perjalanan kembali dilanjutkan ke Kintamani. Untung saya dan teman-teman menggunakan jasa sopir dan mobil, karena jalan menuju kesana rada mengerikan menurut saya; jalanan berbukit yang rada kurang aman buat saya yang amatiran dalam mengendarai sepeda motor hehe.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami sampai juga di Kintamani. Dari atas kami bisa melihat danau yang jernih, bukit batur yang menjulang, dan perbukitan yang dipenuhi dengan pepohonan hijau. Cuaca di Kintamani rada dingin, jadi mendingan kalian bawa sweater kalo kesini.

Tidak ingin hanya menikmati keindahan dari atas, kami memutuskan untuk turun ke bawah dan menuju Desa Trunjan yang terkenal itu. Jalan menuju ke Desa Trunjan ini rada horor, sempit, berkelok-kelok, tebing dan pada rusak. Fiuhh, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit dari bagian puncak, akhirnya sampai juga di Trunjan, sebuah desa di tepi danau Batur yang cantik.

Rasanya saya pengen teriak sekencang-kencangnya disini, kemudian langsung mandi di danau yang jernih. Keren banget pokoknya. Saya duduk di pinggir danau, kemudian bermain dengan anak-anak yang sedang mandi. Saya menjejakkan kedua kaki ke danau dan nyessss, dingin banget. Saya semakin bahagia menikmati hembusan angin yang menyejukkan.  Di Desa Trunjan ini terdapat pura tertua di Bali, dan tertutup untuk umum, karena merupakan tempat ibadah warga sekitar.

Sejak awal, saya memang sudah membaca tentang Desa Trunjan yang rada horor, konon setiap warga yang meninggal dunia hanya diletakkan begitu saja di bawah sebuah pohon besar yang berada di seberang danau, dan anehnya lagi, jenazah itu sama sekali tidak menimbulkan bau busuk. Meskipun jenazah hanya diletakkan begitu saja, tanpa dikubur, akan tetapi sama sekali tidak menimbulkan bau tidak sedap. Saya penasaran dengan tempat itu.

Untuk menuju tempat warga meletakkan jenazah warga yang meninggal dunia, kami harus menyewa sebuah perahu kecil, dengan waktu tempuh hanya tujuh menit lamanya. Setelah sampai, kami disambut oleh beberapa orang yang menjaga tempat peletakan jenazah. Suasana pun semakin horor haha, saat melihat jenazah berbaris rapi, dilengkapi dengan sekian banyak tengkorak yang disusun rapi di bagian bawah pohon.
Saya penasaran dengan mayat-mayat yang ada disana, kemudian memberanikan diri untuk mendekat and you know what? Ada jenazah yang kayaknya belum terlalu lama diletakkan, soalnya masih ada kulitnya dan memang tidak menimbulkan bau sama sekali. Bagi kamu yang rada takut dengan mayat, mending nggak usah kesini, soalnya rada horor sih menurut saya. Kalo saya ini kan memang pemberani, jadi nggak apa-apa kalo ketemu mayat #dijitak

Di setiap jenazah, ada barang-barang yang memang sengaja diletakkan, yang tidak lain adalah barang-barang kesukaan si mayit saat masih hidup. Jadi kalian bisa membayangkan, ada botol minuman, tape gede, baju, dan lain sebagainya. Sayang banget, kan? Gimana kalo ternyata bareng kesukaannya saat hidup adalah Mobil? Harus bawa mobil juga, gitu? #plak

Sayang banget, tempat ini sama sekali tidak terawat. Barang-barang yang diletakkan di jenazah tidak tersusun rapi, jadi kalo sudah ada yang menjadi tengkorak, tengkoraknya disusun rapi, sedangkan barang-barang yang ada hanya dibiarkan menggunung di samping tempat peletakan jenazah. Jadi kesannya kotor banget.

Setelah cukup menikmati pertemuan dengan mayat dan tengkorak, haha, liburan macam apa ini tujuannya ketemu mayat dan tengkorak. Eh tapi aneh juga, sih, Cuma karena satu pohon gede itu, mayat disana nggak bau busuk. Keren. Kami pun kembali ke seberang, dan langsung menuju mobil. Rencana selanjutnya adalah mencari tempat untuk mengisi perut yang sudah teriak meminta asupan gizi.

Setelah makan siang, kami memilih untuk langsung kembali ke Kuta, dan menyempatkan diri untuk berbelanja di Krisna, yang merupakan salah satu tempat berbelanja oleh-oleh khas Bali. Malam sudah larut banget, kami pun pulang dan istirahat. Satu orang teman saya malam ini sudah harus pulang, sedangkan tiga orang lainnya besok akan bermain Water Spot di Tanjung Benoa dan saya memilih untuk check out dari penginapan dan menginap di rumah teman yang sejak awal mengajak untuk stay di rumahnya. Saya hanya berencana stay sehari saja di rumahnya, kemudian akan kembali ke penginapan.

Perjalanan hari ini hanya sampai disini saja, esok hari akan saya lanjutkan lagi perjalanan menjelajah seorang diri di Bali.