March 21, 2014

Menulis dan Membaca Itu Membahagiakan




“Buku yang kubaca selalu memberi sayap-sayap baru, membawaku terbang ke taman-taman pengetahuan paling menawan, melintasi waktu dan peristiwa, berbagi cerita cinta, menyapa semua tokoh yang ingin kujumpai, sambil bermain di lengkung pelangi.”
(Abdurrahman Faiz)

Setelah dua hari rehat sejenak di kamar, karena kondisi kesehatan saya yang akhir-akhir ini mudah lelah, hari ini saya kembali masuk dan tentunya bertemu dengan anak-anak didik saya yang nyerocos nanya banyak hal pas bertemu mereka. Dan saya? Hanya bisa tersenyum manis, sambil menjabat tangan mereka dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka penuh semangat. Meski sebenarnya sejak tadi saya sudah di depan laptop, menulis alias curhat di blog karena sudah jarang nulis di blog.

Kalian tahu, nggak? Masa nggak tahu, sih? Seriusan nggak tahu? #dijitakrame-rame

Selalu ada yang nyesek kalo saya belum nulis. Di otak saya bertebaran ide-ide yang minta segera ditulis. Di otak saya berseliweran berbagai macam curhat yang ingin saya tulis haha dasar tukang curhat. Eh tapi beneran loh, plong banget rasanya kalo sudah nulis itu. Semacam ada energi baru yang tiba-tiba saja memompa semangat saya selanjutnya. Jadi, mengapa saya harus berhenti menulis? Kalo ternyata menulis itu membahagiakan diri saya.

Saya mulai mencintai dunia tulis menulis sejak dahulu, zaman saya masih unyu-unyu banget #kalem. Saya itu laki-laki yang sampai hari ini masih suka bawa buku Diary kalo bepergian. Selalu saja ada yang saya tulis di buku catatan harian yang gedenya segede wajan itu wuahhaa. Mulai dari hal yang sepele, sampai hal yang serius pun tak luput saya tulis.

Kadang saya tertawa geli, jika membuka kembali diary saya dari tahun ke tahun.

“Ih, kok saya norak banget dulunya, masa pede banget ikutan Indonesian Idol, padahal  bisa nyanyi aja kagak,” begitu komentar saya tadi malam, saat membuka kembali catatan harian saya beberapa tahun yang lalu saat masih menjadi mahasiswa di Jakarta.

“Ya ampunnnn, aku sampe segitunya?”

Saya bergumam sendiri lagi, saat membaca tulisan saya yang menceritakan kebiasaan unik saya yang bikin heboh satu asrama kalo pas akhir pekan. Kalian mau tahu? Duhhh….please jangan diketawain. Jadi, duluuuu banget, kalo pas weekend, saya suka nyanyi sendirian di kamar, sambil menghadap camdig, kemudian direkam. Tenang, nggak saya upload di youtubue, kok, Cuma saya koleksi sendiri aja dan tertawa saat melihat hasil rekamannya wuahha. Barusan saya cek video-video  rekaman saya yang ternyata masih tersimpan rapih di laptop dan saya pun tertawa, senyum-senyum sendiri di pojokan wuahaha.


Menulis dan membaca adalah dua hal yang paling saya sukai. Saya suka menulis, saya suka membaca. Biasanya, tiap awal tahun, saya membuat target, berapa banyak buku yang harus saya baca selama satu tahun yang akan datang. Sok keren, ya? Haha tapi ya begitulah, saya suka membuat target-target sendiri demi menambah wawasan bagi diri. Kasihan otak saya kalo tidak diberi asupan pengetahuan, mentoknya gitu-gitu aja nanti.

Menulis dan membaca adalah dual hal yang membuat saya semakin hidup. Maka saya sering bingung kalo ada rekan guru yang bilang nggak punya waktu untuk membaca. Duh… helloooo, haha, emang sesibuk itu kah? Hehe 

Pernah suatu ketika, saat dalam rapat, saya bilang gini,
“Saya punya banyak buku-buku yang bisa dijadikan rujukan bagi kita para Guru, agar bisa memahami anak-anak yang berkebutuhan khusus yang ada di sekolah kita, jadi kita tidak menganggap mereka sebagai anak-anak yang jadi sumber masalah. Andai kita mau lebih banyak belajar lagi, saya rasa kita akan lebih mudah dalam menghadapi mereka.”

Dan berikut jawaban yang saya terima
“Buku? Lah, nggak punya waktu untuk membaca. Membaca buku-buku paket saja sudah bikin pusing, apalagi baca buku-buku yang lain.”
Dan saya hanya bisa tersenyum, kemudian membuat kesimpulan bahwa ada banyak rekan Guru yang minim sekali minat bacanya. Bukan tidak minat, tapi minim.
Atau pernah suatu ketika, ada Guru yang duduk di meja kerja saya, sementara saya sedang di luar. Pas pulang, kemudian beliau nanya;
“Buku-buku tebal yang ada di meja itu punya Ustadz?”
“Iya,” jawab saya sambil melukis senyum.
“Tebal-tebal banget, pusing ngelihatnya.”
Dan lagi, saya hanya bisa tersenyum.
Anyway, membaca itu nggak harus langsung selesai sekali duduk. Nggak gitu juga, semuanya butuh proses. Kalo bukunya tebal, ya bertahap, jangan maksain sehari harus selesai sementara ada banyak kerjaan yang harus kita selesaikan.
Saya suka memanfaatkan waktu luang saya dengan membaca, jadi kemana-mana saya memastikan ada buku yang saya bawa. Entah pas nunggu bus, di dalam bus, di airport, nunggu jam tayang film (kalo lagi di bioskop) dan lain sebagainya. Buku seolah menjadi salah satu barang wajib yang harus ada di dekat saya.

“Buku lama adalah buku baru bagi mereka yang belum membacanya.” (Samuel Butler)

Beberapa mahasiswa yang ada di sekeliling saya sering aneh melihat saya yang suka berburu buku bekas haha. Iya, saya suka berbelanja buku bekas, tapi kualitas ok. Saya tidak mau membeli buku bajakan atau KW atau apalah namanya. Saya memastikan buku yang saya beli adalah asli dari penerbitnya, meskipun bekas. Karena itu adalah karya, dan saya ingin menghargai mereka yang sudah menghasilkan karya dalam bentuk buku.
Saya suka browsing, mencari yang jualan buku-buku bekas, dan itu sangat menyenangkan bagi saya. Saat buku-buku itu sampai ke tangan saya, saya bersorak gembira luar biasa, seperti ketemu jodoh #modus. Haha

Eh tapi beneran loh, dan sampai hari ini Alhamdulillah saya nggak pernah tertipu meski sering berbelanja buku online bekas. Buku-buku yang dijual masih terawat dengan baik, meski second. Untuk ukuran saya yang berpenghasilan seadanya, tentu buku-buku baru masuk dalam kategori mahal, walaupun sebenarnya setiap bulan saya sudah punya jatah khusus untuk membeli buku-buku yang juga baru. Nggak cuma buku second yang saya beli, tak jarang pula saya membeli buku baru.

Untuk buku baru, saya lebih suka berbelanja online, karena biasanya dapat diskon. Saya langsung beli dalam jumlah yang banyak, jadi bisa dapat diskon banyak. Ongkos kirim juga nggak sampai bikin kantong saya jebol, toh saya juga sudah dapat diskon, jadi saya masih tetap untung. Akhir-akhir ini saya jarang beli buku di Gramedia, dan toko buku lainnya. Lebih sering kelayapan di dunia maya dan beli buku online.

Saya tentu semangat banget menularkan hobi baca saya ini kepada anak-anak yang ada di sekeliling saya. Saya persilahkan mereka meminjam buku-buku bacaan saya, dengan syarat harus dikembaliin dong haha. Ingat, harus dibalikin tuh buku. Nggak jarang juga mahasiswa-mahasiwa yang ada di sekeliling saya ikut numpang baca di kamar, atau pinjam buku. Saya senang dong kalo mereka mau membaca. 

Sekarang, saya sedang membaca buku-buku karya  Torey Hayden, dia  adalah seorang Bachelor of Art bidang Kimia Fisika di Whitman College, Walla Walla, Washington. Ketertarikannya kepada dunia anak-anak berkebutuhan khusus mengantarkan wanita bernama lengkap Victoria Lynn Hayden ini untuk mengambil gelar master di bidang pendidikan khusus. Torey, begitulah panggilan akrabnya, juga sempat meneruskan pendidikannya di tingkat doctoral, namun tidak diselesaikannya.

Saya memang memiliki ketertarikan sendiri terhadap anak-anak berkebutuhan khusus ini, dan itu membuat saya harus membaca berbagai macam buku yang berkaitan dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Semakin banyak membaca, saya semakin mengerti akan mereka dan itu sangat membantu saya kala berhadapan dengan mereka.
Setelah membaca beberapa karya Torey Hayden, maka tak heran, jika banyak dari orang tua, pendidik anak berkebutuhan khusus, maupun psikolog yang menjadikan buku-buku yang lahir darinya sebagai rujukan. Buku-buku karya Torey ini begitu luar biasa. Saya suka dan langsung menyerbu karya-karyanya yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Saat ini, ada kurang lebih 20 puluh buku yang baru saja saya siapkan, yang Insya Allah akan diselesaikan dalam jangka waktu dua bulan ke depan. Ada bahagia, saat membacai lembar demi lembar, memahami, dan bisa menyampaikan apa yang saya dapat kepada orang lain dari buku-buku yang saya baca. Ada bahagia yang menyeruak tiap kali berhasil menyelesaikan target bacaan dan mengambil manfaat dari bacaan-bacaan yang ada.

You should read ,, saya sudah mulai sejak dulu rajin membaca, kamu?

Les Bahasa Inggris (Lagi)


Les tambahan penting, nggak sih?

Saya pernah mengajukan pertanyaan ini kepada beberapa murid saya dan mereka memiliki jawaban tersendiri tentang keputusan yang mereka ambil. Dan saya menghargai itu.

Hari ini, saya pun akhirnya akan memulai menjadi salah satu peserta kursus Bahasa Inggris (lagi), tidak tanggung-tanggung, saya akan mengikuti les Bahasa Inggris setiap hari Senin sampai dengan Jumat, dari pukul 15.30 sampai 17.00, kebayang gimana capeknya? Padahal setiap hari saya harus kerja sampai pukul 14.30.

Sekarang saya les di dua tempat, di LIA dan UPT Bahasa Universitas Jendral Soedirman.
Saya sudah ikut les di LIA sejak beberapa bulan yang lalu, dan saya merasakan perkembangan yang cukup baik, baik dari pengucapan, dan juga tata bahasa. Sedangkan di UPT Bahasa Unsoed baru akan dimulai pekan depan, hari ini adalah pretest.

“Ustadz, ngapain ikutan les, bukannya udah pintar Bahasa Inggris?” Tanya beberapa anak didik saya.
Pintar? Haha

Saya itu memang aktif berbicara Bahasa Inggris, karena memang pernah punya obsesi besar terhadap Bahasa Inggris pas kuliah dulu.

Sejak SMP dan SMA, Bahasa Inggris adalah pelajaran yang paling menakutkan bagi saya dan saya paling malas belajar Bahasa Inggris. Sudah berbagai macam cara dilakukan agar saya suka dengan yang berbau Inggris ini, tapi tetap saja gagal dan saya tidak pernah menyukainya.

Sampai akhirnya, saat saya mendapatkan beasiswa Sarjana di Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta, saya dituntut untuk bisa berbahasa Inggris. Ah, saat itu rasanya seperti disuruh makan sesuatu yang tidak saya sukai. Kesel dan malu juga tiap kali diminta berbicara Bahasa Inggris, tapi saya hanya bisa bengong, bahkan saya pernah diketawain karena tidak bisa mengeja tulisan dosen di papan tulis. Iya, saya pernah ditertawakan sedemikian rupa oleh mahasiswa-mahasiswa lain.

Sejak saat itu, saya memutuskan untuk ambil les di LIA, karena memang LIA yang dekat dengan kampus. Ada English First yang terkenal itu, tapi biayanya selangit untuk ukuran mahasiswa yang hanya mengandalkan beasiswa untuk hidup di tanah rantau yang baru saya tempati.

Cukup lama saya ikut les, hampir tiga semester, dan yang saya ambil saat itu adalah Conversation. Dalam jangka waktu satu semester, saya bisa cuap-cuap di kelas, yang awalnya ditertawakan, akhirnya dijadikan tempat untuk bertanya setiap kali ada tugas Bahasa Inggris. Setiap akhir pekan, saya pergi ke Kota Tua, yang kebetulan dekat rumah Mami, seseorang berhati mulia yang menjadi Ibu saya di rantauan. Saya berusaha untuk bisa berbicara bahasa Inggris dengan beberapa turis yang saya temui, yang penting yang saya ajak bicara bisa paham dengan apa yang saya ucapkan, saya tidak terlalu memerhatikan tata bahasa.

Bahasa itu sebenarnya tergantung kebiasaan. Meski kamu hafal ribuan kosa kata dalam bahasa tertentu, tapi nggak pernah kamu praktikkan, kamu nggak akan bisa ngomong dengan bahasa yang sedang kamu pelajari. Jadi pas les, saya selalu berusaha mempraktikkan apa yang diajarkan oleh guru saya di tempat les.

Di kampus, setiap kali ada acara, saya sering diminta menjadi MC. Suatu ketika, saat saya sedang berada di istana Negara, saat acara Maulid Nabi (kalo nggak salah), saya sempat diminta untuk menggantikan penerjemah bagi para duta besar. Karena penerjemah yang diberi tugas oleh pihak istana terlambat datang. Saya harus masuk ke dalam suatu ruangan, memakai headset, kemudian diminta untuk membaca teks yang sudah diberikan. Setiap MC utama berbicara, harus saya terjemahkan sesuai teks yang sudah ada di hadapan saya. Tidak sulit memang, toh saya hanya diminta untuk membaca teks yang sudah ada. Tapi, nggak begitu lama kemudian, penerjemah datang dan saya lolos dari ketidaknyamanan itu haha. Padahal sudah keringatan, meski diruangan yang full AC, secara istana Negara, mana ada panas.

Nah, sekarang, saya ingin memperbaiki kemampuan Bahasa Inggris saya yang masih jauh dari kata bagus. Saya nol dalam hal Tata Bahasa, saya buta jika ditanya dengan hal-hal yang berkaitan dengan aturan bahasa dan sebangsanya. Saya nyerah kalo disuruh nulis dalam bahasa Inggris, karena dituntut untuk bisa tata bahasa. Ah, saya jadi malu dengan diri sendiri, Cuma bisa ngomong tapi nggak paham dengan aturan bahasa yang ribet ituh #elusdada.

Saya itu cuma bisa ngomong sedikit saja, bisa reading juga sedikit #hening, selebihnya saya nggak paham. Fiuhhh ngapain aja saya selama ini.
Karena masih sangat kurang dengan Bahasa Inggris, saya memutuskan untuk belajar tata Bahasa, baik belajar mandiri maupun belajar dengan ikut les tambahan.
Sekarang saya mulai sibuk, mulai pekan depan, saya sudah siap dengan rutinitas les yang membuat saya bakalan lebih lelah dari sebelumnya. Tapi saya sudah siap kok dengan kesibukan baru ini, toh ini adalah pilihan saya.

Dalam hidup, kadang kita dihadapkan dalam pilihan-pilihan, dan setiap pilihan yang kita ambil selalu memiliki resiko tersendiri, bukan? Tidak ada pilihan yang tidak beresiko, entah itu baik maupun buruk, dan setelah kita memutuskan untuk memilih, kita harus siap menjalani semuanya dengan baik, kan? 

Sebenarnya, ini juga bagian dari persiapan saya yang sedang sibuk menyiapkan diri untuk melanjutkan kembali Studi saya yang sempat tertunda, dan saya selalu berdoa semoga Tuhan memberi saya kemudahan dalam melanjutkan cita-cita saya. Hidup saya harus terus menjadi lebih baik dari sebelumnya, harus ada kemajuan-kemajuan yang saya targetkan, untuk bisa menjadi lebih baik lagi.

Bukankah orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari sebelumnya?
Saya ingin menjadi lebih baik lagi, tentunya.
Semoga Allah memberkahi.

Trauma Masa Lalu


Sudah 3 Minggu saya itu bikin susah orang lain, kemana-mana harus diantarin, harus dijemput, bahkan tidur pun harus ditemani untuk jangka waktu beberapa waktu, karena kadang saya bangun di tengah malam dan merasakan nyeri di bagian luka bekas operasi, kadang susah bangun sendiri, harus dibantu.

Sebenarnya, saya bisa saja pergi kemana-mana sendiri dengan motor, tapi nyali saya ciut karena pernah sekali saya pakai motor dalam kondisi luka operasi di bagian perut belum kering dan itu berhasil membuat saya sedikit trauma, karena konsentrasi saya terpecah, antara mengemudikan motor dan menahan sakit karena gesekan celana terhadap luka bekas operasi yang ada di bagian bawah perut sebelah kanan.

Sejak saat itu, selama hampir 3 Minggu kemarin, saya selalu diantar jemput, karena tidak berani mengendarai sepeda motor sendiri. Cemen, memang, tapi mau gimana lagi, saya tidak punya keberanian untuk melakukan semuanya sendiri. Saya tidak pernah mau bikin repot orang untuk antar jemput saya, tapi kali ini situasinya berbeda.

Saya sangat berterimakasih kepada siapa saja yang selama ini sudah dengan setia mengorbankan banyak waktu untuk menjaga saya, bahkan setia mengantar saya setiap pagi ke sekolah, dan tidak lupa menjemput saya di sore hari. Saya sangat menghargai itu, dan saya sangat berterimakasih atas semua pengorbanan kalian. Saya sama sekali tidak bermaksud menjadikan kalian budak, yang harus patuh dengan apa yang saya inginkan, sama sekali tidak. Tapi keadaanlah yang membuat saya seperti ini. Toh dulu saya tidak pernah mau bikin repot kalian, bukan? Hehe

Tadi malam, dalam sujud panjang saya di hadapan Allah SWT., saya menangis, mengadu pada-Nya, agar saya segera diberi kekuatan dan keberanian untuk kembali menjadi diri saya yang mandiri seperti tiga pekan sebelumnya, dimana saya bisa melakukan sebagian besar kegiatan saya sendiri. Saya membulatkan tekad, bahwa hari ini, saya harus berangkat sendiri, tanpa perlu diantar jemput. Saya memberanikan diri untuk menatap sepeda motor yang sudah hampir satu bulan tidak saya tunggangi. Ada sedikit takut yang kemudian menghantui saya, tapi saya harus berani, bukan? 

Saya duduk di atas motor, kemudian menarik nafas dalam-dalam, berdoa, semoga semuanya baik-baik saja. Sedikit lebay, kah? Iya, anggap aja ini lebay, tapi saya memang dihantui oleh berbagai macam pemikiran yang aneh tiap kali naik sepeda motor. Tapi, saya percaya, bahwa saya bisa dan Alhamdulillah semuanya bisa berjalan dengan baik, meski saya sangat pelan mengendarai sepeda motor butut saya ini.

1,5 tahun yang lalu, saya pernah trauma mengendarai sepeda motor, setiap kali naik sepeda motor, saya selalu berhalusinasi di hadapan saya ada orang-orang yang berlumuran darah dan itu berhasil membuat saya berhenti dan segera memindahkan sepeda motor saya ke pinggir. Iya, saya pernah setrauma itu. Bermula dari saya menyaksikan langsung orang yang tabrakan, semuanya selalu teringat dan itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Hampir 7 bulan lamanya saya mengalami trauma itu. Tapi saya tidak bikin repot orang lain kala itu, karena saya sengaja membeli sepeda dan selama 7 bulan itu saya selalu pergi menggunakan sepeda, pelan dan dengan sangat hati-hati dan saya selalu memilih jalan pinggir, bahkan bisa dibilang sangat pinggir. Kadang saya memilih naik ke trotoar, karena takut dengan kendaraan yang lalu lalang.

Tapi, kali ini beda. Saya tidak diizinkan naik sepeda, karena takut apa yang baru saja saya alami kembali berulang, dan itu artinya saya harus diantar jemput kemana-kemana, dan itu tentu bikin repot orang lain, bukan? Meski saya selalu percaya ada banyak orang baik di sekitar saya yang siap membantu saya. Tapi, sampai kapan? Bukankah mereka juga mempunyai kegiatan lain?

Terimakasih, Tuhan, karena sudah mengirimi saya orang-orang baik yang dengan tulus membantu saya kala saya tidak bisa mandiri berpergian, saya sangat menghargai apa yang mereka lakukan. Saya sangat respect pada mereka semua. Terimakasih

Maaf, andai selama kurang lebih 3 Minggu belakangan saya selalu membuat kalian repot. Semoga kebaikan selalu menyertai kalian dan semoga Allah SWT. menempatkan kalian di sisi-Nya yang Ia Ridhai segala langkah perjalanan kalian. Semoga semua urusan kalian diberi kemudahan karena kalian sudah memberi saya kemudahan dalam menjalani semua aktifitas saya belakangan ini. Saya tidak perlu khawatir, karena nyatanya kalian selalu ada untuk saya, menemani saya dan membantu saya melakukan banyak hal. 

Dulu, saat saya trauma untuk yang pertama kalinya, saya sempat konsultasi dengan seorang psikolog dan saya diberi wejangan yang akhirnya membuat saya semakin bisa mengontrol pikiran saya, dan yang paling saya utamakan adalah bersujud di hadapan-Nya, memohon agar semua bisa kembali menjadi lebih baik lagi. Saya memperbaiki ikatan hati saya dengan Tuhan, dan dengan demikian saya bisa merasakan ketenangan dalam menjalani semuanya.

Dan pagi ini, saat anak-anak sedang sibuk bersiap diri melaksanakan rutinitas di hari Jumat, saya berusaha menuliskan ungkapan ini, sebagai rasa terimakasih saya kepada siapapun yang selama ini sudah menjaga saya dengan baik.
Terimakasih kepada Tuhan yang sudah menjaga hati saya agar tetap mencintai-Nya
Terimakasih kepada seluruh Tim Dokter yang begitu baik dan memberi saya pelayanan terbaik kala saya berada di rumah sakit.
Terimakasih kepada anak-anak binaan saya di Pesantren Mahasiswa Mafaza
Terimakasih khususnya kepada Jaenal Aripin yang paling sering saya repotkan
Terimakasih kepada semua rekan Guru yang juga dengan tulus mengerti saya
Terimakasih kepada anak-anak didik saya yang rela berkorban banyak demi saya, rela turun ke lantai satu saat pembelajaran yang semestinya di lakukan di lantai 4, karena saya masih belum berani naik turun tangga dengan ketinggian yang demikian.
Terimakasih kepada para security dan rekan TU yang juga sudah banyak berkorban demi saya, antar jemput saya ketika ada tugas di luar sekolah sementara saya tidak mungkin meminta anak-anak Pesma mengantar saya.
Terimakasih kepada para wali murid yang sudah meluangkan waktu untuk menemui saya di Rumah Sakit
Terimakasih kepada siapapun, yang tidak mungkin bisa saya sebutkan satu persatu dalam tulisan ini.

Akhirnya, semoga kita semua menjadi hamba Allah yang selalu taat akan-Nya, yang selalu percaya bahwa seberat apapun cobaan yang kita alami, Tuhan harus selalu ada di hati kita. Tidak boleh ada sedikiti pun keraguan akan kuasa-Nya, karena kita terlalu kerdil untuk bisa memahami betapa indah kuasa-Nya.