August 15, 2014

Bertemu Orang-orang Hebat

Teman satu kamar waktu di rumah singgah pascasarjana UIN Malang
13 Agustus 2014
Di dalam kampus pascasarjana, ada guest house yang disediakan oleh pihak kampus. Saya belum langsung memesan kamar, belum bertanya lebih lanjut tentang harga dan fasilitas yang tersedia, karena ingin berkeliling kota terlebih dahulu sampai esok hari. Perjalanan saya semakin panjang, sedari siang sampai lepas isya, saya pergi menempuh perjalanan sekian jauh untuk mengenal keindahan kota malang baik kala siang maupun malam. Malang adalah kota yang cantik dan teduh. Saya mulai jatuh cinta dengan kota ini.
Jarum jam di tangan sudah menunjukkan pukul sembilan malam, setelah seharian berkeliling ke berbagai macam tempat, saatnya untuk kembali, mencari tempat untuk istirahat. Dari masjid alun-alun kota saya kembali ke masjid Universitas Muhammadiyah Malang, namun sudah gelap, tidak ada tanda-tanda kehidupan di masjid ini. Tidak ada terlihat aktifitas jamaah di dalam masjid, semua sudah gelap. Ada tiga orang mahasiswa yang berjaga di salah satu kamar yang ada di masjid, Saya menghampiri mereka, menanyakan kemungkinan ada kamar untuk transit sementara. Biasanya, di masjid-masjid besar, disediakan kamar-kamar untuk transit bagi mereka yang datang dari jauh sebagai wujud pelayanan terhadap ummat. Namun sayang, masjid sebesar ini tidak menyediakan kamar transit.
Malam semakin larut, udara malam semakin menusuk kulit. Jaket yang  saya bawa sudah kotor dan berbau. Saya hanya membawa satu jaket, terpaksa saya memakainya kembali meski sudah bau dan kotor, agar tubuh tetap hangat di tengah dinginnya udara. Saya berjalan menuju pom bensin yang bersebelahan dengan masjid, masuk ke dalam mushalla kecil di dalamnya, berselonjor, kemudian membuka laptop dan berselancar sejenak di dunia maya mencari penginapan di sekitar UMM. Saya mencoba menghubungi beberapa hotel, namun kebanyakan penuh. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke hotel Helios yang tidak jauh dari stasiun Malang. Hotel ini banya direkomendasikan oleh para traveller.
Angkutan sudah sepi, bahkan mungkin sudah tidak ada lagi yang beroperasi di jam segini. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih. Dengan bantuan seorang tukang ojek, Saya pergi ke beberapa penginapan yang lain, karena ternyata penginapan Helios sedang penuh. Tidak mengapa, bapak yang mengendarai motor begitu baik, ia menghantarkan saya ke berbagai hotel, dan memastikan saya bisa istirahat dengan baik malam ini. Setelah pencarian yang cukup melelahkan, akhirnya saya bisa menginap di sebuah hotel yang tidak jauh dari stasiun.
Jalanan sudah semakin lengang, saya duduk di balkon hotel yang menghadap ke jalan raya. Lalu lalang kendaraan sudah tidak terlihat, hanya beberapa motor yang terlihat melintas, sepi dan hening.
Saya mempelajari buku TPA yang masih belum terlalu saya pahami, semua butuh proses yang tidak mudah. Inilah yang disebut sebuah perjuangan, bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang lebih maka kita harus berusaha lebih. Namun perlu diingat, bahwa kita hanya bisa berusaha, selebihnya Allah yang menentukan mana yang terbaik bagi kita, asal kita bisa mengambil pelajaran dari semua peristiwa yang kita lalui di dalam hidup.
Pagi menjelang siang, ada banyak yang bejualan di sekitar hotel, mulai dari makanan kelas menengah ke atas, sampai makanan yang ada di kedai-kedai pinggir jalan, semua menggugah selera.
“Jangan lupa nyobain rawon, itu makanan wajib kalo lagi di Malang,” begitu pesan Bu Syifa.
Berbicara soal makanan selalu membuat saya lapar.
Sudah saatnya untuk check out dari hotel, Saya menuju hotel UMM INN yang tidak jauh dari Universitas Muhammadiyah Malang. Konon, ini merupakan hotel pendidikan pertama yang dikelola oleh pihak kampus UMM. Namun semua kamar penuh. Seorang teman memberitahu tentang rumah singgah di belakang gedung pascasarjana UIN Malang yang sempat terlupakan.
“Nginap di Pascasarjana saja, 250.000,/malam, bisa buat berdua. Kualitasnya berbintang. Kan lebih murah kalo dibagi dua,” ucapnya melalui telepon.
“Ini tawaran yang menarik,” pikirk saya singkat. Tidak perlu menunggu waktu lama, saya langsung ke kampus dan menemui pihak pengelola rumah singgah. Disinilah saya bertemu dengan orang-orang hebat dari berbagai macam daerah. Ada yang datang dari Palu, Makasar, Jambi, Cirebon, Surabaya, dan berbagai macam daerah yang lain. Mereka semua adalah orang-orang hebat di bidangnya masing-masing. Kami berkomunikasi satu sama lain dengan bahasa Arab. Saya yang jarang berbincang dengan Bahasa Arab terpaksa harus mengikuti perbincangan mereka.
Kami saling mengenal satu sama lain, saling berbagi pengalaman, saling memberi semangat. Kebanyakan mereka akan mengambil S3 Pendidikan Bahasa Arab. Saya banyak belajar dari mereka tentang arti sebuah perjuangan untuk meraih mimpi.
Ada seorang bapak yang sudah berusia 56 tahun, beliau baru akan melanjutkan program doktor.
“Belajar itu tidak mengenal batas usia, tidak terbatas pada bangku sekolah saja. Ada banyak hal yang tidak kita dapatkan dari dunia pendidikan. Maka perlu adanya pengembangan diri. Jangan mengandalkan dunia kampus saja,” ucap beliau di sela-sela perbincangan kami.
Selain itu, ada beberapa anak muda yang tidak jauh beda umurnya dengan saya, mereka sedang menempuh pendidikan doktor, bahkan ada yang baru mau masuk program doktor, namun sudah menulis buku yang diterjemahkan dalam tiga bahasa. Setelah kuliah doktor, ia akan berkeliling ke tiga Negara untuk mempresentasikan karyanya. Ini adalah pengalaman yang luar biasa, dan memicu semangat saya untuk bisa menjadi lebih baik lagi.
Hakikatnya, belajar adalah sebuah proses perbaikan diri dari tidak tahu menjadi tahu. Sesungguhnya belajar yang baik adalah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semakin dalam ilmu yang kita miliki, semakin takut kita akan Allah. Karena ada banyak orang yang lancang melanggar aturan-aturan Allah, meninggalkan perintah Allah, karena tidak adanya rasa takut kepada Allah.
Kami kembali ke kamar masing-masing, istirahat penuh dan mempersiapkan diri untuk mengikut tes masuk pascasarjana esok hari.

Selamat Pagi Malang

Salah Satu Gedung UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
12 Agustus 2014
Bus sudah memasuki Kota Malang yang dingin, kami berhenti di terminal Arjosari. Berdasarkan informasi yang saya dapat melalui internet, saya masih harus naik angkot dengan tulisan AL untuk bisa sampai ke UIN Maulana Malik Ibrahim, dimana mimpi sejak sekian lama telah  saya ukir. Mimpi untuk bisa belajar di UIN Maliki memang sudah mendarah daging. Padahal, saat kuliah sarjana dulu, saya tidak pernah akan mengira untuk bisa sejauh ini melangkah. Namun inilah kehendak Tuhan, Ia dengan mudah memindahkan tempat kita untuk berjuang.
Saya menghirup udara segar di kota yang benar-benar baru. Saya belum mengenal siapapun di kota ini, ini adalah kedatangan saya yang pertama kali di kota ini, dan semoga saya bisa bertahan demi sebuah impian.
Perjalanan demi perjalanan yang saya lalui selalu mengajarkan banyak hal, bertemu dengan orang-orang baru dengan latar belakang budaya yang berbeda, dan itu semua mengajarkan saya akan kedewasaan diri. Saya selalu mengambil banyak pelajaran dalam setiap langkah demi langkah kehidupan. Bumi Allah ini luas, dimana pun kita berada, kita bisa menjadi hamba yang baik, asal ada kesungguhan di dalam hati untuk berjuang menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi ini.
Bangunan itu begitu megah,  saya memperhatikan setiap sudut bangunannya yang dikelilingi rimbunnya pohon-pohon yang menjulang. Sejuk udara menusuk kulit. Saya mengeratkan jaket yang  saya pakai. Saya sedang berdiri di depan gerbang UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
“Pak, tempat pendaftaran pascasarjana di sebelah mana?” Saya bertanya pada seorang security yang sedang bertugas. Tampaknya ia sudah berjaga sejak malam, kulihat kusut wajahnya yang mengantuk.
“Pendaftaran Pascasarjana langsung di kantor Pascasarjana, Mas, di daerah Batu.” Jawabnya sambil mengusap kedua matanya yang merah. Mungkin saja ia belum tidur.
“Dari sini kesana naik apa, Pak?”
“Mas naik jurusan Landungsari, kemudian ambil angkot ke arah Batu, nanti turun pas di depan Pascasarjana UIN, tanya aja dengan supirnya, pasti tahu.” Jelasnya lebih lanjut.
Saya mengangguk, kemudian menyalaminya sambil mengucap terimakasih.
Saya bergegas menuju kantor Pascasarjana, jarum jam di tangan sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran. Seorang pegawai administrasi menerima semua berkas yang saya bawa, kemudian memberikan selembar tanda terima. Lega rasanya, sudah menyerahkan semua persyaratan dan tinggal menunggu tanggal 14 Agustus untuk tes masuk.
Di depan kampus Pascasarjana terdapat sebuah masjid yang indah, meski tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Saya meletakkan semua barang bawaan ke lantai dua, kemudian mengambil air wudhu di lantai bawah. Saya menunaikan shalat dhuha, sebagai ucapan syukur atas karunia yang telah Allah berikan pada saya selama ini. Saya mengucap doa-doa pada-Nya, semoga impian-impian yang selama ini saya yakini bisa terwujud.
Setelah shalat dhuha, saya menghampiri seorang laki-laki yang sedang membaca Al Quran di pojok masjid, kami saling kenal satu sama lain, ternyata dia juga calon mahasiswa Pascasarjana, namun kami mengambil jurusan yang berbeda. Dia mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab, sedangkan saya mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam.
Belum tertulis di dalam catatan harian saya alamat tempat tinggal saya sementara. Tes masih dua hari lagi, sedangkan saya tidak mengenal siapapun di kota ini.
“Kamu itu nekad banget, Mas. Masa pergi nggak kenal satu orang pun dan masih belum tahu harus nginep dimana.” Komentar seorang perempuan yang kebetulan duduk di samping saya selama perjalanan dari Purwokerto. Saya hanya tersenyum mendengar ucapannya. Ini bukanlah yang pertama kalinya saya seperti ini. Saya sudah sering bepergian dan tidak pernah ada masalah dimana saya akan menginap. Biasanya Masjid yang menjadi pilihan saya. Tenang rasanya bisa tidur di masjid, bangun malam kemudian bermunajat kepada Allah SWT.
Saya membuka juz keempat dari Al Quran kecil yang saya bawa, saya membaca ayat demi ayat Ilahi, tidak terasa air mata saya tumpah saat melantunkan kalam Ilahi yang sejak lama saya cintai. Tuhan memang begitu baik, memberi saya kesempatan untuk belajar sedikit demi sedikit tentang kalam-Nya.
Sudah hampir dzuhur, saya memilih untuk shalat di Masjid Universitas Muhammadiyah Malang yang terletak tidak begitu jauh dari gedung Pascasarjana. Disinilah Saya bertemu dengan berbagai macam orang, saling kenal satu sama lain. Saya memang tipe orang yang berani mengenalkan diri pada orang-orang yang saya temui. Dengan demikian, saya tidak merasa asing di tempat yang baru saya singgahi. Selalu ada cara membuat saya betah dan mulai mencintai suasana di tempat ini.
Kota Batu memang terkenal dengan sejuknya udara yang berembus. Bahkan di siang hari seperti ini, saya harus mengenakan jaket tebal agar tidak kedinginan.
Di tengah dinginnya udara, bayang-bayang anak-anak di sekolah melintas tak beraturan. Ribuan kenangan tentang mereka seketika hadir begitu saja. Saya terdiam, tertunduk, kemudian kembali menyentuh dada yang mulai sesak. Bahkan di tengah dinginnya udara, kehangatan kasih antara saya dan murid-murid tak mampu dihilangkan begitu saja. Saya merindukan mereka, meski baru sehari saya berpisah dengan mereka. Tapi ini adalah bagian dari pilihan saya.
Anak-anakku, mungkin kalian tidak tahu betapa berat hatiku berpisah dengan kalian semua. Namun Saya percaya, kalian akan tumbuh menjadi anak-anak yang shaleh/shalehah. Amin. 

Mundur Untuk Melangkah Maju

di depan gedung pascasarjana UIN Malang
11 Agustus 2014
“Apa lagi yang kamu cari, bukankah kamu sudah berada di tempat yang baik, rekan kerja yang baik dan juga anak-anak yang selalu kamu banggakan? Bukankah itu adalah karunia yang seharusnya kamu syukuri, bukan malah pergi meninggalkan kenyaman yang sudah ada.” Ucap seorang sahabat saat saya mudik Idul Fitri kemarin.
“Bukan saya tidak mensyukuri nikmat yang selama ini telah Tuhan berikan, bukan itu maksud saya. Saya hanya ingin kembali mengenyam pendidikan tinggi di jenjang selanjutnya, melanjutkan mimpi-mimpi yang sejak lama saya rajut dengan cinta. Saya telah menyiapkan ini sejak lama. Saya pergi bukan karena tidak nyaman dengan apa yang selama ini saya dapatkan, Saya hanya ingin belajar di tempat yang lebih baik, menyiapkan diri untuk pengabdian selanjutnya dengan baik.”
Untuk beberapa saat, kami sama-sama diam, kemudian menatap langit malam yang semakin kelam. Saya menghirup dinginnya udara malam yang berembus, sementara ia beranjak pergi meninggalkan tanda tanya dan kebingungannya akan keputusan yang saya ambil.
Tepat satu bulan yang lalu, saya memutuskan untuk mengajukan pengunduran diri dari tempat kerja. Bergetar kedua tangan, saat memasuki ruang kepala sekolah. Saya mengucap salam, menjabat tangan Ustadz Nandi, kemudian menjelaskan maksud dan tujuan saya menemuinya. Saya telah menyiapkan selembar surat dalam sebuah amplop berwarna putih yang berisi surat pengunduran diri.
Ustadz Nandi dengan bijak menerima kehadiran saya, kemudian berbincang sejenak tentang alasan demi alasan yang sejak lama telah ia dengar dari saya.
“Insha Allah, saya akan melanjutkan kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ustadz, sebagaimana yang pernah saya sampaikan dulu. Sekarang sudah saatnya saya kembali belajar di bangku kuliah.”
“Antum sudah yakin?”
“Insha Allah, Ustadz. Semoga ini yang terbaik. Saya sama sekali tidak ada masalah di sekolah. Saya mengundurkan diri demi mengejar mimpi yang sudah lama saya perjuangkan.”
Perbincangan sederhana terus berlanjut. Kemudian saya pamit. Ada bulir-bulir hangat di ujung sana. Saya memantapkan hati, bahwa ini adalah jalan yang telah saya pilih, maka saya harus siap dengan segala konsekuensi yang ada.
Hari ini, saya akan berangkat ke Malang, Saya melihat wajah-wajah pelangi hati yang selama ini hadir menemani. Anak-anak berlarian ke halaman sekolah untuk mengikuti apel pagi di hari Senin. Seperti biasa, Saya menyiapkan barisan anak-anak, sambil tersenyum dan memastikan mereka berbaris dengan baik. Mereka belum tahu bahwa hari ini saya akan pergi meninggalkan mereka demi sebuah mimpi.
Setelah apel pagi, saya dan anak-anak masuk ke dalam kelas, kelas kami adalah kelas VIII Bilal bin Rabah. Saya sengaja memilih nama itu, mengambil pelajaran dari sosok Bilal yang begitu kokoh keyakinannya meski siksaan bertubi-tubi ia rasakan. Anak-anak sudah siap berdoa, kemudian mengucapkan salam. Saya ingin anak-anak mencontoh Bilal, menjadi sosok yang begitu yakin akan kebenaran Islam. Saya selalu mendoakan mereka, agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang cinta akan Tuhannya.
Saya menatap lekat-lekat wajah mereka, hening. Mereka begitu baik dan sangat menghormati saya sebagai guru sekaligus wali kelas mereka. Kelas semakin hening saat saya menyampaikan keinginan saya untuk meraih mimpi dan terpaksa harus meninggalkan mereka semua.
“Ada ustadz ataupun tidak, kalian harus tetap belajar dan berusaha menjadi anak-anak yang shaleh. Jadilah anak yang berbakti.”
Suasana kelas sedikit ramai oleh ucapan-ucapan mereka.
“Berarti ustadz nggak ngajar disini lagi?”
Saya menggeleng.
“Terus siapa yang akan menjadi wali kelas kami nanti kalo ustadz pergi?”
“Siapa yang akan mengajari kami membaca Al Quran? Bukankah Ustadz sudah janji akan mengajari kami membaca Al Quran dengan baik dan benar?”
Saya terdiam sejenak, kemudian meyakinkan mereka semua bahwa mereka akan baik-baik saja meski tanpa kehadiran saya di dekat mereka.
“Insha Allah akan diganti dengan ustadz yang lain, yang lebih baik dan bisa menyayangi kalian dengan penuh cinta.”
Suasana kembali hening. Kulihat wajah-wajah itu mulai menunduk. Entahlah, mungkin saja mereka berat melepaskan kepergian saya. Saya tidak mengerti itu.
Tidak mudah memang, ada banyak perdebatan tentang keinginan saya untuk belajar di Kota Malang. Pihak yayasan sebenarnya siap menyekolahkan saya dengan biaya penuh, asal tetap di dalam kota. Akan tetapi, saya memilih untuk belajar di Malang. Itu artinya, pengunduran diri saya sudah mantap dan semoga ini adalah pilihan terbaik dan diridhai oleh Allah SWT. Saya percaya, dimanapun saya berada kelak, Allah akan menempatkan saya pada ladang dakwah baru, meski harus memulai semuanya sedari awal lagi. Tidak mengapa, kadang memang demikianlah adanya. Kadang kita harus keluar dari zona nyaman kita untuk meraih cita yang lebih tinggi.
**
Bus yang membawa saya menuju Kota Malang sudah berangkat sejak beberapa jam yang lalu. Saya masih belum bisa tidur nyenyak. Bayang-bayang anak-anak di sekolah tadi masih terus terngiang di dalam benak. Beberapa anak sedang chat dengan saya di blackberry messenger.
“Hati-hati di jalan, ya, ustadz, semoga apa yang ustadz impikan bisa terwujud.” tulis seorang murid, namanya Nabil.
“Amin, terimakasih, ya, Nak.”
Kami pun melanjutkan saling berbalas pesan. Kedekatan kami memang begitu terasa. Itulah mengapa begitu berat rasanya untuk pergi meninggalkan mereka semua. Namun sekali lagi saya teguhkan hati, bahwa ini demi sebuah impian, saya harus siap dengan berbagai macam konsekuensinya.
Pilihan demi pilihan telah banyak saya lalui dalam hidup ini. Ada banyak tawa dan tangis yang menemani pilihan demi pilihan yang telah saya buat. Seberat apapun pilihan itu, sebesar apapun konsekuensi atas pilihan yang telah saya buat, nyatanya Tuhan tidak pernah pergi. Ia selalu mendekap erat diri ini dalam kasih-Nya. Selalu ada tempat untuk bersujud di hadapan-Nya, mengadukan segala keluh kesah di dalam hidup.
Bus terus melaju, saya terdiam dan mencoba untuk lelap dalam tidur. Saya percaya, esok saya akan terbangun dan lebih tegar dalam menghadapi semua ini.
Ya Allah
Jika memang ini yang terbaik untuk kujalani, kuatkan hati hamba
Aku berserah diri sepenuhnya pada-Mu             
Semoga cintaku tetap utuh pada-Mu

Semoga pilihanku ini membawku ke jalan yang lebih dekat pada rahmat-Mu.