October 13, 2014

Rahman Ya Rahman


Ya Rahman
Mungkin lengkingan tangis tak kan pernah cukup untuk mengungkapkan betapa aku merindui-Mu, Tuhan. Lirih doa-doa yang kupanjatkan pada-Mu di malam-malamku rasanya tak akan pernah cukup mewakili betapa aku ini adalah hamba-Mu yang berdosa, yang kadang lupa akan kekuasaan-Mu akan diriku yang lemah ini.

Ya Rahman,
Gema takbir kadang tak sanggup menyentuh hatiku untuk menyegerakan diri untuk bersujud di hadapan-Mu. Lantunan ayat-ayat-Mu kadang hanya terdengar sekali lalu saja, kemudian menghilang entah kemana, sedemikian lalainya aku pada-Mu, Tuhan. Tak cukup banyak cintaku pada-Mu, Tuhan.

Ya Rahman
Menggigil badanku saat rindu ini membuncah, aku merindukan saat-saat bersama-Mu seperti dahulu, kala Engkau selalu ada di dalam derap langkahku, saat Engkau selalu kusebut dalam deru nafasku, saat Engkau selalu kupuja meski kadang luka bersemayam dalam dada. Aku mencintai-Mu, Rabbi.

Rahman ya Rahman
Jagalah hatiku agar tetap mengingat-Mu
Jagalah diriku agar tetap berjalan di jalan yang Engkau ridhai

Rahman ya Rahman
Lalai kadang membuatku menjauh dan semakin menjauh akan-Mu, jangan biarkan aku menjauh, izinkan aku menggenggam erat asma-Mu, menjadikannya sebagai kehidupanku. Aku ingin hidup di dalam lindungan-Mu, di dalam rahmat-Mu.

Rahman ya Rahman
Sering aku menangis saat mengingat betapa banyak dosa yang telah kuperbut di permukaan bumi ini. Aku malu pada-Mu, Tuhan. Sekian banyak orang mengira aku adalah orang yang baik, yang patut ditiru, yang menginspirasi sekian banyak orang, namun sebenarnya aku tak sebaik yang mereka kira, Engkau tahu betapa kadang kebohongan menemani kehidupanku ini, Tuhan. Ampuni hamba, ya, Rabbi.

Ya Rahman
Jika nanti Engkau menghendaki aku kembali ke sisi-Mu, kembalikan aku dalam keadaan husnul khatimah, yang selalu menjadikanmu sebagai sebenar-benarnya cinta. Cinta yang kuukir dengan penuh ketulusan, sebagai wujud pengabdianku kepada-Mu. Kembalikan aku dalam keadaan yang baik.

Ya Rahman
Ketika tak sanggup lagi kusebut nama-Mu dalam hidupku
Ketika tak  sanggup lagi kulangkahkan kaki ke rumah-Mu
Ketika tak sanggup lagi kubacai ayat-ayat-Mu
Ketika mungkin nafasku sudah tak lagi ada sebaik sekarang
Ketika mungkin tak sanggup lagi kuperjuangkan hokum-hukum-Mu di bumi ini
Maka jagalah aku agar tetap di jalan-Mu hingga maut menjadi awal pertemuanku dengan-Mu.

Indonesia di Mata Renat


13 Oktober 2014
Tadi pagi, setelah menunggu dosen yang ternyata nggak bisa hadir karena ada acara penting di kampus, saya ke asrama, Renat baru bangun tidur, saya duduk di kursi belajar, sedangkan dia masih leyeh-leyeh di tempat tidur. Padahal saya sudah mandi, sudah ganteng #abaikan
“Renat,” ujar saya sambil menatap layar laptop.
“Hmmm,,,”jawabnya sambil memperbaiki posisi kepalanya.
“What do you think about Indonesia?” Tanya saya lebih lanjut. (ini semacam obrolan sok serius di pagi hari).
Setelah beberapa waktu menjadi teman dekat, saya belum pernah menanyai Renat tentang bagaimana pendapatnya tentang Indonesia, setelah lebih dari satu tahun dia menimba ilmu di UIN Malang. Renat tipe orang yang sangat pemalu dan tentu saja sangat sopan. Security asrama pernah bercerita tentang anak-anak dari Rusia yang sangat sopan, jauh berbeda dengan beberapa mahasiswa dari Timur Tengah, meski sebenarnya tidak semua mahasiswa dari Timur Tengah tidak sopan, tapi kebanyakan tidak terlalu peduli dengan yang lainnya. Begitulah komentar security di asrama putra. Namun, saya tidak merasakan demikian, atau mungkin karena saya tidak berinteraksi setiap hari dengan mereka, hanya saat di kampus saja, saya kurang paham. Sejauh ini, mereka, mahasiswa-mahasiswa dari Timur Tengah cukup bersahabat dengan saya, begitu juga dengan beberapa mahasiswa dari Rusia, yang memang lebih terasa kedekatan satu sama lain.
Menanggapi pertanyaan saya, Renat duduk, kemudian berusaha untuk menjawab pertanyaan saya, sambil diselingi dengan canda tawa khas Renat. Jangan harap akan melihat barisan giginya kalo dia tertawa, susah, haha.
ORANGNYA BAIK
Ini adalah komentar pertama Renat tentang Indonesia, dia merasakan kenyamanan stay di Negara ini, meski banyak penduduk asli di Indonesia yang tidak nyaman dengan keadaan bangsanya sendiri. Menurutnya, Indonesia sangat baik padanya, terlebih karena dia belajar di Jawa, yang memang terkenal dengan kesantunan budayanya. Mungkin akan berbeda pandangan ketika Renat tinggal di Medan, dengan gaya bicara yang jauh berbeda dengan orang Jawa.
ORANG INDONESIA SOPAN
Sebenarnya ini masih sama dengan yang pertama, namun Renat ingin menegaskan kembali bahwa orang Indonesia sangat sopan padanya, terlepas bagaimana yang dia maksud, saya cuma tersenyum ketika mendengar dia mengatakan bahwa kesopanan di Negara ini masih terasa demikian melekat pada masing-masing penduduknya.
Tidak hanya demikian, Renat kembali memberi pernyataan di poin selanjutnya, tentang orang Indonesia di matanya,
ORANG INDONESIA SUKA MENOLONG
“Setiap kali saya butuh akan sesuatu, saya tidak banyak mendapatkan kesulitan disini, orang-orang yang saya temui dengan senang hati membantu saya,” ucapnya penuh semangat.
“Dan satu lagi yang saya suka dengan Indonesia, mereka bangun lebih awal.” Tegasnya kemudian.
Beberapa poin di atas adalah hal-hal positif menurutnya tentang Indonesia.
“Apa yang tidak kamu sukai dari Indonesia?” Tanya saya lebih lanjut, sementara Renat sudah kembali berbaring di tempat tidur.
MACET
Yupz, ini cerita lama dari sekian banyak teman-teman saya yang dari luar yang mengatakan tidak nyaman dengan permasalahan kemacetan yang ada di Negara ini, padahal Malang belum semacet Jakarta. Saya tidak bisa membayangkan apa komentar Renat jika dia kuliah di Jakarta, mungkin akan lebih parah, melihat kemacetan Jakarta yang super duper parah.
TIDAK TAAT ATURAN LALU LINTAS
Salah satu permasalahan di negeri ini adalah rendahnya kesadaran pengguna jalan untuk mentaati aturan lalu lintas yang ada, sehingga banyak sekali kecelakaan yang terjadi dan diawali dengan tidak taatnya pengguna jalan akan tata tertib lalu lintas.
SAYA SEPERTI ARTIS
Orang-orang Indonesia terkadang berlebihan dalam memandang orang luar, terutama bule. Renat cerita saat dia sedang berada di Borobudur temple, ada segerombolan orang-orang yang mengajaknya berfoto bersama, layaknya superstar. Ah, ini cerita lama, ya, saya tahu persis yang dimaksud oleh Renat.
Karena sudah lama saya dan Renat berbincang, nggak terasa sudah jamnya makan siang. Saya dan Renat pergi ke kantin asrama untuk makan siang, lebih tepatnya menemaninya makan siang, karena saya sedang berpuasa. Disinilah, perbincangan kami lebih serius, tentang ETIKA PARA PEROKOK.
Menurutnya, para perokok yang ada di Indonesia tidak mentaati aturan yang seharusnya disadari, semisal dilarang merokok di ruang publik, karena tidak semua orang suka ketika ada orang yang merokok di dekat mereka. Keadaan ini diperparah dengan kondisi kantin yang kebanyakan mahasiswanya merokok setelah makan. Saya juga merasakan sesak, saat berlama-lama di kantin.
“Di Rusia, khususnya di Kampus Islam, kamu tidak akan menemukan orang-orang merokok di Kampus. Siapa saja yang merokok di lingkungan Universitas maka akan mendapatkan sangsi. Ada kesadaran dari orang-orang yang ada di sana untuk memahami mana saja tempat yang boleh dijadikan tempat merokok dan mana yang tidak. Ini yang tidak saya temukan di Indonesia.” Komentarnya sambil menikmati menu makan siang.
Saya menyadari betul apa yang dirasakan oleh Renat, ini juga bagian dari kelemahan pihak kampus yang tidak berusaha membuat lingkungan Universitas bebas dari asap rokok. Awal-awal saya datang, saya sempat kaget dengan banyaknya mahasiswa yang merokok di sekitar kampus, meski sebenarnya di tempat-tempat tertentu saja, karena saya tidak pernah menemukan mahasiswa merokok di dalam gedung, biasanya di luar gedung, entah taman, parkiran, dan sebagainya.
Terkait rokok, ternyata Renat memiliki kekhawatiran yang cukup besar, melihat betapa rokok sudah menjadi candu bagi sekian banyak orang. Obrolan saya dan Renat terhenti, saat Muhammad, yang juga mahasiswa dari Rusia datang menghampiri kami, dan berbincang sejenak tentang rencana pergi di hari Sabtu yang akan datang.
“You should join us,” kata Muhammad.
“Insha Allah,” jawab saya sekenanya.
Adzan dzuhur berkumadang, saya ke Masjid, Renat ke kamar sebentar baru kemudian ke masjid, sedangkan Muhammad menemui dosen sebentar, baru kemudian ke masjid. Itulah hasil bincang-bincang saya dengan Renat tadi pagi hingga siang.

*Renat nggak suka di foto, jadilah postingan ini tanpa foto, Hikz

Ta’aruf Qurany XII

Calon Hafiz/Hafizah, Insha Allah

“Membangun Akademisi Qurany, Menuju World Class University”
10-11 Oktober 2014
Membangun akademisi yang Qurany, dalam artian mewujudkan para ilmuan-ilmuan yang menjadi Al Quran sebagai panduan hidup mereka adalah suatu hal mulia, yang perlu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Mengutip apa yang diucapkan oleh Prof. Dr. Imam Suprayogo, Mantan Rektor UIN Malang, sekaligus Guru Besar yang begitu peduli dengan pendidikan Islam, “Jadikanlah Al Quran sebagai kurikulum pendidikan, generasi muslim akan menjadi baik.” Inilah yang sejak dulu diperjuangkan oleh pihak UIN Malang, membangun peradaban muslim dengan pembelajaran yang terintegrasi, dimana dunia akademik tidak hanya mewujudkan ilmuan saja, melainkan melahirkan generasi yang berpegang teguh pada Al Quran, atau bisa disebut sebagai moslem scholars.
Selama dua hari kemarin, saya mengikuti rangkaian kegiatan dari “Hai’ah Tahfidz Qurany” yang dikemas dalam acara yang bertajuk “Ta’aruf Qurany” sebagai wadah calon hafizh/hafizhah di lingkungan kampus yang tidak lain terdiri dari mahasiswa/mahasiswa yang belajar di UIN Malang. Dalam mengikuti rangkaian demi rangkaian kegiatan yang diselenggarakan, saya dan sekian banyak mahasiswa yang memiliki impian menjadi seorang hafizh/hafizhah mendapatkan suntikan semangat dari para pembicara yang tentu saja berkompeten dalam bidangnya maisng-masing. Prof. Imam Suprayogo tentu saja paling berperan penting dalam memberi motivasi hebat bagi kami demi mewujudkan generasi Qurany, jangan Tanya berapa banyak jasa beliau terhadap perkembangan UIN Malang hingga bisa berkembang seperti sekarang ini.
Ganteng dan cantik, kan, kami? #dijitak
Apa yang dilakukan oleh UIN Malang banyak ditiru oleh kampus-kampus lain, di UIN Malang, mahasiswa yang hafal minimal 10 juz akan dibebaskan dari biaya pendidikan. Dari tahun ke tahun, mahasiswa-mahasiswa yang menjadi lulusan-lulusan terbaik di kampus ini adalah para penghafal Al Quran, mereka tidak hanya sekadar cerdas di dunia akademik, tapi sekaligus menjadi pribadi muslim yang shaleh berlimpah manfaat.
Di sini, di UIN Malang, saya dan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai macam Negara, menuntut ilmu dan berharap akan menjadi lebih baik lagi, dalam rangka mewujudkan generasi emas Muslim, generasi Qurany. Ada lebih dari 30 Negara yang belajar di UIN Malang, saya berinteraksi dengan sekian banyak International Students, saling support satu sama lain dan tentu saja saling berbagi inspirasi.
Degup jantung saya semakin cepat, diikuti semangat yang kian membara, bahwa saya tidak akan menyia-nyiakan semua kesempatan ini. Saya telah bergabung di komunitas yang tepat, komunitas yang mengkaji ayat-ayat Allah SWT, komunitas yang sama-sama memiliki impian besar dalam hidup, untuk menjadi hafizh/hafizhah, untuk menjadi bagian dari keluarga Allah SWT yang bertebaran di muka bumi ini.
Saya bertemu dengan sekian banyak mahasiswa/mahasiswi yang begitu antusias mengikuti kegiatan awal dari Hai’ah Tahfidz Qurany ini, sebagai langkah awal bagi kami untuk resmi menjadi anggota dan mendapatkan fasilitas yang ditawarkan oleh pihak HTQ, fasilitas yang tidak lain berupa bimbingan bagaimana menjadi seorang hafizh/hafizhah. Ah, sungguh bahagia rasanya bisa berada di satu ruangan, yang terdiri dari orang-orang yang sedang berusaha mencintai kalam Allah.
Prof. Imam Suprayogo selalu bilang, “Kembalikan semua kepada Al Quran, semua akan baik-baik saja.” Ya, mulailah menghafal, maksimalkan ikhtiar, pasti sukses. Amin.
ceritanya jadi peserta putra terbaik :p
Ketika kegiatan berakhir, ada sesi pengumuman peserta terbaik, saya sama sekali tidak memperhatikan pengumuman itu, saya sibuk menulis sesuatu di buku harian saya menjelang acara usai, kemudian saya mendengar samar-samar, nama saya disebut, kemudian mendongakkan kepala, melihat nama saya di layar, haha, saya masih bingung apa yang mereka nilai dari saya sehingga dijadikan sebagai peserta terbaik. Tapi ya sudahlah, karena sudah disebut dan diminta maju, saya langsung maju ke depan, disertai dengan tepuk tangan meriah dari para hadirian yang ada, saya tersipu malu (lebay).
Mimpi saya menjadi seorang hafizh memang belum usai dan tidak akan pernah usai, saya akan berusaha mewujudkan ini selama hidup saya. Saya memang pernah selesai setoran 30 juz, tapi sampai hari ini hafalan saya tidak begitu baik, yang mampu bertahan hingga saat ini tidak lebih dari 13 juz, selebihnya entah kemana, hilang dibawa kesibukan dan rasa malas yang kadang menggerogoti diri. Bismillah, semoga niat baik ini bisa istiqamah, Al Quran bisa membuat saya menangis, Al Quran bisa membuat saya bahagia. Saya ingin kembali bersamanya, memeluk erat cahaya yang ia pancarkan.

Aku berdiri di ujung gelap, menatap lekat ia di ujung sana, memesonaku.
Aku berdiri semakin dekat dengannya, menyentuh lembut kulitnya yang kusam berdebu
Telah lama aku pergi darinya, menjauh dan semakin jauh hingga lupa arah untuk kembali
Namun, Tuhan selalu memiliki cara tersendiri untuk membuatku kembali padaNya.
Kini, kudekap erat ia di dadaku, berharap ia akan tetap ada di dadaku, kini, nanti dan selamanya.
Ya Rahman, jadikanlah aku seseorang yang mampu menghafal ayat-ayatMu
Imla’ Qolbi Quran
Isyrah Sodri Quran
Amin.

Pindah Apartemen (baca: Kos)


10 Oktober 2014
Balada anak kos, sejak awal saya memang sengaja belum ambil untuk satu tahun di tempat kosan saya sebelumnya, karena ingin merasakan selama satu bulan terlebih dahulu, baru kemudian kalo betah akan saya perpanjang untuk satu tahun. Setelah satu bulan, saya cukup nyaman sebenarnya di kosan yang lama, namun tidak adanya cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar saya cukup membuat saya kelimpungan karena kamar jadinya lembab dan selalu harus menghidupkan lampu meskipun siang hari. Ini tidak baik untuk kesehatan saya *sok cari alasan.* selain itu, motor saya kasihan banget, setiap hari harus mengalami penderitaan sedemikian rupa setiap mau masuk ataupun mau keluar dari kosan, ada aja yang lecet, emang sayanya aja, sih, yang nggak ahli dalam bidang ini haha. *makin mencari alasan*
Akhirnya, akhir bulan September, saya memutuskan untuk berhenti ngekos disana dan menitipkan barang-barang saya di kamar teman di lantai dua, sedangkan saya memilih untuk tidur di masjid kampus, kebetulan di sebelah kamar takmir ada kamar yang dilengkapi dengan beberapa kasur, konon katanya untuk tamu *anggap saja saya sebagai tamu disana*. Selama dua hari saya tidur disana, karena masih belum mendapatkan kosan yang baru.
Kemarin, setelah mencari dengan penuh seksama dan penuh perjuangan, *lebay*, akhirnya saya dapat kosan di dekat kampus juga, cukup nyaman dan kerennya lagi teman-teman disini kompak banget. Baru sehari saya stay di kosan yang baru, saya sudah cekikikan dengan berbagai macam lelucon dari teman-teman. Seperti tadi pagi, saat teman-teman cerita bahasa arab sehari-hari di gontor yang berhasil membuat saya sakit perut karena kelucuan mereka mempraktikkan berbagai kalimat yang menjadi ciri khas gontor yang sebenarnya tidak ada di dalam bahasa Arab.
Kembali ke cerita kosan baru, di kosan yang baru ini kompak masak bareng, biar lebih hemat. Nah disinilah pengalaman baru lagi saya dapatkan, setelah sekian abad nggak bersentuhan dengan alat masak *makin lebay* tadi pagi saya kebagian mengiris tomat dan cabe serta masak nasi. And you know what? Saya masih belum bisa masak nasi *tissue mana tissue* *hikz*, udah segede gini saya masih belum tahu berapa banyak air yang harus dimasukkan setiap kali mau masak nasi. Bahkan, mengiris bawang dan cabe pun masih harus banyak tanya, fiuh. Rasanya seperti ditampar-tampar, ya, jadi ingat emak yang setiap hari masak di dapur. Susah ternyata, bro. justru ini jadi keseruan di kosan yang baru, yang tidak saya dapatkan di kosan yang lama.
Karena sedari awal saya sudah komitmen akan banyak berbicara Arab maupun Inggris, rasanya di kosan yang baru saya lebih punya teman untuk melatih kemampuan berbahasa, dan saya bisa dengan bebas bertanya berbagai macam hal kepada mereka yang tentu saja lebih bagus kemampuan bahasa arab mereka, jadilah saya tukang tanya berbagai macam hal. Setiap kali tidak tahu bahasa arab, maka ada teman yang siap mengajarkan. Intinya saling support satu sama lain.
Selain itu, yang paling saya dambakan adalah kesadaran beragama teman-teman di kosan yang baru ini cukup baik. Setiap shalat selalu rame-rame ke mushala dekat kosan, habis maghrib ngaji, habis subuh juga pada ngaji, beda banget di kosan saya yang lama, duh, subuh udah kayak kuburan deh disana. Biasanya saya sendiri yang duduk di ruang tamu, sambil mengaji, dan menunggu teman-teman yang lain bangun. Sebenarnya ini menjadi ladang dakwah, sih, ya, tapi saya malah memilih untuk kabur haha.
Kosan yang baru memang lebih kecil, tapi lebih nyaman karena kasurnya nggak gede kayak kamar kosan yang lama. Jadi terasa lebih leluasa bergerak. Ditambah lingkungan yang merupakan mahasiswa-mahasiswa UIN baik S2 maupun S3 cukup membuat betah, bisa saling belajar, saling membantu satu sama lain.
Sebenarnya saya mau tinggal di asarama S1, tapi nggak ada tempat untuk mahasiswa pasca sarjana, jadilah kudu sabar menunggu asrama pasca sarjana selesai dibangun. Sekarang cuma bisa menjadi penyusup di kamarnya Renat kalo pas lagi di asrama.
Ah cukup sampai disini cerita tentang kosan saya yang baru ini.

Tarek

Makan Bakso Tukul Arwana :p
9 Oktober 2014
Pagi ini, kegalauan terjadi, setelah sebelumnya saya disibukkan dengan perkuliahan (sok sibuk), tiba-tiba Tarek, sahabat saya yang sedang menempuh study di Qairo University membagikan foto saya tentang Mafaza, tempat dimana kami bertemu tiga bulan yang lalu.
“I Love this place and I will be back soon” tulisnya di dinding facebooknya. Saya tersenyum, kemudian saya balas komentar, “I wanna call you now on BBM”. Mulailah kegalauan terjadi disini, duh, ini curhat akhir pekan bener ini kayaknya.
Tarek beberapa kali menghubungi saya melalui BBM, meski sebenarnya kebanyakan nggak ada suaranya. Mungkin saja signal sedang ngambek pagi ini. Hampir setengah jam berlalu, dan saya cuma mendengar ucapan salam dari Tarek yang berulang kali dan dia tidak berhasil mendengar suara saya selain ucapan salam juga, hahaha. Sebenarnya saya lebih suka Video Call melalui Skype jika dengan teman-teman yang jauh. Skype lebih menarik bagi saya, ketimbang aplikasi yang lain, dan masalahnya, Tarek tipe orang yang jarang online skype *gigitJari*.
Pertemuan saya dan Tarek sebenarnya terjadi pas dia stay di Mafaza untuk beberapa waktu pas Ramadhan kemarin, meski cuma kurang lebih tiga hari bersama, namun kedekatan kami cukup terjalin, dan banyak hal-hal kocak yang kami lakukan bersama. Saya masih ingat saat Tarek berkenalan dengan saya,
Tarek Selalu Pake Gamis Panjang Berwarna Putih :p

“What is your name?” Tanya saya, sambil tersenyum (lebih tepatnya nyengir)
“My name is….(tarek langsung berlagak sedang menarik sesuatu, kayak orang konyol) kemudian tersenyum dan berharap saya memahami apa yang dia maksud.
“What do you mean?” ujar saya meminta penjelasan.
“My name is …(mengulangi hal yang sama).”
Duh ini orang ngomong apa, sih. Saya pun menyerah.
“My name is Tarek, in Indonesian you call this with “Tarek”, right?”
Kami pun tertawa terbahak di pojokan masjid.
Tarek tipe anak muda yang tidak suka jejaring sosial, dia lebih suka membaca buku. Iya, beda banget dengan saya. Fiuh. Selama di Mafaza, setiap hari kerjaan saya dan Tarek adalah pergi ke pasar dan membeli berbagai macam bahan masakan, tomat, cabe, jeruk, beras dan lain sebagainya. Tarek selalu memakai gamis panjang, sedangkan saya memilih pake celana panjang dan kaos oblong kalo ke pasar, udah persis kayak tukang ojeknya. Dan setiap ke pasar, pasti bakalan rame deh pasarnya, karena banyak yang motretin dia, sedangkan saya cuma melongo, sambil berharap ada yang motret atau setidaknya minta foto bareng ama saya, gitu hahahaha. Becanda.
Tarek tidak bisa berbahasa Indonesia, hanya bisa bahasa Arab dan sedikit Inggris, jadi saya harus menerjemahkan apa yang mau dia beli ke para penjual disana.
Pose Lebay haha
“You are famous, dude,” goda saya padanya. Tarek Cuma nyengir, kemudian bilang,
“It’s weird, looks like a superstar,”
Saya terkekeh,
“yeah,,,”
Kejadian demikian selalu terjadi selama tiga hari saya menemani dia ke pasar. Setiap mau ke pasar, saya selalu menggodanya.
“Be ready, the local are curious about you. May be they will take your pictures again, so, be nice, dude.”
Setelah ke pasar, kegiatan selanjutnya adalah masak, dan saya tidak pernah mau ikut campur kerjaan Tarek kalo sudah di dapur, saya mau jadi penonton dan tukang masak saja.
Lain lagi kalo setelah tharawih, kerjaan selanjutnya adalah kuliner. Duh, gagal sudah proses diet saya saat Tarek ada di Mafaza #halah. Tarek paling suka dengan bakso, dan tentu saja saya dengan senang hati mengajak dia mencari tempat makan yang dia mau, secara, dia yang selalu bayarin kalo pas makan di luar #plak #dijitak. Setelah makan bakso, lanjut cari ice cream. Kadang sampai larut nggak tidur, karena ngobrol ngalur ngidul di pojokan masjid. Dan kerennya, Tarek selalu membaca Al Quran sebelum tidur, meski kami sudah ngoceh sampe larut.
Setelah Tarek kembali ke Mekah kemudian kembali ke kampusnya dai Qairo University , dia selalu mengirim pesan baik melalui Facebook maupun BBM.
“I really love Indonesia. I wanna go back again. After my graduation Insha Allah I will go back to Indonesia, I wanna marry someone from Indonesia.”
Biasanya saya cuma tertawa membaca pesannya. Meski sebenarnya Tarek memang terlihat nyaman selama beberapa hari di Purwokerto dan kota-kota lain di Indonesia, itu terlihat dari cara dia berinteraksi dengan penduduk lokal
Kalo pas lagi nelpon saya, Tarek ini udah kayak teriak aja ngomongnya,
“Ustadzzzzz….” Kata ini yang biasanya mengawali obrolan setelah terlebih dahulu ia mengucapkan salam.
            Sebenarnya, jarak bukanlah alasan untuk tidak menjalin hubungan baik satu sama lain. Saya dan sekian banyak teman-teman di belahan dunia yang lain, tetap berusaha menjalin komunikasi satu sama lain, berusaha untuk saling berbagi dan tentu saja berharap untuk bisa kembali berjumpa di lain waktu, tidak hanya dengan bertatap muka melalui Video Call, tapi benar-benar bisa bertemu langsung dan melanjutkan kehidupan dengan aneka warna dalam indahnya persahabatan. Ini satu dari sekian banyak sahabat saya yang saya ceritakan, lain waktu saya akan cerita lagi teman-teman yang lain. *berasa penting*