October 15, 2014

Seluas Bahasamu, Seluas Itu Pula Duniamu


Bagi yang pernah berpergian ke suatu tempat, dimana bahasa yang digunakan adalah bahasa yang tidak bisa dipahami, tentu akan menyadari betapa pentingnya bahasa sebagai alat untuk komunikasi antara satu sama lain. Inilah sebuah keajaiban, dimana masing-masing Negara bahkan daerah memiliki aneka ragam bahasa yang memiliki ciri khas tersendiri. Di Bengkulu terdapat berbagai macam bahasa yang digunakan, masing-masing Kabupaten bahkan memiliki ragam bahasa tersendiri yang tidak semuanya saya pahami.
Berbicara di ruang lingkup yang lebih besar, saat pertama kali belajar di tanah Jawa, saya seperti orang asing yang datang dari dunia antah berantah, yang sama sekali tidak paham tentang bahasa yang mereka gunakan, yakni bahasa Jawa. Lantas bagaimana akhirnya saya bisa sedikit mengerti tentang bahasa Jawa? Meski sampai hari ini saya hanya sebatas paham dan tidak bisa mengucapkannya. Adanya kebiasaan mendengar tentu memiliki peran penting di dalam perkembangan kemampuan seseorang di dalam memahami suatu bahasa.
Berbicara di skala yang lebih besar lagi, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris adalah dua bahasa Internasional yang cukup mendominasi dunia, meski saat ini Bahasa Inggris yang lebih populer di dunia. Bagi umat Islam, tentu sangatlah penting mempelajari bahasa Arab, karena Al Quran menggunakan bahasa Arab, dan tentu akan sangat membantu jika seseorang bisa memahami kandungan ayat-ayat Allah dengan kemampuan bahasa yang ia miliki dan itu akan menambah keimanan seseorang tentang indahnya kandungan ayat-ayat Allah SWT.
Belajar bahasa Internasional tentu menjadi bekal yang bisa dibilang wajib untuk kita dalam mengepakkan sayap kita. Semakin luas bahasa yang kita kuasai, maka semakin luas dunia kita, dunia yang bisa kita genggam. Dengan kemampuan bahasa yang demikian baik, kita bisa menjelajah ke berbagai macam tempat tanpa perlu takut akan orang-orang yang berusaha menjebak kita dengan bahasa yang mereka gunakan, karena kita bisa memahami apa-apa yang mereka ucapkan. Kita bisa belajar banyak dengan membaca literatur-literatus berbahasa asing.
Setidaknya, ada salah satu bahasa asing yang kita kuasai, sebagai bekal bagi kita untuk membaca berbagai macam literatur ilmu pengetahuan. Saat ini yang berkembang pesat tentang ilmu pengetahuan adalah dunia barat, maka dirasa perlu bagi kita untuk bisa memahami bahasa Inggris guna membantu kita mempelajari sumber-sumber ilmu pengetahuan yang mereka gunakan hingga mereka bisa berkembang seperti sekarang ini. Mempelajari bahasa Inggris tentu memiliki peranan penting bagi kita jika ingin memahami metodologi yang digunakan dunia barat di institusi-institusi pendidikan yang mereka miliki. Ketika kita tidak bisa berbahasa Inggris, kecil kemungkinan kita bisa memahami literatur-literatur yang menggunakan bahasa Inggris, karena di Negara Indonesia sendiri, usaha penerjemahan literatur berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia masih sangat minim.
Begitu juga dengan Bahasa Arab, ada jutaan literatur klasik maupun modern yang bisa kita lahap dengan baik, jika kita menguasa Bahasa Arab. Ada sebuah lelucon yang sebenarnya betul, yang ditujukan oleh orang barat bagi-bagi orang-orang Muslim,
“Orang Islam itu memiliki kitab suci, tapi mereka tidak membacanya. Meskipun mereka membaca Al Quran, tapi mereka tidak memahami kandungannya. Andaipun mereka paham, tapi mereka tidak mengamalkannya.”
Benar adanya, dari sekian banyak generasi Muslim, tidak lebih dari 10 % yang bisa memahami ayat-ayat Allah SWT. Untuk bisa memahami tentu saja harus memiliki kemampuan berbahasa Arab yang baik dan benar disertai dengan kemampuan ilmu-ilmu penunjang yang lainnya.
Kembali kepada pentingnya berbahasa, saya baru menyadari pentingnya Bahasa Arab saat menjadi mahasiswa Pasca sarjana, sekian banyak literatur yang ada di perpustakaan yang menggunakan bahasa Arab tidak mampu untuk saya pahami. Menyentuhnya saja sudah terasa asing bagi saya, membaca satu halaman saja memakan waktu sekian lama karena ada banyak kosa kata yang tidak saya pahami. Kadang, lebih lama membuka kamus ketimbang membuka kitab yang akan saya baca, karena saya sibuk mencari makna kata-kata yang ada di teks, untuk kemudian dicoba untuk memahami secara utuh maksud dari teks yang saya baca.
Ketika kita pergi ke Negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar, tentu dirasa perlu bagi kita untuk menguasai bahasanya, dengan demikian kita bisa berinteraksi dengan baik dengan masyarakat lokal. Al Jahil akan berkata tentang orang yang berusaha untuk mempelajari bahasa internasional dengan ucapan yang tidak baik, dia akan mengatakan bahwa seseorang tersebut sombong. Tapi Al ‘Aqil akan mengatakan hal yang berbeda, dia akan bangga melihat seseorang yang mencoba untuk menguasai dunia dengan berbagai macam bahasa dunia.
Di masyarakat kita, sering kali seseorang dikatakan sombong, mencari perhatian, lebay, dan masih banyak lagi julukan yang lain, hanya karena ia sedang berusaha untuk bisa berbahasa Internasional. Yang berbicara bahasa Inggris akan dikatakan sok kebarat-baratan, yang berbahasa Arab akan dikatakan sok kearab-araban. Padahal, bahasa akan mudah didapatkan ketika menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Kebiasaan berbahasa akan membuat kemampuan kita dalam berkomunikasi akan lebih mudah. Maka perlu adanya sebuah lingkungan yang mendukung seseorang untuk bisa meningkatkan kemampuan berbahasa.
Namun, yang perlu digaris bawahi adalah, perlu melihat situasi dan kondisi, jangan sampai karena semangat dalam berbahasa tertentu, kemudian kita menggunakannya di hadapan orang-orang yang jelas-jelas tidak bisa mengerti apa yang kita ucapkan, misal,  kamu sedang belajar bahasa Arab, kemudian kamu berbicara di hadapan pemulung dengan bahasa Arab, meski tidak menutup kemungkinan ada pemulung yang bisa bahasa Arab. Intinya harus bisa melihat kapan dan dimana seharusnya kita bisa menggunakannya. Di lingkungan kampus, tentu mempraktikkan bahasa internasional, semisal Arab dan Inggris tentu sangat memungkinkan.
Sering kali kita menemukan orang-orang yang cemerlang di suatu bidang, karena terkendala bahasa, ia tidak mampu berbicara di forum-forum internasional, atau malah menggunakan jasa penerjemah. Maka, rasanya memang dirasa penting bagi seseorang, apalagi seorang akademisi untuk bisa menguasai setidaknya bahasa internasional, entah itu Arab maupun Inggris, atau bahasa apapun yang memang menunjang kegiatan akademisnya.
Mengubah pola pikir masyarakat kita akan pentingnya suatu bahasa tidaklah mudah. Maka perlu adanya revolusi cara pandang suatu masyarakat tentang pentingnya mempelajari bahasa-bahasa yang berkembang di dunia. Kita kembali ke masa dahulu, saat Rasulullah SAW. berdakwah, ia memerintahkan sahabatnya untuk mempelajari bahasa-bahasa asing, semisal Persia, Yunani, dan lain sebagainya guna penyebaran Agama Islam ke daerah-daerah di luar Arab. Bahkan, Bahasa Arab pernah menjadi bahasa yang digunakan oleh beberapa Negara di Barat sebagai bahasa pengantar sehari-hari.
Maka sudah saatnya, kita meningkatkan kemampuan kita dalam memahami bahasa-bahasa dunia, agar kita bisa menjejakkan kaki di belahan dunia mana pun, kemudian menegakkan hukum-hukum Allah SWT di muka bumi.

Islam dan Generasi Muda Muslim


Islam adalah agama Rahmatan Lil’alamin, di dalamnya telah diatur sedemikian rupa agar seseorang yang memeluk Agama Islam bisa menjalani kehidupan ini dengan baik. Ketika seseorang mengaku sebagai seorang “Muslim” maka hendaknya ia memiliki kesadaran untuk melakukan ajaran-ajaran Allah SWT. ke dalam kehidupan sehari-hari. Dalam artian tidak hanya sekadar menjadi seorang “Muslim” yang hanya menjadikannya sebagai sebuah identitas. Ada banyak teman-teman saya yang dari belahan dunia Barat yang masuk ke dalam Islam hanya karena ingin menikah dengan seorang perempuan yang Muslimah, setelah menikah, perilaku beragama tidak berubah, hanya identitas keagaamaan saja yang berubah.
Ada banyak teman saya yang dari Barat yang mencoba untuk membandingkan Indonesia yang negaranya mayoritas Muslim dengan Negara mereka yang muslimnya minoritas. Menurut mereka menjadi Muslim mayoritas nyatanya tidak menjadikan sebuah Negara itu baik dan berkembang. Contohnya sudah jelas, Indonesia dan Negara-negara Islam lainnya.
“Kami penganut Kristen, di Negara kami, muslim adalah minoritas. Kami bukan Muslim, tapi nilai-nilai keislaman jelas terlihat di Negara kami. Kita ambil contoh kesadaran tentang berlalu lintas, kesadaran untuk menjaga kebersihan, kesadaran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Kami tidak menemukan itu di Negara-negara Muslim, paling di Iran yang sudah mampu membuat satelit sendiri, sudah berhasil membuat kapal yang tidak mampu di deteksi oleh radar Amerika Serikat, sudah bisa membuat nuklir. Selain Iran, kita bisa melihat Dubai yang semakin berkembang pesat, sedangkan Negara-negara Islam lainnya terkesan tenggelam.  Peradaban dunia sekarang dipegang oleh Barat. Timur masih merangkak untuk maju dan tidak lepas dari bayang-bayang Amerika.”
Begitulah komentar mereka tentang Negara Islam. Kita memang tidak memungkiri apa yang mereka katakan tentang Negara-negara Islam. Saat ini ilmu pengetahuan memang berkembang pesat di Negara-negara barat. Nilai-nilai positif yang sebenarnya ada di dalam islam juga terlihat jelas di Negara-negara barat, tentang semangat keilmuan, semangat menjaga kebersihan, kesadaran berlalu lintas, dan masih banyak lagi yang lain. Lantas, apa yang sebenarnya salah dengan Islam? Apakah Islamnya ataukah oknumnya? Tentu saja bukan Islamnya yang salah, melainkan para pemeluknya yang masih memiliki kesadaran yang rendah dalam mewujudkan keislaman ke dalam kehidupan sehari-hari.
Di Iran, para petinggi pemerintahan memiliki para penasihat yang terdiri dari para Ulama yang menjadi tempat berdiskusi para pemegang kekuasaan dalam membuat sebuah kebijakan. Dalam artian, Iran sudah berusaha untuk kembali menjalankan roda pemerintahan di Negaranya sebagaimana yang dikehendaki oleh Al Quran. Nilai-nilai keislaman kembali diterapkan sebagaimana dahulu, Islam pernah jaya di masa lalu.
Generasi Muslim kadang hanyut dalam bayang-bayang kejayaan di masa lalu, saat Islam mengalami masa kejayaan yang sering kita baca di buku-buku sejarah. Ya, generasi muda muslim kadang hanya bisa mengatakan bahwa “Islam sudah pernah jaya, Islam memiliki kontribusi demikian besar atas kemajuan dunia barat.” Betul, Islam memiliki peran bagi kemajuan Negara-negara Barat. Banyak hasil dari pemikiran-pemikiran Muslim yang kemudian dipelajari, dijadikan sebuah bidang studi, diteliti, hingga menghasilkan sumbangsi penting bagi perkembangan ilmu pengetahun. Kita sebut saja Ibnu Sina di bidang kedokteran, Al Kindi yang dikenal sebagai seorang Filosof, Ibnu Rusyd, dan masih banyak lagi, dimana karya-karya mereka diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa di Barat, kemudian dipelajari.
Namun, sekadar hanyut dengan kejayaan masa lalu saja tidaklah cukup. Generasi muslim harusnya menyadari bahwa sudah saatnya kita kembali bangkit. Ada banyak sekali pembaharu-pembaharu yang mencoba untuk mengajak umat Islam untuk kembali bangkit, sebut saja Muhammad Abduh yang merupakan pembaru Mesir Modern.
Jika kita kembali membaca sejarah, Nabi Muhammad SAW. sudah mulai melakukan perluasan wilayah Muslim Arab, kemudian dilanjutkan oleh penerusnya Abu Bakr, di masa pemerintahan Abu Bakr, di bawah pedang Khalid Bin Walid, Islam sudah membentang di semenanjung Arab, tidak hanya di kota-kota besar, bahkan mencapai pelosok-pelosok Negeri. Setelah Abu Bakr Wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh penerusnya. Ekspansi Islam semakin meluas, Suriah, Iraq, Persia, Mesir dan lain sebagainya masuk ke dalam kekuasaan Islam. Ketika masa Ali, ekspansi Islam relatif terhenti karena banyaknya konflik internal di dalam tubuh Islam. Perluasan dilanjutkan oleh dinasti-dinasti selanjutnya. Islam sampai pada Spanyol dan Sisilia dan terus berkembang, hingga akhirnya terjadinya perang salib dan Islam kemudian kembali ke masa dark age, meninggalkan masa golden age.
Kekuasaan Muslim Arab runtuh, sedangkan Dunia Barat mengalami Renaisans atau kebangkitan kembali, menjadi zaman modern kemudian lahirnya ilmu pengetahuan yang berbasis rasionalisme dan empirisme.
Itulah sejarah. Lantas bagaimana seharusnya kita bersikap? Apakah sebagai generasi Muslim kita hanya cukup berdiam diri, membanggakan kejayaan masa lalu? Tentu tidak cukup demikian. Mental para generasi penerus perlu diubah. Gaya hidup generasi muslim yang berkiblat ke dunia Barat perlu dikaji kembali, gaya hedonisme dan sebagainya perlu diseleksi sedemikian rupa, agar para generasi tidak hanya sibuk membanggakan kemajuan dunia barat dan bersikap lemah saat dunia barat menjejakkan kakinya di Negara-negara Islam.
            Kita perlu kembali kepada Al Quran, mengakajinya dan menjadikannya sebagai pegangan hidup, mengamalkan nilai-nilai kehidupan yang ada di dalamnya. Kita perlu meniru semangat keilmuan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh Islam terdahulu, betapa mereka haus akan ilmu pengetahuan. Kita perlu merubah pola pikir kita yang cenderung konsumtif. Kita perlu menanamkan kesadaran bagi generasi penerus agar memiliki kesadaran dalam mewujudkan Islam yang sesungguhnya.