November 22, 2014

Teruntuk Faris

Faris Ersan Arizona

Kalian tentu masih ingat dengan Faris Ersan Arizona, bukan? Salah satu murid saya yang pernah saya tulis di dalam buku yang berjudul “Dear Faris – Catatan Inspirasi si Pahlawan Kecil-”. Hari ini saya dikagetkan oleh sebuah komentar salah satu rekan di salah satu status saya di Facebook.
“Minta doanya, Faris bulan depan mau operasi di Bandung. Kakinya pasca kecelakaan infeksi keluar nanah terus dan mengalami pengeroposan.”
Seketika saya kaget, sudah beberapa hari saya tidak berkomunikasi dengan Faris, terakhir kayaknya satu pekan yang lalu, sempat lama ngobrol, ketawa bareng, dia pun masih suka usil sama saya, dan saya mengakui, karena jarak dan juga kesibukan, saya jarang berkomunikasi dengan Faris. Dari perbincangan saya dengannya, saya tahu dia masih kuat menjalani semua ini.
Dalam hidup, kita memang dihadapkan pada pilihan-pilihan yang kadang tidak mudah untuk dilalui, namun satu hal yang perlu dipercayai bahwa tugas kita adalah berusaha sebaik mungkin, karena Allah selalu mempunyai kejutan-kejutan indah dalam hidup ini. Percayai, dan lakukan semuanya semaksimal mungkin.
**
Faris, kamu masih ingat dengan apa yang selalu Ustadz bilang?
“Selalu ada hasil dalam setiap usaha, sekecil apapun itu.”
Keyakinan itulah yang harus selalu Faris yakini, bahwa Tuhan sedang menguji Faris dengan cobaan yang tidak mudah untuk dilalui, tapi percayalah, Nak. Tuhan sayang dengan Faris, dan Ia percaya bahwa Faris pasti bisa melalui semua ini dengan baik.
Nak, maaf, ya, sejak Ustadz kuliah lagi, kita jadi jarang komunikasi, karena jarak dan kesibukan kadang membuat komunikasi kita tidak serutin dahulu, tapi kamu harus percaya bahwa ada doa-doa yang selalu Ustadz panjatkan demi kesembuhan Faris. Faris percaya, kan? Karena hakikatnya mendoakanmu adalah cara mencintai yang paling rahasia, Nak.
Faris, satu setengah bulan yang lalu, saat Ustadz menjenguk Faris di Purwokerto, menempuh jarak yang cukup jauh, dan akhirnya lelah terobati, karena bisa bertemu dengan Faris, yang sudah Ustadz anggap sebagai adik sendiri, dan Faris tahu, kan, betapa Ustadz sangat menyayangi Faris? Jangan lelah untuk berjalan meski harus tertatih, Nak. Jangan luntur semangat meski luka semakin menyisakan sakit sedemikian dalam. Jangan putus asa padaNya, karena semangat berjuang akan selalu ada selagi Faris percaya bahwa selalu ada harapan demi hari esok yang lebih baik.
Faris, kamu sudah pernah berhasil mengalahkan ketakutan saat berada di ruang operasi, dua kali bahkan, dan sekarang kamu akan kembali berada di ruangan itu untuk yang ketiga kalinya. Ustadz percaya, Faris pasti bisa menghadapinya dengan baik, yang perlu dimantapkan di dalam hati adalah “keyakinan akan kuasa-Nya”, karena ketika Faris meyakini kuasa-Nya, maka akan ada semangat juang yang lebih. Niatkan semua ini dalam rangka mencari ridha Allah SWT.
Nak, perjuangan ini memang masih panjang, ada banyak sekali hal-hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya dan kini harus dihadapi, namun yakinlah bahwa Tuhan memiliki rahasia tersendiri di balik semua proses yang Faris lalui, ada banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil, bukan? Faris sudah semakin dewasa, sudah semakin memahami hakikat dari perjuangan yang sesungguhnya, tetaplah mencinta Ia yang Mahacinta, meski luka tak kunjung mengering.
Faris, ada doa-doa yang ku ucap lirih pada-Nya, sebuah pinta akan kesembuhanmu, Nak. Semoga cintamu tetap utuh pada-Nya, seperti yang selalu Faris bilang,
“Tuhan lebih tahu mana yang terbaik bagi hamba-Nya.”
Sabar, ya, Nak.
**
Ya Rahman,
Engkau tahu mana yang terbaik bagi Faris
Kuatkan ia, yakinkan ia,
Bahwa Engkau mencintai-Nya seutuhnya

Merinduimu


Jarak memang membentang jauh di antara hatiku dan hatimu. Derap langkah kita tak lagi beringingan seperti dahulu, ada batas-batas yang membuat langkah kita semakin menjauh, menuju jalan masing-masing dengan cara dan aneka ragam warna jalan yang dilalui. Tapi hati kita tetap bersama meski ada jarak yang memisah.
Aku disini, dengan rangkaian doa-doa suci yang kurajut untukmu, seseorang yang telah berhasil menggenggam erat cinta yang dulu berterbangan bersama waktu. Engkau hadir mewarnai gelapnya malam yang dulu seakan menjadi akhir dari perjalanan hati yang tak kunjung berlabuh, aku jatuh cinta ketika tegur sapa pertama denganmu meski tanpa suara.
“Cinta, setialah pada hatiku sebagaimana kesetiaan hatiku menyebut namamu dalam doaku.”
Cinta, merinduimu adalah caraku membagi rasa yang kadang lelah merayu hati. Aku mencintaimu dalam tiap rindu-rindu yang terucap di kalbu nan disana. Ada namamu yang selalu kusebut di dalam sujud panjangku, ada wajahmu yang hadir kala tangisku tumpah karena menahan rindu, ya, aku merindumu sedemikian dalam. Adakah rindu untukku di hatimu, cinta?
Andai saja engkau hadir di sisiku kali ini, mungkin aku tak akan menjadi bak Majnun yang merindukan Laila, aku tenggelam dalam gejolak rindu yang entah kapan akan berlabuh. Aku berdiri tegak, berteriak dalam gelap malam nan sunyi, berharap hadirmu menemani hati yang dilanda cinta.
Kasih, kita berjanji akan bersabar, bukan? Bersabar menjalani semua ini sebaik mungkin, sampai nanti ajal memisahkan kita, meski belum kuikat kebersamaan kita. Aku masih tetap setia menunggumu, cinta. Menunggumu adalah bagian dari cinta yang tak sanggup kuucapkan kala berada di hadapanmu, meski sebenarnya menunggu adalah hal yang tak mudah bagi hatiku.
“Cinta, berjanjilah padaNya, bahwa akan selalu ada tentangku di hatimu, meski jarak memisahkan kita. Aku mencintaimu, kini, nanti dan selamanya.”
Cinta, mungkin engkau tak pernah tahu betapa aku mencintaimu. Engkau juga mungkin tidak pernah tahu sejak lama aku hadir di belakangmu dan tak pernah berani berkata jujur padamu. Aku hanyalah seorang pecinta yang tak punya nyali berucap cinta. Aku hanyalah pejuang rindu di kegelapan malam, namun luluh kala berhadapan denganmu. Itulah aku, cinta, aku yang dulu.
Cinta, kini tak ada lagi kekhawatiran tentang perasaanku padamu, karena engkau telah memberiku harapan, harapan untuk berjuang bersama denganmu, membangun cinta menuju ridha-Nya.
Cinta, aku mulai berani mengucap cinta di hadapanmu, meski hanya sebatas ucapan lirih yang mungkin tak sanggup untuk kau dengar, namun setidaknya aku sudah mulai berani menyebutnya di hadapanmu meski lirih tak terdengar.
Cinta, detik waktu terus berjalan, pun demikian dengan rasaku padamu, ia semakin mekar mewangi, meski belum sepenuhnya kumengerti tentangmu, tapi engkau memberiku kesempatan untuk mencintaimu.
Cinta, tetaplah yakin akan cintaku, sebagaimana keyakinanku akan cintamu untukku.