December 21, 2014

Si Pahlawan Kecil


Saya berusaha mengingat kembali apa yang sudah saya tulis di blog ini selama kurun waktu satu tahun terakhir, kemudian saya tertegun dengan tulisan saya yang berjudul “Dear Faris”, sebuah tulisan yang saya tujukan untuk salah satu murid saya yang sempat saya jadikan dalam sebuah buku yang berjudul “Dear Faris - Catatan Inspirasi Si Pahlwan Kecil”. Bagi saya, tulisan-tulisan saya tentang Faris adalah tulisan-tulisan yang sangat menyentuh hati saya. Saya kadang menulisnya sambil menangis, melihat bagaimana dia berjuang sedemikian kuat dan tegar dalam menghadapi cobaan hidup yang tentu saja tidak mudah untuk ukuran anak seusianya kala itu. Faris, dia baru saja masuk di SMP dan saya adalah wali kelasnya. Kebersamaan saya dengannya menyisakan kisah yang sampai hari ini tetap saya ingat, meski saya sudah tidak lagi menjadi gurunya di sekolah karena harus melanjutkan study master saya di Malang.
Dear Faris adalah sebuah persembahan cinta saya untuk Faris, semacam catatan perjuangannya saat menerima kenyataan bahwa ia kehilangan Ayah saat kecelakaan terjadi, sekaligus kehilangan kemampuannya untuk berjalan, bahkan hingga hari ini, Faris masih belum bisa kembali berjalan normal seperti sebelumnya. Namun, Faris selalu berusaha untuk tegar menjalani semua cobaan yang ada. Kalian tahu sudah berapa kali Faris menjalani operasi sampai hari ini? Dalam satu tahun terakhir, Faris sudah menjalani 3 kali operasi demi sebuah kesembuhan. Itulah mengapa, bagi saya, sosok Faris begitu menginspirasi saya untuk menuliskan kisahnya dan berbagi kepada orang-orang di luar sana, bahwa kita bisa belajar banyak hal dari sosok Faris.
Kadang, manusia hanya bisa mengeluh dan merasa bahwa dia adalah orang paling susah di dunia ini dengan sekian banyak permasalahan yang ada. Saya masih ingat dengan baik, ketika hari pertama Faris menyadari bahwa sang Ayah telah tiada, dia hanya berucap sambil menjabat tangan saya, “Jangan sedih, Ustadz, ini lebih baik bagi Bapak, kasihan melihat bapak.” Dan saya hanya bisa berpaling dari wajahnya sambil mengusap air mata.
Kebersamaan saya menemani Faris sejak awal sampai akhirnya dia bisa kembali ke sekolah adalah kebersamaan yang menjadikan kami dekat satu sama lain. Sebagai seorang Guru, saya merasa memiliki kewajiban untuk tetap menjaga semangatnya dalam berjuang menjalani cobaan hidup.
Beberapa hari yang lalu, Faris baru menjalani operasi yang ketiga kalinya di Bandung, karena ternyata terjadi pengeroposan tulang kakinya sehingga harus dioperasi ulang kemudian dikasih semen obat. Faris menelpon saya, bercerita bagaimana dia menjalani hari-harinya di rumah sakit untuk yang kesekian kalinya. Saya selalu bilang ke dia, “Kalo Faris butuh teman bicara, sms aja Ustadz, nanti Ustadz telepon”, dan Faris pun melakukan itu. Jika dia butuh teman berbincang, dia sms dan saya telepon.

Bagi saya, dia adalah sosok malaikat kecil yang diberi Tuhan kesabaran yang luar biasa. Bagaimana tidak, dua bulan yang akan datang dia akan menjalani operasinya yang keempat kalinya dan dia dengan sabarnya menjalaninya. Kita bisa mengambil banyak pelajaran dari sosoknya. Semoga Allah selalu memberinya kesabaran bersama orang-orang yang selalu mencintainya sepenuh hati. Salam cinta untukmu, Nak, dari Gurumu, Arian Sahidi