January 10, 2015

Lombok (First Day)

 Sunset di daerah Banyumulek, Kerangkeng
First Day
Saya sudah mendarat di lombok kurang lebih pukul 12.30 waktu setempat, sementara Renat, Farkhad dan Istrinya masih dalam penerbangan menuju Lombok. Mereka bertiga dari Jakarta, sementara penerbangan saya dari Surabaya. Agenda pertama di Lombok adalah duduk lesehan di tempat pengambilan bagasi seorang diri, karena yang lain sudah selesai mengambil bagasi. Saya masih santai duduk lesehan kayak homeless sambil makan roti O yang enaknya bikin saya tambah lapar, bukannya tambah kenyang.
Saya, Renat, Farkhad dan Istrinya

Mau tahu berapa lama saya menunggu di Lombok International Airport? Dua jam. Dua jam itu waktunya cukup loh buat acara resepsi pernikahan (lost focus), hehe. Kagak, maksud saya, dua jam itu waktu yang lama. Saya mondar-mandir, motret beberapa pegawai airport secara diam-diam, mulai dari cleaning service, penjaga toko, tukang dorong troli barang, bahkan tong sampah nggak luput dari jepretan saya. Asli kurang kerjaan banget.
Tiga Sahabat Karib

Setelah lelah menunggu Krisdayanti datang *dipentung Rahul Lemos*, akhirnya Renat nongol juga, diiringi oleh Farkhad dan Istrinya. Kasihan, ya, Renat, jalan-jalan bareng Farkhad yang sudah beristri, ngelihatnya itu kok nggak enak gitu, ganjil. Haha *melirik Renat yang kayak orang bingung nyariin saya*. Saya sudah lihat dia dari kejauhan, ngaktifin HP, kemudian menghubungi saya, tapi nggak saya angkat, sengaja ngerjain biar tambah bingung. Saya malah kabur ke toilet karena sesuatu (masa iya harus saya jelasin juga apa kegiatan saya di toilet). Setelah selesai bersemedi di Toilet, saya baru menghampiri Renat dan yang lain sambil jabat tangan, kemudian senyum tipis alias nyengir.
Setelah urusan bagasi selesai, selanjutnya adalah diskusi kemana sebenarnya arah perjalanan ini, mau dibawa kemana sebenarnya hubungan ini? *mendadak nyanyi*. Iya, ini liburan yang rada absurd sebenarnya, meski saya sudah punya rencana jalan-jalan sendiri, tapi masa iya saya memaksakan kehendak saya sendiri ke mereka bertiga. Makanya perlu diskusi. Meski sebenarnya ada beberapa teman yang siap menampung saya selama di Lombok dan itu tentu saja mengurangi biaya liburan saya *modus*, tapi saya nggak boleh egois, karena nyatanya saya berlibur bareng tiga orang teman yang tentu saja memiliki arah dan tujuan sendiri selama liburan kali ini. Maka saya lebih memilih menjadi teman yang menemani sahabat yang sedang berlibur. Saya mengikuti apa kata mereka saja.
Karena Renat dan yang lain terlihat bingung, akhirnya saya usul untuk menginap di rumah teman saya, kemudian besok baru jalan-jalan dengan menyewa mobil. Mereka setuju dan akhirnya kami cabut dari Bandara dengan travel menuju rumah teman yang sudah sejak beberapa hari yang lalu sudah menghubungi saya untuk menginap di rumahnya selama saya di Lombok dan dia siap menampung saya dan tiga orang teman saya.
Dalam perjalanan, seperti biasa, Renat yang tidak lain adalah sahabat saya yang sangat baik hati ini selalu melakukan recording di setiap perjalanan. Renat asik mengabadikan kebersamaan kami dalam video sambil menyapa satu persatu, kemudian merekam keindahan pemandangan yang kami lalu.
“Lombok is more beautiful than Bali,” ucapnya sambil tersenyum ke arah saya.
“Ehm, I think so,” jawab saya sekenanya, kemudian ikut-ikutan merekam kebersamaan kami di dalam mobil.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, kami sampai pada tujuan, yakni di daerah Banyumulek, langsung dipersilahkan masuk dan meletakkan barang-barang di kamar yang sudah disediakan. Farkhad dan istrinya di kamar tersendiri (kalo gabung ama saya dan Renat bahaya) hehe. Renat dan saya di kamar sebelahnya. Well, alamat bakalan rusuh kalo saya dan Renat dijadiin satu kamar. Saya jamin kagak bakalan tidur ini jadinya.
Bersama tuan rumah

Setelah meletakkan barang, kemudian shalat, selanjutnya adalah mencari makan sambil berkeliling daerah sekitar dengan dua buah motor yang sudah disediakan oleh teman. Renat nggak bisa pake motor selain motor matic, jadilah saya yang jadi tukang pacu. Kami berhenti di salah satu tempat makan, memesan sate kambing dan sate ayam yang lezat. Sambil menunggu pesanan siap saji, kami ngobrol ngalor ngidul nggak jelas, ketawa-ketiwi dan seperti biasa, saya kalo sudah disatukan bareng Renat, nyaris nggak bisa diam. Ada aja ulahnya, ada aja idenya gangguin saya, haha. Mungkin ini yang membuat kami dekat satu sama lain. Bahasa sudah tidak jadi kendala dalam persahabatan kami.
Selain ngobrol ngalor ngidul, ketawa-ketiwi, nggak lupa foto-foto. Renat pasang wajah sok-sok serius pas dipotret. Tapi saya tidak seantusias dahulu, saya lebih suka motret orang lain ketimbang dipotret. Jadilah Renat menjadi super model saya dalam perjalanan kali ini. Saya lebih suka motret mereka bertiga, ketimbang ikutan nimbrung. Palingan pas Renat mau foto berempat, barulah minta orang lain untuk mengabadikan kebersamaan kami.
Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke daerah yang tidak jauh dari rumah teman saya, melihat sunset di dekat persawahan. Renat tetap dengan handhphone-nya, merekam keindahan alam ciptaan Tuhan. Kami berhenti, kemudian mengabadikan kebersamaan meski maghrib sudah hampir menjelang. Setelah puas foto-foto dan diteriakin sama remaja-remaja setempat yang begitu antusias begitu melihat bule, kami pulang dan shalat maghrib berjamaah di masjid. Inilah kerennya kalo bepergian dengan orang-orang yang seiman, tetap berusaha menjaga kualitas ibadah meski sedang bepergian. Sebisa mungkin kami shalat berjamaah.
Habis maghrib, kami disambut oleh sekelompok anak-anak yang cukup rame, mereka berkerumun di tempat rumah teman saya, berbisik-bisik, kemudian rame sendiri ketika melihat kami berempat. Mungkin saja mereka masih penasaran melihat orang asing yang menginap di desa mereka, haha. Mereka lucu, kalian tahu sendiri saya itu senang banget dengan anak-anak. Di antara kami berempat, saya yang paling antusias menyapa mereka. Kemudian berbincang sejenak, sebelum akhirnya kami masuk dan istirahat di kamar masing-masing.
Waktu begitu cepat berlalu, habis isya, kami berempat berbincang sejenak dengan yang punya rumah, sekaligus diperkenalkan dengan beberapa anggota keluarga yang sengaja datang menyambut kedatangan kami. Kami betul-betul diperlakukan sedemikian baik oleh teman saya. Saya jadi nggak enak sendiri. Kendala bahasa menjadi penghambat komunikasi yang punya rumah dengan tiga orang sahabat saya. Jadilah saya yang paling banyak ngomong, menerjemahkan, biar komunikasi antara yang punya rumah dan tiga orang sahabat saya bisa berjalan dengan baik.
Sebelum tidur, kami berdiskusi dulu, setelah berdiskusi dan sepakat bahwa besok akan pergi ke air terjun Sendang Gile, air terjun Tiu Kelep, dan dilanjutkan dengan pergi ke Senggigih sambil mampir-mampir ke beberapa pantai di sepanjang jalan menuju pantai senggigih. Rencana kami akan menginap di Senggigih satu malam, baru kemudian melanjutkan liburan di Pulau Gili Terawangan.
Setelah diskusi alot, kami masuk ke kamar masing-masing, rencananya mau tidur. Saya sudah tahu, nggak bakalan ada yang namanya tidur nyenyak malam ini. Haha, biasalah, saya dan Renat emang sering lupa waktu kalo lagi bareng. Lampu sengaja dimatiin, kipas angin  saya hidupkan, kemudian berbaring di kasur, Renat juga ikut berbaring, dan perbincangan pun dimulai, sampai pukul 3 pagi *kucek-kucek mata*. Kami berdua bercerita banyak hal, mulai dari masa kecil masing-masing, tentang keluarga, impian maisng-masing dan seabrek obrolan yang lainnya. Renat menyelipkan berbagai kosa kata dalam bahasa Rusia dan Tatar biar membantu saya memahami bahasa asalnya.
Meski kebanyakan tertawanya, saya tiba-tiba hanyut dalam cerita Renat tentang kondisi ayahnya yang sempat mengalami stroke dalam waktu yang lumayan lama dan membuatnya harus berhenti dari bekerja dan akhirnya memilih untuk membuka usaha sendiri di rumahnya, berupa toko barang pecah belah. Saya sempat meneteskan air mata, saat Renat bercerita tentang proses operasi yang dilakukan berulang kali demi kesembuhan sang Ayah. Renat tidak tahu kalo saya menangis, karena suasana dalam gelap.
Renat bilang, “Setiap orang pasti pernah berada dalam kondisi demikian, lemah, atau bahkan hilang arah. Namun tidak sedikit orang yang tetap bertahan meski cobaan hidup demikian berat. Kita hanya perlu berusaha sebaik mungkin dan percaya, bahwa selalu ada hikmah dalam setiap cobaan.”
Jarum jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Kami berdua memutuskan untuk tidur sejenak sebelum subuh menjelang. Well, agenda sebelum tidur pun nggak lepas dari rusuh, saya suka dingin alias pengen kipas angin tetap nyala, sedangkan Renat suka hangat, alias kipas angin harus mati. Akhirnya saya mengalah. Kemudian baru bisa tidur.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan