January 11, 2015

Lombok: Gili Terawangan

sunrise di Gili Terawangan

Hari Pertama
Pukul delapan pagi kami sudah dijemput oleh travel yang akan membawa kami ke Gili Terawangan. Sarapan rada buru-buru karena habis subuh kami kembali molor karena lelah, meski sempat baca Qur’an ½ juz baru molor. Dalam perjalanan menuju Pelabuhan Bangsal, kami kembali menikmati keindahan alam raya. Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan. Inilah kenapa saya cinta mati sama Indonesia. Keindahan alamnya itu luar biasa. Di Senggigih, saya berasa lagi nggak berada di Indonesia, karena saking banyaknya orang asing yang memenuhi jalan-jalan dan pantai. Ini belum di Gili Terawangan, loh, ya, baru Senggigih doang.
Setelah sampai di Pelabuhan Bangsal, kami langsung menuju tempat penukaran tiket, kemudian naik Boat dan langsung menuju Gili Terawangan. Perjalanan kurang lebih 15-20 menitan sampai ke Gili Terawangan. Air lautnya muncrat-muncrat ke wajah. Renat nutupin kepala pake handuk, saya nutupin wajah pake topi, sedangkan istrinya Farkhad bersandar di bahunya Farkhad *pemandangan yang bikin nyesek pengen cepet nikah ini namanya* haha.
Agenda pertama di Gili adalah mencari penginapan yang dekat dengan pantai, biar bisa berleha-leha dengan deru ombak, bisa main pasir, mandi, dan sebagainya. Setelah dapat penginapan, kami mandi, kemudian mencari sepeda. Kami menyewa sepeda sebagai kendaraan selama di Gili. Sepeda sudah dapat dan kami langsung mengelilingi pulai Gili Terawangan yang keren ini. Bener yang saya tebak, bahwa di Gili Terawangan emang kayak nggak di Indonesia. Orang asingnya bejibun, ngalahin orang lokal. Dimana-dimana orang ngomong pake bahasa asing. Renat kadang memerhatikan orang-orang yang lewat dan memberitahu saya bahwa beberapa orang yang lewat adalah orang Rusia. Dia mengetahui itu dari paras wajah dan bahasa yang mereka gunakan.
Untuk mengelilingi pulau Gili Terawangan dengan sepeda, kami membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit. Well, cukup menguras keringat. Selama perjalanan mengelilingi pulau, kami balapan liar, haha. Saling dahulu mendahului. Renat jelas yang paling jauh tertinggal, karena sepedanya ngadat dua kali. Saya memutar arah, kemudian membantu dia memperbaiki rantai sepeda. Setelah itu dilanjutkan lagi dengan kejar-kejaran pake sepeda. Farkhad dan saya yang paling semangat balapan, sempat mengabaikan istrinya saking semangatnya balapan, haha.
Setelah selesai mengelilingi pulau, kami mencari makan, karena perut sudah lapar banget. Makanan di pulau Gili Terawangan memang relatif mahal. Selama di Gili, saya tidak pernah makan di bawah 25.000,. rata-rata sekali makan seharga demikian. Mungkin saja kalo mau cari di tempat makan yang lain bisa menemukan. Saya memang sengaja ikut saja dimana teman mau makan. Setelah makan, kami kembali ke penginapan, mandi, dan santai sejenak di kursi depan kamar. Saya membaca buku Lee Child “Never Go Back” versi bahasa Inggris, sementara Renat membaca buku berbahasa Arab, tentang metodologi penerjemahan bahasa Arab.
Setelah santai dan dirasa cukup, kami pergi ke pantai untuk snorkeling. Duh, ini kegiatan yang paling saya sukai, melihat keindahan terumbu karang lengkap dengan ikan-ikan nan cantik di dalamnya. Saya kadang berteriak sendiri di dalam hati *halah* saat melihat ikan-ikan nan cantik beserta terumbu karang yang membuat saya berdecak kagum. Kurang lebih 1,5 jam kami melakukan snorkeling, melihat keindahan ciptaan Tuhan. Saya berulang kali mengucap puji syukur akan kekuasaan Tuhan dalam mencipta. Tidak ada yang paling baik dalam mencipta, selain Dia.
Snorkeling selesai. Kami shalat maghrib dan isya berjamaah di masjid, kemudian jalan kaki, berkeliling, menikmati hembusan udara pantai di malam hari. Kami berjalan beriringan, sesekali merekam suasana di Gili yang cukup ramai. Kemudian kami mencari tempat untuk duduk santai, sambil mendengarkan dendangan ombak nan merdu. Kami pergi ke pelabuhan, Renat nyelonong sambil basah-basahan. Farkhad dan Istrinya asik foto dengan latar belakang rembulan yang terang benderang seterang hati saya saat ini, haha. Saya dan Renat memilih tidur-tiduran di kursi panjang lengkap dengan busa panjang nan tebal. Renat motret ngasal, sambil ngobrol tentang banyak hal. Kami membiarkan Farkhad dan istrinya asik dengan kebersamaan mereka, kami tidak ingin mengganggu. Sesekali saya dan Renat menawarkan diri untuk motret mereka berdua, kemudian kami melanjutkan obrolan santai.
Kami kembali ke kamar, kemudian istirahat. Seperti biasa, agenda sebelum tidur adalah rusuh. Saya ngidupin AC, Renat malah matiin AC karena nggak suka, padahal saya sudah keringatan, loh. *lemparin AC ke luar kamar* haha. Akhirnya disepakati, AC dihidupin dengan volume sedang saja, dan Renat boleh matiin AC kalo saya sudah tidur, haha.
Hari Kedua
Habis shalat subuh berjamaah, Renat udah narik selimut lagi namun gagal karena saya ajak keluar untuk melihat sunrise *kejam*. Kami berjalan kaki menaiki anak tangga menuju perbukitan, kemudian duduk santai sambil melihat suasana pagi di pulau Gili yang masih sepi. Matahari perlahan muncul, saya sibuk motret dan merekam kehadiran mentari pagi. Renat sibuk ngerekam kambing-kambing yang bergerombol di atas bukit. Setelah puas, kami turun, dan jalan kaki menuju ke dermaga sambil membawa pisang goreng, dua gelas kopi, dan sebotol air mineral. Kami duduk santai, sambil bermandikan sinar mentari pagi yang menghangatkan tubuh. Oh ya, kami juga membawa dua pancake pisang sebagai sarapan. Sengaja membawa sarapan dari hotel untuk dimakan di dermaga haha.
kulit saya udah gosong parah
Seperti biasa, kami duduk santai, ngobrol santai. Tidak lama kemudian, ada seorang turis asal Australia yang nimbrung, dia ngobrol sama saya rada lama, saya nggak enak sama Renat, karena dia rada susah memahami perbincangan kami, kemudian saya perkenalkan Renat ke turis Australia tersebut. Saya izin ke toilet, dan membiarkan Renat berbincang sebentar dengan turis tersebut. Turis tersebut pergi, dan kami melanjutkan obrolan santai, sambil memberi makan ikan-ikan yang bisa kami lihat dengan jelas dari atas dermaga. Terumbu karang yang berwarna-warni terkena terpaan mentari pagi menjadi pemandangan menakjubkan, pengen rasanya saya langsung nyemplung. Saya duduk di pinggir dermaga dengan kaki menyentuh air. Renat terlihat sangat antusias melihat ikan-ikan yang berkerumun karena makanan yang kami berikan. Saya merekam Renat yang sibuk memberi umpan ikan dengan penuh semangat.
setiap hari keliling pulau dengan sepeda
Mentari sudah semakin hangat, tidak terasa sudah pukul 9 pagi. Perut saya sepertinya sedang dalam masalah, saya harus bolak-balik toilet. Melihat saya yang kesakitan, Renat memutuskan untuk mengajak kembali ke hotel. Rencana jalan-jalan ke Gili Air hari ini dibatalkan, karena perut saya tidak bersahabat.
“You can go with Farkhad and his wife, Renat, I can stay here alone,” ujar saya ke Renat sambil berbaring di tempat tidur dengan sebuah buku di tangan kanan.
“No, we should go together, we can’t leave you here alone. This is “jamaa’h”. don’t ever think that I’m going to leave you here, ok. Take a rest and we will go to other island when you feel better.”
Duh, ini loh kerennya sahabat-sahabat saya ini. Mereka itu mengerti pake banget. Contohnya kali ini, karena perut saya memang sedang sakit banget, Renat dan lain memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana. Kami hanya stay di hotel. Saya akhirnya tidur lelap, Renat juga memutuskan untuk menemani dan ikutan molor.
suasana pagi hari di Gili Terawangan
Habis dzuhur, perut saya sudah mulai baikan, meski kudu tetap bolak-balik toilet. Karena sudah merasa baikan, kami akhirnya pergi snorkeling. Saya membawa buku yang bisa saya baca setelah selesai snorkeling. Snorkeling hari ini lebih lama dari biasanya. Kami melakukan snorkeling lebih jauh dari kemarin, kami menemukan ikan-ikan yang lebih ramai dan lebih cantik dari kemarin. Ah, ini pemandangan keren. Rasanya pengen nyemplung terus, menyentuh ikan-ikan yang berwarna-warni itu. Renat yang paling lama snorkeling.
“I found a big turtle,” ucap Renat sambil menghampiri saya yang sudah lebih dahulu istirahat di pinggir sambil membaca buku.
“a turtle? Why don’t you take and bring it here, we can sell it,” canda saya sambil tertawa. Renat duduk di samping sambil menyodorkan air mineral. Kami berempat istirahat sejenak karena sudah cukup lama di dalam air. Tidak lama berselang, kami pulang ke penginapan untuk istirahat dan bersih-bersih badan yang super lengket.
wajah kepanasan haha
Mandi selesai, saya dan Renat duduk di depan kamar, sibuk dengan bacaan masing-masing. Rencananya sore ini kami akan mengelilingi pulau lagi, sambil menunggu sunset di sunset point yang ada di pulau ini.
Jarum jam di tangan sudah menunjukkan pukul lima sore, kami memacu sepeda penuh semangat, berkeliling dan mampir-mampir ke beberapa toko kesenian, melihat beberapa barang yang memungkinkan untuk dibeli. Matahari sudah kembali ke peraduannya, saya sibuk motret. Renat itu super rusuh, dia sengaja nabrakin roda sepedanya ke roda sepeda saya yang belakang. Pokoknya jangan biarin dia di belakang, alamat gangguin kenyamanan gue bersepeda. Dia cuma senyum aja gitu, emang dasar tukang rusuh. He is really a good friend *lemparin pasir*
Kami bertiga kemudian sibuk foto-foto, istri Farkhad yang menjadi tukang foto. Loncat sana-sini sambil teriak kemudian tertawa lebar banget. Duh, ini nih yang namanya bahagia, memiliki teman seperjalanan yang mengagumkan. Fakhad juga tipe kawan yang nyambung kalo diajak ngobrol, dan jelas-jelas suka iseng. Isengnya rada super kadang.
Di perjalanan pulang, saya sukses membuat tiga sahabat saya tertawa, terutama istri Farkhad, haha. Saya turun dari sepeda, kemudian bergaya seolah-olah sedang jualan.
“Ice cream,… ice cream… ice cream…”
Saya mengulangi ucapan tersebut berkali-kali sepanjang jalan, banyak orang yang melongo dan saya cuekin aja gitu. Ada turis yang ikutan nimbrung kemudian dengan suara lantang dia bilang gini,
“transport,….transport….transport…”
pose absurd haha
Setelah selesai dengan adegan tertawa, kami pulang, kemudian shalat maghrib di masjid berjamaah. Kami meletakkan sepeda di penginapan, kemudian mencari makan malam di pinggir pantai. Ada banyak pilihan menu yang tersedia, asal siap makan aja dan kamu kuat bayar. Renat dan saya memesan ikan segar, Farkhad dan istrinya memesan ayam dan daging sapi.
Perut kenyang. Kami melanjutkan rutinitas malam hari, berkeliling dan duduk santai di pinggir pantai. Namun sayang, kami nggak bisa lama-lama melihat suasana pantai di malam hari seperti malam sebelumnya, karena perut saya kembali bermasalah. Saya bilang ke Renat dan kami pun memutuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat. Iya, mereka kompakan loh, padahal saya sudah bilang, biar saya sendirian aja ke hotel, biar mereka tetap bisa jalan meski tanpa saya.
“Stop saying that, ok, I will not let you go back alone, we go back together.” Komentar Renat pas saya bilang demikian. Kalo Renat sudah bilang demikian, lebih baik jangan dibantah.
Saya istirahat di kamar, berbaring di ranjang. Renat duduk di ranjang sambil membuka laptop. Agenda kami adalah melihat seabrek foto-foto yang sudah diambil beberapa hari ini. Tidak ketinggalan melanjutkan agenda melihat foto-foto Renat di Rusia.
Malam semakin larut, saya memilih untuk segera tidur, Renat duduk di luar kamar sambil melakukan video call orang tuanya melalui skype.
Hari Ketiga
Hari ini merupakan hari terakhir saya di Gili Terawangan, karena jam dua siang saya harus kembali ke Lombok karena penerbangan saya besok jam 11 siang. Jika ditempuh dari Gili Terawangan, saya takut bakalan telat, karena lokasi Gili dan airport cukup jauh. Oleh karena itu saya memilih untuk menginap di guest house yang ada di Mataram.
Kami sarapan bareng, kemudian berkeliling pulau dengan sepeda. Laut sedang surut di bagian lain pulau Gili Terawangan. Kami meletakkan sepeda di pinggir, kemudian jalan kaki menuju terumbu karang yang terlihat menawan. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan mengeliling pulau seperti biasa, kejar-kejaran pake sepeda, dan tentu saja ada Renat yang seperti biasa dengan ulahnya yang kadang pengen gue timpuk pake sepeda, haha, becanda.

Farkhad, take care of Renat, ok, don’t let him jump from the bridge,” pesan saya ke Farkhad dan dia langsung tertawa.
I will, don’t worry,”
Setelah berkeliling, kami mengembalikan sepeda ke tempat penyewaan, padahal cuma saya sendiri loh yang mau pulang hari ini, mereka ikutan mengembalikan sepeda, padahal mereka masih lama di Gili, kemungkinan sampai tanggal 12 Januari. Biar kompak katanya.
Kami berjalan kaki bareng-bareng kemudian nyebur ke laut. Ada perahu yang sedang bertengger di bibir pantai, saya naik di atasnya kemudian nyebur dan teriak sekuat-kuatnya. Tidak lama kemudian pemilik perahu datang dan melarang saya melompat dari atasnya haha. Kami melanjutkan rutinitas harian alias nyebur. Kulit udah makin gelap aja, emang dari sononya udah gelap sih, jadi nggak usah komentar masalah warna kulit.

“I wanna have skin like yours,” komentar Farkhad dan saya cuma nyengir doang. Yaelah, masa iya mau punya kulit kayak gue ini *jedotin kepala ke tembok*
Edisi nyebur selesai. Jam satu siang kami kembali ke penginapan, Renat itu menjadi tukang kontrol, dia memastikan saya tidak terlambat. Setelah semua siap, ketiga sahabat saya mengantarkan saya menuju boat yang akan membawa saya kembali ke Lombok.
“Why don’t you stay here with us?” tanya Farkhad. Ini pertanyaan yang kesekian kalinya. Dan saya sudah menjawab berulang kali.
“I can’t stay here with you, because I have to go to Pare to continue my English course. Maybe next holiday we can go together again to Komodo Island. I really wanna go there.” Jawab saya.
“Farkhad, Renat is my assistant, tell him if you need anything, he will take care of everything you need. Just tell him and he will do it for you, ok.” Ucap saya sambil menepuk pundak Renat yang duduk di samping saya. Yang diomongin cuma senyum doang.
“ok guys, I’ll see you in Malang soon. Enjoy your holidays.”
Saatnya berpelukan dan berpisah. Saya langsung menuju Boat. Tiga sahabat saya tetap berdiri di pinggir pantai dan melambaikan tangan hingga Boat saya semakin menjauh barulah mereka pergi. Saya menatap mereka dari kejauhan dan berterimakasih kepada Tuhan, karena sudah dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang demikian baik. Berada di tengah-tengah mereka, saya merasakan bahagia yang betul-betul bahagia. Saya kagum bagaimana mereka berusaha memahami satu sama lain, berusaha untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dan rela menghentikan kegiatan jika salah satu dari kami tidak bisa. Bagi saya, kebersamaan seperti ini adalah anugerah yang demikian besar, karena berada di sekitar orang-orang yang demikian baik. Tinggal bagaimana sekarang saya memaknai persahabatan yang sudah terjalin dalam empat bulan terakhir.
Renat tipe sahabat yang sangat peka dalam banyak hal, dia selalu memastikan bahwa saya baik-baik saja. Farkhad dan istrinya tipe sahabat yang sering melontarkan lelucon yang kadang membuat saya tertawa lepas tanpa beban. Kami berempat bisa kompak, meski kami memiliki latar belakang yang jelas-jelas berbeda, dengan budaya yang tentu saja berbeda. Renat tipe sahabat yang selalu menjunjung tinggi kebersamaan. Farkhad tipe sahabat yang juga pengertian. Semoga kebaikan selalu menyertai mereka semua.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan