February 26, 2015

Berhenti Menghakimi


Sadar atau tidak, kadang kita sangat mudah menghakimi orang lain, seolah-olah mereka bukanlah orang yang pantas kita jadikan sahabat, kawan, atau hanya sekadar menebar senyum. Iya, kadang kita menjadi seseorang yang angkuh, yang kemudian menjadi seseorang yang tak ubahnya bak hakim yang berhak menghakimi seseorang karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam benak kita.
Sering kali, kita menganggap remeh orang yang melakukan hal yang menurut sudut pandang kita adalah sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, tanpa terlebih dahulu berusaha untuk memahami kondisi seseorang yang sudah kita hakimi tersebut. Sering kali kita merasa bahwa kita adalah orang yang lebih baik dari orang lain, hanya karena mereka tidak memiliki pemahaman yang sama dengan kita. Iya, kadang kita seolah menjadi tukang komentar ulung, yang seolah semua bisa diselesaikan dengan hanya menebar komentar sinis kepada orang-orang yang menurut kita telah gagal menunaikan amanah yang telah diembankan kepada mereka. Iya, kadang kita menjadi sosok yang SOK HEBAT meski hanya sekadar mampu memberi komentar negatif pada orang lain dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Akhir-akhir ini saya jengah, jengah dengan timeline facebook saya yang isinya orang-orang yang seenak udelnya memberi komentar terhadap petinggi bangsa ini, yang mereka anggap telah GAGAL mengemban tugas, menunaikan amanah yang seharusnya dilaksanakan, mewujudkan apa-apa yang pernah mereka janjikan di kala mereka masih berjuang untuk mendapatkan posisi yang sekarang mereka duduki. Sekian banyak caci maki, sekian banyak sumpah serapah, meski ada juga yang berusaha lebih bijak dalam merespon kondisi yang ada, berusaha lebih berempati.
Pernah kalian menyadari, bahwa merubah Jakarta yang sudah turun temurun bersahabat dengan banjir bukanlah pekerjaan sehari dua hari, atau bahkan setahun dua tahun, butuh waktu yang lebih lama dari sekadar jabatan lima tahun menjadi pemimpin Jakarta untuk merubah kondisi Jakarta yang selalu dirundung banjir. Ini adalah masalah turun temurun, bukan permasalahan kemarin sore. Butuh keseriusan bagi semua pihak, terutama masyarakat dalam mewujudkan Jakarta yang nyaman. Kemudian sekarang seenak jidatmu kamu memberi komentar bahwa mereka yang menduduki posisi tinggi di pemerintahan Jakarta adalah mereka yang GAGAL dalam memperbaiki Jakarta agar terbebas dari yang namanya banjir. Dan saya percaya, ketika kamu yang memimpin JAKARTA, kamu pun akan menyadari bahwa merubah kebiasaan buruk warga yang suka seenak hati membuang sampah sembarangan, mendirikan bangunan di tempat yang seharusnya menjadi serapan air tidaklah mudah. Semua itu BUKAN KESALAHAN TOTAL para petinggi pemerintahan Jakarta. Pun demikian dengan Jakarta yang macet, kamu kira bisa dilesesaikan hanya dengan begitu saja? Tidak, kawan.
Selanjutnya, ketika Jokowi menjadi pemimpin Negara, kemudian kamu berbondong-bondong mencaci maki, menjelek-jelekkan seenak udelmu tentang model kepemimpinan yang dia lakukan, mencaci maki keputusan-keputusan yang ia buat dalam memimpin bangsa dan Negara ini. Seolah Jokowi tidak pernah melakukan sesuatu yang benar dan baik dalam memimpin Bangsa dan Negara ini, seolah semuanya SALAH dan tidak ada benarnya di matamu. Sehina itukah Jokowi di matamu, kawan?
Bukan berarti kita tidak boleh memberikan komentar atas kepemimpinan mereka, silahkan kritisi, silahkan beri masukan, namun tetap memperhatikan tata krama yang baik. Perhatikan bagaimana cara mengungkapkan sebuah kritik dan saran layaknya seseorang yang memiliki tujuan yang baik, bukan malah bermaksud menjatuhkan. Kebanyakan komentar malah bermaksud menjatuhkan, bukan untuk membangun, dan berusaha menjadikan kondisi tersebut lebih baik.
Saya sama sekali tidak bermaksud untuk membela dua orang pemimpin yang saya cotohkan di atas, sama sekali tidak ada maksud, namun bagi saya, ada etika yang seharusnya dipakai dalam memberikan sebuah kritik dan saran. Dan terakhir, jika kamu punya kaca di rumah, coba ambil sebentar, kemudian berkaca diri, jika kamu berada di posisi mereka, benarkah kamu bisa memimpin lebih baik ketimbang mereka? kemudian jawab sendiri pertanyaan itu dan mulailah untuk merubah kebiasaan buruk dalam mencaci maki, menjadi pribadi yang lebih berwibawa dalam memandang suatu kondisi yang ada, jangan seperti hewan, jangan seperti orang yang tidak pernah menikmati bangku sekolah. Kita bukan hewan, kawan, kita manusia yang seharusnya lebih beradab ketimbang hewan.

February 19, 2015

Pantai Menganti


18-19 Februari
Pernah mendengar nama pantai ini? Mereka yang lahir dan besar di daerah Kebumen saya yakin sudah tidak asing lagi dengan pantai ini, sebuah pantai cantik dan menawan yang memerlukan perjuangan ekstra untuk bisa sampai kesini. Tapi jangan ciut dulu, Bro, meski perjalanan menuju pantai ini cukup serem karena jalannya super berliku, curam, kiri-kanan lembah, namun akan terbayar dengan keindahan pantainya nan cantik. Pasir putih yang berpadu dengan birunya laut rasanya cukup menjadi pengobat dag-dig-dug selama perjalanan menuju pantai ini.
Duh, sampai lupa memberitahu dimana letak pantai ini. Pantai Menganti terletak di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Kurang lebih 40 KM dari Gombong. Untuk menuju pantai ini, saya sarankan dengan menggunakan sepeda motor saja, deh, dan pastikan sepeda motor yang digunakan dalam keadaan prima. Jika ingin menggunakan mobil, pastikan juga kamu sudah lihai menaklukkan jalanan yang berliku dan tebing yang curam, karena memang jalan menuju sana cukup terjal. Dan jangan pake bus, ya, mau diparkir dimana? :p
Ini kunjungan pertama saya ke Pantai Menganti ini, bermula dari ajakan teman yang mendadak alias tanpa rencana. Sehabis Isya kemarin, tiba-tiba langsung diajak pergi ke pantai ini. Sudah lama saya mendengar nama pantai ini, namun baru kemarin bisa sampai kesana, maklum, kesibukan saya itu super parah akhir-akhir ini (sibuk tidur). Setelah berkemas secara mendadak, nggak bawa baju ganti, cuma bawa kaos kaki, jaket, sarung, uang secukupnya, dan DSLR, saya ikut rombongan. Kam berangkat dari Purwokerto kurang lebih pukul delapan malam.
Perjalanan di malam hari menuju pantai ini sangat tidak saya sarankan, karena memang penerangan menuju kesana sangat terbatas. Tapi bukan Arian dong namanya kalo tidak bisa menaklukkan terjalnya jalan menuju kesana (halah, padahal dibonceng hahaha). Dan seperti biasa dong, saya itu nggak keren kalo nggak ngantuk di atas motor, fiuhhhh, kebiasaan jelek banget. Masa iya kudu diikat dulu biar nggak jatuh dari motor (ih, ini malah curhatnya kebanyakan).
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya sampai juga di pantai menganti. Batas jalanan beraspalnya itu berada di bukit, selanjutnya jalannya cuma tanah merah, nggak ada lampu sama sekali. Kami mengandalkan lampu dari sepeda motor dan senter yang sengaja dibawa. Setelah sampai di bukit yang bersisian dengan pantai, kami langsung menuju pondokan-pondokan kecil yang ada disana. Rencana awal mau mendirikan tenda, tapi nggak jadi, karena merasa cukup dengan pondokan-pondokan kecil yang ada di tebing bukit. Karena capek, saya langsung molor, sementara yang lain masih sibuk ngobrol dan maen kartu kayaknya (saya nggak ngerti mereka maen apaan).
Tidur di pondokan yang dindingnya cuma seuprit itu tentu saja dingin, Jendral. Saya tidur pakai kaos kaki, pake jaket tebal, kemudian nutupin kepala pake sarung, lengkap kayak satpam kompleks dah pokoknya. Tapi tidur saya nyenyak. Saya bangun paling awal, kemudian langsung wudhu dari air yang sengaja saya bawa. Setelah selesai shalat, yang lain akhirnya pada bangun dan langsung turun ke bawah, menuju karang-karang kokoh di bawah bukit untuk berwudhu. Saya cuma nyengir melihat mereka berwudhu disana.
Setelah shalat, agenda selanjutnya adalah menyiapkan alat pancing, menyiapkan peralatan masak seadanya. Ada yang mancing, ada yang masak, ada yang sibuk motret pake HP (siapa lagi kalo bukan gue) karena ternyata saya cuma bawa DSLR tanpa MEMORY, hikz. Jalan-jalan nggak bisa motret pake DSLR, cuma ngandalin kamera HP yang cuma bisa motret beberapa foto karena baterainya low pake banget itu bikin nyesek banget. HP Cuma berhasil motret sedikit, kemudian mati deh, baterainya habis. Tamat sudah riwayat motret kali ini.
Setelah selesai masak, dilanjutkan dengan makan bareng, sambil ngobrol ngalor ngidul dan karena bertujuh ini semuanya jomblo, maka tentu saja obrolan yang paling asik adalah tentang pernikahan, haha. Eh, lupa, ada satu orang deh yang sudah menikah. Ada aja obrolan pagi hari, teman-teman saya ini super banget idenya, mulai dari rencana bulan madu di tengah laut dengan perahu, bulan madu di pondokan di atas bukit sambil mendirikan tenda, sampai mengunjungi pulau Lombok maupun Bali masuk dalam obrolan. Saya? Oh saya mah jangan ditanya bulan madunya kemana, nikah aja belum #berdoaKhusyu.
Mancing selesai, masak selesai, makan juga sudah selesai, selanjutnya adalah santai sambil menuruni bukit, duduk di atas batu karang yang menjadi tempat berlabuhnya ombak-ombak yang cukup besar. Setelah dirasa cukup, akhirnya kami memutuskan untuk langsung pulang. Sebenarnya tidak langsung pulang, kami melanjutkan jalan-jalan ke arah Baturaden, menuju Curug Bayan dan mandi di bawah air terjun yang sukses membuat saya menggigil.
Sampai jumpa di cerita liburan selanjutnya. Liburan saya masih belum selesai, masih sepekan lagi waktu saya untuk menjelajah.

February 12, 2015

Memahami Perbedaan

Tadi pagi, habis subuh, saya mendapat pesan singkat dari sahabat saya di Switzerland via WhatsApp. Sudah 9 bulan saya tidak mendengar kabar darinya, dia tiba-tiba menghilang begitu saja, tidak pernah menghubungi baik melalui Skype, Facebook, maupun WhatsApp. Saya beranggapan mungkin dia sedang sibuk. Pernah beberapa kali saya coba hubungi, tapi tidak bisa. Terakhir kali dia menghubungi saya 9 bulan yang lalu, dia bercerita tentang rencananya memanjangkan jenggotnya.

“Salam, Akhi, I’m sorry, I never responded your messages, chats, or calls. I was in jail for 8 months. I had internet connection only twice a week. I’m sorry. All my chats, messages, and calls were controlled by the police. I was in jail because somebody in the bus said to me in german language, “Fuck you immigrant, go back to your homeplace.” This person said this to me because of my beard and I told him that he should shut up. He stand up and walked really near to me and pushed me against the bus window. I hit him, I was out of control, I bet him really up. I just tried to protect my self. I’m free now. It’s late here, Akhi, I have to sleep. Can I call you tomorrow in viber?”
“sure, I think skype is better, Akhi.”
“Okay, see you tomorrow.”

Setelah membaca pesannya, saya kemudian merenung. Kadang, kita merasa bahwa kita adalah orang paling keren sedunia, sedangkan yang lain hanyalah gumpalan debu yang beterbangan tiada arti dan hanya menjadi perusak suasana. Ketika melihat orang lain berbeda dengan kita, kita kadang langsung nge-judge mereka dengan ucapan-ucapan yang tidak enak didengar, atau setidaknya ngedumel di dalam hati, “Ih, itu orang aneh banget, sumpah.” Tidak usah jauh-jauh membayangkan hidup sebagai muslim di Negara lain, cukup lihat bagaimana sikap orang-orang di sekeliling kita dalam menghadapi sebuah perbedaan.
Saya tipe orang yang rada cuek, selagi orang tidak mengganggu saya, saya lebih banyak memilih diam, namun ketika orang lain sudah mengganggu kenyamanan saya, kadang saya juga tersulut emosi, meski lebih banyak menghindar dan berusaha membuat suasana seaman mungkin alias baik-baik saja alias menghadapinya dengan kepala dingin dan itu tidak mudah, Jendral.
Dulu, ketika pertama kali memakai jubbah, saya sering dipandang sedemikian aneh oleh masyarakat sekitar, terutama masyarakat desa yang memang notabene tidak terlalu paham juga tentang jubbah, setahu mereka, saya berbeda dan dianggap aliran SESAT. Separah itu. Dijelasin panjang lebar kali tinggi, juga tetap saja mereka nggak peduli, dan akhirnya saya memilih untuk bersikap biasa saja, menjelaskan ketika memang dirasa perlu untuk dijelaskan. Saya suka jubbah, hanya semata karena merasa nyaman, bukan karena saya ikut aliran tertentu, sesederhana itu. Tapi ya itu tadi, apa yang saya anggap sederhana, simple, dan nyaman, bisa jadi merupakan hal yang menarik untuk dikomentarin, dijelek-jelekkan, dan lain sebagainya. Apa saya menyerah? Nggak, sama sekali tidak, bahkan sekarang sudah banyak yang suka pakai jubbah ke masjid. Padahal saya nggak pernah itu nyuruh mereka.
Dulu, ketika semua orangtua di kampung memilih sekolah-sekolah Negeri Favorit untuk sekolah anak-anaknya, Bapak dan Ibu saya memilih memasukkan saya ke Pondok Pesantren di Ibu Kota Propinsi, kemudian semua orang ngomongin, mulai dari yang setuju, biasa saja, sampai pada ngeledekin ortu saya karena memasukkan anaknya ke Pesantren yang saat itu dinilai sebagai sekolah yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang kolot yang kemana-mana kerjaannya sarungan. Bukan sekali dua kali saya harus mendengar cemooh warga, karena saya belajar di Pesantren. Iya, sesederhana itu, hanya karena saya belajar di Pesantren, mempelajari Agama, keluarga saya dicemooh. Tapi itu dulu, sekarang semua berbalik arah, yang dulu mencemooh, kini malah berusaha memasukkan anak-anak mereka ke pesantren, atau sekolah-sekolah yang basic Agamanya mencukupi.

Dulu, ketika banyak pemuda-pemudi desa yang menikah setelah lulus SMA, dan saya memilih untuk melanjutkan Study ke Jakarta, lagi-lagi saya dicemooh. Terutama orangtua yang dikenal sebagai orang yang tidak berkecukupan, dianggap gegabah, sok kaya, karena menyekolahkan anaknya ke jenjang Perguruan Tinggi, seolah itu adalah aib besar bagi keluarga saya. Saat kelulusan saya di Perguruan Tinggi, baru kemudian mengerti bahwa pentingnya pendidikan dan saya bersyukur, orangtua saya memahami betul masalah ini, meski keduanya tidak lulus sekolah dasar. Saya jadi Sarjana Pertama di Keluarga besar Ayah dan Ibu, kemudian disusul oleh yang lainnya.
Perbedaan-perbedaan ini sebenarnya bisa menjadi masalah ketika kita tidak bisa menyikapinya dengan bijak. Semakin belajar, semakin saya mengerti bagaimana menyikapi sebuah perbedaan dalam sebuah masyarakat, berusaha lebih terbuka, berusaha mendengar, berusaha membuka mata atas semua perbedaan itu, berusaha mengerti bahwa kadar pengetahuan seseorang tidak sama satu sama lain, boleh jadi orang memberi komentar tidak baik karena ketidaktahuannya akan hal itu, boleh jadi karena dia memiliki pemahaman yang berbeda akan sesuatu, dan itulah yang seharusnya dimengerti, dipahami, dan dihadapi dengan bijaksana. Karena tidak akan pernah ada yang namanya semua orang memiliki pemikiran yang 100% sama dengan kita, akan selalu ada perbedaan. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kita harus menyikapi sebuah perbedaan itu, apakah dengan emosi, atau menyelesaikannya dengan cara yang baik, pilihan ada pada diri kita.
Kehidupan seorang Muslim di negeri ini saya rasa lebih nyaman, ketimbang di Negara-negara lain. Meski tidak semuanya bisa hidup berdampingan dengan damai dengan agama-agama non muslim. Namun bagi saya, saya merasa lebih nyaman menjalankan ibadah saya di sini, di tanah air ini, ketimbang harus berpindah ke Negara lain. Saya tidak bisa membayangkan menjadi seorang Muslim di Negara yang bahkan Masjid menjadi sesuatu yang langka untuk ditemui, saya tidak bisa membayangkan hidup dengan komunitas muslim yang hanya sedikit, meski sebenarnya tidak semua Negara memandang menjadi seorang Muslim adalah sesuatu yang aneh.
Kembali ke sahabat saya di atas, saya tahu persis dia adalah seorang Muslim yang taat, dan harus menghadapi cara pandang masyarakat sekitar yang sering menganggap mereka aneh. Saya sempat kaget ketika dia memberitahu saya bahwa dia emosi karena ucapan seseorang di Bus tersebut, karena itu bukanlah yang pertama kali dia hadapi, sudah sekian banyak cemoohan yang dia terima, dan dia bisa tetap santai menghadapi semua itu. Mungkin saja saat itu dia sedang khilaf dan saya memaklumi itu dan berdoa, semoga semuanya baik-baik saja kedepannya.

February 01, 2015

Friendship

after cooking class
Sometimes you meet a person and you just click – you are comfortable with them, like you’ve known them your whole life, and you don’t have to pretend to be anyone or anything. Finding a loyal friends is as hard as finding a tear drop in the ocean, if you make them, cherish them.
I always though loving someone is the greatest feeling, but I realized that loving a friend is even better. We lose people we love, but we never lose true friends. True friends are the ones who have nice things to say about you behind your back.
Abaikan tentang tata bahasa di tulisan di atas, ya, anggap saja sudah benar semua #krik. Berbicara tentang persahabatan, saya jadi teringat tentang obrolan sambil menunggu waktu maghrib kemarin. Jadi ceritanya kemarin saya dan teman-teman saya, lagi pada iseng masak gitu, tahu sendirilah, ya, saya, kan emang lagi suka banget kuliner akhir-akhir ini, jadi nggak usah heran kalo berat badan saya itu naik drastis dalam satu bulan terakhir ini #curhat. Sambil menunggu Manti (salah satu masakan khas daerah Renat), kami ngobrol santai tentang sahabat.
“Saya bukan tipe orang yang mudah nyaman dalam persahabatan, namun ketika saya sudah nyaman, saya bisa terbuka, bercerita banyak hal, seolah saya sudah mengenalnya sejak lama. Rasa nyaman itu yang kadang sulit saya temukan, maka saya lebih suka menyendiri dan sesekali bergaul. Saya tidak terlalu suka berbicara dengan orang yang tidak dekat dengan saya, namun ketika sudah dekat, dengan sendirinya semua akan mengalir begitu saja, seolah tidak ada beban.” Ucap salah seorang di antara kami.
Seperti yang saya tulis di atas, kadang kita bertemu seseorang, kemudian kita ngerasa nyambung, cocok, klik, seolah kita sudah mengenal mereka sejak lama, nggak ada canggung satu sama lain, saling terbuka, dan itu membuat ikatan yang terjalin begitu dekat. Saya tipe orang yang rada bawel akhir-akhir ini, suka ngoceh, dan tentu saja perlu pendengar setia. Siapa yang menjadi pendengar setia? Tidak lain adalah sahabat-sahabat yang ada di sekeliling saya. Namun adakalanya saya harus memosisikan diri, kapan saya harus menjadi pendengar yang baik atau pembicara yang baik.
a man who is able to cook is a perfect future husband :p 
Dalam empat bulan terakhir, saya memang dekat banget dengan Renat dan Mir ‘Athoullah. Dengan Farhad baru dua bulan terakhir ini saya dekat. Bersahabat dengan mereka, saya merasa nyaman. Meski sebenarnya ada kalanya salah paham satu sama lain, namun semua diselesaikan dengan cara yang baik. Setelah itu selesai ya, sudah, semua berjalan seperti biasa. Bersahabat bukan berarti semuanya akur-akur saja, semuanya sejalan, tidak demikian, adakalanya kita berseberangan dan berusaha memahami lebih baik lagi. Dan yang paling terpenting bagi saya adalah, bagaimana bisa lebih bijak dalam memahami sebuah perbedaan. Mereka adalah sahabat-sahabat seiman yang membuat saya merasa lebih baik lagi dari sebelumnya.
Ada banyak hal yang saya pelajari dari Renat, bagaimana dia sedemikian sungguh-sungguh menggapai apa yang menjadi mimpinya, bagaimana dia memberi perhatian sedemikian besar pada sahabatnya, selalu berusaha menjadi seorang pendengar yang baik, dan tentu saja dengan guyonan khasnya yang membuat kami menjalin persahabatan sedemikian dekat selama ini. Dengan Mir Athoullah, saya belajar bagaimana lebih berani dalam menjalani hidup, do something yang memang kamu sukai, jangan takut, karena tidak ada yang sepenuhnya mulus dalam menggapai apa yang kita inginkan. Saya memang tipe orang yang kadang ragunya lebih banyak ketimbang yakinnya dalam melakukan sesuatu, kemudian saya belajar kembali menata diri, bagaimana menjadi lebih baik lagi. Dengan Farhad, saya belajar bagaimana menjadi sosok yang berusaha mencintai orang-orang yang ada di sekeliling kita, bagaimana berusaha memberi perhatian terhadap sahabat, tidak egois, bagaimana menjadi sosok yang bisa menjadi pemimpin. Saya melihat sosok Farhad sebagai sosok yang berwibawa, bisa menjadi sosok yang mampu menjadi seseorang yang didengar omongannya. Tidak mudah menjadi sosok yang demikian.
Let's eat, dude :p
Ada banyak hal yang saya ambil pelajaran sejak kebersamaan saya dengan mereka. Ada banyak teman yang lain sebenarnya, namun saya memang lebih dekat dengan mereka, Renat, Mir Athoullah, dan Farhad. Kami sering menghabiskan akhir pekan bersama, meski kadang hanya kumpul dan ngobrol ngalor ngidul, namun selalu ada makna dalam sebuah kebersamaan. Selalu ada yang bisa diambil sebagai pelajaran hidup. Mereka bukan sekadar sahabat di kala suka, namun juga sahabat di kala suka dan duka.
Dalam persahabatan, jangan hanya meminta orang lain untuk mengerti kita, namun bagaimana kita berusaha agar orang lain paham akan kita. Jika kita tulus dalam menjalin sebuah persahabatan, akan ada ketulusan dari orang-orang yang ada di sekeliling kita, karena kita memberi mereka cinta yang tulus.
arabian foods in Cairo Restaurant :) 
Making a millions friends is not a miracle. The miracle is to make a friend who will stand by you when millions are against you. If someone ask me who is your best friend? I will simply say….”Someone who will never avoid me just because of someone else.”
Good friends are like starts, you do not always see them, but you know they are always there. A friend gives hope when life is slow, a friend is a place when you have nowhere to go, a friend is honest, a friend is true, a friend is precious, and a friend is YOU.