February 12, 2015

Memahami Perbedaan

Tadi pagi, habis subuh, saya mendapat pesan singkat dari sahabat saya di Switzerland via WhatsApp. Sudah 9 bulan saya tidak mendengar kabar darinya, dia tiba-tiba menghilang begitu saja, tidak pernah menghubungi baik melalui Skype, Facebook, maupun WhatsApp. Saya beranggapan mungkin dia sedang sibuk. Pernah beberapa kali saya coba hubungi, tapi tidak bisa. Terakhir kali dia menghubungi saya 9 bulan yang lalu, dia bercerita tentang rencananya memanjangkan jenggotnya.

“Salam, Akhi, I’m sorry, I never responded your messages, chats, or calls. I was in jail for 8 months. I had internet connection only twice a week. I’m sorry. All my chats, messages, and calls were controlled by the police. I was in jail because somebody in the bus said to me in german language, “Fuck you immigrant, go back to your homeplace.” This person said this to me because of my beard and I told him that he should shut up. He stand up and walked really near to me and pushed me against the bus window. I hit him, I was out of control, I bet him really up. I just tried to protect my self. I’m free now. It’s late here, Akhi, I have to sleep. Can I call you tomorrow in viber?”
“sure, I think skype is better, Akhi.”
“Okay, see you tomorrow.”

Setelah membaca pesannya, saya kemudian merenung. Kadang, kita merasa bahwa kita adalah orang paling keren sedunia, sedangkan yang lain hanyalah gumpalan debu yang beterbangan tiada arti dan hanya menjadi perusak suasana. Ketika melihat orang lain berbeda dengan kita, kita kadang langsung nge-judge mereka dengan ucapan-ucapan yang tidak enak didengar, atau setidaknya ngedumel di dalam hati, “Ih, itu orang aneh banget, sumpah.” Tidak usah jauh-jauh membayangkan hidup sebagai muslim di Negara lain, cukup lihat bagaimana sikap orang-orang di sekeliling kita dalam menghadapi sebuah perbedaan.
Saya tipe orang yang rada cuek, selagi orang tidak mengganggu saya, saya lebih banyak memilih diam, namun ketika orang lain sudah mengganggu kenyamanan saya, kadang saya juga tersulut emosi, meski lebih banyak menghindar dan berusaha membuat suasana seaman mungkin alias baik-baik saja alias menghadapinya dengan kepala dingin dan itu tidak mudah, Jendral.
Dulu, ketika pertama kali memakai jubbah, saya sering dipandang sedemikian aneh oleh masyarakat sekitar, terutama masyarakat desa yang memang notabene tidak terlalu paham juga tentang jubbah, setahu mereka, saya berbeda dan dianggap aliran SESAT. Separah itu. Dijelasin panjang lebar kali tinggi, juga tetap saja mereka nggak peduli, dan akhirnya saya memilih untuk bersikap biasa saja, menjelaskan ketika memang dirasa perlu untuk dijelaskan. Saya suka jubbah, hanya semata karena merasa nyaman, bukan karena saya ikut aliran tertentu, sesederhana itu. Tapi ya itu tadi, apa yang saya anggap sederhana, simple, dan nyaman, bisa jadi merupakan hal yang menarik untuk dikomentarin, dijelek-jelekkan, dan lain sebagainya. Apa saya menyerah? Nggak, sama sekali tidak, bahkan sekarang sudah banyak yang suka pakai jubbah ke masjid. Padahal saya nggak pernah itu nyuruh mereka.
Dulu, ketika semua orangtua di kampung memilih sekolah-sekolah Negeri Favorit untuk sekolah anak-anaknya, Bapak dan Ibu saya memilih memasukkan saya ke Pondok Pesantren di Ibu Kota Propinsi, kemudian semua orang ngomongin, mulai dari yang setuju, biasa saja, sampai pada ngeledekin ortu saya karena memasukkan anaknya ke Pesantren yang saat itu dinilai sebagai sekolah yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang kolot yang kemana-mana kerjaannya sarungan. Bukan sekali dua kali saya harus mendengar cemooh warga, karena saya belajar di Pesantren. Iya, sesederhana itu, hanya karena saya belajar di Pesantren, mempelajari Agama, keluarga saya dicemooh. Tapi itu dulu, sekarang semua berbalik arah, yang dulu mencemooh, kini malah berusaha memasukkan anak-anak mereka ke pesantren, atau sekolah-sekolah yang basic Agamanya mencukupi.

Dulu, ketika banyak pemuda-pemudi desa yang menikah setelah lulus SMA, dan saya memilih untuk melanjutkan Study ke Jakarta, lagi-lagi saya dicemooh. Terutama orangtua yang dikenal sebagai orang yang tidak berkecukupan, dianggap gegabah, sok kaya, karena menyekolahkan anaknya ke jenjang Perguruan Tinggi, seolah itu adalah aib besar bagi keluarga saya. Saat kelulusan saya di Perguruan Tinggi, baru kemudian mengerti bahwa pentingnya pendidikan dan saya bersyukur, orangtua saya memahami betul masalah ini, meski keduanya tidak lulus sekolah dasar. Saya jadi Sarjana Pertama di Keluarga besar Ayah dan Ibu, kemudian disusul oleh yang lainnya.
Perbedaan-perbedaan ini sebenarnya bisa menjadi masalah ketika kita tidak bisa menyikapinya dengan bijak. Semakin belajar, semakin saya mengerti bagaimana menyikapi sebuah perbedaan dalam sebuah masyarakat, berusaha lebih terbuka, berusaha mendengar, berusaha membuka mata atas semua perbedaan itu, berusaha mengerti bahwa kadar pengetahuan seseorang tidak sama satu sama lain, boleh jadi orang memberi komentar tidak baik karena ketidaktahuannya akan hal itu, boleh jadi karena dia memiliki pemahaman yang berbeda akan sesuatu, dan itulah yang seharusnya dimengerti, dipahami, dan dihadapi dengan bijaksana. Karena tidak akan pernah ada yang namanya semua orang memiliki pemikiran yang 100% sama dengan kita, akan selalu ada perbedaan. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kita harus menyikapi sebuah perbedaan itu, apakah dengan emosi, atau menyelesaikannya dengan cara yang baik, pilihan ada pada diri kita.
Kehidupan seorang Muslim di negeri ini saya rasa lebih nyaman, ketimbang di Negara-negara lain. Meski tidak semuanya bisa hidup berdampingan dengan damai dengan agama-agama non muslim. Namun bagi saya, saya merasa lebih nyaman menjalankan ibadah saya di sini, di tanah air ini, ketimbang harus berpindah ke Negara lain. Saya tidak bisa membayangkan menjadi seorang Muslim di Negara yang bahkan Masjid menjadi sesuatu yang langka untuk ditemui, saya tidak bisa membayangkan hidup dengan komunitas muslim yang hanya sedikit, meski sebenarnya tidak semua Negara memandang menjadi seorang Muslim adalah sesuatu yang aneh.
Kembali ke sahabat saya di atas, saya tahu persis dia adalah seorang Muslim yang taat, dan harus menghadapi cara pandang masyarakat sekitar yang sering menganggap mereka aneh. Saya sempat kaget ketika dia memberitahu saya bahwa dia emosi karena ucapan seseorang di Bus tersebut, karena itu bukanlah yang pertama kali dia hadapi, sudah sekian banyak cemoohan yang dia terima, dan dia bisa tetap santai menghadapi semua itu. Mungkin saja saat itu dia sedang khilaf dan saya memaklumi itu dan berdoa, semoga semuanya baik-baik saja kedepannya.

4 comments:

  1. Terkadang untuk menentukan pilihan memang harus siap dengan segala konsekuensinya. Semoga tetap kuat yah... tapi yaaa jangan emilosian juga temennya heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insha allah semoga tidak terulang lagi :)

      Delete
  2. adakalanya saat godaan itu datang, kita sedang berada dalam titik lemah iman, sehingga hilang kontrol emosi. Tapi bukan berarti langsung menjudge seumur hidupnya orang iotu akan bersikap seperti itu. Setiap manusia selalu berpotensi untuk bisa menjadi baik dan juga sebaliknya. Terkadang, orang yang kita kenal baik,setelah bertahun-tahun kemudian, langkahnya malah terlihat berbeda dari sebelumnya. Namun tetap saja tidak usah menghakimi, agar Allah juga menutupi keburukan kita, saat kita silap langkah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga kebaikan selalu menyertai kita :)

      Delete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan