March 04, 2015

Malaikat Kecil Itu Bernama Faris


saya dan Faris Ersan Arizona

Kenal dengan anak kecil yang ada di foto di atas? Dia adalah Faris, saya yakin, bagi pembaca setia blog saya sudah tidak asing lagi dengan sosok Faris, ada banyak kisahnya yang saya tulis di blog ini. Foto ini adalah satu-satunya foto selfie bareng dia, namun memiliki kesan yang begitu dalam bagi saya. Foto ini diambil sehari sebelum Faris menjalani operasi yang keempat kalinya. Saya tidak bisa menemaninya seperti saat operasi pertama dan kedua. Maaf, ya, fotonya rada burem, maklum, saya belum bisa membeli windows phone ascend W1 dari Smartfren untuk bisa menghasilkan foto selfie yang lebih keren dari ini.
Faris adalah satu dari sekian anak yang memiliki hubungan yang begitu erat dengan saya, dimulai dari perkenalan kami ketika saya menjadi wali kelasnya, sampai musibah itu terjadi, saat dimana Faris mengalami kecelakaan, kehilangan sosok Ayah dari hidupnya dan harus mengalami operasi yang berulang kali.
Kebersamaan yang tidak pernah kami rencanakan ternyata membuat kami semakin dekat satu sama lain, dia sudah saya anggap sebagai adik sendiri. Saya menemaninya sejak pertama kali di Rumah Sakit, hingga dia kembali bisa masuk ke sekolah setelah sekian lama di rumah sakit. Saya memberinya buku “Dear Faris –Catatan Inspirasi si Pahlawan Kecil-” sebagai kenang-kenangan dari saya untuknya. Buku itu berisi kenangan sejak pertama kali saya mengenalnya lengkap dengan hari-hari saya menemaninya berjuang untuk kembali bisa berjalan meski harus tertatih. Ada banyak air mata yang tumpah saat saya menulis tentangnya, namun ada banyak juga bahagia di dalamnya.
Saat kembali bersekolah, Faris kembali harus menyesuaikan diri. Meski di sekolah saya harus mengurus segala keperluannya, namun saya bahagia, mulai dari mengatur tempat duduknya agar dia bisa duduk dengan nyaman karena belum sembuh total pasca operasi, mengalirkan air wudhu ke anggota badannya, atau bahkan harus menemaninya ke toilet untuk buang air kecil maupun besar, semua pernah saya lakukan.
Di sela-sela liburan saya, saya akhirnya bisa bertemu kembali dengan Faris, setelah berpisah beberapa waktu karena saya harus melanjutkan study di Kota Malang. Saya masih ingat dengan baik bulan Desember lalu, Faris selalu menghubungi saya saat dia baru saja menjalani operasi yang ketiga kalinya. Bagi saya dia adalah malaikat kecil yang dikirim Tuhan dalam kehidupan saya, agar saya banyak belajar darinya, tentang betapa pentingnya tetap menjaga harapan itu agar tetap ada. Harapan untuk sembuh itu tetap Faris jaga, dan saya hanya bisa membantu dengan doa-doa di tengah malam nan sunyi.
Ruang operasi rasanya bukanlah hal yang aneh bagi malaikat kecilku ini, operasi pertama dilakukan dua hari setelah ia mengalami kecelakaan, operasi kedua dilakukan dua bulan kemudian, saat ia sudah semakin kuat dan tiba-tiba terjatuh dari tempat tidur dan harus menjalani operasi yang kedua kalinya. Apa Faris sedih? Tentu saja sedih, namun binar-binar harapan itu tetap ada di wajahnya yang mungil. Dia tetap kuat.
Setahun setelah menjalani operasi yang kedua, tepatnya Desember tahun lalu, dia kembali harus masuk ke dalam ruang operasi di Bandung, karena terjadi pengeroposan tulang. Dia kembali harus mengulang pengalaman untuk yang ketiga kalinya, bertemu dengan sekian banyak alat operasi yang tidak bisa saya bayangkan. Saya masih ingat, sehari setelah operasi yang ketiga kalinya, Faris menelpon saya, kemudian bercerita tentang banyak hal. Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan berbincang satu sama  lain.
Foto di atas saya ambil saat saya berada di Purwokerto bulan Februari lalu, menjelang operasinya yang keempat kalinya. Saya menemuinya, dan dia menyambut kedatangan saya dengan sangat antusias, saya memeluknya erat, kemudian duduk di sampingnya. Saya melihat ada semacam kekhawatiran di wajahnya, saya berusaha meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Ruang operasi seolah menjadi bagian yang tidak bisa ia lupakan. Dulu, Faris sempat mengalami trauma dengan yang namanya rumah sakit karena harus mengalami proses pemulihan yang tidak sebentar. Saya tersenyum, kemudian memberi dia motivasi untuk tetap bertahan menjalani proses panjang demi sebuah kesembuhan.
“Faris pernah berada di ruang operasi sebelumnya dan Faris berhasil bertahan. Kali ini Faris pasti bisa lebih kuat,” ucap saya di hadapannya, sambil berusaha menenangkannya, memeluknya dan berlalu dari hadapannya.
Setelah operasi yang keempat kalinya, kami kembali bertemu, sehari menjelang saya kembali ke Malang untuk memulai perkuliahan kembali. Faris sudah berada di rumah, dia memang sudah bisa berjalan meski masih memakai alat bantu. Kakinya kini tidak lagi sama seperti dahulu, kaki sebelah kanan menjadi lebih pendek dibandingkan dengan kaki yang sebelah kiri. Jika sedang memakai sepatu, kadang dia harus mengganjal sepatunya biar dia bisa berjalan normal seperti orang lain.
Faris adalah satu sosok yang begitu kuat bagi saya, dia memiliki harapan yang sedemikian besar yang membuatnya tetap kuat, meski tentu saja itu semua tidak lepas dari motivasi dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. Saya tahu, ini semua sangat berat baginya, namun bukankah Tuhan sudah berjanji bahwa Ia tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya? Begitulah yang saya lihat dari Faris, meski mengalami cobaan yang bertubi-tubi, namun cahaya yang terpancar dari wajahnya tetap positif. Dia tetap bisa tersenyum meski sekian banyak luka yang menggores tubuhnya, dia tetap ceria meski fisiknya berbeda dengan yang dulu, dia tetap sabar meski harus kehilangan sosok Ayah dari kehidupannya.
Foto di atas sangat berarti bagi saya, menjadi bagian dari sejarah hidup saya. Orang-orang yang hadir dalam kehidupan saya bukanlah secara kebetulan, Tuhan pasti memiliki tujuan tersendiri ketika menghadirkan orang lain dalam kehidupan saya. Pun demikian dengan Faris, saya percaya Tuhan ingin memberi saya kesempatan untuk belajar sebanyak-banyaknya, tentang bagaimana seharusnya menghadapi sebuah cobaan hidup. Faris harus kehilangan Ayah, kehilangan kemampuan berjalan secara normal, harus berulang kali menjalani operasi di usia yang belum genap 15 tahun, namun ia tetap bersinar meski ada banyak tangis yang menemani perjuangannya. Air mata itu berubah menjadi senyuman, karena Faris menjalaninya dengan cahaya, cahaya itu bernama keyakinan dan keyakinan itu membuahkan harapan bahwa semua akan baik-baik saja ketika ia mampu menjalani semua dengan penuh kesabaran. Bukankah demikian yang seharusnya kita lakukan? Bukan malah berprasangka tidak baik pada Tuhan. Percaya pada kuasa-Nya, jaga harapan itu agar tetap ada. Semoga kebaikan selalu menyertai kita semua.

March 01, 2015

How much do you earn?

Launching buku Catatan Hati Sang Guru
28 Februari 2015
Akhir-akhir ini pertanyaan ini sering diajukan pada saya, dan berhubung saya tidak punya pekerjaan tetap, tentu saja saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Bagi saya, pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan yang seharusnya tidak perlu menjadi pertanyaan penting yang harus diajukan dalam perbincangan keseharian. Untuk mereka yang memang sudah menjadi teman dekat mungkin saja saya tidak keberatan menjawab terus terang tentang ini, namun bagi mereka yang hanya sekadar kenal biasa saja, kemudian menyinggung pertanyaan how much do you earn? Saya kadang lebih suka tersenyum dan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban sesederhana mungkin.
Hidup saya saat ini hanya mengandalkan uang tabungan yang berhasil saya simpan selama kurang lebih tiga tahun bekerja menjadi guru dan royalti buku-buku yang saya terbitkan secara indie. Tentu saja yang paling besar mengisi tabungan saya adalah uang dari hasil penjualan buku-buku yang saya terbitkan dan saya rasa itu cukup untuk biaya hidup saya saat ini. Dan tentu saja kalian tahu, hidup hanya mengandalkan tabungan dan tanpa melakukan apa-apa agar bisa menjaga tabungan itu tetap terisi bukanlah pilihan tepat. Lama-kelamaan tentu saja akan habis. Kadang, melihat saya melancong kemana-mana, teman-teman rekan guru tempat saya bekerja dulu sering berkomentar, “Uang ente nggak habis-habis, ya,” dan saya hanya tersenyum. Karena nyatanya saya melancong dengan biaya murah, terbantu dengan share cost bersama teman perjalanan, menginap di rumah teman yang kadang sekalian nyediain transportasi dan lain-lain.
Memang banyak perbedaan antara saya yang dulu dengan saya sekarang, jika dulu setiap bulan sudah ada penghasilan tetap, sekarang menjadi tidak tetap, namun ada keyakinan yang luar biasa besar pada diri saya saat ini, bahwa dalam hal kebaikan, dalam hal menuntut ilmu, saya yakin bahwa Tuhan tidak akan menelantarkan saya begitu saja, karena tujuan saya mulia. Yang penting adalah saya mau bekerja keras membiayai kuliah saya saat ini. Dan sampai hari ini, saya masih meyakini itu. Kata Ibu, “Banyak orang yang takut melangkah karena tidak yakin dengan janji Allah, bahwa Ia akan memberi kita rizki dari arah yang tidak kita sangka-sangka,” dan saya tahu itu, bahkan itu tertulis di dalam Al Qur’an. Sekarang pertanyaannya adalah apakah kamu mau meyakini itu juga?
Sekarang, kerjaan saya memang tidak ada yang tetap, kadang saya menjadi penerjemah sekelompok orang-orang asing yang ingin berkeliling Malang, kadang saya menjadi pengajar mahasiswa asing, kadang saya mengajar bahasa Indonesia untuk mahasiswa asing, kadang saya membantu teman-teman yang sedang mengerjakan tugas akhir karena saya suka bergelut dengan literatur dan rela berlama-lama di ruang research, kadang saya ngerjain tugas teman-teman yang super sibuk, dan sejauh ini saya merasa cukup dengan rizki yang Tuhan berikan, saya masih bisa jalan-jalan di tengah-tengah waktu study saya, saya masih bisa sesekali makan bareng teman di tempat yang menurut kantong mahasiswa seperti saya ini termasuk mahal, saya masih bisa mengirimi adik saya uang, masih bisa sesekali mengirimi Ibu uang meski tidak serutin dulu ketika saya masih bekerja tetap. Saya merasa cukup dengan rizki yang Tuhan berikan, saya bersyukur dengan semua itu.
Orangtua saya memang sama sekali tidak pernah mengirimi saya uang sejak saya lulus kuliah S1 sampai hari ini. Saya tidak pernah meminta uang kepada mereka, itu sudah menjadi prinsip saya. Justru saya akan sangat merasa sedih sekali, jika Ayah, Ibu, dan adik-adik saya butuh uang dan saya tidak bisa mengirimi mereka. Dalam hal ini kadang saya merasa sangat sedih. Saya rela berlari-lari di tengah hujan menuju Bank terdekat untuk transfer jika ternyata mobile banking saya tidak bekerja dengan baik, saya rela kabur dari kelas ketika Ayah dan Ibu meminta saya mengirimi uang. Saya selalu berusaha sebisa mungkin mengirimi mereka, karena hanya itulah yang bisa saya lakukan sekarang ini. Meski tidak seberapa, tapi saya merasa bahagia, bisa membantu sedikit keuangan keluarga.
Jadi, jangan pernah malu jika penghasilanmu perbulan lebih rendah ketimbang teman-temanmu, jangan nggak percaya diri, selagi kamu melakukan sesuatu yang halal, Insha Allah berkah. Yang terpenting adalah kita percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita begitu saja, selalu ada jalan yang Tuhan berikan kepada kita dalam menyelesaikan permasalahan kita. Ingat, rizki bukan hanya sekadar uang saja, kesehatan, keluarga, orang-orang terdekat di sekeliling kita adalah bagian dari rizki itu sendiri. Syukuri dan berusahalah sebaik mungkin. Jika ingin hasil yang lebih, tentu saja usahanya harus lebih, bukan? Rizki kita tentu saja berbanding lurus dengan seberapa serius kita meraih rizki yang Tuhan tebar di muka bumi ini. Jadi jangan pernah meragukan kuasa Tuhan.
Saat ini, percaya diri saya mulai meningkat, saya tidak malu berjualan, saya tidak malu melakukan sesuatu yang memang baik meski orang lain beranggapan bahwa seharusnya mahasiswa S2 tidak melakukannya, karena dianggap tidak sesuai dengan gelar sarjana yang sudah saya pegang, hey, sejak kapan gelar kesarjanaan memberi batasan pekerjaan mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak? Sesempit itukah pola pikirmu? Come on, guys, grow up! Selagi itu baik, kenapa harus malu? Toh kita tidak melakukan hal yang melanggar perintah Tuhan. Kadang banyak orang yang gengsi melakukan sesuatu karena merasa tidak cocok dengan gelar yang sudah ia sandang, malu, takut ketahuan teman-temannya, dan masih banyak lagi alasan yang lain.
Sini, saya kasih tahu, Allah itu tidak pernah tidur, Ia selalu mengawasi semua yang terbetik di hati kita, dan sebenarnya kamu sudah tahu tentang itu, kan? Jadi, lakukan semuanya sebaik mungkin, Insha Allah rizki akan datang. Tolong agama Allah, dan Allah pun akan menolong kita. Jangan ragu.