May 23, 2015

Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab

Di dalam Islam, bahasa Arab adalah bahasa yang memiliki makna yang begitu dalam. Bahasa ini adalah bahasa yang digunakan di dalam al-Quran sebagai kitab suci umat Islam. Maka tentu saja, menguasai bahasa Arab adalah suatu keahlian yang sangat mendukung sekali seseorang untuk bisa mempelajari lebih dalam tentang agama Islam. Memang betul, semakin berkembangnya zaman, sudah banyak dilakukan penerjemahan-penerjamahan al-Quran ke berbagai bahasa dengan harapan agar bisa dipahami oleh pemeluknya. Kitab-kitab klasik yang berisi ajaran keislaman pun sudah banyak diterjemahkan ke dalam beragam bahasa. Akan tetapi tentu menjadi berbeda ketika kita bisa memahami bahasa Arab dengan baik. Inilah sebenarnya yang menjadi cambuk penyemangat saya untuk mempelajari bahasa Arab lebih lanjut.
            Izinkan saya bertanya sebentar, apakah kamu sekolah di madrasah ibtidaiyah, kemudian melanjutkan pendidikan di MTs, selanjutnya ke Madrasah Aliyah, dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi Islam? Kalo iya, pertanyaan saya selanjutnya adalah apakah kamu bisa berbahasa Arab? Jika, iya, maka kamu termasuk orang yang beruntung. Jika tidak, maka perlu dipertanyakan kembali, apa sebenarnya yang salah dengan pola pendidikan bahasa Arab yang ada di Negara kita, terutama sekolah MI, MTs, MA, dan Perguruan Tinggi Islam? Bahkan pondok pesantren, yang kesehariannya mempelajari kitab, nyatanya banyak juga yang tidak menguasai bahasa Arab aktif.
            Saya mencoba untuk menganalisa kembali pendidikan saya dari jenjang bawah sampai ke Perguruan Tinggi, dimana saya sudah mempelajari bahasa Arab sejak sekolah tingkat Tsanawiyah dan sampai lulus Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran Jakarta, saya masih belum bisa berbahasa Arab. Yang paling saya ingat adalah, proses pembelajaran yang saya lalui adalah proses pembelajaran yang sangat membosankan, itulah mengapa saya tidak terlalu menyukai bahasa Arab sejak dulu. Sempat suka, ketika bertemu dengan guru yang cara mengajarnya sangat menyenangkan, yaitu Ustadzah Iim, lulusan Al-Azhar, tapi hanya sebentar karena setelah itu saya sudah pindah ke Jakarta.
            Guru-guru PAI memang terkesan mengajar dengan cara yang monoton, yaitu ceramah, sementara peserta didik hanya sebagai pendengar, guru yang aktif, sementara murid hanya diam membisu, tidak banyak inovasi-inovasi dalam metode pembelajaran. Padahal, proses terjadinya pengetahuan menuntut kepuasan otak peserta didik. Seorang guru bermain-main dengan otak anak, bukan dengan lambung, maka disinilah letak pentingnya inovasi pembelajaran, bagaimana mewujudkan proses belajar mengajar yang menyenangkan.
            Hari ini, saya mengikuti pelatihan metode pembelajaran bahasa Arab atas kerjasama Pascasarjana Jurusan Bahasa Arab UIN Malang dengan Irsyad International Singapore. Ada satu hal yang sangat menarik yang saya lihat bagaimana pendidik di sana mengajarkan bahasa arab pada tingkat Ibtidaiyah dengan cara yang sangat menarik, anak-anak diajak belajar dengan suasana yang sangat menyenangkan, mereka bermain dengan kosa kata bahasa Arab, mereka begitu aktif mengikuti proses belajar tanpa sadar padahal sebenarnya mereka sedang belajar aneka ragam kosa kata baru, karena semua itu dilakukan dengan cara yang sangat menyenangkan.
            Metode yang digunakan di Irsyad International Singapore adalah Metode Fitrah, yang dilengkapi dengan buku pegangan siswa, guru, audio, games dan semuanya berusaha mengintegrasikan pembelajaran dengan teknologi yang semakin berkembang. Inilah sebenarnya yang dinamakan dengan sebuah inovasi pembelajaran bahasa Arab yang menyenangkan. Guru dilatih bagaimana menggunakan perangkat yang sudah disediakan, agar bisa mengajar dengan baik.
            Dengan semakin berkembangnya information communication technology, seharusnya tenaga pendidik bisa memanfaatkan perkembangan itu untuk memudahkan proses pembelajaran bahasa Arab. Mengapa banyak anak pesantren yang hafal kitab alfiyah yang isinya 1000 bait, kemudian kitab ‘imriti, dan kitab yang lain, akan tetapi ketika berkomunikasi dengan bahasa Arab malah kagok, nggak bunyi? Memang betul, pemahaman kaidah bahasa Arab sangat diperlukan, tapi jangan lupa untuk diimbangi dengan kemampuan berkomunikasi, dalam hal ini “kalam”, bagaimana bahasa yang diajarkan bisa menghasilkan “bunyi yang terdiri dari kalimat yang bisa dimengerti”. Selama ini, pembelajaran-pembelajaran bahasa Arab di sekolah-sekolah lebih banyak terfokus pada penguasaan kaidah bahasa, sampai lupa bagaimana mengajak peserta didik untuk bisa berkomunikasi dengan bahasa Arab.
Metode Fitrah yang dilengkapi dengan seperangkat alat bantu yang modern, anak-anak bisa belajar melalui smartphone mereka, ipad, laptop, adanya games yang bisa mengasah kemampuan berbahasa Arab, akhirnya melahirkan sebuah perubahan yang begitu jelas, dimana anak-anak Sekolah Dasar sudah bisa berbincang dengan bahasa Arab sederhana. Mengapa semua itu terjadi? Karena selain dilengkapi dengan perangkat yang memadai, metode pengajaran yang digunakan adalah metode pembelajaran yang variatif, sehingga menarik minat peserta didik untuk aktif dalam proses pembelajaran.
Ada banyak asumsi, “belajar bahasa kedua tidak akan mencapai kesempurnaan, karena dia adalah yang kedua, bukan yang pertama, jarang digunakan dalam keseharian.” Memang betul adanya, dalam mempelajari bahasa Arab diperlukan adanya pembiasaan, sebenarnya tidak hanya bahasa Arab, bahasa apapun, semua memerlukan pembiasaan. Nah ini yang kadang tidak banyak terjadi di sekolah-sekolah kita, guru bahasa Arab malah mengajar dengan bahasa Indonesia. Harusnya, ketika mengajar, langsung menggunakan bahasa Arab dengan memerhatikan tingkat kemampuan siswa yang diajar, dimulai dengan menjelaskan pelajaran dengan bahasa-bahasa yang sederhana. Pembiasaan mendengar, menirukan, kemudian mempraktikkan inilah yang akan membentuk pencapaian akan tujuan adanya pembelajaran.
Asli Bengkulu semua ini :)
Jika ingin tahu lebih banyak tentang metode fitrah ini, silahkan megakses Fitrah Irsyad Singapore , kita bisa mendownload, kemudian belajar lebih banyak bagaimana berinovasi dalam proses pembelajaran, sehingga pembelajaran bahasa Arab menjadi lebih menarik. Metode ini termasuk metode yang sangat modern karena menggunakan teknologi terkini, atraktif, mudah untuk dipahami, dan tentu saja aplikatif.
Permasalahan kurangnya inovasi dalam pembelajaran sebenarnya menjadi rahasia umum bagi guru-guru, tidak hanya guru PAI. Inilah sebenarnya yang menjadi PR besar bagi pemerintah maupun lembaga pendidikan, bagaimana melatih guru-guru untuk bisa berinovasi dalam pembelajaran, tidak hanya menggunakan metode ceramah saja. Coba bayangkan, jika sehari mengajar 3 kelas, masing-masing kelas dua jam pelajaran, dan metode yang digunakan adalah ceramah TOK, capek nggak tuh? Makanya perlu berinovasi, menggunakan metode yang variatif yang bisa menarik siswa untuk mencintai proses belajar. Ingat, mengajar itu bukan hanya sekadar transfer informasi, akan tetapi bagaimana mewujudkan suasana pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, dan tentu saja menyenangkan. Siap berinovasi? 

May 18, 2015

Indonesia Itu Indah, Begitupun Dunia

This is a Timelapse of the aurora borealis in Karasjok in the northern part of Norway 

Selamat malam, izin melarikan diri sejenak dari tumpukan tugas kuliah yang aduh membuat saya semangat makan dan tidur. Menjelang Isya saya baru pulang dari kampus *umpetin tugas ke kolong meja*. Jadi begini, sebenarnya obrolan tentang hal yang mau saya tulis ini beneran udah sering banget jadi perbincangan kalo pas travelling atau sekadar obrolan sehari-hari kemudian nyangkut di permasalahan ini. Saya sering banget mendengar teman-teman yang komentarnya begini,
“Ngapain jalan-jalan ke luar negeri? Indonesia itu udah indah”

May 12, 2015

Persiapan Menyambut Ramadhan

Merindukan Ramadhan di Mafaza Purwokerto
Ramadhan adalah bulan yang kedatangannya selalu dinanti, dirindukan, dan dihormati kedatangannya. Ia datang dengan membawa beribu kebaikan. Di dalamnya umat Islam selalu berlomba-lomba untuk mengisi keseharian dengan kegiatan-kegiatan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT, Rabb semesta alam. Semarak menyambut Ramadhan menggema di kalangan umat Islam.

May 06, 2015

Paralayang Batu

Salam. Tiga hari terakhir, saya lagi banyak kerjaan (baca: tugas kuliah ama jalan-jalan, hehe). Kebetulan Reimer, sahabat saya dari Rotterdam-Holland sedang berkunjung ke Malang. Sebagai sahabat yang baik, tentunya saya mau mengajak dia menjelajahi Malang dan sekitarnya, dong, hehe. Sejak Minggu saya sudah menemani Reimer jalan-jalan. Saya hanya menemai ketika kuliah sudah selesai aja, sih. Biasanya dari ashar sampai malam. Nah, selain kelayapan di Malang, saya mengajak Reimer untuk menikmati keindahan pemandangan dari atas ketinggian Gunung Banyak yang merupakan tempat bagi kamu yang berani uji nyali untuk terbang dari ketinggian dengan bantuan parasut atau biasa dikenal dengan Paralayang.