October 30, 2015

Etika Melihat Wanita Yang Dilamar



Saya mencoba mengingat kembali, ketika saya akhirnya memberanikan diri melamar seorang wanita yang sebenarnya sudah lama saya kenal dari jauh. Saya katakan dari jauh, karena tidak pernah ada komunikasi di antara kami. Setelah 1,5 tahun saya mencoba untuk menahan diri karena saat itu belum berani untuk maju melamarnya, akhirnya saya memberanikan diri untuk datang menemui kedua orangtuanya dan menyatakan keinginan saya untuk melamar putri mereka.
Saya masih ingat dengan baik cucuran keringat yang membasahi wajah, kemudian membuat baju yang saya pakai menjadi lembab. Saya masih ingat dengan baik betapa nervous sangat menyiksa saya saat itu, yang nyaris merusak semua kata-kata yang sudah saya siapkan sejak jauh-jauh hari. Saya masih ingat bagaimana sikap saya ketika tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan dari wali wanita yang saya lamar. Tapi, meski awalnya rada berat dan penuh perasaan tidak percaya diri, lamaran saya akhirnya diterima. Setelah lamaran diterima, kemudian diaturlah pertemuan dengan wanita yang saya lamar, dan itu merupakan pertemuan saya yang pertama kali secara langsung dan terencana.
Sebagai seorang muslim, saya tentu tidak ingin proses pertemuan dengan wanita yang saya lamar melenceng dari ajaran Islam yang selama ini saya anut, saya ingin semuanya tetap sesuai dengan aturan-aturan yang sudah ditetapkan dalam syariat. Sesuatu  yang dimulai dengan jalan yang diridhai, diharapkan akan melahirkan kehidupan yang penuh damai dalam lindunganNya. Saya ingin jalan yang saya tempuh tidak lari dari jalan yang Allah ridhai. Maka diaturlah pertemuan sesuai syariat Islam.
Di dalam Islam, laki-laki dibolehkan melihat wanita yang dilamarnya. Demikian pula sebaliknya, agar masing-masing dapat mengetahui secara pasti dan jelas permasalahan yang berkenaan dengan memilih pasangan hidup. Hal ini cukup penting, sebagai bagian dari saling mengenal satu sama lain, sehingga ketika membuat keputusan akan melanjutkan ke jenjang yang selanjutnya, sudah melalui proses yang cukup matang, agar tidak menyesal di kemudian hari. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. riwayat Muslim dari Mughirah bin Syu’bah:

“Pandanglah ia (wanita yang dilamar). Sebab, hal itu akan membawa kekekalan (bagi kecintaan) kalian berdua.”

Muslim dan Nasa’I meriwayatkan: Seorang laki-laki telah datang kepada Nabi saw. kemudian memberitahukan kepada beliau bahwa ia akan mengawini seorang wanita dari kaum Anshar. Maka Rasulullah saw bertanya, “Apakah engkau telah melihatnya?” Laki-laki itu menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Lihatlah ia! Sebab, di dalam mata kaum Anshar itu terdapat sesuatu (ada yang matanya kecil).”
Akan tetapi dalam praktiknya ada beberapa etika penting yang perlu diketahui oleh pemuda yang akan melihat wanita yang dilamarnya. Tidak sembarangan, karena ini bagian dari memuliakan wanita yang dipilihnya.

Pertama, Setelah bertekad mengawini seorang wanita, lelaki pelamar hanya dibolehkan melihat wajah dan kedua telapak tangan wanita yang dilamarnya itu.

Kedua, Melihat boleh dilakukan berkali-kali jika dirasakan perlu, sehingga gambaran yang benar-benar akan melekat di dalam ingatan.

Ketiga, Kedua calon pasangan boleh bercakap-cakap.

Keempat, Tidak diperbolehkan menjabat tangan wanita yang dilamar. Sebab, sebelum dilangsungkan akad nikah, wanita itu adalah wanita lain (bukan muhrim).

Kelima, Kedua calon pasangan tidak dibolehkan bertemu, kecuali ditemani seorang muhrim wanita yang dilamar. Sebab, Islam mengharamkan berdua-duaan dengan wanita lain. Asy-Syaikhan meriwayatkan dari Rasulullah saw:

“Ketahuilah, janganlah sekali-kali seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita (lain), dan janganlah sekali-kali seorang wanita berpergian kecuali ditemani muhrimnya.”

Kalo kita perhatikan kehidupan masyarakat luas saat ini, kita sering menemukan pelamar bercampur dengan wanita yang dilamarnya tanpa batas dan kendali, dengan dalih untuk saling mengenali karakter masing-masing. Mereka mengabaikan etika yang seharusnya dipatuhi dalam rangka menjaga kehormatan diri. Padahal, melamar adalah salah satu proses yang penuh dengan nilai-nilai kebaikan. Ketika etika-etika melamar disesuaikan dengan aturan syariat, Insha Allah akan diberi kemudahan menapaki langkah selanjutnya.
Itulah beberapa etika yang perlu kamu perhatikan jika bermaksud ingin melamar wanita pujaan hati. Jangan abaikan aturan agama tentang hal ini. Menaati etika-etika yang sudah ada merupakan bagian dari mencari ridha Allah SWT.
Selamat melamar.


October 23, 2015

Wafat Yang Indah: Selamat Jalan, Kakek



selamat jalan, kakek

“Seabai apa pun sikap kita pada putaran waktu, perjalanan ini hanyalah menuju pulang. Berkemaslah dengan benar. Bersiaplah selalu untuk pulang.” (Dear Faris: hal. 45)

Kehidupan ini tidaklah abadi, akan ada akhir bagi semua yang hidup. Kematian memang misteri, namun hadirnya pasti. Kita tidak pernah tahu kapan, dimana, atau bagaimana kondisi kita ketika ajal sudah datang menjemput. Semua adalah rahasia Ilahi Rabbi, Allah, Tuhan Semesta Alam. Maka, selayaknya perjalanan ini diisi dengan amal kebaikan yang akan dijadikan bekal berpulang ke sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Hari ini, Jum’at Mubarakah, tepat pada tanggal 10 Muharram, kakek saya kembali ke sisi Allah SWT.

“Wafat Yang Indah,” begitu komentar beberapa teman di WhatsApp.
Amin, ya, Rabb. Semoga surga menjadi tempatmu berpulang, Kakek.

Bagi saya, kakek adalah sosok yang sangat sederhana. Ia mendidik saya dengan cara yang sangat sederhana namun tetap penuh arti. Saya dan kakek bisa menghabiskan banyak waktu duduk di teras rumah, mendengarkan ia bercerita tentang banyak hal. Sejak kecil, saya selalu suka mendengar cerita-cerita darinya. Ia biasa mendongeng di samping saya ketika usia saya masih kanak-kanak. Mendongeng bagi kakek tidak hanya dilakukan sebelum cucunya tidur, tapi bisa juga di waktu-waktu santai bersama. Saya masih ingat dengan baik cerita-cerita tentang kancil, siput, manusia buruk rupa, dan banyak dongeng lain yang sering saya dengar dari kakek. Meski kadang dongeng yang diceritakan sama dan berulang-ulang, namun saya tidak pernah bosan mendengarnya.

Kedekatan saya dengan kakek tetap berlanjut, meski setelah lulus Sekolah Dasar saya harus bersekolah di Kota demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Setiap mudik, saya selalu memeluk kakek dengan hangat, kakek pun demikian. Ia tidak pernah lupa memeluk tubuh kurus saya kala itu. Setiap kali akan kembali ke sekolah di Kota, kakek selalu berpesan:

“Jangan lupa shalat, ya,”

Pesan itulah yang selalu terngiang sepanjang perjalanan menuju Kota. Pesan singkat namun penuh makna. Ah, kakek, masih ada rindu yang belum sempat untuk berlabuh di waktu pulangmu.

Ketika kuliah dan saya mendapatkan beasiswa di Jakarta pun, kakek selalu berpesan yang sama, namun kali ini disertai isak tangis sambil memeluk tubuh saya yang kala itu mulai berisi. Meski jauh, saya selalu berusaha untuk menelpon Kakek sesering mungkin. Setiap kali menelpon Ibu di kampung, saya selalu berusaha meluangkan waktu berbicara dengan kakek, meski usianya sudah semakin senja.

Terakhir pertemuan dengan Kakek adalah Idul Fitri kemarin. Saya masih ingat dengan baik betapa kakek berat melepas kepergian saya kala itu. Ia memelukku penuh haru, dengan air mata yang seolah tak ingin berhenti membasahi pipinya yang sudah semakin menua, dipenuhi garis-garis kehidupan. Kugenggam erat jemarinya yang sudah tak lagi kuat, dan ia pun berbisik; 

“Nanti, jika kakek meninggal dunia, kamu nggak usah pulang ke kampung, cukup doakan kakek saja. Fokuslah pada impianmu,” ucap kakek lirih sambil terisak-isak.

Ada haru yang menyeruak di dalam dada tiap kali kakek mengucapkan pesan ini. Kalimat ini sudah saya dengar sejak beberapa tahun lalu dan Allah masih memberi saya kesempatan bertemu dengan kakek. Namun ternyata, Idul Fitri kemarin adalah pertemuan terakhir dengannya, laki-laki senja yang selama ini banyak mengajariku tentang arti kehidupan. 

Kakek, terimakasih atas doa-doamu untukku, aku tetap akan berjuang, melanjutkan mimpi-mimpi yang sering kuceritakan padamu. Aku janji, Kek.

Kakek, izinkan aku menangis, bukan karena tidak rela akan kepergianmu, namun karena ridho akan pulangmu kepada Ia yang segala Maha. dariNya lah kita berasal dan kepadaNya kita akan kembali.

Kakek, maaf jika hanya doa yang bisa kupanjatkan dalam sujudku. Tak bisa kuraih jarak yang memisahkan antara kita. Hanya doa yang bisa kupinta kepadaNya, semoga engkau kembali kepadaNya dalam damai, dan ditempatkan di tempat yang laik di sisiNya, yakni jannah-Nya.

Kakek, pulangmu tidak akan kembali ke sisiku, namun tentangmu tak akan pernah terlupakan oleh perjalanan waktu. Akan selalu ada kisah tentangmu di hatiku, laki-laki hebat yang telah mengajariku arti hidup yang sesungguhnya. Tentang betapa pentingnya menjadi seseorang yang memberi manfaat kepada sesama.

Kakek, semoga kelak kita akan dipertemukan kembali di surga. Pergilah dalam damai, jangan engkau menoleh ke belakang, biarkan kami melepasmu dalam doa, menyebutmu penuh kasih, sebagai bukti bahwa kami mencintaimu, selamanya.

Kakek, tak usah kau resah akan kami yang engkau tinggalkan, tak usah pula engkau takut bertemu dengan Rabb-mu. Kembalilah padanya dalam damai, penuh kerinduan akan hadirNya di hatimu.

Selamat jalan, Kakek. Kembalilah kepadaNya dengan jiwa yang tenang.
Salam rindu untukmu
Dari cucumu.

Arian Sahidi