October 04, 2015

Pandangan Al-Ghazali Tentang Pendidikan





Al-Ghazali termasuk ke dalam sufistik yang banyak menaruh perhatian besar terhadap pendidikan, karena pendidikanlah yang banyak menentukan corak kehidupan suatu bangsa dan pemikirannya. Demikian hasil pengamatan Ahmad Fuad al-Ahwani terhadap pemikiran pendidikan al-Ghazali.
Menurut H.M. Arifin sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata, al-Ghazali adalah penganut faham idealism yang konsekuen terhadap agama sebagai dasar pandangannya. Dalam masalah pendidikan, al-Ghazali lebih cenderung berpaham empirisme. Hal ini antara lain disebabkan karena ia sangat menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Menurutnya, seorang anak tergantung kepada orang tua dan anak yang mendidiknya.
Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan menurut al-Ghazali adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT., bukan untuk mencari kedudukan, kemegahan dan kegagahan atau mendapatkan kedudukan yang menghasilkan uang. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian, dan permusuhan.
Rumusan tujuan pendidikan yang demikian ini sejalan dengan firman Allah SWT. tentang tujuan penciptaan manusia, yaitu:
“Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-Ku.” [Q.S. al-Dzariyat: 56]
Pendidik
Sejalan dengan pentingnya pendidikan mencapai tujuan di atas, al-Ghazali juga menjelaskan tentang ciri-ciri pendidik yang boleh melaksanakan pendidikan. Ciri-ciri tersebut adalah:
Ø  Guru harus mencintai muridnya seperti mencintai anak kandungnya sendiri.
Ø  Guru jangan mengharapkan materi (upah) sebagai tujuan dari pekerjaannya (mengajar), karena mengajar adalah tugas yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW. sedangkan upahnya adalah terletak pada terbentuknya anak didik yang mengamalkan ilmu yang diajarkannya.
Ø  Guru harus mengingatkan muridnya agar tujuannya dalam menuntut ilmu bukan untuk kebanggaan diri atau mencari keuntungan pribadi, tetapi untuk mendekatkan diri kepala Allah.
Ø  Guru harus mendorong muridnya agar mencari ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang membawa pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ø  Di hadapan muridnya, guru harus memberikan contoh baik, seperti berjiwa halus, sopan, lapang dada, murah hati dan berakhlak terpuji lainnya.
Ø  Guru harus mengajarkan pelajaran yang sesuai dengan tingkat intelektual dan daya tangkap anak didiknya.
Ø  Guru harus mengamalkan yang diajarkannya, karena ia menjadi idola di mata anak didiknya.
Ø  Guru harus memahami minat, bakat dan jiwa anak didiknya, sehingga di samping tidak akan salah dalam mendidik, juga akan terjalin hubungan yang akrab dan baik antara guru dengan anak didiknya.
Ø  Guru harus dapat menanamkan keimanan ke dalam pribadi anak didiknya, sehingga akal pikiran anak didik tersebut akan dijiwai oleh keilmuan itu.
Jika tipe ideal guru yang dikehendaki al-Ghazali tersebut di atas dilihat dari persfektif guru sebagai profesi nampak diarahkan pada aspek moral dan kepribadian guru, sedangkan keahlian, profesi dan penguasaan terhadap materi yang diajarkan dan metode yang harus dikuasainya nampaknya kurang diperhatikan. Hal ini dapat dimengerti karena paradigma (cara pandang) yang digunakan untuk menentukan guru tersebut adalah paradigma tasawuf yang menempatkan guru sebagai figur sentral, idola, bahkan mempunyai kekuatan spiritual, dimana sang murid sangat bergantung kepadanya. Dengan posisi seperti ini nampak guru memegang peranan penting dalam pendidikan. Hal ini mungkin kurang sejalan lagi dengan pola dan pendekatan dalam pendidikan yang diterapkan pada masyarakat modern saat ini.
            Tipe ideal guru yang dikemukakan al-Ghazali yang demikian sarat dengan normal akhlak itu, masih dianggap relevan jika tidak dianggap satu-satunya model, melainkan jika dilengkapi dengan persyaratan yang lebih bersifat akademis dan profesi. Guru yang ideal di masa sekarang adalah guru yang memiliki persyaratan kepribadian sebagaimana dikemukakan al-Ghazali dan persyaratan akademis profesional.
Murid
Sejalan dengan prinsip bahwa menuntut ilmu pengetahuan itu sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah, maka bagi murid dikehendaki hal-hal sebagai berikut:
Ø  Seorang murid di hadapan guru selayaknya senantiasa memulai pertemuan dengan mengucapkan salam kepada guru, tidak banyak berbicara di hadapannya.
Ø  Ikut berdiri ketika dia berdiri dan tidak mengatakan, “fulan mengatakan sesuatu yang berbeda dengan yang Anda katakan.”
Ø  Tidak bertanya kepada teman ketika duduk di hadapan guru.
Ø  Tidak tertawa ketika guru berbicara.
Ø  Tidak memperlihatkan kepadanya apa yang bertentangan dengan pendapatnya.
Ø  Tidak memegang bajunya ketika dia berdiri.
Ø  Tidak meminta penjelasan tentang suatu masalah di tengah perjalanan hingga sampai ke rumahnya dan tidak bertanya ketika dia merasa jenuh.
Ciri-ciri murid yang demikian itu nampak juga masih dilihat dari persfektif tasawuf yang menempatkan murid sebagaimana murid tasawuf di hadapan gurunya. Ciri-ciri tersebut untuk masa sekarang tentu masih perlu ditambah dengan ciri-ciri yang lebih membawa kepada kreatifitas dan kegairahan dalam belajar.
Kurikulum
Secara tradisional kurikulum berarti mata pelajaran yang diberikan kepada anak didik untuk menanamkan sejumlah pengetahuan agar mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Kurikulum tersebut disusun sedemikian rupa agar dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Pandangan al-Ghazali tentang kurikulum dapat dipahami dari pandangannya mengenai ilmu pengetahuan. Ia membagi ilmu pengetahuan kepada yang terlarang dan yang wajib dipelajari oleh anak didik menjadi tiga kelompok, yaitu:
Ø  Ilmu yang tercela, banyak atau sedikit. Ilmu ini tidak ada manfaatnya bagi manusia di dunia ataupun di akhirat, misalnya ilmu sihir, nujum, dan ilmu perdukunan. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa mudharat dan akan meragukan terhadap kebenaran adanya Tuhan. Oleh karena itu ilmu ini harus dijauhi.
Ø  Ilmu yang terpuji, banyak atau sedikit. Misalnya ilmu tauhid dan ilmu agama. Ilmu ini bila dipelajari akan membawa seseorang kepada jiwa yang suci bersih dari kerendahan dan keburukan serta dapat mendekatkan diri kepada Allah.
Ø  Ilmu yang terpuji pada taraf tertentu, yang tidak boleh diperdalam, karena ilmu ini dapat membawa kepada kegoncangan iman dan ilhad (meniadakan Tuhan) seperti ilmu filsafat.
Jika diamati secara seksama, nampak al-Ghazali menggunakan dua pendekatan dalam membagi ilmu pengetahuan. Pertama pendekatan fiqih yang melahirkan pembagian ilmu pada yang wajib dan fardhu kifayah. Kedua pendekatan tasawuf (akhlak) yang melahirkan pembagian ilmu pada yang terpuji dan tercela. Hal ini akan semakin jelas jika dihubungkan dengan tujuan pendidikan tersebut di atas, yaitu pendekatan diri kepada Allah.
Dari keseluruhan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa al-Ghazali adalah seorang ulama besar yang menaruh perhatian yang cukup tinggi terhadap pendidikan. Corak pendidikan yang dikembangkannya tampak dipengaruhi oleh pandangannya terhadap tasawuf dan fikih. Hal ini tidak mengherankan karena dalam kedua bidang ilmu tersebut itulah al-Ghazali memperlihatkan kecenderungannya yang besar. Konsep pendidikan yang dikemukakannya nampak selain sistematik dan komprehensif juga secara konsisten sejalan dengan sikap dan kepribadiannya sebagai seorang sufi.

4 comments:

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan