October 05, 2015

Surat Untuk Adikku Sayang



Dinda, Alhamdulillah, satu persatu impian kita terwujud. Pintu menuju sarjanamu sudah semakin dekat. Kakak tahu bagaimana perjuanganmu untuk bisa sampai pada titik ini, ada banyak tangis, ada banyak luka, ada banyak tawa, namun engkau tetap percaya bahwa “tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan menghendaki, kita hanya perlu meyakini apa yang menjadi impian, kemudian berusaha menggapai semua itu sebaik mungkin.” 

Dinda, engkau tidak perlu mantra khusus dalam berjuang meraih impian-impianmu, kuncinya hanya ada pada bagaimana engkau memahami potensi yang ada diri, kemudian berusaha menjadikan itu sebagai cara mewujudkan kebaikan di muka bumi ini. Karena hakikat kehidupan adalah menjadi seseorang yang bisa memberi manfaat pada orang-orang yang ada di sekeliling kita. Itulah manusia terbaik yang Rasul katakan; “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi manfaat bagi manusia.”

Dinda, Tuhan Mahabaik, ya, selalu memiliki cara untuk mewujudkan apa yang menjadi impian kita. Engkau tentu masih ingat bagaimana perjuanganmu di awal ketika pertama kali ingin kuliah, bukan? Ada banyak air mata di awalnya, namun Ayah dan Ibu tetap memberi harapan dan kepercayaan bahwa keduanya akan menyekolahkan kita setinggi mungkin. Ayah dan Ibu tidak peduli dengan gunjingan tetangga, tidak peduli betapa banyak keringat yang harus tumpah membasahi tubuh, tidak peduli betapa lelah mencari biaya untuk kita semua, karena keduanya percaya bahwa Allah selalu Mahabaik pada manusia yang mencoba untuk belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Dinda, selamat, ya, hari ini akhirnya engkau taklukkan apa yang selama ini menjadi salah satu momok yang menakutkan. Kakak tahu bagaimana perjuanganmu untuk menyelesaikan tugas akhirmu. Kakak tahu betapa banyak keringat mengucur dalam tiap langkahmu menapaki perjuanganmu. Engkau adalah bidadari surga yang begitu tangguh. Perjuanganmu lebih hebat dari yang kakak kira, keyakinanmu lebih mantap dari yang orang lain sangka, dan engkau tidak goyah dengan lika-liku perjalanan menuju impian.

Dinda, Ayah dan Ibu menangis haru saat mengetahui putri mereka sudah selesai ujian tugas akhir tingkat sarjana. Gerbang Sarjana ini sudah semakin dekat, Dinda. Peluh perjuangan keduanya berganti menjadi tangis bahagia, karena apa yang selama ini keduanya yakini akhirnya terbukti, bahwa keduanya mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang sarjana. Jangan engkau tanya betapa beratnya perjuangan keduanya, Dinda, tak perlu kujelaskan dengan kata-kata, engkau sudah tahu bagaimana pengorbanan keduanya untuk kita semua.
Dinda, jangan pernah berhenti percaya dengan kekuatan mimpi, ia datang dengan cara yang kadang tidak kita duga, memberi kekuatan penuh, mendobrak keraguan yang menghantui, meluruhkan getirnya perjuangan, dan menjadikan kita pribadi hebat yang siap dengan segala konsekuensi dalam sebuah perjuangan.

Dinda, mimpimu tidaklah harus berhenti sampai disini. Ada mimpi-mimpi lain yang harus engkau raih, setidaknya mimpi menjadi seorang perempuan yang shalihah, semakin shalihah dari waktu ke waktu, dalam rangka taat kepada Allah SWT, Rabb Semesta alam.

Dinda, inspirasi tidak perlu engkau cari jauh-jauh, lihatlah Ayah dan Ibu, raihlah tangan keduanya ketika nanti engkau pulang, peluk hangat tubuh keduanya yang semakin ringkih karena perjuangan. Merekalah inspirasi paling hebat yang berada di sekelilingmu. Perjuangan keduanya tidak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun. Percayalah, bahwa keduanya mencintaimu sepenuh hati bagaimana pun keadaanmu.

Dinda, doa dan terus doa demi kebaikan kedua orang tua kita. Nanti, coba engkau lihat wajah Ayah dan Ibu ketika keduanya lelap dalam tidur. Wajah yang dulu kencang kini mulai kendur, dihiasi oleh garis-garis kehidupan. Coba engkau raih kedua tangan Ayah dan Ibu, engkau akan merasakan betapa kasar telapak tangan keduanya, karena beratnya perjuangan demi masa depan yang lebih baik bagi kita, anak-anaknya.

Dinda, terimakasih sudah menjadi adik yang baik, tetaplah berusaha menjadi perempuan yang dirindukan surga, perempuan yang selalu berusaha taat pada Tuhan Yang Mahacinta.
Salam rindu untukmu, Dinda
Dari kakakmu, Arian Sahidi

2 comments:

  1. memang inspirasi terbaik datang dari kedua orang tua yang keduanya berjuang demi masa depan anaknya :)

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan