October 23, 2015

Wafat Yang Indah: Selamat Jalan, Kakek



selamat jalan, kakek

“Seabai apa pun sikap kita pada putaran waktu, perjalanan ini hanyalah menuju pulang. Berkemaslah dengan benar. Bersiaplah selalu untuk pulang.” (Dear Faris: hal. 45)

Kehidupan ini tidaklah abadi, akan ada akhir bagi semua yang hidup. Kematian memang misteri, namun hadirnya pasti. Kita tidak pernah tahu kapan, dimana, atau bagaimana kondisi kita ketika ajal sudah datang menjemput. Semua adalah rahasia Ilahi Rabbi, Allah, Tuhan Semesta Alam. Maka, selayaknya perjalanan ini diisi dengan amal kebaikan yang akan dijadikan bekal berpulang ke sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Hari ini, Jum’at Mubarakah, tepat pada tanggal 10 Muharram, kakek saya kembali ke sisi Allah SWT.

“Wafat Yang Indah,” begitu komentar beberapa teman di WhatsApp.
Amin, ya, Rabb. Semoga surga menjadi tempatmu berpulang, Kakek.

Bagi saya, kakek adalah sosok yang sangat sederhana. Ia mendidik saya dengan cara yang sangat sederhana namun tetap penuh arti. Saya dan kakek bisa menghabiskan banyak waktu duduk di teras rumah, mendengarkan ia bercerita tentang banyak hal. Sejak kecil, saya selalu suka mendengar cerita-cerita darinya. Ia biasa mendongeng di samping saya ketika usia saya masih kanak-kanak. Mendongeng bagi kakek tidak hanya dilakukan sebelum cucunya tidur, tapi bisa juga di waktu-waktu santai bersama. Saya masih ingat dengan baik cerita-cerita tentang kancil, siput, manusia buruk rupa, dan banyak dongeng lain yang sering saya dengar dari kakek. Meski kadang dongeng yang diceritakan sama dan berulang-ulang, namun saya tidak pernah bosan mendengarnya.

Kedekatan saya dengan kakek tetap berlanjut, meski setelah lulus Sekolah Dasar saya harus bersekolah di Kota demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Setiap mudik, saya selalu memeluk kakek dengan hangat, kakek pun demikian. Ia tidak pernah lupa memeluk tubuh kurus saya kala itu. Setiap kali akan kembali ke sekolah di Kota, kakek selalu berpesan:

“Jangan lupa shalat, ya,”

Pesan itulah yang selalu terngiang sepanjang perjalanan menuju Kota. Pesan singkat namun penuh makna. Ah, kakek, masih ada rindu yang belum sempat untuk berlabuh di waktu pulangmu.

Ketika kuliah dan saya mendapatkan beasiswa di Jakarta pun, kakek selalu berpesan yang sama, namun kali ini disertai isak tangis sambil memeluk tubuh saya yang kala itu mulai berisi. Meski jauh, saya selalu berusaha untuk menelpon Kakek sesering mungkin. Setiap kali menelpon Ibu di kampung, saya selalu berusaha meluangkan waktu berbicara dengan kakek, meski usianya sudah semakin senja.

Terakhir pertemuan dengan Kakek adalah Idul Fitri kemarin. Saya masih ingat dengan baik betapa kakek berat melepas kepergian saya kala itu. Ia memelukku penuh haru, dengan air mata yang seolah tak ingin berhenti membasahi pipinya yang sudah semakin menua, dipenuhi garis-garis kehidupan. Kugenggam erat jemarinya yang sudah tak lagi kuat, dan ia pun berbisik; 

“Nanti, jika kakek meninggal dunia, kamu nggak usah pulang ke kampung, cukup doakan kakek saja. Fokuslah pada impianmu,” ucap kakek lirih sambil terisak-isak.

Ada haru yang menyeruak di dalam dada tiap kali kakek mengucapkan pesan ini. Kalimat ini sudah saya dengar sejak beberapa tahun lalu dan Allah masih memberi saya kesempatan bertemu dengan kakek. Namun ternyata, Idul Fitri kemarin adalah pertemuan terakhir dengannya, laki-laki senja yang selama ini banyak mengajariku tentang arti kehidupan. 

Kakek, terimakasih atas doa-doamu untukku, aku tetap akan berjuang, melanjutkan mimpi-mimpi yang sering kuceritakan padamu. Aku janji, Kek.

Kakek, izinkan aku menangis, bukan karena tidak rela akan kepergianmu, namun karena ridho akan pulangmu kepada Ia yang segala Maha. dariNya lah kita berasal dan kepadaNya kita akan kembali.

Kakek, maaf jika hanya doa yang bisa kupanjatkan dalam sujudku. Tak bisa kuraih jarak yang memisahkan antara kita. Hanya doa yang bisa kupinta kepadaNya, semoga engkau kembali kepadaNya dalam damai, dan ditempatkan di tempat yang laik di sisiNya, yakni jannah-Nya.

Kakek, pulangmu tidak akan kembali ke sisiku, namun tentangmu tak akan pernah terlupakan oleh perjalanan waktu. Akan selalu ada kisah tentangmu di hatiku, laki-laki hebat yang telah mengajariku arti hidup yang sesungguhnya. Tentang betapa pentingnya menjadi seseorang yang memberi manfaat kepada sesama.

Kakek, semoga kelak kita akan dipertemukan kembali di surga. Pergilah dalam damai, jangan engkau menoleh ke belakang, biarkan kami melepasmu dalam doa, menyebutmu penuh kasih, sebagai bukti bahwa kami mencintaimu, selamanya.

Kakek, tak usah kau resah akan kami yang engkau tinggalkan, tak usah pula engkau takut bertemu dengan Rabb-mu. Kembalilah padanya dalam damai, penuh kerinduan akan hadirNya di hatimu.

Selamat jalan, Kakek. Kembalilah kepadaNya dengan jiwa yang tenang.
Salam rindu untukmu
Dari cucumu.

Arian Sahidi

4 comments:

  1. inalillahi semoga amal ibadah kakekknya diterima disisi alloh swt amiiin .. jadi pulang ga liat pemakaman kakek ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya sedang di Malang, jadi nggak pulang :(

      Delete
  2. turut berduka cita, semoga amal ibadahnya di terima disisi ALLAH SWT.

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan