November 15, 2015

Muhasabah Diri, Untuk Masa Depan Lebih Indah

Kehidupan di dunia adalah perjalanan panjang menuju kehidupan kekal nan abadi, yakni akhirat. Laiaknya sebuah perjalanan, maka perlu adanya persiapan dalam menempuh perjalanan menuju akhirat. Persiapan yang dimaksud adalah menyiapkan bekal ibadah sebanyak-banyaknya dalam rangka meraih keridhaan Allah SWT. Dalam mempersiapkan diri, perlu adanya Muhasabah terus menerus, yakni evaluasi diri, sejauh mana persiapan sudah dipersiapkan.
Muhasabah berasal dari akar kata hasiba-yahsabu-hisab, yang artinya secara etimologis adalah melakukan perhitungan. Dalam terminologi syar’i, pengertian muhasabah adalah sebuah upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspeknya.
Muhasabah menjadi perlu sebagai langkah menjadikan diri lebih baik lagi. Tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Muhasabah diri mengajarkan manusia menjadi hamba yang lebih baik lagi dari sebelumnya, ia mengambil pelajaran dari apa-apa yang sudah dilakukan. Muhasabah diri tidak hanya pada hubungan antara hamba dengan Sang Pencipta, melainkan juga antar sesama manusia. Muhasabah merupakan evaluasi secara total, adakah amaliah yang dilakukan karena Allah sehingga kebiasaan menjadi ibadah, ataukah sekedar ibadah kebiasaan yang wujudnya rutinitas? Apakah amaliah yang dilakukan sudah maksimal? Atau justru sebaliknya.
Begitu juga dengan sesama manusia, perlu adanya evaluasi diri dalam menjalani kehidupan sosial. Perlu adanya perbaikan dari waktu ke waktu, sehingga tercipta kehidupan sosial bermasyarakat yang bermartabat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan. Ketika semua orang selalu berusaha untuk mengevaluasi diri dalam rangka menjadi lebih baik lagi, maka disinilah letak kehidupan sesungguhnya, kehidupan yang selalu berusaha menjadi pribadi-pribadi yang baik dari waktu ke waktu.
Kehidupan ini hanyalah sementara waktu, detik berganti menit, hari selalu berganti, tahun pun berganti, hingga nanti semua yang hidup akan berada pada titik akhir kehidupan, tidak ada lagi kesempatan untuk evaluasi diri. Maka, sebelum kehidupan ini sampai pada batas akhir, lakukanlah evaluasi diri, mengkaji bagaimana perjalanan ini sudah dilalui, apakah sudah dijalan yang telah Allah tentukan? atau malah melenceng jauh dari-Nya?
Allah SWT., berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr: 18 )
Firman Allah di atas merupakan perintah untuk bertakwa kepada-Nya, yang mencakup pelaksanaan perintah-Nya dan penghindaran dari larangan-Nya. Selain itu, Allah memerintahkan untuk evaluasi diri, lihatlah amalan apa yang telah disimpan dan disiapkan untuk bekal hari kiamat. Ayat inilah yang menjadi dasar utama dalam muhasabah diri. Ini jelas menunjukkan bahwa Allah menghendaki hamba-hamba-Nya untuk selalu mawas diri, merutinkan intsrospeksi diri, sebagai wujud ketaatan kepada-Nya.
Tidak ada keterangan rinci mengenai tata cara, waktu, mekanisme dan teknis muhasabah. Namun demikian, keterangan tersebut di atas menunjukkan bahwa muhasabah merupakan amalan yang diperintahkan kepada setiap muslim secara sendiri-sendiri. Setiap pribadi bisa muhasabah dirinya sendiri, mengukur sejauh mana amal perbuatan yang sudah ia lakukan dalam hidupnya.
Kesadaran diri mengevaluasi ulang amal perbuatan di masa lalu demi memperoleh kualitas hidup lebih baik inilah yang mengilhami Umar bin Khattab ra. berujar:
Bermuhasabalah atas diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab pada hari kiamat, dan timbanglah amal kalian di dunia ini sebelum nanti ditimbang pada hari kiamat. Sesungguhnya kalian akan merasa ringan dengan bermuhasabah pada hari ini untuk menghadapi hisab kelak. Dan berhiaslah kalian (dengan amal sholeh) untuk menghadapi hari pameran agung. Pada hari itu perbuatan kalian akan ditampilkan tidak ada yang tersembunyi sedikitpun. “
Muhasabah bisa dilakukan sebelum beramal, maupun sesudah beramal. Ketika muhasabah dilakukan sebelum beramal, maka ini merupakan bagian dari memastikan bahwa amal perbuatan yang dilakukan murni karena Allah SWT., bukan karena ingin mendapatkan pujian dari manusia. Begitu juga ketika sudah beramal, muhasabah dilakukan untuk mengevaluasi bagaimana amal perbuatan yang sudah dilakukan, apakah sudah baik dan sesuai dengan ketentuan yang Allah tentukan? atau malah sebaliknya. Disinilah peran penting muhasabah diri sebagai bagian dari mengukur diri, sebagai kontrol diri agar menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.
Sedemikian pentingnya evaluasi diri, menjadikan para salafush shalih banyak berkomentar tentangnya.
Berkata Imam Hasan al-Bashri :
Sesungguhnya seorang hamba akan selalu dalam keadaan baik selama dia mempunyai penasehat dari dirinya sendiri, dan selalu bermuhasabah diri.“
Maimun bin Mahran berujar :
Seorang hamba akan menjadi takwa jika muhasabah (evaluasi diri) lebih akrab baginya daripada kawan akrabnya.”
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa evaluasi diri adalah sebagai berikut:
Pertama: Memulai yang wajib; jika seseorang melihat ada kekurangan, ia menambahnya. Kedua: Mencermati larangan; jika seseorang tahu bahwa ia melakukannya, ia menyusulinya dengan taubat, istighfar, dan kebaikan-kebaikan yang dapat menghapus dosa tersebut. Ketiga: Evaluasi atas kelalaian, dan ia menyusulinya dengan zikir, menghadap Allah pencipta langit dan bumi, dan pencipta Arsy yang Mahaagung. Keempat: Evaluasi atas gerak-gerik anggota badan, pembicaraan lisan, perjalanan kedua kaki, gerak kedua tangan, pandangan kedua mata, pendengaran kedua telinga, apa yang kuinginkan dengan ini? Untuk siapa aku melakukan? dan bagaimana aku melakukan?

Maka demikianlah seharusnya seseorang mengevaluasi dirinya, nafas demi nafas dan juga kemaksiatan yang terkandung dalam hati di setiap waktu. Seorang mukmin dianjurkan menuju kesempurnaan dan menggapai derajat tinggi, maka ia harus mencermati aktivitasnya, ia mengawasi niat dan kehendaknya, amal dan aktivitasnya. Ia tidak basa-basi atau sungkan terhadap dirinya sendiri, terlebih menganggap dirinya suci dengan beranggapan apa yang dilakukannya sudah cukup.  

4 comments:

  1. Jadi kita ngak boleh mengikuti hawa nafsu yaaa kak !!!

    ReplyDelete
  2. Kadang muhasabah, kadan congkak, kadang males males an, kadang Rajin pula. Rajin nyiyir maksudnya, hehehe
    Andaikata kita semua sering muhasabah, kehidupan lebih menenangkan *keplaksetan yang selalu menggoda

    Nice writing :)

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan