December 24, 2015

Jalan-jalan Jomblo di Coban Rondo

Sejak sibuk dengan yang namanya Thesis, saya itu rada kurang banget piknik, ditambah lagi menjelang melepas masa lajang, saya nggak boleh terlalu sering panas-panasan di pantai seperti sebelumnya, biar nggak gosong-gosong amat pas pernikahan nanti. Hahaha. Ini lebay pake banget. Memang sayanya yang lagi rada malas gerak dari kondisi perfect di kosan. Biasalah, jomblo macam saya ini kalo lagi datang malasnya, kosan menjadi persembunyian terindah. Boro-boro mau jalan-jalan, masak aja udah nggak pernah, udah ogah megang alat masak haha.
Jomblo
Kebetulan Tomas, teman saya asal Czech Republic sedang berkunjung ke Malang, masa saya suruh dia guling-guling di kasur sepanjang hari, tuan rumah macam apa saya kalo begitu. Saya juga nggak mungkin nyuruh dia ngepel, cuci piring, apalagi nyuruh nyuci baju dan setrika, saya tidak sejahat itu saudara-saudara. Makanya, hari ini saya ajak ke Coban Rondo. Saya rasa tidak perlu saya jelaskan mengapa tempat ini dinamakan Coban Rondo, udah mainstream banget penjelasan beginian (emang lagi malas aja ngetik panjang lebar).
Biasanya saya menikmati air terjun dari bawah, tempat dimana para pengunjung asik berfoto ria bersama orang-orang terkasih, kami memilih untuk naek ke bukit yang mengelilingi air terjun. Bosan melihat keindahan air terjun dari bawah, saya jadi penasaran bagaimana keindahannya dari atas, sukur-sukur bisa terjun bebas dari ketinggian (ya, kali aja gue berani). Setelah sempat potret beberapa kali, kami pun memutuskan naek ke atas. Berhubung baru saja hujan, jalanan licin banget menuju puncak bukit. Cukup membuat jomblo seperti saya ini ngos-ngosan ganteng menuju puncak haha. Inilah mengapa saya itu nggak terlalu suka menuju puncak, karena memang cepat banget ngos-ngosan, saya itu cuma semangat kalo disuruh ketemu pak KUA saja, kalo ini saya rela, deh, capek-capek, asal disegerakan. Lol.
Ini bukan pilkada :p
Di perjalanan, Tomas mendengar suara menakutkan, konon katanya suara ular, dan saya cuek saja, terus melanjutkan perjalanan menuju puncak. Tomas manggil, nyuruh saya mencoba mendengar suara aneh yang serem itu, saya coba menghampirinya, tapi saya tidak mampu mendengar suara hatinya (eh salah fokus), maksudnya saya nggak mendengar apa-apa, jadi, ya, masih berlagak cuek, sambil menikmati keindahan jalan menuju puncak. Tomas masih sibuk dengan suara-suara yang dia dengar.
Setelah sampai di posisi keren untuk menikmati keindahan alam Coban Rondo dari atas, saya pun termangu, beberapa kali mengucap syukur kepada Tuhan, sudah memberikan saya kesempatan menikmati keindahan hamparan alam yang begitu indah. Saya pun menyadari, mengapa banyak orang yang rela bersusah payah mendaki puncak, demi keindahan yang menakjubkan dari ketinggian. It was awesome. Berhubung saya tidak membawa kamera, maka tentu saja Tomas yang menjadi tukang foto gratisan buat saya hehe.
Tomas
Coban Rondo dari puncak memang terlihat lebih menawan dan menakjubkan, berbeda banget jika hanya dilihat dari bawah. Keindahan dari atas ini bener-bener membuat saya takjub. Coban Rondo dikelilingi keindahan alam raya yang menyejukkan. Dari atas, saya bisa melihat keindahan pepohonan yang menjulang, para petani yang sedang berada di ladang mereka, dan keindahan lain yang tak bisa saya jelaskan dengan kata-kata (aihh dalemm ini). Perjuangan menuju puncak memang rada-rada melelahkan, apalagi tadi pas saya sedang puasa (biar dibilang anak shaleh ini namanya, sok pamer haha). Meski capek, semua terbayar kok dengan keindahan yang didapat setelah berada di ketinggian.
Jadi, kalo sedang berkunjung ke Malang atau Batu, Coban Rondo bisa dijadikan salah satu tempat untuk berlibur, melepas penat kerjaan dengan kepenatan yang lain alias jalan-jalan. Terutama buat kamu yang suka dengan yang bernuansa alam, maka tempat ini bisa menjadi pilihan. Dari Malang silahkan arahkan kendaraanmu menuju Batu, ketemu Alun-alun tinggal lurus aja, sampai nanti ketemu patung sapi, belok kiri. Tiket masuk buat turis lokal cuma 15.000, (tapi saya nggak pernah bayar karena udah kenal sama penjaganya haha), kalo buat turis asing 25.000, kemudian bayar parkir 2.000. Di Coban Rondo juga bisa dijadikan tempat untuk berkemah, merasakan embusan udara yang sejuk, mendengar kicauan  burung-burung yang terbang di alam bebas, dan tentu saja akan membuatmu semakin bersyukur dengan keindahan alam raya yang terbentang luas di negeri tercinta Indonesia.

Abaikan judul tulisan di atas, ya, biasalah, bawaan pengen segera menikah ya gini. Haha.

16 comments:

  1. banyak tempat tersembunyi untuk sekedar tracking di malang ya mas, salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin kakinya yang rempong mas..naik turun bukit..

      Delete
  2. wah air terajunnya bagus ya mas, jadi pengen kesana :-)

    ReplyDelete
  3. Kereeeen! Mau ah kapan-kapan kesini. In shaa Allah. Hehehe.
    Anyway salam kenal dulu ya, Kang. Oiya, perasaaan saya aja apa emang Akang mirip sama Mamduh Jamaludin yang suka openmic di Komika Vaganza ya? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah saya google ya siapa mamduh jamaludin haha

      Delete
  4. Kirain ada postingan pengantin baru di sini :)

    Btw, selamat yah. Barakallah. Semoga sakinah mawaddah warahmah.

    ReplyDelete
  5. Cakep ya Coban rondo, main2 kesana ah entar

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan lupa mampir ke rumah *eh maksud saya kosan * haha

      Delete
  6. Sekilas mirip Air Terjun Sipiso piso di Danau Toba. Adem

    ReplyDelete
    Replies
    1. duh saya belum pernah ke air terjun sipiso :(

      Delete
  7. Ini jomblo cari janda yaaaa hua hua

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan