January 10, 2015

Lombok (Second Day)

 Jalan menuju air terjun

Satu jam sebelum subuh, Farkhad sudah masuk ke kamar saya dan Renat, saya langsung ke kamar mandi, ambil wudhu, kemudian shalat tahajud sebentar. Saya baru tidur satu jam kayaknya. Renat masih tidur nyenyak di samping saya, saya biarin aja dia tidur sampai subuh. Setelah subuh, kami sarapan bareng tuan rumah, karena rencananya kami akan memulai perjalanan pagi ini sesegera mungkin.
Mobil sudah siap di depan rumah, sopir juga sudah siap sambil manasin mobil. Rencana awal mau menggunakan jasa travel malah nggak jadi, karena ternyata kakak yang punya rumah mempunyai mobil lengkap dengan sopir yang siap mengantarkan kami jalan-jalan hari ini. Setelah semua dirasa siap, perjalanan pun dimulai. Well, karena saya kurang tidur, saya malah molor di mobil. Renat juga ikutan molor.
Air Terjun Tiu Kelep
Perjalanan menuju air terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep cukup jauh. Untungnya kami menggunakan mobil sebagai transportasi menuju sana. Kalo pake motor, saya yakin nggak bakalan kuat. Maklum, saya ini orangnya nggak betah berlama-lama di atas motor, apalagi kalo diboncengin, duh, alamat ketiduran di atas motor. Perjalanan menuju air terjun cukup merefresh otak yang beberapa waktu lalu baru selesai menghadapi ujian akhir semester. Gunung Rinjani nan cantik seolah memanggil kami untuk segera mendaki ke puncaknya *halah*. Harusnya saya bisa mendaki Gunung Rinjani selama di Lombok, tapi nggak memungkinkan. Mungkin di kunjungan saya selanjutnya.
Setelah sampai di Tempat Parkir kendaraan, kami turun, kemudian membeli tiket masuk seharga 10.000,/org. Kami menuruni anak tangga yang cukup banyak untuk sampai ke air terjun Sendang Gila. Farkhad dan Istrinya asik foto-foto, duh, ini bedanya kalo jalan-jalan sama istri. *mendadak pengen nikah segera* haha. Baiklah, meski nggak bawa istri, setidaknya saya ada pasangan yang tidak lain adalah Renat. Haha. Well, siapa lagi yang siap saya jadikan model kali ini kalo bukan Renat?
“Renat is my super model right now,” ucap saya sambil becanda, kemudian diikuti gelak tawa Farkhad. Renat ikutan ketawa sambil tetap bergaya di depan saya. Setiap kali saya minta dia pasang aksi di depan kamera, dia selalu siap, atau bahkan kadang dia sendiri yang minta difotoin dan setiap kali selesai motret dia, dia selalu ikutan mau motret saya dan kebanyakan saya tolak, haha. Sepertinya saya sudah kebanyakan foto. Dulu, Renat rada susah dipotret. Sekarang mah udah nggak, masa berteman sama tukang foto malah nggak jadi banci foto, kan, nggak, seru *dilempar DSLR*
Renat Sarimov
Pas sampai di Lokasi air terjun Sendang Gila, Renat menghidupkan satu lagu berbahasa Rusia, kemudian meminta saya merekam suasana air terjun dengan backsound lagu Rusia, haha. Setelah selesai merekam, selanjutnya adalah foto bareng, kemudian melanjutkan perjalanan menuju air terjun Tiu Kelep. Perjalanan menuju kesana kurang lebih 30 menit dari air terjun Sendang Gila. Kami sengaja tidak menggunakan jasa pemandu. Asal jalan, menelusuri jalanan yang tidak terlalu mulus menuju sana.
Sepanjang jalan, saya dan Renat kebanyakan berantemnya, saling dorong satu sama lain. Beberapa kali mau nyebur ke saluran air yang begitu jernih tapi nggak pernah jadi. Kalo sudah begitu, Renat bakalan mendorong saya sekuat tenaga seolah-olah mau ngajak nyebur bareng dan gagal. Haha. Sepanjang perjalanan, saya asik merekam suasana menuju Tiu Kelep, Renat juga demikian, sedangkan Farkhad dan istrinya asik foto-foto, saya dan Renat sadar diri lah, masa mau mengganggu mereka *nasib bujangan*. Saya melaju dengan cepat, meninggalkan Renat, Farkhad dan Istrinya di belakang. Saya sampai lebih dulu di air terjun Tiu Kelep, kemudian langsung menuju ke bawah air terjunnya. Celana saya basah. Mau mandi langsung tapi malah nggak jadi karena sudah menggigil. Jadilah agenda selanjutnya adalah foto-foto.  
Setelah dirasa cukup, sudah puas foto-foto, maenan air, dan ada agenda jatuh pula, kami memutuskan untuk kembali ke mobil. Renat memang sempat jatuh, kena batu dan berdarah. Untungnya cuma tangannya yang lecet, mungkin karena licinnya bebatuan, makanya jatuh. Ada agenda bergelayutan kayak monyet juga pas selesai dari air terjun Tiu Kelep, haha. Renat, Farkhad dan istrinya kompakan bergelayut di salah satu pohon haha. Parah.
Di perjalanan pulang tentu saja lebih susah ketimbang pergi. Kalo perginya menuruni anak tangga, sekarang tantangannya adalah menaiki anak tangga yang jumlahnya itu ngalahin jumlah rambut tikus (nggak percaya? Hitung aja sendiri rambut tikusnya *dipentung*). Saya udah ngos-ngosan, berhenti sejenak, menghirup udara segar dan menatap pemandangan yang demikian indah, hutan yang lebat, suara burung-burung yang berkicauan. Cukup melelahkan memang, namun juga menyenangkan.
Kami melanjutkan perjalanan menuju Senggigih. Saya kembali molor di dalam mobil, Renat juga molor, Istri Farkhad juga molor, cuma Farkhad yang masih bertahan menemani sopir yang menemani perjalanan kami kali ini. Sepanjang perjalanan menuju Senggigih, kami disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa keren. Hamparan laut yang seolah tak habis-habis menjadi pemandangan yang menakjubkan bagi saya. Mobil sengaja berjalan perlahan, agar kami bisa melihat dengan leluasa, sambil sesekali memotret dari dalam mobil.
Pantai Bukit Nipah
Kami berhenti di Bukit Nipah, karena pemandangannya wow banget kalo saya bilang. Iya, saya itu kalo sudah melihat laut itu kayak lupa diri. Bawaannya pengen nyebur aja gitu haha. Nggak, kok, kali ini nggak ada agenda nyebur. Kami berhenti di bukit Nipah, kemudian menuruni bukit, sambil foto-foto. Saya lebih banyak motret Renat ketimbang dipotret, karena memang sukanya demikian, meski Renat tetap keukeuh mau motretin saya.
Setelah selesai agenda motret, selanjutnya adalah mampir ke beberapa penjual yang menjual aneka ragam mutiara dan lain-lain. Istri Farkhad membeli beberapa, Renat juga membeli kalung untuk Ibunya. Sedangkan saya dan Farkhad nyelonong sambil merekam keindahan laut nan biru. Saya nggak ikutan beli karena harganya bikin dompet saya menjerit. huaha. Saya cuma nyari topi yang bisa saya pakai, udah itu aja. Topi yang dicari pun mau yang sama persis seperti yang dipakai Renat haha. Biasa, kadang kita berdua kompakan bawaannya.
Berbelanja selesai, kami melanjutkan perjalanan ke Senggigih, mencari penginapan untuk satu malam saja karena besok pagi akan langsung ke Gili Terawangan. Setelah muter-muter, akhirnya kami dapat penginapan. Langsung booking kemudian merebahkan badan di atas ranjang karena capek. Renat mengeluarkan pakaian kotor, kemudian memasukkannya ke dalam ember yang ada di kamar mandi. Saat saya lagi tidur terlentang, Renat nanyain pakaian saya yang kotor. Kemudian saya bilang bahwa pakaian saya yang kotor ada di dalam kantong plastik. Renat langsung mengambilnya dan membawanya ke kamar mandi. Woalahh, sering-sering kayak gini, punya teman perjalanan yang mau nyuciin baju saya *plak*ketawajahat*. Meski awalnya saya sudah menolak, tapi tetap aja Renat narik itu baju kemudian langsung dicuci. Ah ya sudahlah, Renat bakalan marah kalo apa yang dia mau nggak dituruti.
Farkhad and his wife @senggigih 
Setelah selesai dengan agenda nyuci baju, kami shalat ashar berjamaah, dilanjutkan dengan makan di salah satu warung makan yang tidak jauh dari tempat kami menginap. Saat sedang menunggu pesanan siap, ada seorang perempuan yang juga berasal dari Rusia ikut nimbrung bersama kami. Saya jadi patung yang melongo saat mendengar mereka berbicara bahasa Rusia. Ketika sudah agak sepi obrolannya, barulah saya berbincang sejenak dengan perempuan asal Rusia tersebut. Dan seperti biasa, Renat selalu mengerti. Sejak awal saya mengenal Renat, dia tipe orang yang sangat tanggap. Ketika dia berbicara dengan bahasa Rusia, dia akan menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab agar saya bisa mengerti. Atau kadang mengajari saya kata-kata baru dalam bahasa Rusia agar saya sedikit mengerti.
Setelah makan selesai, kami berjalan menelusuri garis pantai, kemudian duduk bersama sambil menikmati es kelapa muda bersama. Farkhad dan istrinya meminta gula putih untuk pemanis kelapa muda.
“I don’t need sugar anymore, because I’m a sweet man,” canda saya sesuka hati, kemudian suasana jadi riuh dengan tawa. Farkhad ketawa lebar, Renat ketawa sambil melotot dengan wajah nyebelin. Haha. Es kelapa muda pun sukses diminum.
sunset di pantai senggigih
Tidak lama berselang, matahari kembali ke peraduannya. Saya selalu antusias memotret sunset maupun sunrise. Entah sejak kapan saya suka mengabadikan sunset dan sunrise. Kami kembali ke penginapan, shalat maghrib dan Isya, dilanjutkan dengan berbincang cukup lama. Farkhad dan istrinya berada di ruangan lain, saya dan Renat ngobrol banyak hal di depan kamar sambil melihat ke arah ombak yang berderu tanpa henti. Hingga malam menjelang, kami berdua masih ngobrol sampai kami sama-sama mengantuk.
Selesai sudah perjalanan hari kedua di Lombok. Tidak banyak yang kami lakukan, tapi itu cukup berarti. Mungkin karena kami melakukannya bersama-sama. Tidak mudah menemukan orang-orang yang bisa akur dalam sebuah perjalanan. Kebersamaan seperti inilah yang sebenarnya membuat kami bahagia menjalaninya. Kadang bukan masalah kemana tujuan kita, namun bagaimana kita bisa memanfaatkan kebersamaan bersama orang-orang yang terkasih. Bahagia itu sesederhana itu.

Lombok (First Day)

 Sunset di daerah Banyumulek, Kerangkeng
First Day
Saya sudah mendarat di lombok kurang lebih pukul 12.30 waktu setempat, sementara Renat, Farkhad dan Istrinya masih dalam penerbangan menuju Lombok. Mereka bertiga dari Jakarta, sementara penerbangan saya dari Surabaya. Agenda pertama di Lombok adalah duduk lesehan di tempat pengambilan bagasi seorang diri, karena yang lain sudah selesai mengambil bagasi. Saya masih santai duduk lesehan kayak homeless sambil makan roti O yang enaknya bikin saya tambah lapar, bukannya tambah kenyang.
Saya, Renat, Farkhad dan Istrinya

Mau tahu berapa lama saya menunggu di Lombok International Airport? Dua jam. Dua jam itu waktunya cukup loh buat acara resepsi pernikahan (lost focus), hehe. Kagak, maksud saya, dua jam itu waktu yang lama. Saya mondar-mandir, motret beberapa pegawai airport secara diam-diam, mulai dari cleaning service, penjaga toko, tukang dorong troli barang, bahkan tong sampah nggak luput dari jepretan saya. Asli kurang kerjaan banget.
Tiga Sahabat Karib

Setelah lelah menunggu Krisdayanti datang *dipentung Rahul Lemos*, akhirnya Renat nongol juga, diiringi oleh Farkhad dan Istrinya. Kasihan, ya, Renat, jalan-jalan bareng Farkhad yang sudah beristri, ngelihatnya itu kok nggak enak gitu, ganjil. Haha *melirik Renat yang kayak orang bingung nyariin saya*. Saya sudah lihat dia dari kejauhan, ngaktifin HP, kemudian menghubungi saya, tapi nggak saya angkat, sengaja ngerjain biar tambah bingung. Saya malah kabur ke toilet karena sesuatu (masa iya harus saya jelasin juga apa kegiatan saya di toilet). Setelah selesai bersemedi di Toilet, saya baru menghampiri Renat dan yang lain sambil jabat tangan, kemudian senyum tipis alias nyengir.
Setelah urusan bagasi selesai, selanjutnya adalah diskusi kemana sebenarnya arah perjalanan ini, mau dibawa kemana sebenarnya hubungan ini? *mendadak nyanyi*. Iya, ini liburan yang rada absurd sebenarnya, meski saya sudah punya rencana jalan-jalan sendiri, tapi masa iya saya memaksakan kehendak saya sendiri ke mereka bertiga. Makanya perlu diskusi. Meski sebenarnya ada beberapa teman yang siap menampung saya selama di Lombok dan itu tentu saja mengurangi biaya liburan saya *modus*, tapi saya nggak boleh egois, karena nyatanya saya berlibur bareng tiga orang teman yang tentu saja memiliki arah dan tujuan sendiri selama liburan kali ini. Maka saya lebih memilih menjadi teman yang menemani sahabat yang sedang berlibur. Saya mengikuti apa kata mereka saja.
Karena Renat dan yang lain terlihat bingung, akhirnya saya usul untuk menginap di rumah teman saya, kemudian besok baru jalan-jalan dengan menyewa mobil. Mereka setuju dan akhirnya kami cabut dari Bandara dengan travel menuju rumah teman yang sudah sejak beberapa hari yang lalu sudah menghubungi saya untuk menginap di rumahnya selama saya di Lombok dan dia siap menampung saya dan tiga orang teman saya.
Dalam perjalanan, seperti biasa, Renat yang tidak lain adalah sahabat saya yang sangat baik hati ini selalu melakukan recording di setiap perjalanan. Renat asik mengabadikan kebersamaan kami dalam video sambil menyapa satu persatu, kemudian merekam keindahan pemandangan yang kami lalu.
“Lombok is more beautiful than Bali,” ucapnya sambil tersenyum ke arah saya.
“Ehm, I think so,” jawab saya sekenanya, kemudian ikut-ikutan merekam kebersamaan kami di dalam mobil.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, kami sampai pada tujuan, yakni di daerah Banyumulek, langsung dipersilahkan masuk dan meletakkan barang-barang di kamar yang sudah disediakan. Farkhad dan istrinya di kamar tersendiri (kalo gabung ama saya dan Renat bahaya) hehe. Renat dan saya di kamar sebelahnya. Well, alamat bakalan rusuh kalo saya dan Renat dijadiin satu kamar. Saya jamin kagak bakalan tidur ini jadinya.
Bersama tuan rumah

Setelah meletakkan barang, kemudian shalat, selanjutnya adalah mencari makan sambil berkeliling daerah sekitar dengan dua buah motor yang sudah disediakan oleh teman. Renat nggak bisa pake motor selain motor matic, jadilah saya yang jadi tukang pacu. Kami berhenti di salah satu tempat makan, memesan sate kambing dan sate ayam yang lezat. Sambil menunggu pesanan siap saji, kami ngobrol ngalor ngidul nggak jelas, ketawa-ketiwi dan seperti biasa, saya kalo sudah disatukan bareng Renat, nyaris nggak bisa diam. Ada aja ulahnya, ada aja idenya gangguin saya, haha. Mungkin ini yang membuat kami dekat satu sama lain. Bahasa sudah tidak jadi kendala dalam persahabatan kami.
Selain ngobrol ngalor ngidul, ketawa-ketiwi, nggak lupa foto-foto. Renat pasang wajah sok-sok serius pas dipotret. Tapi saya tidak seantusias dahulu, saya lebih suka motret orang lain ketimbang dipotret. Jadilah Renat menjadi super model saya dalam perjalanan kali ini. Saya lebih suka motret mereka bertiga, ketimbang ikutan nimbrung. Palingan pas Renat mau foto berempat, barulah minta orang lain untuk mengabadikan kebersamaan kami.
Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke daerah yang tidak jauh dari rumah teman saya, melihat sunset di dekat persawahan. Renat tetap dengan handhphone-nya, merekam keindahan alam ciptaan Tuhan. Kami berhenti, kemudian mengabadikan kebersamaan meski maghrib sudah hampir menjelang. Setelah puas foto-foto dan diteriakin sama remaja-remaja setempat yang begitu antusias begitu melihat bule, kami pulang dan shalat maghrib berjamaah di masjid. Inilah kerennya kalo bepergian dengan orang-orang yang seiman, tetap berusaha menjaga kualitas ibadah meski sedang bepergian. Sebisa mungkin kami shalat berjamaah.
Habis maghrib, kami disambut oleh sekelompok anak-anak yang cukup rame, mereka berkerumun di tempat rumah teman saya, berbisik-bisik, kemudian rame sendiri ketika melihat kami berempat. Mungkin saja mereka masih penasaran melihat orang asing yang menginap di desa mereka, haha. Mereka lucu, kalian tahu sendiri saya itu senang banget dengan anak-anak. Di antara kami berempat, saya yang paling antusias menyapa mereka. Kemudian berbincang sejenak, sebelum akhirnya kami masuk dan istirahat di kamar masing-masing.
Waktu begitu cepat berlalu, habis isya, kami berempat berbincang sejenak dengan yang punya rumah, sekaligus diperkenalkan dengan beberapa anggota keluarga yang sengaja datang menyambut kedatangan kami. Kami betul-betul diperlakukan sedemikian baik oleh teman saya. Saya jadi nggak enak sendiri. Kendala bahasa menjadi penghambat komunikasi yang punya rumah dengan tiga orang sahabat saya. Jadilah saya yang paling banyak ngomong, menerjemahkan, biar komunikasi antara yang punya rumah dan tiga orang sahabat saya bisa berjalan dengan baik.
Sebelum tidur, kami berdiskusi dulu, setelah berdiskusi dan sepakat bahwa besok akan pergi ke air terjun Sendang Gile, air terjun Tiu Kelep, dan dilanjutkan dengan pergi ke Senggigih sambil mampir-mampir ke beberapa pantai di sepanjang jalan menuju pantai senggigih. Rencana kami akan menginap di Senggigih satu malam, baru kemudian melanjutkan liburan di Pulau Gili Terawangan.
Setelah diskusi alot, kami masuk ke kamar masing-masing, rencananya mau tidur. Saya sudah tahu, nggak bakalan ada yang namanya tidur nyenyak malam ini. Haha, biasalah, saya dan Renat emang sering lupa waktu kalo lagi bareng. Lampu sengaja dimatiin, kipas angin  saya hidupkan, kemudian berbaring di kasur, Renat juga ikut berbaring, dan perbincangan pun dimulai, sampai pukul 3 pagi *kucek-kucek mata*. Kami berdua bercerita banyak hal, mulai dari masa kecil masing-masing, tentang keluarga, impian maisng-masing dan seabrek obrolan yang lainnya. Renat menyelipkan berbagai kosa kata dalam bahasa Rusia dan Tatar biar membantu saya memahami bahasa asalnya.
Meski kebanyakan tertawanya, saya tiba-tiba hanyut dalam cerita Renat tentang kondisi ayahnya yang sempat mengalami stroke dalam waktu yang lumayan lama dan membuatnya harus berhenti dari bekerja dan akhirnya memilih untuk membuka usaha sendiri di rumahnya, berupa toko barang pecah belah. Saya sempat meneteskan air mata, saat Renat bercerita tentang proses operasi yang dilakukan berulang kali demi kesembuhan sang Ayah. Renat tidak tahu kalo saya menangis, karena suasana dalam gelap.
Renat bilang, “Setiap orang pasti pernah berada dalam kondisi demikian, lemah, atau bahkan hilang arah. Namun tidak sedikit orang yang tetap bertahan meski cobaan hidup demikian berat. Kita hanya perlu berusaha sebaik mungkin dan percaya, bahwa selalu ada hikmah dalam setiap cobaan.”
Jarum jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Kami berdua memutuskan untuk tidur sejenak sebelum subuh menjelang. Well, agenda sebelum tidur pun nggak lepas dari rusuh, saya suka dingin alias pengen kipas angin tetap nyala, sedangkan Renat suka hangat, alias kipas angin harus mati. Akhirnya saya mengalah. Kemudian baru bisa tidur.