October 03, 2015

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam Mengajar




Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik, mempelajari keterampilan dan pengetahuan tentang materi-materi pelajaran. Peserta didik belajar untuk mengembangkan kemampuan konseptual ilmu pengetahuan ataupun mengembangkan kemampuan dan sikap pribadi yang dapat digunakan mengembangkan dirinya. Dalam pembelajaran, peserta didik sebagai subjek yang aktif melakukan proses berpikir, mencari, mengolah, mengurai, menggabungkan, menyimpulkan dan menyelesaikan masalah.
            Dengan demikian dapat diketahui bahwa belajar adalah proses peserta didik dalam membangun gagasan atau pemahaman sendiri. Maka kegiatan pembelajaran seharusnya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan proses belajarnya secara mudah, lancar, dan termotivasi. Karena itu pula, suasana belajar yang diciptakan guru seharusnya melibatkan peserta didik secara aktif, misalnya mengamati, meneliti, bertanya dan mempertanyakan, menjelaskan, mencari contoh, dan bentuk-bentuk keterlibatan sejenis lainnya.
Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam Mengajar:
Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memiliki sifat rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia selama mereka normal terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap, berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat anugerah Tuhan tersebut.
Mengenal anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam Pembelajaran, perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak di dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih bisa dimanfaatkan membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga belajar anak tersebut menjadi optimal.
Memanfaatkan prilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.
Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah.
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sering-sering memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup.
Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam pembelajaran. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Ruang kelas itu rumah, bukan penjara. Memang, ada dua potensi kelas dalam proses belajar. Pertama, menjadi rumah yang menyenangkan. Atau sebaliknya, menjadi penjara yang penuh tekanan dan paksaan.
Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.
Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.
Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental.
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling berhadap-hadapan. Aktif mental lebih diinginkan daripada fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut, takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya.
Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang Pendidik. Selamat menjadi Guru Hebat.

Mengabdi Pada Ibu Pertiwi



Saya mulai aktif menulis di blog sejak menjadi Guru di SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, tepatnya November 2011. Ada banyak kisah yang saya tulis, tentang betapa lucunya saya ketika kagok melihat penampilan saya di hari pertama menjadi Pendidik, mendapat surat cinta dari beberapa murid, dikecengin sama Murid putri karena saya menjadi Guru termuda kala itu, menulis tentang murid-murid saya yang inspiratif, sampai pada hal-hal konyol yang saya lakukan bersama anak-anak didik lengkap di blog ini. Kisah kebersamaan dengan anak-anak didik saya tercatat dengan baik di dalam 3 buah buku saya yang merupakan kumpulan tulisan saya di blog.
 Launching Buku Pertama "Catatan Hati Sang Guru"
            Ketika akhirnya saya resign demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bukan karena tidak bahagia menjalani hari-hari bersama anak-anak didik saya, sama sekali bukan karena itu. Melainkan karena ingin menempa diri menjadi lebih baik lagi, mempersiapkan diri untuk mengabdi kepada Ibu Pertiwi. Jika bukan generasi muda yang melanjutkan perjuangan para pendahulu, siapa lagi? Saya ingin tetap ikut andil dalam mendidik generasi emas Bangsa ini, bagaimana pun caranya.
 Buku kedua "New Catatan Hati Sang Guru" 
            Blog sudah menjadi rumah untuk berbagi tentang perjalanan hidup saya. Ketika masih di Purwokerto, saya sering berkunjung ke panti-panti asuhan, mendongeng di hadapan mereka, bermain bersama, membuat perpustakaan kecil di panti asuhan, menjadikan kamar saya sebagai perpustakaan anak-anak, dan berbagi segala yang positif. Kunjungan demi kunjungan menjadi rutinitas saya di akhir pekan. Ada bahagia ketika saya bisa bertemu dengan calon pemimpin bangsa di masa depan. Bukankah itu yang seharusnya dilakukan oleh para pemuda di Negeri ini? Bukan hanya mengeluh tentang kondisi pendidikan yang belum merata, melainkan ikut urun tangan, ikut berjuang mewujudkan Ibu Pertiwi yang memiliki generasi penerus yang hebat.
Buku Ketiga Saya "Dear Faris" 
Semua buku saya berasal dari kumpulan tulisan di blog
            Beberapa waktu yang lalu, saya sempat travelling selama 1 bulan di Bali. Bukan hanya sekadar travelling biasa, dua Minggu terakhir saya di Bali, saya menjadi volunteer di sekolah anak-anak cacat Mental di Ubud. Mereka memberi nama sekolah mereka dengan nama “Sjaki Tari-Us”. Berada di tengah-tengah anak-anak di Sjaki Tari-Us merupakan bagian dari pengabdian pada Ibu Pertiwi. Ada haru tiap kali melihat mereka.
            Setelah dari Bali, saya pulang ke kampung halaman, berkunjung ke sekolah-sekolah di daerah, mulai dari sekolah terbaik sampai sekolah yang berada di pelosok. Saya harus menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki, demi bisa ke sekolah-sekolah yang ada di pelosok daerah. Sungguh perjuangan luar biasa bagi mereka yang menjadi pendidik di pelosok daerah. Saya berdecak kagum dengan pengabdian para pendidik di sana, saya pun ikut hanyut dalam bahagia ketika bisa bersama anak-anak di pelosok, bermain bersama mereka, kemudian belajar bersama. Inilah wujud pengabdian pada Ibu Pertiwi.
 Menjadi Volunteer di Sjaki Tari-Us Bali
            Saya masih ingat dengan baik, ketika pertama kali berkunjung ke sekolah-sekolah di pelosok, mereka menyambut kedatangan saya penuh antusias. Apalagi melihat saya membawa kamera dalam ukuran besar yang bagi mereka adalah barang langka yang mungkin saja baru kali pertama mereka lihat. Mereka mengelilingi saya, kemudian bertanya banyak hal. Saya bertemu dengan kepala sekolah, saling berbagi informasi yang positif.
Saya sempat berbincang dengan beberapa orang yang berwenang dalam pendidikan di daerah saya, diskusi bagaimana seharusnya pendidikan di pelosok bisa mendapatkan perhatian lebih, berbincang bagaimana agar pemuda-pemudi yang sedang menempuh pendidikan di luar daerah bisa didata dengan baik dan diharapkan bisa kembali mengabdi pada Ibu Pertiwi, khususnya di daerah asal, sehingga tidak ada lagi ditemukan anak-anak yang tidak bersekolah. Inilah impian bersama, GoFor It.
 bertemu anak-anak di salah satu sekolah di Kabupaten Kaur-Bengkulu
Cobalah kau tengok di ujung daerahmu, mungkin Engkau akan menemukan sekolah yang hanya memiliki atap tanpa dinding yang memisahkan antara kelas yang satu dengan yang lainnya. Mungkin engkau akan menemukan anak-anak yang harus berjalan beberapa kilo meter untuk bisa sampai ke sekolah, menemukan anak-anak yang pergi ke sekolah tanpa alas kaki, berpenampilan hanya dengan seragam lusuh dan beberapa buku di tangan mereka, namun mereka tetap semangat. Kemudian mulailah bergerak, lakukan sesuatu untuk mereka.
Blog adalah cara saya menyebarkan informasi tentang potret pendidikan di daerah kepada Ibu Pertiwi. Saya suka menyertakan foto-foto dan video di blog. Movie maker menjadi salah satu aplikasi favorit saya dalam menampilkan kehidupan saya sebagai seorang Guru dalam slide video maupun gambar.
Salah satau video tentang saya dan anak-anak, yang saya buat dengan movie maker
            Inilah jawaban saya atas pertanyaan EmakGaoel “apa yang sedang kamu kejar dalam kegiatan blogging-mu?” Mak, blog menjadi sarana bagi saya untuk berbagi segala kebaikan, berbagi kisah kehidupan saya sebagai seorang Pendidik. Karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang bisa memberi manfaat pada sekitarnya, bukan?
Go For It Blog Competition